Married With Teacher

Married With Teacher
Saling Menatap Sengit


__ADS_3

“Gak bisa! Kalau kamu gak mau aku tidur diluar, yaudah, kamu tidur di sofa sana. Jangan deket-deket aku!”


Ghea memberikan bantal pada Pak Gery yang berdiri di pintu, menghalanginya yang akan tidur di luar.


“Kamu masih marah--”


“--udah tahu nanya.” Ghea melipat kedua tangannya di atas perut. Membuang mukanya menatap pada dinding tembok bercat soft blue sebelah kanan.


“Kamu denger dulu, deh, penjelasan aku. Kalau--”


“--gak perlu, udah telat.” Kemudian tubuhnya berbalik berjalan ke arah ranjang.


“Belum, Ghe--” Pak Gery mendesah berat di tempatnya berdiri.


“--kalau aja dari dulu ngomong jujur! Apa salahnya, sih?” Kemudian dibaringkannya tubuh itu di atas kasur. Menarik selimut dengan hentakan sebelum tubuhnya ia tutupi sempurna dengan kain bed cover berwarna senada dengan cat tembok kamarnya.


Oke, Pak Gery kalah. Ia mengaku, ia salah karena memang tidak jujur padanya dari awal. Pak Gery tahu ini adalah kesalahannya. Tapi, apa tidak ada kesempatan untuknya menjelaskan? Setiap kali ia ingin menjelaskan pada Ghea, cewek itu selalu berusaha menyela. Seakan dia menghindarinya.


membuang nafasnya kasar, pak Gery meletakan bantal yang tadi Ghea berikan ke sisi sofa lalu tanpa selimut Pak Gery membaringkan tubuhnya miring di sana. Tepat menghadap ke arah Ghea yang membelakanginya. Pun dengan seluruh tubuhnya yang tertutup. Melipat kedua tangannya di depan dada seraya terus menatap punggungnya. Helaan nafas berat pun mengiringi mata Pak Gery untuk terpejam.


Mungkin Pak Gery pikir jika Ghea sudah terlelap. Namun, tidak. Setelah beberapa menit berlalu. Saat Ghea mendengar deru nafas yang sudah teratur dari cowok yang tidur di sofa itu, ia pun perlahan membuka kain berbahan bed cover.


Beringsut, Ghea membalikan tubuhnya menghadap Pak Gery lalu menatap lamat wajah yang tertidur di sana dan melihat ada kerutan di dahinya. Ghea tahu jika cowok itu sedang banyak pikiran. Salah satunya adalah memikirkan dirinya.


menyibak selimutnya, Ghea turunkan kedua kakinya sebelum ia melangkah ke arah sofa.


Ghea menunduk di sana dengan kedua lutut sebagai penyanggah. Di usaplah kerutan di dahi itu dengan jari telunjuknya. Memijatnya pelan sebelum jari telunjuknya turun menyentuh garis hidungnya yang mancung. “Sayang kamu, Mas. Tapi aku gak bisa maafin kamu gitu aja setelah kebohongan yang kamu sembunyikan dari aku.” Ghea menatap bibir tebal itu. Jujur, ia rindu. Lalu menyentuhnya dengan jari telunjuk. Mengikuti garis bibirnya yang indah itu. Lalu berdiri kembali. Ghea tidak tahan melihat wajah itu.


"Sayang kamu juga."


Ehhhh ...


Kemudian tangan Ghea ditahan oleh tangan kekar saat dirinya hendak berbalik.


Saat menoleh Ghea sudah mendapati Pak Gery dalam keadaan mata yang terbuka. Mata yang menatapnya lamat dan dalam. Mata basah bersama cairan yang siap untuk terjun. Lalu hening mengambil alih ruang kamar itu. Seolah tidak ada kehidupan disana.


Seraya menarik tangan Ghea, cowok itu beringsut. Duduk sebelum kemudian juga membawa Ghea untuk duduk di sampingnya.


Beruntung Ghea tidak menolak. Malu mungkin karena sudah tertangkap basah bilang sayang pada suaminya.


**


“Gak usah. Aku pake mobil sendiri aja.”


Lagi-lagi Ghea menolaknya saat suaminya itu akan menghubungi Chacha supaya Ghea di antar oleh sang bodyguard.


Pak Gery menghela nafas berat. Sabar. Menghadapi Ghea bukan dengan cara memaksanya. “Yaudah, kalau gitu biar aku aja yang nyetirin kamu.”

__ADS_1


“Kamu bukan sopir aku!” jawabnya dengan jutek.


