
“Kak Gery…” panggil seorang anak kecil perempuan sekitar umur enam tahun. Wajahnya yang
sangat cantik dengan bola mata yang bulat. Bibirnya merah dengan rambut hitam
yang dikepang di kedua sisinya. Berlari ke arah seorang cowok bermata abu-abu
yang baru saja turun dari mobilnya Bersama seorang laki-laki paruh baya.
“Hai …”
cowok itu menyapa dengan sangat ramah. Sebelum tangan kanannya mengusak puncak
kepala cewek itu.
“Kak Gery bawa apa?” tanyanya. Mungkin itu sudah menjadi hal biasa Pak Gery dengar
ketika dia datang berkunjung ke rumah cewek itu dengan sang Papa yang sudah
menjalin bisnis dengan orang tua cewek berumur enam tahun tersebut.
“Jangan bilang Kakak gak bawa apa-apa,” ujar anak kecil itu dengan bibir yang
mengerucut, menggemaskan. Membuat kedua tangan Pak Gery refleks terangkat untuk
mencubit kedua pipinya Bersama kedua sudut bibir yng tertarik lebar. “Emang Ghea
maunya Kak Gery bawa apa? Hem?”
Ghea mencebikan bibir. “Ih … kan Kak Gery udah janji mau kasih aku kalung.”
Lalu Pak Gery hanya memberikan reaksi biasa saja dengan bibirnya yang ia lengkungkan
ke bawah. Seolah permintaan Ghea itu adalah suatu yang tidak berat baginya.
Ya, cewek berumur enam tahun itu adalah Ghea Virnafasya.
“Nanti Kak Gery akan kasih itu ke kamu. Tapi nanti, ya, kalau nanti kamu udah gede,”
katanya, kembali mengusak punck kepala Ghea. “Sekarang ayo kita masuk ke dalam!”
ajak Pak Gery kemudian. Karena Papa Dika juga yang sudah lebih dulu masuk ke
dalam rumah Papa Jordan.
“Gak, ah. Aku mau main ayunan aja. Ayo. Kak Gery harus temani aku!” seraya menarik kedua
tangan cowok itu. Mengajaknya ke taman rumah Ghea untuk bermain ayunan di sana.
Pak Gery menurut. Ia berjalan di belakang Ghea yang sedang menarik satu tangannya. “Oya.
Aku punya sesuatu loh buat Kak Gery,” sahut Ghea yang tiba-tiba. “Tadinya aku
gak bakal kasih ini karena Kak Gery juga gak kasih aku kalungnya. Tapi aku juga
takut nantinya ilang kalau gak dikasih sekarang.”
Ghea duduk di atas ayunan besi dengan Pak Gery yang berada tepat di belakang
punggungnya. Mengayunkan ayunan besi itu dengan kedua tangannya. Cowok itu hanya
diam mendengarkan Ghea yang terus bercerita tentang sekolahnya. Teman-teman
barunya dan yang pasti Ghea bercerita kalau dia ingin terus Pak Gery berada di dekatnya.
Ghea turun dari ayunan itu sebelum ia mengajak Pak Gery untuk duduk di sampingnya.
Kemudian Ghea merogoh saku celana jeansnya. Mengambil sesuatu dari dalam sana.
“Ini apa?” Pak Gery bertanya dengan dahi yang berkerut.
“Ih, Kak Gery masa gak tahu ini apa, sih? Ini, tuh, cincin.”
Iya, Pak Gery tahun itu cincin. Masa cowok yang sudah remaja gak tahu apa yang ada
di tangan Ghea, yang mau dikasih padanya.
“Iya, aku tahu. Tapi buat apa?” Kemudian bertanya sambal menarik kepangan rambut
Ghea.
“Ih, Kak Gery sakit tahu. Jangan ditarik-tarik!” rengek Ghea dengan suara yang
sangat manja dan polosnya.
Pak Gery hanya memberikan seulas senyum padanya.
“Aku denger Kak Gery mau pergi jauh. Jadi aku kasih ini buat Kak Gery, biar nanti
Kak Gery gak lupa sama aku.’
