Married With Teacher

Married With Teacher
9


__ADS_3

.


.


.


Hari ini adalah hari dimana pernikahan Keland dan Melisa dilaksanakan. Pernikahan mereka tidak terlalu mewah, karna mereka hanya mengundang keluarga saja. Itu semua demi menjaga rahasia Melisa yang masih sekolah. Tidak mungkin ia masih bisa sekolah jika pernikahan itu tersebar, makanya mereka memilih untuk merahasiakannya terlebih dahulu menunggu hingga Melisa lulus semester depan.


Melisa begitu gugup saat melangkahkan kakinya bersamaan dengan ayahnya yang menggandengnya menuju altar dimana Keland saat telah menunggunya bersama seorang pendeta di depan.


Hingga tangan itu pun terulur dan Melisa menggapainya setelah sang ayah mengangguk mengatakan ya. Dan terjadilah pengucapan janji suci hingga mereka kini sah di mata Tuhan dan juga hukum.


Semua orang tampak bahagia kini. Termasuk Harry yang wajahnya memancarkan kelegaan luar biasa. Ia sangat yakin akan keputusannya, ia sangat yakin mengambil langkah yang tepat, dan ia tau ia tak akan menyesal nantinya.


Keland mencium kening Melisa sebagai tanda sah mereka kini sudah jadi sepasang suami-istri. Memikirkan kata suami-istri dengan Melisa entah mengapa membuatnya merasa geli. Mungkin karna ia menikahi muridnya sendiri. Keland tak pernah membayangkan itu sebelumnya.


Ia tak menyangka bahwa anak dari om Harry yang kini ia akan memanggilnya ayah itu ternyata Melisa si murid nakalnya.


Keland adalah tipe orang yang santai dan tak ingin dikekang, apalagi untuk melakukan sesuatu yang ia tak suka. Tapi perjodohan itu.... ia menyetujuinya dan itu adalah satu hal yang ia tak suka namun ia lakukan. Ia memnag sangat penyuka kebebasan tapi ia adalah seseorang yang berjiwa besar.


Ketika ia mendengar cerita Harry yang mengatakan umur nya tak banyak lagi dan ada satu orang putri nya yang amat ingin ia bahagiakan sebelum ia pergi, ia ingin menikahkan putrinya sendiri dan ia ingin memastikan putrinya menikah dengan orang yang benar, agar suatu hari nanti putrinya bahagia, dan entah mengapa hari itu Harry kepikiran dan mengatakan Keland adalah yang terbaik bagi putrinya itu. Dan Keland pun tak mampu menolaknya. Atas nama kemanusiaan ia menerimanya karna ia juga sangat menghormati Harry melebihi papahnya sendiri. Karna Harry adalah satu-satunya yang paling mengerti dirinya mulai saat ia kecil. Pria itu yang selalu memberi nasehat penuh cinta padanya. Mengingatkan ia akan semua kesalahannya agar ia menjadi lebih baik. Berbanding terbalik dengan papah nya yang terlalu menyudutkannya saat ia berbuat salah maka akan semakin di salahkan. Dan hal itu kadang membuat Keland merasa tak percaya diri, tapi Harry... pria itu selalu sukses mengembalikan kepercayaan dirinya hingga membesar. Dan karna itulah, ia menerima permintaan Harry yang ingin menjodohkan putrinya dengan Keland.


Suara riuh tepuk tangan menghantarkan mobil pengantin mereka ke rumah yang akan mereka tempati bersama berdua. 


Kini Melisa sangat sedih, ia akan meninggalkan ayahnya sendiri. Ia sangat khawatir meskipun dirumahnya banyak para pembantu. Tapi Melisa tak punya pilihan lain.

__ADS_1


🚗🚗🚗


Kini Melisa sangat gugup duduk berdampingan di dalam mobil bersama Keland. Bukan karna ini pertama kalinya ia menaiki mobil pria itu. Ini kedua kalinya bagi Melisa menaiki mobil Keland. Tapi karna sekarang mereka sudah menikah. Sudah menikah bayangkan.


Entah mengapa fakta itu membuat melisa gugup. Ia sudah punya suami, dan suaminya sangat tampan mirip sehun, astagahh.....


