
Papa Dika tidak bisa jika tidak tersedak mendengar ungkapan sang putra. Begitu juga dengan Mama Dian. Ya ampun Pak Gery kira menikah itu hal yang mudah apa?
"Papa bisa kan bicara sama Om Jordan dan mengatur semuanya?" Sungguh, Pak Gery benar-benar dengan keinginannya segera menikahi Ghea. Sebab Pak Gery tidak ingin Ghea menghilangkan perasaan yang sudah tumbuh untuk dirinya. Susah payah Pak Gery mengambil hati Ghea walau dengan caranya yang aneh. Namun begitu, Pak Gery berhasil mengambil perasaannya.
"Ger, tapi tidak bisa secepat itu. Kita harus menyiapkan segalanya. Daftar ke KUA, pesta dan mengatur semua keperluan menikah. Dan itu pun juga kalau Om Jordan setuju menikahkan kamu dan Ghea secepat yang kamu mau. Perjanjiannya kan setelah Ghea lulus, Ger." Jelas Papa Dika pelan.
"Om Jordan pasti setuju, Pa. Lagi pula bukannya ini kemauan Papa yang nyuruh aku langsung nikah sama Ghea tanpa bertunangan?" Lah itu anak sekarang malah nyalahin sang Papa. Tentu saja Papa Dika kini membuka rahangnya lebar dengan mata yang membola tidak percaya. Ada apa dengan putranya ini? Dulu saat akan bertunangan disuruh menikah tidak mau. Dan sekarang? Ya salam. Papa Dika geleng-geleng kepala.
"Ger," tegur Mama Dian. Pak Gery menoleh, "nikah gak semudah membalikan telapak tangan," ucap Mama Dian seraya terkekeh pelan.
"Pokoknya aku mau nikahin Ghea secepatnya, Ma. Gak ada pesta atau perayaan juga gak papa. Yang jelas aku mau Ghea jadi istri aku secepat mungkin." Kekeh Pak Gery dengan keinginannya.
Percayalah, jika Pak Gery sudah ingin sesuatu, itu harus dituruti. Pria itu sangat keras kepala sekali. Mungkin ini karena Mama yang dulu sangat memanjakannya.
"Kenapa, Tan, Om?" Adi yang baru tiba setelah berkencan dengan Indah pun dilanda kebingungan melihat gurat-gurat wajah ketiga orang beda usia itu.
"Di," tegur Mama Dian. Lalu Adi pun duduk di samping Pak Gery. "Gery ... dia ingin menikah," ujarnya pada Adi.
"Bagus dong, Tan, kalau Gery mau nikah. Sama Ghea kan pastinya?"
Mama Dian mengangguk. "Tapi Gery ingin nikah besok, Di. Kan aneh."
Lalu tak bisa jika Adi tidak tergelak. Begitu juga dengan Papa Dika yang menutupi senyumnya dengan jari. Mama Dian hanya menggeleng samar melihat Adi yang tertawa membaha.
"Ck, apaan, sih, Di? Gak lucu lo ngetawain gue." Protes Pak Gery kesal. Ia menaikan kedua kakinya ke atas sofa. Menyandarkan punggung sembari bantal sofa ia peluk di depan dada. Ekspresi wajahnya jangan ditanya. Jika sang pewaris perusahaan Putra Grup itu tengah merajuk, wajahnya akan sangat lucu bagi yang melihat. Oh, tak disangka ternyata Pak Gery mempunyai sifat manja dibalik sikap datarnya pada Ghea.
"Hahaha ... lagian." Sejenak Adi menghentikan kalimatnya ditengah-tengah ia masih tertawa lepas. Sampai-sampai Adi meremat perutnya yang merasakan sakit akibat tertawa terlalu lama. "Lo aneh, nikah mau besok. Emangnya beli bakso bisa besok? Ya kali bakso langsung bisa lo makan. Lah ini nikah, bro. Astaga." Geleng-geleng kepala lah akhirnya Adi mendengar keinginan sang sepupu. "Udah, santai aja! Gak usah buru-buru! Lagi pula Ghea gak bakal kena tikung cowok lain kok."
