
.
.
.
Setelah insiden memalukan tadi, kini semua orang berkumpul. Memang tak semua dapat hadir hari ini, tapi yang datang lebih dari setengah penghuni kelas mereka. Dan kini, semua mata sedang menatap kedua tersangka seakan menuntut penjelasan.
Sedangkan Melisa yang sedari tadi sudah mati matian menahan malu, hanya bisa menundukkan kepala dan tak berani bertatapan langsung dengan wajah teman temannya. Ia kira setelah kejadia kemarin, ia tak akan bertemu lagi dengan mereka, tapi siapa sangka kini teman temannya berada dirumahnya dan Keland hendak menuntut penjelasan. Dan lagi, mereka baru saja memergokinya dan Keland dalam posisi yang hampir bercinta, aduh sangat memalukan. Kini ia sangat yakin jika wajahnya sudah semerah tomat, oh tolonglah segera selamatkan ia dari situasi tegang memalukan ini.
"Hm-hm" suara deheman Rara memecah suasana hening yang sempat tercipta beberapa saat tadi.
"Ada masalah apa kalian mendatangi rumah saya? Apa ada yang salah kemarin?" Tanya Keland memulai obrolan.
"Pak, kita semua kesini tadinya ingin mengucapkan salam perpisahan terakhir sama bapak. Karna kemarin kita tidak sempat melakukannya," jelas Erlando sang juara kelas yang tergantikan oleh Melisa.
"Kalian tak perlu melakukannya," ucap Keland dingin. Sepertinya ia masih kesal dengan kedatangan para mantan muridnya itu yang tiba-tiba dan menghancurkan moment indahnya dengan Melisa.
Sementara mereka yang mengerti maksud perkataan Keland dan menyadari kekesalan gurunya tersebut bertatapan bergantian kemudian terkekeh geli.
"Maaf pak, kami tidak tau kalau bapak tadinya ingin ena-ena sama Melisa, kalau kita tau pastinya kita semua gak bakalan datang kesini gangguin kalian," ucap Rara spontan membuat yang lainnya makin terkikik sementara Keland sudah membola terkejut mendengarkan ucapan sang murid yang sangat vulgar itu. Apakah tidak diajarkan utuk menghormati mantan guru?
Dan Melisa, bahkan sedari tadi ia tak mampu lagi bersuara, semua suaranya tercekat di tenggorokan. Dia sangat malu sekarang, tentu saja teman-temannya yang mesum itu sangat mengerti situasi ini. Tentu saja mereka mengerti jika kekesalan Keland itu karna gagal dapat jatah dan lagi, sahabatnya yang omes itu semakin memperjelasnya dengan ucapannya yang memalukan itu. Aishhhhh....
__ADS_1
Situasi macam apa ini?
"Hmm..... apa yang kau bicarakan? Anak kecil seperti kalian tak perlu tau hal seperti itu, kalian harusnya fokus belajar saat ini agar masa depan kalian cerah," ceramah Keland agak gugup untuk mengalihkan topik. Namun bukannya mengalihkan, justru semakin membuat mereka berdua terpojok dengan ucapan Rara.
"Terus kenapa bapak ***** in Melisa? Dia kan sama kayak kami, masih anak kecil. Kok bapak cumbu-cumbu anak kecil sih? Nanti kalau anak kecilnya hamil gimana?" Dan sukses yang lain pun tertawa terbahak bahak. Karna sejak tadi mereka memang sudah berusaha menahan diri agar tak meledak.
Sementara Keland ibarat tersedak air liurnya sendiri mendengar ocehan Rara yang ia tau sangat sengaja memojokkannya.
Sekarang ia tau, tujuan utama muridnya sudah berganti, yang tadi ingin mengucapkan salam perpisahan itu kini berubah menjadi wartawan pengulik cerita rumah tangganya.
"Melisa itu sudah menikah, wajar kalau dia digituin. Kalau kalian beda," ucap Keland sambil menatap Rara tajam.
"Digituin gimana pak?" Oh ayolah, Rara ini sok polos dan sok bodoh padahal jelas-jelas arah pembicaraan mereka kesana sedari tadi. Memang dasar gadis nakal itu sengaja banget untuk mempermalukannya dan Melisa.
"Kamu itu tidak sopan bertanya seperti itu pada saya" kesal Keland mulai terbawa emosi. Namun sepertinya Rara tidak memiliki ketakutan lagi sama sekali seperti dulu Keland sempat membentaknya.
"Teman?" Tanyanya, siapa tau ia salah dengar. Tapi ternyata memang benar. Rara mengatakan teman.
"Ia lah teman, sekarang kan kami udah lulus. Bapak bukan guru kami lagi. Satu-satunya hal yang tersisa antara kita adalah pertemanan karna bapak sekarang suami teman kami, jadi sekarang kami bebas bicara apa saja sama bapak, gak ada kecanggungan lagi karna takut nilai hancur dan gak ada itu namanya bapak marah-marah sama kami karna kami itu murid, sekarang status kita beda" tekan Rara membuat Keland tercengang. Astagaa, apakah ia harus mati muda?
