
Duduk saling berhadapan. Meja persegi sebagai pembatas. Di atasnya juga sudah ada makanan yang tadi Ghea pesan. Dan Pak Gery untungnya gak rewel. Makanan apa pun dimakan. Termasuk mie goreng seafood yang dipesan Ghea. Minumnya juga cuma es teh manis aja. Huh, Pak Gery, Ghea kan makin cinta. Apalagi saat cowok itu memindahkan udang yang ada di piring ke piring Ghea. Em, sweet banget kan? Sambil senyum lagi. Jantung Ghea kan jadinya ketar ketir lagi. Ditambah kemeja hitam yang bagian tangannya itu di gulung sampai sikut. Kesannya menambah karismatika Pak Gery sebagai laki-laki mapan dan dewasa itu semakin waw, terpancar.
"Kenapa? Kok senyum-senyum gitu, sih? Ada yang aneh, ya, di wajah aku?" Ghea memutar mie goreng itu dengan garpu. Lalu memasukannya ke dalam mulut. Menikmati sensasi rasa mie yang begitu menggugah selera nafsu makannya.
"Nggak ada." Pak Gery terkekeh.
"Tapi kamu lihatin akunya kaya gitu banget. Nafsu, ya, sama aku?" Ghea mengangkat alisnya berulang-ulang.
"Iya."
Uhuk uhuk uhukkk
Awalnya Ghea cuma godain Pak Gery doang. Eh, jika tahu Pak Gery akan menanggapinya mending tadi gak usah, deh. Kan jadinya sekarang Ghea yang tergoda. Duh, keinget malam pertama dan pagi itu lagi kan. Belaian dan sentuhan tangan kekar berotot itu. OMG, kenapa otak Ghea jadi mesum gini, sih?
"Pelan-pelan makannya. Kaya orang kelaparan aja, deh."
Emang iya.
"Ekhem … kamu, sih, pake jawab iya segala. Kan aku jadi keselek gini."
"Lah. Aku jujur loh orangnya. Gak suka bohong. Dosa." Pak Gery menyeruput es teh manisnya. "Lagi pula kamu ngapain nanya gitu sama aku? Hem? Apa lagi ingat sesuatu?" Sekarang giliran Pak Gery yang menggoda Ghea. Lihat, deh, wajah tuh cewek udah kaya tomat aja. Merah. Namun menggemaskan.
"Ishh, gak usah ditanya, Kai EXO."
Pak Gery mengerucutkan alisnya. Bingung. Kenapa Ghea panggil dia Kai EXO?
"Iya. Kamu gak tahu kalau di sekolah banyak yang bilang kamu mirip anggota boy band Korea itu? Tapi menurut aku mah, sih, nggak. Jauh malah."
"Karena?" Pak Gery bertanya. Sepertinya akan menarik juga obrolan mereka itu.
Menegakkan punggungnya, Pak Gery menyimpan garpu dan sendok. Kemudian menggeser piring yang masih ada isi mie gorengnya ke samping. Kedua tangannya ia simpan di atas meja. Lalu ditautkan lah jari-jari lentik nan indahnya itu di sana. Setiap kuku jari itu bersih dan indah. Ghea yakin jika Pak Gery termasuk cowok yang suka dengan kebersihan, deh. Bukan hanya dari kuku jarinya aja. Tapi jika Ghea ingat, selain bersih juga tubuh Pak Gery tuh wangi. Pokoknya maskulin banget. Dan gayanya yang seperti itu selalu saja mampu menghipnotis semua orang yang sedang ia ajak ngobrol. Apalagi dari cara Pak Gery menatap lawan bicaranya. Tegas namun penuh kelembutan. Dan jika Ghea tahu, pak Gery bersikap seperti itu cuma ke Ghea aja. Keluarga dan orang terdekatnya. Jika sedang sama orang lain, Pak Gery gak banyak ngomong. Duh boro-boro ngomong. Sekali senyum aja tuh, kayanya mahal banget.
Membuat Ghea semakin mengingat saja ketika Pak Gery berada di atas tubuhnya. Ghea melihat jari-jari Pak Gery yang tertaut. Ia berdehem pelan. Otaknya itu mulai bekerja tidak baik.