Lagi, Pak Gery menghela. Mungkin sekarang cowok itu harus banyak-banyak minum air es agar hati dan kepalanya dingin. Tidak terbawa oleh nafsunya yang sedang berkobar. Terlihat dari kedua tangannya yang mengepal walau tidak erat.


“Hari ini aku absen. Gak masuk ngajar,” katanya lagi pada Ghea.


"Bodo." Lalu kata itu yang menjadi jawaban Ghea.


Ck. Padahal semalam Pak Gery sudah menjelaskan semuanya dan ia kira juga Ghea sudah memaafkannya. Lalu kenapa sekarang cewek itu masih jutek saja?


Selanjutnya Ghea masuk ke dalam mobilnya sendiri dan dengan cepat menjalankan kendara besi itu. Meninggalkan Pak Gery yang masih mematung di halaman depan rumah Papa Jordan.


"Hati-hati! Jangan ngebut-ngebut!" Serunya bersama senyum dan kedua tangan yang masuk ke dalam kantong celana pendek yang ia kenakan, saat mobil yang dikendarai Ghea sudah sampai gerbang. Sebelum kemudian berbelok ke arah kanan.


Tanpa Pak Gery tahu, cewek di balik kemudi itu terkekeh seraya melihat Pak Gery dari kaca spion.


"Rasain. Sekali-kali kamu emang harus dikerjain, Mas. Biar gak bohong lagi sama aku. Biar kamu tahu kalau aku marah gak suka sebentar."


Tak lama setelah kepergian Ghea dengan mobilnya, Adi dengan motor trail milik Pak Gery berhenti tepat di depan cowok itu. “Sorry, bro, telat gue. Biasa, jalan--” Belum juga Adi menjelaskan kenapa dirinya telat. “Buruan baju gue!” Pak Gery sudah menyelanya lebih dulu.


“Ck, sabar napa, bos. Kek cewek yang lagi PMS aja lo.” Seraya menyerahkan sebuah paper bag yang ada di tangannya. Pun Adi yang seakan tidak bisa jika tidak meledek sepupunya itu.


“Gimana-gimana, lo udah bae-bae lagi kan sama Ghea?” Adi bertanya seraya mengikuti langkah Pak Gery di belakangnya.


Pak Gery tak menggubris. Ia terus saja melangkahkan kakinya ke lantai dua dimana kamar Ghea berada.


“Ger, yaelah …” Sampai dengan Pak Gery yang masuk ke dalam kamar lalu menutup pintu kamar itu dengan kakinya. Tidak membiarkan Adi untuk masuk ke dalam sana.


Untung saja Papa Jordan sudah berangkat lebih awal ke kantor dan Mama Sora tadi pamit untuk ke pasar bersama Bi May.


Adi mendengus kesal lalu kembali ke lantai satu rumah itu. Menunggu Pak Gery yang sedang bersiap di dalam kamar sana.


**


Ghea memarkirkan mobilnya seperti biasa, di parkiran khusus mobil sekolah. Yang setelah keluar ia disambut oleh seseorang yang menabrak bahunya. “Aduhhh …” pekik Ghea memegang bahunya yang terbentur pada pintu mobilnya yang masih terbuka.


“Sakit, ya?” tanyanya penuh dengan ejekan.


“Lo? Ngapain, sih, pagi-pagi cari ribut sama gue? Gak ada kerjaan banget sumpah.” Ghea mendengus seraya menutup pintu mobilnya dengan satu kali hentakan. Kemudian memutar tubuhnya membelakangi Yura. Tidak ada niatan untuk melayaninya pagi-pagi seperti ini.


“Jangan so belagu, deh, lo jadi cewek! Jangan mentang-mentang suami lo guru di sekolah ini, lo bisa belagu kayak gini.” Lalu Yura menahan bahu Ghea untuk melangkah. Membalikan tubuhnya secara paksa.


“Mau lo apa, sih? Aneh deh gue mah. Perasaan gue gak pernah cari ribut sama lo, ya. Tapi lo selalu aja ganggu gue. Ngefans lo sama gue? Kalau gue udah married …, apa urusannya sama lo? Dengki banget deh. Heran gue." Ghea melipat kedua tangannya di atas perut. 


“Ohya, kalau lo ngefens sama gue bilang dong! Jangan bisanya ngiri doang! Sini, biar gue bubuhkan tanda tangan gue.” Lalu Ghea membuka resleting tasnya. Mengambil pulpen dari sana. “Sini, mau dimana? Di Baju lo aja, ya, biar semua orang tahu kalau lo itu ngefans sama gue!” Ghea maju lebih dekat pada Yura, menarik seragam cewek itu lalu menempelkan ujung pulpennya pada baju seragam Yura, hendak mencoretinya.