"Nah-nah, itu-tuh, maksud gue." Pak Gery menjentikan jarinya pada Adi. "Udah ada daftar cowok yang gue tahu bakal nikung Ghea dari gue," ujarnya penuh semangat. "So, gue gak mau, ya, kalau nantinya Ghea berpaling dari gue. Susah payah gue buat caper sama dia."
"Iya. Caper lo yang aneh itu," balas Adi kembali tergelak. Ia masih ingat betul saat beberapa hari setelah sang sepupu baru pulang dari luar negeri dan langsung mengintai Ghea bak seorang penjahat cinta yang sedang menerornya.
Ya. Ghea berhasil meneror hati dan mimpi Pak Gery sejak lama.
"Diem, lo!" Bentak Pak Gery mulai kesal.
"Nih, ya, Tan, Om, masa Gery sengaja-"
__ADS_1
"Diem, ah. Dasar ember bocor lo, Di."
Adi berusaha melepas tangan Pak Gery yang membekap mulutnya agar sepupunya itu tidak buka suara.
"Astaga, kalian itu masih saja kaya anak kecil." Mama Dian geleng-geleng kepala.
"Nih, Tan, waktu baru dua hari Gery pulang dari luar negri. Masa sudah mengintai Ghea saja. Dan lebih parahnya-" sesaat setelah Adi berhasil melepas bekapan tangan Pak Gery. Ia mulai membuka rahasianya.
"Serah lo, deh, Di. Serah. Emang ember bocor, lo, ya. Gak bisa banget lo jaga image gue." Pak Gery terus menyela kalimat Adi bersama wajahnya yang memberengut sebal.
"Parahnya, Tan, Om. Gery sengaja nabrak Ghea pas di bioskop," ujar Adi membocorkan rahasia Pak Gery. Tak lupa tawanya ia selipkan disela-sela kalimatnya.
"Hah? Sengaja gimana maksudnya, Di?" Lah Mama Dian kepo jadinya.
"Iya, Di, sengaja gimana? Kasih tahu Om sama Tante dong! Jangan bilang anak manja itu mengerjai Ghea?" Tuh Papa Dika juga ikutan kepo karena beliau tahu sifat anak semata wayang itu yang sesungguhnya bagaimana.
"Nih, ya, Om, Gery sengaja nabrak Ghea tapi dia juga yang menyalahkannya. Putramu ini memang makhluk aneh bin ajaib, Om."
Nah akhirnya rahasia Pak Gery terbongkar juga. Membuat Mama Dian dan Papa Dika membulatkan matanya tidak percaya. "Hah?" seru orang tua itu dengan menganga tidak percaya.
"Awas aja lo, Di. Gue balas lo nanti. Bakal gue bilang sama Indah lo pernah jalan sama karyawan Papa waktu Indah di luar negri." Ancamnya seraya menapaki anak tangga.
"Yah-yah, jangan dong, Ger. Tega amat lo sama saudara sendiri." Pinta Adi sembari menyusul Pak Gery. "Tan, bilangin dong sama anak Tante yang manja itu!" Mohon Adi pada Mama Dian.
"Maaf, Di. Kalau sudah menyangkut dengan Gery, Tante angkat tangan." Jawabnya dengan mengangkat tangan ke udara. "Ayo, Pa, kita ke kamar!" Dan Mama Dian dengan sengaja meninggalkan Adi di ruang keluarga.
"Yah, Tan." Adi menunjukan wajah memelasnya yang tidak digubris sang Tante. "Om, tega juga, nih, gak mau bantu aku?" Lalu beralih pada Papa Dika yang juga sengaja tidak mau membantu masalah Adi.