Diam-diam ia melirik kewajah Keland yang tampak serius menatap ke depan. Tidak, kali ini bukan Keland yang menyetir, tapi seorang sopir. Pria itu hanya duduk tenang dan menatap ke depan lurus.


Melisa heran mengapa pria ini sangat serius bahkan disaat seperti ini? Lalu haruskah ia mengajaknya bicara?? Apa yang harus ia katakan. Sebenarnya ada banyak hal yang ingin ia tanyakan namun lidahnya seakan kelu tak mampu bicara. Aishh...


"Mengapa kau menatapku terus?" Tanya Keland meskipun kini wajahnya masih tetap serius kedepan.


"Aa...ak..aku..."Melisa menelan Salivanya gugup. 


"Aku gak papa... ia, aku baik-baik saja" ucapnya membuat Keland kembali diam.


🏡🏡🏡


Kini mereka sampai di rumah baru mereka. Rumah yang sangat indah, Melisa menatap rumah itu tercengang. Sangat indah, ada lengkap sekali berbagai hal dirumah tersebut mulai dari taman, air mancur yng indah, propertinya pun semua sangat menawan. Ia sangat menyukai rumah itu. Rumah yang sejuk dikelilingi pohon-pohon yang Melisa tidak tau itu pohon apa tapi pohon-pohon itu sangat indah. Tidak terlampau besar namun sangat menyejukkan. Melisa akan betah tinggal disana. 


Tapi.... rumah itu sangat sepi, apa tidak akan ada pembantu? 


"Kak.. apa tidak ada pembantu?" 


"Ada, tapi mereka tidak tinggal disini. Mereka hanya datang disaat pagi dan pulang saat sore" jelas Kalend membuat Melisa mengangguk namun bertanya lagi.

__ADS_1


"Mengapa mereka tidak tinggal disini saja kak, biar ramai" ucap Melisa membuat Keland jengkel.


"Saya tidak suka keramaian Melisa, saya suka ketenangan" jawab Keland yang berhasil membuat Melisa kikuk. Mereka sangat berbanding terbalik. Melisa tidak suka sepi, Melisa sangat suka keramaian agar ia tak merasakan kesepian lagi. Karna sejak kecil ia terbiasa sepi maka ia tak begitu menyukainya.


Tapi Melisa tak akan mengatakannya pada Keland, ia tak mau Keland akan marah padanya hanya karna banyak permintaan.


Saat ini yang fokus ia fikirkan adalah....


Malam ini malam pertamanya, oh astagahhh.


Mengingatnya membuat Melisa gugup seketika.


"Kk...kak" panggil Melisa lagi dengan nada gugup membuat Keland yang tadi sedang sibuk menarik-narik koper miliknya dan Melisa terdiam kemudian membalik tubuhnya menghadap Melisa.


"A..apa..malam ini....malam ini...kita...akan it..ituu...malam pertama?" Tanya Melisa blushing kini wajahnya sudah memerah dan jujur Keland pun sempat salah tingkah oleh pertanyaan Melisa yang begitu tiba-tiba, Keland saja belum memikirkannya dan bocah itu sudah berfikiran sampai kesana.


"Aku akan melakukannya...kalau aku ingin" jawab Kalend membuat Melisa semakin merona malu. Jujur saja sebenarnya ia belum siap untuk hal itu. Tapi ia perlu memastikannya pada Kalend. Dan jawaban pria itu membuat jantungnya berdegub kencang. Bagaimana jika pria itu benar-benar ingin malam ini, astagahhh.


Apakah itu berarti mereka akan melakukannya? Lalu bagaimana jika ia hamil? 


"Kalau..kalau aku hamil gimana kak?" Pertanyaan Melisa lagi-lagi membuat Keland kesal. Gadis itu terlalu banyak berfikir. Dan fikirannya mengarah ke hal itu semua, andaikan ia banyak berfikir dalam pelajaran, pasti akan lebih bagus.


"Jangan fikirkan itu sebaiknya kau sekarang membersihkan diri setelah itu turunlah kebawah agar kita makan malam, aku sudah memesan makanan" perintah Keland membuat Melisa mengangguk kemudian mengikuti langkah Keland kembali, mereka akan ke kamar mereka di lantai dua.


....

__ADS_1


__ADS_2