Rara dengan santainya mengatakan itu padanya. Dan sepertinya yang lain pun mengangguk setuju. Dasar murid kurang ajar, andaikan saja dulu ia tau akan begini jadinya setelah mereka lulus, akan ia pastikan Rara akan ia hukum habis-habisan sebagai ganti hari ini. Tapi sekarang ia sudah kehilangan hak melakukan itu.
"Meskipun sudah begitu, tapi kau tidak berhak mengulik masalah pribadi rumah tangga saya dan Melisa," oke, sebelum ia habis batas kesabaran, sebaiknya Rara menghentikan mulutnya itu untuk melawan. Karna ia tak ingin mengacaukan hari ini, ia tak mau di kenang sebagai guru kejam yang tega menghabisi muridnya saat acara perpisahan
__ADS_1
"Ciee rumah tangga... aduh Melmel, Rara jadi pengen deh" oh tidak.... Rara sudah memancing kemarahan yang sedari tadi ia tahan itu untuk keluar.
Mamun belum sempat emosi Keland keluar, Melisa yang menyadari kemarahan suaminya pun segera menyelanya.
"Rara cukup... kalau kamu mau tau rasanya yah nikah sana sama Ardy" kesalnya membuat yang lain terkekeh. Sepertinya Melisa juga terpancing, sangat menyenangkan menggoda kedua suami istri tersebut.
"Sudah jangan membuat pak Keland sama Melisa terpojok lagi dong, kan kita kesini mau buat acara perpisahan. Jangan di hancurin," cegah Erlando menengahi, dan akhirnya berakhirlah acara goda menggoda itu dan digantikan dengan acara BBQ hingga malam.
Semuanya tampak menikmati suasana hari itu. Ini adalah moment terbaik sepanjang sekolah mereka. Dulu mereka tak begitu akrab satu sama lain di kelas, tapi sejak kehadiran Keland sebagai guru yang sangat favorite dan kompeten, semua hal berubah. Keland merubah rasa acuh mereka terhadap teman menjadi rasa peduli. Yang dulu beranggapan bahwa sekelas itu sebenarnya saingan dalam belajar, kini menjadikan saingan tersebut menjadi teman diluar pelajaran, dan biasanya tugas yang dikerjakan mandiri, tak jarang di ubah jadi Kelompok oleh Keland untuk melatih kekompakan mereka. Dan sekarang, semua itu tak sia sia. Karna sekarang mereka sangat bahagia dan tak menyesal telah berteman seperti ini. Yang mereka sesali hanyalah, mengapa tak dari dulu mereka seperti ini?
"Pak, makasih sudah jadi guru yang baik buat kami semua. Makasih karna dengan hadirnya bapak, banyak hal berubah dari kebiasaan kami yang buruk jadi lebih baik. Dan kami bangga karna kelas kami jadi pemenang kelas terkompak tahun ini, itu semua berkat bapak. Semoga setelah ini bapak selalu bahagia dan semakin sukses, kami akan selalu mengingat bagaimana bapak turut andil dalam membat kami mencapai pelajaran paling berharga semasa remaja kami, terimakasih banyak," ucap Agus sang ketua kelas mewakili sekelas dalam mengucapkan terimakasih, dan Keland terharu mendengarnya. Sungguh ia tak merasa melakukan sesuatu yang begitu besar, ia hanya menjalankan tugasnya sebagai guru, dan ia tak menyangka mereka begitu menghormatinya seperti ini.
"Saya juga mengucapkan terimakasih pada kalian semua, walaupun kalian nakal-nakal, tapi kalian semua mau diajari agar berubah. Semoga kalian semua sukses dan di terima di Univ terbaik bagi yang melanjut, dan diterima bekerja di tempat yang baik juga bagi yang akan bekerja, semoga kalian semua sukses cita dan cintanya" ucap Keland dan diaminkan oleh mereka semua.
"Pak, kami mau cepat-cepat punya ponakan. Prosesnya dipercepat yah pak" ini suara siapa lagi jika bukan Rara, astagaa.... ingin sekali Keland menjitak kepala anak itu hingga hantu yang merasukinya keluar dan ia sadar. Tanpa perlu ia minta pun sudah pasti ia akan melakukan itu.
"Ia, ini bapak sama Melisa lagi usaha. Doain aja" ucapnya membuat semua berteriak cieee.... sementara Melisa sudah tak tau lagi harus berkata apa saking ia malunya. Bisa bisanya Keland mengatakan itu pada teman-temannya. Ia tau bagaimana otak mesum teman-temannya bekerja, yang mereka tangkap pasti bukanlah niat baiknya, tapi tentang usaha yang Keland katakan. Pasti mereka memikirkan usaha seperti apa yang dimaksud Keland.
"Chaca jadi iri sama Melmel, Chaca juga pengen nika sama fanboy mirip bias" ucap Chaca memoyongkan bibirnya, kebiasaan yang membuat mereka selalu gemas dengan tingkah sahabatnya tersebut.
"Udah deh Cha, gak usah jadi ikutan halu kayak Melisa," kesal Fela.
"Tapikan impian Melisa terwujud dari halu dulu," balas Chaca tak mau kalah
__ADS_1
"Itu kebetulan aja, dan gak semua impian bisa terwujud. Udah gak usah ngarep ketinggian, nanti jatoh sakit deh," ucap Fela sarkas membuat Chaca semakin kesal sementara yang lain tergelak tertawa
....