
“Ini yang masak Ghea loh, Pa.” Dengan sangat antusias Mama Dian memberitahu Papa Dika. Memuji Ghea, jika yang memasak sambal dan menggoreng paha ayamnya adalah sang menantu. Tadi Papa Dika bertanya siapa yang membuat sambalnya.
“Enak banget ini sambalnya loh, Ghe,” puji Papa Dika. Seraya menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. “Gini nih, Ma, kalau buat sambal, pedasnya itu gak terlalu banget. Terus ada rasa manis-manisnya gitu. Papa suka.”
“Ya ampun si Papa, kalau gak pedas itu bukan sambal namanya. Tapi manisan.” Adalah Mama Dian yang menyahut. Kemudian terkekeh pelan.
“Sambalnya manis, ya, Pa? Itu tadi Ghea kebanyakan nuangin gulanya. Maaf, ya,” kata Ghea karena merasa malu karena Papa Dika dan Mama Dian yang membahas sambal dan manisan.
“Gak kok, Ghe. Ini Papa suka. Bener deh. Seriusan,” puji Papa Dika sambil mengunyah nasi di dalam mulutnya.
Sedang Pak Gery hanya diam saja sembari menikmati hasil masakan Ghea yang masih terbilang amatiran.
Setelah selesai makan malam, Ghea membereskan piring-piring kotor lalu membawanya ke dapur. Walau masih terbilang sangat amatiran, namun Ghea senang karena sedikit demi sedikit tahu bagaimana cara memasak. Setelah ini Ghea berniat akan mencobanya sendiri nanti di rumah tanpa bantuan Mama Dian.
Menyalakan air kran di wastafel, Ghea menuangkan sabut berwarna hijau ke dalam wadah sebelum kemudian Ghea mencuci piring kotor itu. Namun belum juga selesai, tangan Ghea yang masih berbusa sabun itu sudah ditarik oleh tangan kekar seseorang. Membuat Ghea tersentak. Kaget. “Eh, Mas Gery mau bawa aku kemana? Ini tangan aku masih banyak busa sabunnya.”
Pak Gery tidak menghiraukan. Dan malah semakin menarik tangan Ghea, membawanya ke pengarangan rumah. Kemudian mencuci tangan Ghea di air kran luar yang biasa dipakai kang kebun untuk menyiram tanaman.
“Mas Gery apa-apaan sih? Kenapa --”
“Ssstt …” Seraya mencuci tangan Ghea, Pak Gery mendelikan mata padanya, membuat mulut Ghea langsung mingkem seketika.
“Kita mau kemana?” tanya Ghea setelah cowok itu selesai mencuci tangannya. Dan berjalan ke arah motor yang terparkir di carport rumah Papa Dika.
“Ikut aja!” katanya seraya menyalakan roda dua tersebut. “Ayo!” ajaknya kemudian.
“Ih mau kemana dulu? Mau pulang? Kita kan belum pamitan sama Mama, Papa. Nanti nyariin loh, Mas.”
__ADS_1
“Mama sama Papa udah tahu kok. Tadi aku udah pamitan. Udah ayo naik!” Menggerakkan kepalanya sebagai gestur tubuh untuknya naik bersama kedua tangan yang berada di stang motor. Siap untuk melajukan kendara dua roda berwarna hijau tersebut.
“Tapi aku kan yang belum pamitan. Nanti mereka ngiranya aku gak sopan lagi, Mas.” Ghea kekeh. Cewek itu masih mempertahankan kedua kakinya, berdiri di samping motor Pak Gery.
Terdengar suara decakan keluar dari mulut Pak Gery sebelum cowok itu turun lagi dari motornya. “Mau naik sendiri atau aku yang pangku kamu untuk duduk diatas motor? Hem?”
**
Di sisi lain.
Ilham terus saja mengejar mobil yang dikemudikan Chacha. Tidak ada hentinya cowok itu mengejarnya untuk meyakinkan sang bodyguard jika Ilham memang sungguh-sungguh padanya.
Sejak Adi memberitahunya jika Chacha memang sedang fokus pada pekerjaan yang diberikan Pak Gery padanya, Ilham nekat mencari Chacha ke tempat yang diberitahu oleh Adi. Ingin menemuinya. Membicarakannya lagi maksud hatinya. Namun setelah bertemu, Chacha justru menghindarinya. Pergi dengan mobil sedan yang lain yang memang diberikan Pak Gery khusus untuknya bekerja.
“Astaga, itu cowok sumpah keras kepala banget.” Mata Chacha melirik dari kaca spion tengahnya yang mana Ilham masih mengikutinya dari belakang.
Karena kesal, lantas Chacha menepikan mobil yang dikendarainya. Lalu Chacha turun dari dalam sana dan setelah menutup pintu mobil dengan suara hentakan yang keras, Chacha berjalan ke arah mobil Ilham yang juga menepi dan berhenti tepat di belakang mobil Chacha.
Chacha jelas saja mengerutkan keningnya. dipikir Chacha ini cowok punya urat malu atau kagak, sih?
“Woy, jujur aja kenapa, sih, Cha?” Sumpah demi apapun itu yang ada di dunia ini, rasanya Chacha ingin sekali menghadiahkan kepalan tangan pada mulut cowok yang ada di depannya.