“Apaan, sih, lo?” Yura menahan tangan Ghea sebelum pergelangan tangan itu di cengkramnya kuat.

__ADS_1


Dalam beberapa detik berlalu keduanya hanya saling melempar tatapan sengit. Ghea menahan pergelangan tangannya yang merasakan nyeri karena Yura mencengkramnya sangat erat.


“Lepasin, begoo! Sakit tangan gue. Jangan buat kriminal, deh, kampungan banget!"


Yura tidak terima dengan semua kalimat yang keluar dari bibir Ghea. Ia lebih mencengkram pergelangan tangannya dengan kuat. “Apa lo bilang? Begoo? Lo ngatain gue begoo? Harusnya lo pergi ke kamar mandi, deh, sekarang! Ngaca! Biar tahu siapa yang begoo disini.”


“Maksud lo paan?”


Yura mendekatkan wajahnya pada telinga Ghea tanpa melepaskan cengkraman di pergelangan tangannya. “Lo begoo karena udah percaya sama orang yang lo bilang sahabat itu.” Kemudian menarik kembali wajahnya. Menatap Ghea penuh dengan seringai di bibirnya.


“Maksud lo apa ngomong gitu ke gue? Lo mau adu domba gue sama siapa? Heh?” tanya Ghea penuh dengan nada penekanan.


Yura melengkungkan bibirnya ke bawah seraya mengedik santai. Mencibir Ghea sebelum ia melepaskan cengkramannya dengan hentakan hingga kepalan tangan Ghea menghentak dadanya sendiri. 


“Jawab tololllll …!!!”


Oke, kesabarannya bukan hanya hampir habis. Tetapi sudah habis. Melayani cewek seperti Yura tidak butuh dengan kesabaran tapi harus pake kekerasan. Begitu pikir Ghea.


Yura begitu saja berlalu. Cewek itu tidak berniat menjawab. Ia hanya senang saja mengganggu Ghea.


“Eh, tunggu lo!” Kali ini tangan Ghea yang menahan bahu Yura. Membalikan tubuhnya dengan hentakan kuat. “Apa maksud lo?” Ghea mengulang lagi pertanyaannya.


Ngomong-ngomong kedua cewek itu sudah tidak berada di parkiran lagi. Melainkan di koridor dan sekarang bukan hanya satu atau dua orang saja yang menonton mereka. Tetapi sudah banyak beberapa puluh pasang mata yang mengarahkan pandangan pada keduanya. Bahkan sekarang sudah mengerumuni Ghea dan Yura.


“Lo itu nora, Yur. Lo cuma caper doang kan agar jadi perhatian banyak orang?” Ghea terkekeh melipat kedua tangannya lagi. “Kampungan banget lo jadi orang. Kasihan gue jadinya sama lo yang mau caper tapi dengan cara ngadu domba. Makanya kalau mau caper-caper sono sama bonyok lo aja. Jangan caper di sekolahan!”


“Gue gak caper, ya.” Sengit Yura mendorong bahu Ghea.


“Kalau gak caper apa namanya? Kesepian kan lo karena gak ada yang mau temenan sama lo?”


“Sial.” Yura mengepalkan kedua tangannya. Wajahnya menggeram. Yura bukanlah orang yang sabaran. Ia sama kerasnya dengan Ghea. Sama-sama keras kepala.


“Apa?” Lalu dengan tatapan tanpa takut, Ghea menantang Yura dengan sangat santai. “Dasar, tukang ngadu domba!”


Dan kasak kusuk pun mulai terdengar. Membicarakan Yura bahkan tak banyak juga yang mencibir cewek itu. Yura tidak tahan. Selain Ghea yang sudah membawa nama orang tuanya yang seolah tidak memperhatikannya, Yura juga merasa geram dengan Ghea yang seolah dirinya cewek paling berkuasa di sekolah ini.


"Lihat aja nanti, gue bakal kasih kejutan yang special buat lo," ucap Yura sebelum kemudian dirinya berlalu.


TBC


Jadi gitu guys. Pak Gery udah jelasin dan Ghea itu udah gak marah cuma lagi ngerjain suaminya doang. hihiii


makanya Pak Ger kalau ada apa-apa jujur lebih enak. Yekannnn? Hihiii


...Yuk spam Next lagi guys!!!!!!!!...


Seizy

__ADS_1


Si penulis amatiran yang lagi galau dari kemarennn


__ADS_2