Married With Teacher

Married With Teacher
Olahraga Pagi


__ADS_3

Ini adalah hari ketiga Ghea menjadi istri dari cowok yang bernama Gery Mahardika Putra. Rasanya masih mimpi saja. Setiap pagi saat Ghea membuka mata, hal yang pertama terlihat adalah wajah tampan cowok yang menjadi suaminya. Namun pagi ini rasanya berbeda. Karena Ghea tidak melihat suaminya itu ada disampingnya. Kemudian samar-samar cewek itu mendengar suara Pak gery yang seperti sedang berbicara lewat telepon.


Membuka matanya, Ghea beringsut menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang. Mengambil ikat rambut di atas nakas, cewek itu menggulung rambut panjangnya dengan asal hingga leher jenjangnya terpampang jelas dengan tanda merah di beberapa bagian. Hanya beberapa saja. Tidak banyak juga, tidak seperti saat malam pertama yang dilakukan Pak Gery padanya yang menghisap leher Ghea dengan brutal. Sampai-sampai Mama Dian menganggap Ghea macan tutul jadi-jadian.


Menyibakan selimut sebelum menurunkan kedua kakinya menyentuh lantai. Saat ingin menjawil handuk yang terjemur di hanger yang ada di luar balkon, Ghea samar-samar kembali mendengar suaminya itu seperti sedang menyuruh Adi.


"Pokoknya lo harus beresin dia, Di. Gue gak mau dia buat masalah!" Saat berkata seperti itu, Pak Gery memutar tubuhnya hingga mendapati Ghea yang kini sudah berdiri di depannya bersama kedua tangan memeluk handuknya di depan dada.


"Kok udah bangun?" Perlahan menurunkan handphone yang tadinya masih menempel di telinga. Kemudian tanpa melihat layarnya, Pak Gery menekan ikon merah. Memutuskan sambungan telepon itu dengan Adi.


"Iya. Kan mau sekolah," sahutnya. Sesekali ia menguap karena masih ngantuk.


Ini baru jam setengah enam pagi. Dan tidak biasanya Ghea bangun sepagi ini. Ck, dia harus bisa merubah sikapnya agar Pak Gery gak ilfeel.


"Masih jam lima lebih. Di sekolah juga belum ada siapa-siapa." Celetuk Pak Gery. Lalu melangkah ke dalam kamarnya lagi. Setelahnya menutup pintu balkon.


Pak Gery sengaja menghubungi Adi sepagi itu karena mumpung Ghea masih tidur. Dipikir Pak Gery, cewek itu gak akan bangun sepagi ini. Namun dugaannya salah. Jadinya Pak Gery belum selesai memberi perintah pada Adi, Ghea sudah ada di belakang punggungnya. Ishh …


"Emangnya mau berangkat sekarang? Kan nggak juga. Aku mau buat sarapan dulu," ujarnya, melengos melangkah ke arah kamar mandi sambil menyampirkan handuk pada bahu kanannya.


Selama tiga hari ini Ghea selalu berusaha membuat sarapan untuknya dan Pak Gery. Namun selalu gagal. Dan berakhir pada cowok itu yang membuatkannya.


"Heuh, buat sarapan. Kaya bisa aja dia. Padahal setiap pagi, yang buat sarapan siapa? Dasar!" Kelakarnya dengan kekehan kecil. Konsekuensinya nikah sama anak remaja yang gak tau dengan dapur dan alat tempurnya. Pak Gery meringis kecil. Kemudian kakinya melangkah keluar kamar sambil kembali mendial nomor Adi. Pak Gery harus menuntaskan nyamuk yang akan menggigitnya. Dan akan menghisap darahnya secara perlahan.


Ghea hanya butuh gosok gigi sama cuci muka aja. Niatnya mau buat sarapan dulu. Lalu mandi. Karena ini adalah hari pertama ia kembali ke sekolah setelah tiga hari minta izin.