Saat itu Pak Gery memang ingin pergi ke Jerman untuk melanjutkan kuliahnya di sana. Dan
maksud dari kedatangannya ke rumah Ghea pun untuk berpamitan dengan cewek itu.
Jujur saja Papa Dika saat itu sedang banyak-banyaknya pekerjaan. Namun saat
sang putra merengek meminta diantar ke rumah Ghea, Papa Dika tidak bisa jika
__ADS_1
menolaknya.
“Kata siapa?”
“Kata Papa. Papa ngomong sama Mama. Aku gak sengaja denger.”
“Gak sopan banget, ya, kamu curi denger percakapan orang tua.” Pak Gery terkekeh
gemas.
“Ih … aku gak nyuri kok. Aku Cuma gak sengaja denger aja. Nih, Kak Gery harus pake,
ya, cincin ini! Gak boleh ilang! Gak boleh dilepas juga! Pokoknya kalau sampai
ilang aku marah loh. Dan gak mau ketemu Kak Gery lagi.”
“Ya, udah, kamu yang pakein dong!” Lalu Pak Gery mengulurkan tangan kirinya pada Ghea.
Meminta cewek itu untuk memakaikannya. Namun, Ketika Ghea memasukan benda bulat
berwarna silver itu, tidak masuk pas ke dalam jari Pak Gery. Dan malah sampai
tengah jarinya pun tidak muat.
Ghea cemberut. “Ih kok susah sih masukinnya?” Sungguh polos banget cewek kecil itu. Ghea
terus saja memaksa agar cincin itu masuk ke dalam jari Pak Gery dengan sempurna.
Namun berapa Ghea memaksa juga, cincin itu tidak akan muat karena terlalu
kekecian.
“Kamu dapat ini dari mana?” Pak Gery bertanya di tengah-tengah Ghea yang cemberut
setelah kembali menjauhkan cincin dari jari Pak Gery. Matanya terlihat sendu sambil
menatap cincin yang ada di depan wajahnya.
“cincin ini punya aku, Kak. Tuh lihat ada nama akunya kan di dalam cincinnya?” Ghea menunjukan
ukiran nama yang sangat indah di dalam cincin itu.
Pak Gery terkekeh samar. Dasa bocah! Rasanya Pak Gery ingin sekali menertawakannya.
Pantas saja cincin itu gak muat di jari Pak Gery, ternyata bend aitu milik jari
Ghea.
“Gak papa gak muat di jari aku. Bakal aku jadiin liontin di kalung aja gimana?
Kak Gery punya kalungnya?” tanya Ghea dengan wajah polos.
“Kan nanti bisa beli.”
Kemudian Pak Gery terbangun dari tidurnya. Secepat ia membuka kedua matanya, secepat itu
pula dia duduk dari tubuhnya yang terbaring. Mimpi itu datang lagi. Entah ini
sebuah firasat, atau hanya perasaannya saja, jantung Pak Gery mendadak berdebar
tidak enak. Sesak dan bahkan seakan dia ingin meloloskan jantung itu dari
tempatnya.
Dada Pak Gery kembang kempis. Nafasnya memburu tidak beraturan. Seperti cowok itu sudah
bermimpi buruk saja. Padahal hanya sebuah mimpi serpihan kecil dari masa dulunya
Bersama Ghea. Tapi rasanya mimpi itu begitu sangat menakutkan.
Tidak masuk akal memang. Namun, begitulah yang Pak Gery rasakan.
Cowok itu menolehkan wajahnya pada Ghea yang tertidur sangat pulas di sampingnya
seraya mengusap keringat yang membanjir di pelipis dan dahinya menggunakan
punggung tangan.
**
Sesuai yang sudah diberitahukan Adi lewat pesannya pada Pak Gery, jika malam ini adalah
malam pertunangannya dengan Indah.
Ini begitu sangat mendadak. Membuat Pak gery tidak bisa memberikan apa yang seharusnya ia
berikan pada sang sepupu di hari bahagianya.
“Gue didesek terus, Man, sama bokapnya.” Adi tidak beralasan karena memang itu
kenyataannya. Menjawab ketika Ilham bertanya dan mencecarnya.
