
.
.
.
"Melmell" panggil Rara yang kini sudah ikutan menangis kemudian mengambil alih Melisa dari pelukan Keland dan memeluknya erat.
Tangisan Melisa semakin kencang saat melihat kehadiran ketiga sahabatnya. Meskipun ia mengabaikan mereka tapi mereka tetap datang mencarinya sendiri. Kini ia memeluk mereka satu persatu ingin berbagi kesedihannya karna ia tak sanggup mengahadapinya sendiri.
Chaca dan fela pun kini ikutan menangis sembari memeluk Melisa bergantian. Sementara keland hanya terdiam saja di tempatnya menyaksikan keempat sahabat itu.
"Mell, maaf kami terlambat datang" sesal Fela dan di angguki Melisa walaupun ia sekarang belum mampu tersenyum untuk menanggapinya.
"Mell yang kuat yah, kami ada buat kamu. Kamu gak sendirian, kita semua disini bersedia menjadi tempat pelampiasan tangisan kamu" ucap Rara membuat Melisa terharu. Teman-temannya begitu tulus padanya. Mereka begitu menyayanginya.
"Mell, Chaca takut banget semalam liat Melmell berlarian sambil nangis di aula. Chaca kirain Melmell kenapa-napa" ucap Chaca yang meskipun dengan nada manja yang melekat tapi itu tetap saja membuat Melisa sedih dan terharu.
"Makasih kalian semua udah datang, aku senang banget kalian datang bantu ngangkat beban aku sedikit" ucap Melisa dan mereka berempat pun berpelukan.
___
Kini proses pemakaman pun sudah selesai. Semua acara doa pun sudah selesai. Dan semua orang sudah memilih bubar termasuk keluarga Keland yang juga sedari tadi disana kecuali adiknya. Orang tua keland meminta ijin Melisa agar pamit terlebih dahulu karna ayah keland juga yang tampak syok akan kematian sahabat nya menjadi kurang sehat.
"Melisa sayang, kamu yang kuat yah. Kamu masih punya mama, papah, sama Kall. Kalau kamu ada apa-apa jangan ragu buat cerita ke mama, mama turut sedih. Melisa harus sabar yah, kalau Melisa bersedih nanti ayah Melisa bisa nangis di sana. Orang tua kamu sekarang sudah bertemu, jadi kamu harus bahagia untuk mereka" ucap Rany sambil menyeka air mata Melisa membuat membuat Melisa menangguk sedih.
__ADS_1
"Melisa sayang, maaf yah... papah sama mama harus pergi duluan. Kamu jaga diri baik baik yah. Kall pasti jagain kamu" kini yang berbicara itu Reksa ayah Kall sembari menepuk-nepuk kepala melisa pelan.
"Kami pamit yah sayang" ucap Rany lagi dan kini mereka pun berlalu pergi meninggalkan pemakaman dengan kesedihan yang tertinggal.
Hanya Melisa yang masih ingin disana tentunya bersama Keland dan ke 3 temannya masih berdiam disana menunggunya.
Air mata Melisa kembali lagi menetes teringat semua kenangan bersama ayahnya. Ayahnya yang membesarkannya seorang diri, ayahnya yang sangat menyayanginya, ayahnya yang sangat memperhatikannya. Semuanya ayahnya lakukan untuknya dan itu tak bisa membuatnya lupa.
Bahkan saat ayahnya tau usia nya tidak banyak lagi, ia mempersiakan kehidupan yang indah untuknya. Mempersiapkan keluarga baru untuknya agar ia tak sendiri lagi. Kini ia mengerti maksud ayahnya dan ia sangat bersykur akan hal itu meskipun itu awalnya sangat membuatnya kesal. Tapi sekarang ia tau, ayanya memilih segala yang terbaik untuknya.
"Ayahhh.... Melisa rinduu...." ucapnya sambil menangis dan hal itu membuat Keland mendekat kemudian memeluknya memberikan ketenangan. Sesekali ia mengecup puncak kepala Melisa dengan sayang dan hal itu tak lepas dari pandangan ke 3 temannya yang mana 2 diantaranya semakin terkejut. Kini mereka yakin tak salah melihat tadi saat baru tiba kalau Keland memang memeluk Melisa. Dan saat ini gambaran itu begitu jelas. Tepat di depan mata mereka.
"Kakk...ayahhh...pergii...Melisa sendirian sekarang...." tangis Melisa semakin menyerukan kapalanya pada dada Keland. Kini baju pria itu sudah basah akibat air mata Melisa tapi ia tak perduli.
"Stttt... kamu gak sendiri, ada aku, mama, papa, dan teman-teman kamu. Semuanya ada buat kamu" ucap Keland kemudian menangkup wajah Melisa dengan kedua tangannya dan mendaratkan kecupan dimata bengkak melisa secara bergantian.
Kembali Keland memeluk Melisa dan membantunya berdiri. Namun sepertinya kaki lemasnya tak mampu menopang berat badannya hingga ia pun akan terjatuh kalau saja tangan kokoh itu tak segera menangkapnya.
Tidak tega, Keland pun berinsiatif untuk menggendong istrinya itu ala bridal kemudian meninggalkan area pemakaman dan diikuti oleh ke 3 temannya yang kini dua diantaranya semakin syok lagi dan lagi karna tak kunjung mendapat penjelasan apapun dari apa yang mereka lihat saat ini.