Saat Ghea membuka pintu kamar mandi, ia tak melihat tubuh tegap suaminya itu ada di sana. Berdecak kesal. Kemudian Ghea membuka handle pintu lalu keluar dari kamar. Tujuannya adalah dapur.


Walau gak bisa. Ghea gak mau nyerah gitu aja. Baru juga tiga hari jadi istrinya Pak Gery. Masa udah nyerah aja sih? Ini baru disuruh mandiri oleh suaminya itu. Belum disuruh jungkir balik di atas ranjang kan? Belajar mandiri tidak akan membuatnya mati berdiri, bukan?


Sambil berjalan ke arah dapur, Ghea terus membuka aplikasi youtube di handphonenya. Melihat cara membuat roti bakar isi.


Bergumam pelan, sambil mengangguk kecil. Ghea mulai paham cara membuatnya.


Sampainya di dapur, Ghea pikir Pak gery ada di sana. Tapi salah. Batang hidungnya aja gak kelihatan apalagi tubuhnya. Oke, biarin aja, lah.


Menyimpan handphone di atas meja bar. Dan jangan lupakan jika sebuah video masih berputar di handphone Ghea.


Membuka kulkasnya, Ghea mengambi beberapa salad. Kemudian daun bawang dan wortel. Tidak lupa juga sosis dan bakso. Entahlah Ghea mau buat apa. Yang jelas ia hanya mengikuti petunjuk dari video itu saja. Kemudian membuka bungkusan roti tawar. Ghea mengeluarkan empat potong roti itu dari bungkusan plastik.


Mengambil grill pan yang tersimpan di laci lemari kabinet, Ghea lalu menyimpannya di atas tungku kompor setelah memutar knopnya dan api langsung keluar dari sana.


Ghea sedikit berjengjit saat melihat semburan api yang langsung menyala.

__ADS_1


Bagi Ghea ini adalah hal langka dalam hidupnya. Karena seumur-umur cewek itu tidak pernah sama sekali bergelut dengan dapur dan antek-anteknya. Dan sekarang, omegatttt, ia harus melakukan itu untuk menjadi mandiri dan istri yang baik untuk Pak Gery.


Mengolesi roti tawar sebelum Ghea masukan ke dalam grill pan yang sudah panas. Setelahnya masuklah si roti itu. Lalu mengelap tangannya yang lengket karena mengoleai margarin yang belopotan kemana-mana.


Ghea mengambil lap kering, kemudian mengelap tangannya. Sementara roti dibiarkan menangkring di atas grill pan, Ghea mengambil wadah untuk menampung sayur yang akan ia cuci lalu memasaknya dengan mencampurkan sosis.


Memotong-motong bahan-bahan itu pelan, Ghea sampai lupa jika tadi menyimpan lap kering di dekat kompor.


Saat asyik mencuci sayur yang sudah dipotong-potong kecil, tiba-tiba cewek itu mencium bau angus. Hidungnya mendengus kencang. Kemudian membulatkan kedua matanya kala melihat api di sana sudah berkobar.


"Kebakaran!"


Ghea panik. Saking paniknya, cewek itu malah loncat-loncat bersama kedua tangannya yang bergerak tidak menentu arah.


"Mas … Mas Gery, kebakaran," jerit Ghea panik. Sementara itu api semakin merambat. Lap yang tadinya utuh pun sudah terkena semburannya. Ghea makin panik dong.


Lagi pula itu Pak Gery kemana, sih? Oh, astaga … Ghea sudah lari kecil kesana sini. Juga rasanya cewek itu sedang menahan ingin pipisnya karena terlalu panik.


"Mas, kebakaran. Ya ampun, kamu kemana, Mas?" Menggigit satu jari telunjujnya. Dan satu tangan menahan sesuatu yang ingin keluar dari intinya. Ia ingin pipis. "Mas!" Ghea menjerit kencang. Ah ia sudab tidak tahu harus berbuat apa. Oh Tuhan.