"Karena menurut aku kamu lebih tampan dari Kai EXO." Kemudian terkekeh lucu. Bisa ngegombal juga, tuh, cewek.
__ADS_1
"Masa?" Pak Gery memiringkan kepalanya. Tersenyum samar. Hatinya ingin tergelak. Gak nyangka aja, kok bisa dirinya itu jatuh cinta pada cewek kaya Ghea? Pak Gery lihat Ghea dari apanya coba?
"Ish, serius, deh, aku, Mas. Kata kamu kan tadi gak boleh bohong. Dosa." Ghea berujar enteng. Ia kembali memasukan mie gorengnya ke dalam mulut. Mengunyahnya dengan penuh perasaan. Terlihat Ghea begitu sangat menikmati mie goreng tersebut.
Tahu gak, sih, jika mie, tuh, makanan kesukaan Ghea. Dibanding makan nasi, Ghea mending makan mie. Gak tahu kenapa. Pokoknya ada kebahagiaan tersendiri aja gitu pas Ghea makan berbahan terigu itu.
Saat Ghea sibuk memakan mie di depannya yang belum habis. Pak Gery mengamatinya. Melihat, bagaimana mulut Ghea menyeruput mie yang panjang tanpa mau dipotong dulu dengan bibirnya. Tapi lucu, sih. Pak Gery ingin ketawa saja rasanya. Tapi malu kalau sampai ngelakuin itu. Ia hanya tersenyum saja melihat cara makan Ghea. Jadi gemas.
"Eh, kamu, itu, udah makannya? Kok gak abis, sih? Gak suka makan mie, ya? Ck, kenapa tadi gak bilang kalau gak suka. Tahu gitu tadi aku pesenin yang lain aja."
Iya. Emang salah sendiri kalau gak suka kenapa pas Ghea nawarin kepalanya mengangguk?
"Suka. Cuma udah kenyang," jawabnya masih dengan sudut bibir yang sedikit tertarik.
Ghea menaik turunkan kepalanya.
**
"Kamu duluan aja ke parkiran. Aku mau bayar dulu ke kasir." Saat makan siang itu sudah selesai, Pak Gery dan Ghea meninggalkan meja bekasnya. Sebenarnya makan siang udah kelewat beberapa jam, sih. Mungkin lebih bisa dibilang makan sore aja.
Di depan meja kasir resto. Saat Pak Gery ingin meminta bilnya, handphonenya berdering. Ia merogoh saku dan mengeluarkan benda pipih itu. Terlihat di layar datarnya Adi is calling …
"Aku angkat telepon dulu. Ini kamu bayar dulu, ya, makanannya. Aku tunggu di parkiran," katanya sambil menyerahkan dompet tebal miliknya itu. Kemudian berlalu dari sana.
Ghea melihat dompet yang sudah berpindah tangan padanya. Dompet tebal yang gak tahu ada berapa banyak lembar uang di dalamnya. Ghea meminta penjaga kasir untuk memberikan bil. Membuka dompet Pak Gery, bola mata Ghea hampir saja keluar.
Ghea kaget karena isi dompetnya itu cuma ada duit ungu sama hijau. Gak ada yang biru apalagi si merah. Dipikir Ghea, itu Pak Gery emang gak ada duit apa bagaimana? Kalau iya, gimana nanti nasib Ghea kedepannya? Uang jajan sama belanjanya juga gimana? Duh, kok Ghea jadi matre kaya gini, ya? Tapi masa iya juga, sih, Pak Gery gak punya duit? Mobilnya aja cakep. Keluaran terbaru lagi. Terus motornya juga keren. Kemaren pas belanja aja pake beli segala keperluan rumah sama isi dapur. Gak mungkin kan Pak Gery gak ada duit. Oh, Ghea lupa, ini kan tanggal tengah, pasti Pak Gery belum dapat pesangon. Pantas saja Ghea minta pembantu untuk membantu mengurus rumah bilangnya gak usah, biar belajar mandiri katanya.
Sekarang otak Ghea malah berspekulasi kemana-mana. Pak Gery anak tunggal orang kaya, tapi kok jadi guru? Dipikir Ghea, mungkin Pak Gery diharuskan mandiri atau bagaimana sama orang tuanya, ya? Ah, tahu, ah, Ghea bingung harus cari jawabannya kemana.