🏡🏡🏡
Sore harinya di rumah Keland dan Melisa setelah pemakaman usai. Mereka memilih pulang kesana dan ketiga temannya pun mengikut saja, karna mereka masih ingin bersama Melisa menenangkan sahabatnya itu.
"Mel minum dulu" ucap Rara yang habis dari dapur mengambilkan minum untuk Melisa yang kini terduduk di sofa ruang tamu bersama Keland dan kedua temannya yang menatap mereka heran.
__ADS_1
Merasa ditatap seperti itu Melisa pun merasa sepertinya ia harus menjelaskan sesuatu pada mereka. Bagaimanapun ia harus menjelaskannya. Mereka sangat mempercayainya maka Melisa juga harus mempercayai mereka. Melisa sudah memutuskan akan menceritakannya secara langsung semuanya. Dan sebelum itu ia menatap dulu kearah Keland yang saat ini duduk di sampingnya seakan ia meminta persetujuan pria itu.
Mengerti akan tatapan Melisa keland mengangguk namun memberi isyarat melalui tangannya pada Melisa biar dia yang mengatakan semua dan diangguki oleh Melisa. Ia tau Keland sangat pengertian.
"Saya tau kalian pasti terkejut dan banyak bertanya-tanya tentang ini sedari tadi" ucap Keland yang berhasil memancing ketiganya yang kini semakin memposisikan duduknya dangan nyaman karna ingin serius mendegar semua. Meskipun Rara sudah tau, tapi ia juga ingin mendengarnya langsung dari mulut Keland. Ia penasaran sekali termelebih kedua temannya yang tak tau apapun sama sekali.
"Saya akan menjelaskannya..... saya dan Melisa sudah menikah..." belum selesai keland mengucapkan kalimatnya ke 3 temannya terpekik kaget termelebih ke 2 orang yang kini merasa jantungnya sudah terbang dari angkasa.
Apa-apaan ini? Jadi apakah selama ini perempuan yang menikah dengan Keland yang identitasnya ditutupi itu adalah Melisa sahabat mereka sendiri. Orang yang selalu ada di depan mereka saat mereka menggosipi berita pernikahan Keland?? Astagahh....
Mereka tak ingin percaya ini tapi fakta-fakta yang selama ini mereka temukan itu sudah membuktikannya. Melisa juga tak sekolah di hari pernikahan pak Keland. Melisa tiba-tiba jarang kumpul seakan sangat sibuk dan lagi tiba-tiba Melisa sangat pintar hingga mencapai peringkat 2, hal yang mustahil kecuali memang benar ia menikah dengan pak Keland. Jadi istri pak Keland yang anak sekolah mereka itu bukan hoax, lalu perempuan yang malam-malam dipeluk pak Keland itu Melisa? Dan yah... mereka ingat, malam itu memang Melisa keluar dan menangis, lalu apakah saat itu kejadiannya?? Karna keesokan harinya sekolah sudah heboh akan berita itu.
"Memang benar, yang ada difikiran kalian benar. Perempuan yang saya nikahi diam-diam adalah Melisa. Karna dia masih sekolah maka identitasnya harus saya sembunyikan karna saya tidak ingin menghancurkan sekolahnya" jelas keland lagi dan lagi membuat mereka semakin tercengang. Pria itu sangat jenius hingga tau isi fikiran mereka. Dan ia begitu perhatian pada Melisa, tampan, kaya, pintar dan baik hati. Paket komplit tak kurang apapun. Melisa luar biasa beruntung membuat mereka iri seketika. Terutama kini Chaca tampak memberengut.
"Kenapa Cha?" Kini Melisa bersuara
"Melisa jahat. Melisa tau kan Chaca suka sama pak keland. Dan tiap hari Chaca ceritain pak Keland seperti orang gilak pada Melisa, tapi Melisa gak bilang apa-apa sama Chaca. Melisa menyembunyikan rahasia besar" kesal Chaca membuat Melisa merasa bersalah.
"Cha gak boleh gitu, kan Melisa lagi sedih. Chaca jangan buat Melisa makin sedih cha" ujar Rara mengingatkan.
"Udah gpp kok ra. Ia Chaca benar, aku salah karna tidak cerita sama kalian. Tapi aku tidak cerita bukan karna tidak percaya sama kalian. Tapi karna aku belum siap. Maafkan aku" ucap Melisa menyesal. Membuat Chaca merasa bersalah telah berkata begitu.
"Melmell jangan sedih yah, Chaca gak marah kok, maafin Chaca..." sesal Chaca membuat Melisa merasa terharu. Sahabatnya memang miliknya. Mereka menyayanginya.
"Makasih kalian udah pengertian" ucap Melisa tulus dan angguki oleh ketiga sahabatnya.
__ADS_1
Meskipun kini Fela masih tak menyangka akan hal itu. Ini kejutan yang luar biasa ia terima sepanjang hidupnya. Kejutan yang sangat tak mampu ia percayai. Selama ini ia selalu mengejek Melisa mengira pak Keland tak akan mau padanya, namun kenyataan yang ia lihat sepertinya pak Keland benar benar mencintai sahabatnya tersebut.
.....