Ngomong-ngomong, memang ada orang yang bilang suka memanggil cewek yang disukainya dengan sebutan ‘woy?’ Mungkin hanya Ilham saja orang aneh itu.
Kemudian Chacha terkekeh kosong. “Saya suka sama anda?” ucap Chacha dengan gaya bahasa formalnya. “Nggak!” tekannya kemudian tubuhnya berbalik, hendak kembali memasuki mobilnya. Chacha ingin segera pergi dari hadapan cowok yang menurutnya tidak penting itu. Namun siapa yang tahu di dalam hati Chacha? Tidak ada, bukan? Selain dirinya dan Tuhan.
Namun sebelum kaki Chacha melangkah, Ilham menahan tangannya. Ditariklah tangan yang terbalut jaket kulit hitam itu sebelum Ilham menyudutkan tubuh Chacha ke pintu mobil. Hingga pipi cewek tersebut menempel pada kaca jendela mobil.
__ADS_1
“Anda apa-apaan, sih?” Chacha berontak. Menggerakkan bahunya. Namun sialnya kedua tangan Chaca ditekukkan ke belakang oleh Ilham dengan kuat. Sehingga Chacha tidak bisa berbuat apa-apa. Atau mungkin cewek itu pasrah?
Ilham mendekatkan bibirnya tepat ke telinga Chacha. “Bisa gak …, gak usah formal amat ngomongnya?” kata Ilham sedikit sensual. Membuat Chacha merasakan gerakan bibir itu pada daun telinganya. Lalu tengkuk dan sekitar belakang telinganya dibuat merinding seketika oleh gerakan bibir Ilham itu.
Sial.
Chacha malah menyukainya. Apalagi ketika kedua tangannya terlepas kemudian Ilham mengalihkannya ke atas perut Chacha. Hingga posisi Ilham saat ini seperti sedang memeluk pinggang Chacha. Sedangkan posisi Chacha tidak berubah. Pipinya pun sekarang malah lebih ditekankan kuat oleh pipi Ilham.
“Kalau lo gak suka kenapa diam aja saat posisi gue yang udah meluk elo kaya gini?” ilham semakin mengeratkan lingkaran kedua tangannya. Juga kini dapat merasakan detak jantung Chacha yang berdebar menggila. “Kenapa harus ditahan, sih, kalau lo juga punya perasaan yang sama ke gue, Cha?” Lalu bibir itu merayapi tengkuk Chacha yang jenjang. Semakin bebas karena Chacha yang menguncir rambutnya.
Entah mengapa, Chacha sangat nyaman berada di posisi seperti ini. Menikmati sentuhan bibir Ilham di tengkuknya lalu merasakan eratnya pelukan kedua tangan Ilham. Sejenak Chacha memejamkan kedua matanya dengan dahi yang mengkerut. Dadanya yang kembang kempis merasakan jantungnya yang kian menggila. Seperti ingin keluar saja dari dalam sana.
“Bilang sama gue, Cha, kalau elu juga suka sama gue!” Kini bibir Ilham berada tepat di atas bahu Chacha yang tertutup jaket kulitnya tentu saja. “Bilang, Cha, kalau elo juga suka sama gue dari waktu pertama kita ketemu!” Pelukan Ilham semakin membuat Chacha sesak nafas.
“Bilang, Cha! Bilang! Kenapa elo diam aja? Lo gak bisa jawab?” Lalu tangan Ilham membalikkan tubuh Chacha membuat Chacha membuka matanya cepat kemudian mengerjap kaku saat pandangannya saling bertemu dengan Ilham. Chacha terpesona. “Karena elo emang gak bisa jawab nggak, kan, Cha?” Chacha hanya mengerjapkan matanya kaku. Sedangkan mulutnya diam membisu. Dan jantungnya? Jangan ditanya lagi. Sepertinya kini sudah turun ke dasar perutnya.
Ilham menutup matanya ketika satu tangan Chacha tergerak. Menyentuh matanya. Bulu matanya yang lentik dan lebat. Lalu jari telunjuknya naik menyentuh alisnya yang tebal. Kemudian mengikuti garis rahangnya yang kokoh. Tak beda jauh dari milik Pak Gery yang tegas. Jari telunjuk Chacha mengikuti garis rahang itu sampai pada jarinya berhenti tepat di atas bibir Ilham yang tipis. Bersamaan dengan itu pula kedua mata Ilham terbuka dan gerakan jarinya berhenti dari mengusap.
Bukan karena mata Ilham yang ingin melihat ekspresi wajah Chacha seperti apa sekarang. Begitu juga dengan jari Chacha yang berhenti ingin minta dicium. Namun pendengaran keduanya sama-sama mendengar suara seseorang menjerit minta tolong.
...TBC...
Maaf baru update lagi. Yang follow IG aku pasti tahu kenapa ya. Jangan lupa untuk tetap jaga kesehatan ya gengsss!
Ini maaf part ini Ghea sama Pak Gerynya dikit. heheee maaf juga kalau kurang ngefeel dan banyak typo. Aku langsung update soalnya. Gak edit dulu. karena takut ada yang nunggu. Nanti kalau ada salah salah komen aja ya. nanti aku revisi. Tapi jangan komen yang nackal ya. hihii
jangan sepikan komennya ya. karena itu juga yang terkadang buat aku gak semangat ngetik. wkwk
__ADS_1
Seizy
Kang ngetik amatiran yang suka baperan. hihii