"Om juga gak bisa bantu kalau sudah berurusan sama Gery. Usaha sendiri aja, ya!" Lantas Papa Dika menepuk bahu Adi. Memberi semangat yang bermaksud ledekan itu.
"Gini, nih, nasib anak yatim piatu kaya gue. Gak ada yang mau bantu. Om, Tan, ya ampun ... tega kalian sama anak yatim ini."
"Semangat, Di!" ujar Papa Dika mengepalkan tangannya ke udara bersama senyum ledekan di bibirnya.
**
Berbeda dengan Pak Gery yang memaksa Papa Dika untuk menikahkannya dengan Ghea secepat mungkin. Dan berakhir dengan mengancam Adi sang sepupu.
__ADS_1
Reza, di dalam kamarnya, sejak pulang dari cafe itu ia mencari handphone. Menggeledah kamarnya yang sekarang sudah seperti kapal pecah, namun tidak juga menemukan benda pipih tersebut. Sepertinya ia melupakn jatuhnya benda pipih itu.
"Astaga ... dimana handphone gue? Kok sampai lupa gini, sih?" Sejenak ia mengingat-ngingat terakhir kali memegang handphone. "Jangan-jangan?" Ia mulai dengan segala persepsinya yang bermunculan di dalam benak.
Pasalnya jangan sampai orang lain menemukan handphonenya. Apalagi jika nanti menemukan foto-
"Gak! Gue harus buru-buru ambil handphone gue lagi sebelum dia melihat foto itu. Bisa bahaya kalau orang lain sampai tahu. Reputasi Ghea? Oh, no-no-no ..." Reza mulai panik. Secepat kilat ia membuka pintu kamar. Setengah berlari menapaki anak tangga. Walau ini sudah larut malam, Reza harus mengambil kembali benda miliknya itu dari tangan orang lain.
Membuka lagi pintu garasi, Reza segera mengeluarkan motor spornya. Mengenakan helm, lalu melajukan kendaraan besi tersebut.
Di dalam perjalanan melajukan motornya, fokus Reza terbagi. Dari hilangnya handphone dan cewek pujaannya.
Sampai ia pun tiba di satu rumah yang menjadi tujuannya. Reza segera membuka helm lalu berjalan ke arah pintu yang tertutup rapat. Juga sebagian lampu rumah yang sudah tidak menyala.
Tentu saja, karena ini sudah larut. Reza bertamu ke rumah orang saat pukul sebelas malam.
Setengah ragu, Reza menggerakan tangannya untuk menekal tombol bel yang berada di dinding samping pintu dengan ukiran indah di daun pintu tersebut.
Tak ada yang membuka saat bel itu sudah ia tekan.
"Apa orang-orang di dalam rumah ini sudah pada tidur, ya?"
Pertanyaan bodoh, ya jelas saja itu mungkin. Mengingat jam berapa sekarang ini. Lalu Reza mencoba sekali lagi menekan bel. Namun tidak juga ada yang membuka pintunya.
Reza mulai pasrah. Lantas ia memutar tubuhnya. "Besok aja, deh, gue tanyain handphone gue," ujarnya dengan raut wajah kesal yang kentara di sana.
Namun, saat Reza akan menaiki motornya lagi dan memakai helmnya. Daun pintu itu terbuka lebar. Lalu tak lama menampakan sosok cewek dengan rambut panjang sepinggang keluar dari rumah itu. Reza mengurungkan niatnya. Kemudian menghampiri cewek itu.
"Lo ngapain malam-malam bertamu ke rumah gue?" tanya cewek itu. Sepertinya ia akan mulai mimpinya. Melihat piama lengan dan celana pendek sudah membalut tubuh indahnya.
"Sorry, gue ke sini mau nanyain handphone gue sama lo. Kali aja lo menemukannya."
"Oh ... handphone lo?" Reza mengangguk. "Tapi handphone lo-"
TBC
Yah yah gantung lagi dah ... okay selamat berspekulasi tayang othor gaje. wkwkw
__ADS_1