"Maaf, mbak. Bilnya." Penjaga kasir menyadarkan Ghea yang tengah melamun mikirin uang jajan sama belanjanya.
Auto tersentak. Ghea kaget. "Eh iya, Mbak. Berapa?" Mengerjap begoo, tangannya membuka lagi dompet yang tadi sempat Ghea tutup. Melihat bil yang disodorkan Mbak kasir, tercengan saja Ghea. Pasalnya, apa itu gak salah nominalnya? Kan Ghea cuma pesan dua mie goreng udang sama dua es teh manis. Kok gede banget, sih, bayarnya? Ah, oon, mungkin mahal dari udangnya kali, ya? Nyesel juga Ghea pesennya udang lobster yang gede.
Ghea menghitung duit yang ada di dompet Pak Gery berapa. Total duit sama nominal kurang banyak. Duh, Ghea udah malu banget ini. Mana Ghea gak bawa dompet lagi. Tadi pagi ketinggalan di kamarnya karena buru-buru udah telat berangkat sekolah. Di kantin aja, Ghea makan bakso dibayarin sama Reza. Terus ini gimana dong?
__ADS_1
Ghea menoleh keluar. Ke arah parkiran. Dia melihat Pak Gery yang masih mengapit handphone di telinganya sambil bersandar pada pintu mobil miliknya. Sepertinya masih bicara di telepon, deh.
Ghea udah panik banget. Mana di belakang udah ada yang antri buat bayar lagi. Lalu tangannya itu mencari-cari di selipan dompet. Kali aja kartu ATM terselip di sana.
Dan, yes. Wajah Ghea berbinar seketika. Ghea menemukan ATM Pak Gery yang terseli di dompetnya. Cuma ada satu kartu, sih, tapi mudah-mudahan aja isinya gak kosong, ya.
"Ini, Mbak." Menyodorkan ATM itu pada si Mbak kasir.
"Pin-nya, Mbak?"
Duh, begoo. Ghea kan gak tahu nomor pin-nya berapa. Ih sial banget, sih, Ghea hari ini. "Eummm … bentar, ya, Mbak. Saya gak tahu pin-nya. Saya keluar dulu. Nanyain sama orang itu, tuh, Mbak, yang lagi nelepon. Yang lagi bersandar di mobil." Tunjuk Ghea pada Pak Gery yang dari tadi nelponnya gak kelar-kelar. Bicarain apa coba? Bikin kesel aja.
"Ya udah, Mbak, tapi jangan lama-lama, ya."
"Iya. Kalem aja, Mbak. Saya ambil lagi ATM-nya, ya. Takut ilang. Nanti kalau ilang, mbaknya gak mau tanggung jawab. Bahaya kan buat saya"
"Tapi, Mbak," sahut si Mbak kasir. Takut saja jika Ghea ngibul dan cuma alasan doang.
"Tenang. Gak bakal kabur gue kok. Takut makanan yang udah masuk ke perut gue jadi api. Dosa kan, ya?"
Terpaksa Mbak kasirnya mengngguk walau setengah ragu.
Ghea memutar tubuhnya niat keluar menghampiri Pak Gery. Enak aja dia enak-enak santai sambil telponan. Di dalam Ghea kerepotan sendiri bayar duitnya kurang. Ada ATM juga percuma kagak tahu pin-nya. Siaaallll.
"Coba, deh, pin-nya tanggal lahir yang punya ATM itu!"
Eh, siapa dia? Kok so tahu banget, ya?
TBC
Guys pahami ya. Di sini Ghea kan masih gak tahu kerjaan Pak Gery yang sebenarnya apa. Jadi Ghea masih menyangka saja jika Pak Gery kerja cuma sebagai guru doang. Dipikirnya Pak Gery itu hidup biasa aja walau papanya kaya. Wkwk.
Paham kan ya?
Kalau gak. Udah pahami aja ya, biar gak lama. Pak Gery nya juga kan belum kasih tahu Ghea jika dirinya juga mengurus kantor papa Dika. Hahahaaa
__ADS_1
BTW sambil nunggu cerita ini Up. Baca dulu my enemy is my love jika yang belum baca.