"Kenapa?" Pak Gery bertanya ketika tubuhnya nyembul dari arah sekat dapur dan ruang belakang.


"Ke-kebakaran," sahut Ghea terbata.


Kemudian pandangan Pak Gery beralih ke arah kompor bersama api yang sudah menyembur. Pak Gery jadi ikut panik. Mengambil lap kering kemudian menepuk-nepuk api itu. Bukannya padam, si api malah melahap kain itu. Begoo aja Pak Gerynya kenapa pake lap kering. Ah, namanya juga panik.


"Ambil fire hydrant di gudang!"


"Apa? Fire hydrant apa?" Aduh otaknya lagi gagal fokus. Ghea malah berteriak seperti sedang main tebak-tebakan. Menatap wajah Pak Gery dengan raut wajah panik yang kentara disana.


Pak Gery berdecak. Ah, gak ada waktu buat lari ke gudang. Nanti apinya keburu menyambar kemana-mana. Tanpa berpikir apa-apa lagi. Pak Gery membuka kaos yang melekat di tubuhnya. Meloloskan itu dari atas kepala. Lalu membasahi kaos itu di kran wastafel. Kemudian menepuk-nepukan api itu dengan kaos basahnya. Padahal kalau dipikir lagi, Pak Gery bisa saja kan mengambil wadah, mengisinya dengan air. Lalu memadamkan api itu dengan air. Ish … namanya juga panik. Wajar aja bersikap agak begoo.


Perlahan api itu mulai padam setelah Pak Gery menepuk-nepuk kaos basahnya pada atas kompor yang grill pan masih nangkring di atas kompor.


Wajha Ghea yang panik pun mulai terlihat tenang dengan nafas yang ngos-ngosan. Padahal yang seharusnya seperti itu adalah Pak Gery. Namun justru sebaliknya. Kaya Ghea aja yang capek memadamkan apinya? Padahal dia mah cuma riweuh saja.


Berbeda dengan Pak Gery yang membuka rahangnya. Mengeluarkan nafasnya dari mulut. Kemudian menatap ke arah Ghea yang sedang membungkuk bersama kedua tangan memegang lututnya. Posisinya seperti sedang ruku.


"Kenapa bisa kaya gini?" tanya Pak gery penuh penekanan. Membuat wajah Ghea mendongan. Namun tak lepas dari nafasnya yang masih tersengal seperti sudah lari maraton saja.


"Heuh? Apa? Kaya gini gimana?" Ghea berbalik nanya. Ia masih mengingat kejadian barusan. Kenapa bisa sampai kebakaran?


"Ini, kenapa bisa kompornya kebakaran?"

__ADS_1


"Itu karena api," celetuk Ghea. Ia sudah menegakan tubuhnya. Kemudian membuka pintu kulkas. Mengambil air putih dari dalamnya. Suasana pagi mencekam ini membuatnya kehausan. Sumpah ini seperti lebih dari lari maraton.


Ghea melangkah setelah menutup pintu kulkasnya kembali. Lalu membalikan gelas yang menangkup di atas baki meja bar di dalam dapur. Menuangkan air itu. Setelahnya Ghea meneguknya sampai habis. Dan barulah nafasnya bisa sedikit kembali normal. Dan saat matanya beralih pada Pak Gery yang baru sadar jika cowok itu bertelanjang dada membuat Ghea menelan salivanya susah.


Tubuh suaminya itu kenapa keren banget, sih? Kan Ghea jadi ingat malam pertamanya. Omaygat, wajahnya pasti sudah berubah merona. "Ke-kenapa kamu gak pake baju?" tanyanya polos. Ia mengusap lehernya yang polos karena rambutnya tergulung asal ke atas.


"Heuh?" Gumam Pak gery dengan dahi terlipat.