“Bulsiittt banget dah lo, Di. Kemarin aja masih bilang ntaran dulu sama gue. Nyatanya lo
pembohong besar!” cibir Ilham mencebikan bibirnya. Menggelengkan kepalanya lalu
mengambil minuman sirup berwrna merah fanta dari atas meja.
__ADS_1
Acaranya memang belum dimulai. Masih ada beberapa menit lagi untuk sang pembawa acara
memulainya. Maka dari itu Adi berkumpul dulu dengan Ilham dan Pak Gery.
Sedangkan Indah juga menemui teman-teman SMA-nya.
Lalu Ghea dan Chacha berkeliling melihat-lihat dekorasi pesta pertunangn yang sangat
mewah dan super wah.
“Saya ke toilet dulu, ya,” sahut Chacha pada Ghea. Bodyguard itu malam ini sangat
terlihat berbeda. Gaun berwarna gold dan sepatu hak tinggi mengubah penampilannya
180 derajat.
“Oh, oke, Cha. Kalau gitu gue mau samperin Mas Gery dulu, ya,” kata cewek dengan gaun
selutut berwrna silver tanpa lengan. Ghea terlihat sangat dewasa malam ini. Apalagi
dengan rambutnya yang disanggul simple.
Ghea berjalan ke arah Pak Gery yang sedang mengobrol dengan Adi dan Ilham di dekat
undakan tangga terakhir rumah Indah. Saat dilangkah yang kedua, handphone Ghea
berdering. Refleks Langkah kaki Ghea berhenti lalu menempelkan benda canggih itu
ke telingannya setelah menggeser ikon berwarna ijo di layarnya.
Beberapa menit telah berlalu. Pun dengan Chacha yang sudah kembali dari toilet.
Bergabung Bersama ketiga cowok berbeda karakter itu.
“Cha, Ghea mana?” Pak Gery bertanya padanya yang membuat kening Chacha mengerut
dalam. Ia heran. Jelas saja.
“Loh. Bukannya tadi bilang mau nyamperin Bapak, ya?” sahutnya. “Soalnya saya abis dari toilet,
Pak.” Lanjut Chcacha kemudian.
Jantung Pak Gery kembali merasakan debaran itu lagi. Lalu ia teringat dengan mimpinya
malam kemarin. Ada apa ini? Cowok itu bertanya-tanya dalam hati.
Merogoh handphone di saku celana berbahan kain berwarna silver, Pak Gery langsung
mendial nomor Ghea ang masih ia beri nama pookie.
Satu kali, dua kali, tiga kali, sampai dengan panggilan yang kelima kalinya, sambungan
seluler itu tidak terhubung sama sekali. Hanya suara operator saja yang
terdengar. Hanphone Ghea dalam keadaan tidak aktif.
“Gimana, Ger?” tanya Adi merasa ikut panik karena tiba-tiba Ghea yang menghilang.
Pak Gery menggelengkan kepalanya sebagai bentuk jawaban. Cowok itu meremat kuat
handphone yang ada di genggamannya.
“Mungkin Ghea lagi nyamperin Indah,” kata Ilham mencoba berfikir fositip.
“Kalau gitu gue samperin Indah. Gue tanya ke Indah dulu. Lo jangan panik dulu, deh,
Ger! Asem banget, sumpah tuh muka.”
Pak Gery sama sekali tidak menanggapi candaan Adi yang sudah berlalu untuk menemui
Indah. Namun saat Adi dan Indah kembali, dada Pak Gery terasa diremat kuat lalu
diputarnya oleh jari-jari yang tak kasat mata. Ghea juga tidak menghampiri
Indah.
“Mungkin lagi nemuin Om sama Tante, Ger.” Adalah Indah yang bersuara. Cewek itu juga
ikut merasa khawatir. Panik tentu saja. Secara ini adalah acara pertunngannya,
tapi Ghea maalah menghilang entah kemana.
Lalu Pak Gery mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru ruangan. Berharap matanya
itu dapat menemukan sosok Ghea.
Namun, nihil. Hasilnya sama aja. Gak ada. Ghea tidak ada di dalam ruangan itu.
Lantas kemana perginya Ghea?
TBC
Seizy
Kang ngetik amatiran yang mau bilang maaf kalau banyak typo.
__ADS_1