Ini istrinya sumpah, gak sadar atau bagaimana? Gak lihat apa tadi bajunya dipakai buat madamin api itu? Ya salam.


"I-itu kenapa gak pake baju? Nanti masuk angin." Karena sejujurnya Ghea malu sendiri. Bayangan ketika Pak Gery berada di atasnya. Mengungkung tubuhnya saat itu membuat jantung Ghea terpompa cepat. Karena setelah malam pertama gol itu Pak Gery belum lagi melakukannya.


"Bajunya kan tadi dipake buat madamin api."


"Tapi kenapa harus pake baju? Kenapa gak kamu siram pake air aja?" Ah, Ghea sudah blingsatan. Sumpah demi malam pertama itu. Jantung Ghea semakin berdebar. Apalagi saat melihat Pak Gery melangkah pelan menghampirinya. Jantung Ghea rasanya ingin turun ke dasar perut. Juga kakinya yang tiba-tiba melemas saat kedua tangan Pak Gery menarik pinggangnya.


"Ma-mau apa kamu, Ma?" Ghea bertanya gugup dengan wajah mendongak dan bulu mata yang mengerjap lamban.


"Olahraga dulu sebelum berangkat sekolah," sahut Pak Gery jenaka. Sungguh lucu melihat wajah Ghea yang semakin memerah.


"Kok olahraganya meluk-meluk pinggang aku?" Ghea gugup. "Terus ini jangan diremaas-remass dong pinggang akunya. Geli, Mas." Kelakar Ghea yang membuat Pak gery menjepit kedua bibirnya.


"Kan olahraganya bareng kamu," ujarnya lagi.


"Ta-tapi aku-"


Dan kalimat yang akan Ghea lontarkan itu tertahan karena bibirnya diserang Pak Gery cepat.


Baiklah mumpung masih pagi, olahraga sebelum beraktifitas adalah hal yang baik. Dapat pahala juga lagi jika olahraganya dengan orang yang sudah sah menjadi teman hidupnya.


Dan mungkin pagi itu juga Pak Gery awali dengan gulatannya di dapur. Ah atau bisa jadi di meja makan? Tidak-tidak, di atas meja bar yang sempit seperti asyik.


Dimana saja lah, asal dengan yang halal semuanya akan terasa indah dan nikmat.


"Eum … Mas, jangan di sini?" Ghea menghentikan bibir Pak Gery yang sudah menjalarnya kemana-mana. "Lalu?" tanyanya dengan sorot mata yang sudah bergairah.


"Di kamar aja. Aku takut ada orang yang mergokin nantinya," ujar Ghea dengan tampang polos.


Pak Gery menaikan satu alis. Emang yang mergokin siapa? Gak bakal ada orang yang masuk ke rumahnya juga kan pagi-pagi gini?" Ingin sekali Pak Gery mengatakan itu. Tapi tidak. Karena cowok itu tahu. Jika menjawab Ghea maka tidak akan ada habisnya. Jawaban Ghea selalu saja polos. Apalagi dia sudah tidak bisa menahannya. Lantas yang Pak Gery lakukan adalah mengangguk. Memenuhi keinginan Ghea yang akan menemaninya olahraga di dalam kamar. Lalu kedua tangan cowok itu memangku tubuh Ghea. Berjalan keluar dapur. Menuju kamarnya di lantai atas. Meninggalkan kekacauan yang ditinggalkan di dalam dapur sana.


Masa bodo sama dapur. Nanti diberesin belakangan aja. Pak Gery udah gak tahan. Lagipula ini Ghea nya mumpung tidak menolak.


Dan sebelum berubah pikiran lagi, cowok itu membaringkan Ghea di atas kasur. Mengungkung tubuh mungil itu. Kemudian segera melahapnya bagai serigala yang siap menerkam mangsanya.

__ADS_1


TBC


maaf telat guys. lagi seneng senengnya olahraga juga akunya. wkwkaaaaa


__ADS_2