Married With Teacher

Married With Teacher
Mwt bab 36


__ADS_3

“Ghea… Apa yang kamu inginkan malam ini untuk menghilangkan semua rasa itu, sayang?”


“Kamu,” ungkap Ghea dalam mata yang terpejam dan bibir yang ia gigit. “Aku ingin kamu, Mas.”


Dahi lebar Gery mengernyit sembari tatapan yang sedikit menyipit itu tidak ia lepaskan. “Maksudnya?”


Dari tempatnya berdiam diri, Ghea menjauhkan dahi yang saling menempel untuk kemudian wajahnya melesak melewati pipi Gery. Bibir Ghea menuju telinga kirinya lalu berbisik. “Aku ingin malam ini kita bercinta, Mas.”


Tubuh Gery menegang. Sungguh pun dengan bibir Ghea yang kalau tidak salah Gery rasakan, daun telinga itu dikecup olehnya. Sehingga hawa panas yang berasal dari mulut Ghea membakar tubuh cowok itu.


Atau membakar bagian sensitif tubuh Gery yang lain?


Disentuh Gery kedua bahu Ghea, mendorongnya pelan kemudian. Mata Ghea yang sudah membara oleh api gairah ditatap Gery dalam, semakin menyentakan luapan gairah tersebut. “Kondisi kamu lagi gak memungkinkan untuk kita melakukan itu, sayang.” Dan, ditangkup kedua sisi wajah Ghea oleh tangan besar milik cowok itu.


“Kamu bisa melakukannya dengan hati-hati, Mas,” ucap Ghea sembari dibelai pipi Gery. Diusap lembut tulang pipi yang menonjol menggunakan jari jempolnya.


Karena Ghea ingin melupakan semuanya. Ia berharap malam ini tidak ada luka, kesakitan, kerapuhan dan kehancuran. Hanya ingin ada dirinya, Gery dan kenikmatan saja di sana.


”Mas,” desau Ghea pelan. Kelopak mata indah itu terpejam lagi sembari mendekatkan bibir pada bibir Gery.


Ghea menciumnya.


Darah mengalir semakin deras. Bagai hujan turun dari langit. Setiap sel nadi Gery berdetak cepat. Memecut adrenalin gairah semakin membuncah setinggi nirwana.


Cowok itu diam. Sama sekali tidak merespon ketika lidah Ghea menari liar di bibir bawah seksi itu.


Dijauhkan Ghea wajahnya. Membuka mata lalu menatap Gery dengan sejuta pesona. Dilihatnya Ghea jakun mungil cowok itu bergerak naik turun. Ghea yakin, secara naluriah gairah Gery sudah mencuat.


Gery menginginkanku juga, bukan?


Perlahan, untuk yang kedua kalinya Ghea menyapu bibir seksi cowok itu dengan bibirnya. Sesekali menyecapnya lembut namun penuh tekanan. Menarik bibir bawah Gery dengan kedua bibir Ghea menjepit hingga suara ******* samarnya mendominasi telinga wanita itu.


Dibuka Ghea kancing teratas kemeja Gery. Satu persatu dibuka olehnya. Terpampanglah dada bidang yang jika Ghea bersandar disana, kehangatan langsung terasa menjalar.


Tanpa melepaskan pandangan, ujung jari Ghea menyentuhnya di bagian itu secara sensual. Dibagian yang Ghea tahu adalah tubuh tersensitip lelakinya. Menggerakan ujung jari naik turun. Sesekali pula ujung jari bercat kuku nude itu memutar.


Demi apa! Ghea menggigit bibirnya. Gelora gairah itu sudah terasa panas membakar.


Entah gairah ini pengaruh dari bayi di dalam kandungan, atau pula Ghea hanya ingin meluapkan segala kerapuhan yang sudah terjadi dengan merasakan kenikmatan duniawi?


Gery menangkap pergelangan tangan wanita yang memberikan sentuhan-sentuhan sensual di dada. “Hentikan, Ghe!” Kata Gery. Suaranya serak bercampur kerikil di dalam kegelapan. Sepertinya cowok itu sudah hilang akal akibat sentuhan-sentuhan manja dari ujung jari Ghea.


“Aku gak mau nyakitin kamu, Ghe. Gak mau sampai perut kamu ngerasa keram apalagi kesakitan.”


Pandangan Ghea menggelap oleh kabut kebutuhan. Ia menarik nafas dalam lalu menjilatii bibir. “Gak bisakah kita lupakan malam ini saja soal kesakitan? Aku ingin melupakan segalanya. Dan hanya ingin mengingat kamu. Mengingat saat bersamamu, Mas.”


Ghea mencium bibir Gery lagi. Menyusupkan lidahnya saat bibir seksi cowok itu terbuka.

__ADS_1


Gery mengerang penuh kenikmatan. Kali ini, bukan bibir Ghea yang bermain, melainkankan bibir Gery yang mendominasi penuh bibirnya.


Gery benar-benar tahu cara memanjakan bibir merah yang terasa nikmat itu.


Langit-langit ruang kamar terasa berputar. Oh bukan itu. Tapi Gery baru saja mengangkat tubuh Ghea untuk kemudian dibaringkannya ke atas ranjang. Kasurnya melesak karena beban tubuh mereka.


Dikalungkan Ghea kedua tangan pada leher Gery. Sementara cowok itu sekarang justru mendominasi tubuh Ghea dengan kecupan-kecupan basah. Tidak diloloskan Gery seinci pun wajah cantik yang sudah terbakar itu dari bibirnya.


Dikecup. Digigit dan disesap Gery rahang Ghea lalu turun pada lehernya kemudian. Di sana, Gery menjilatiinya, memberikan tanda kemerahan yang membuat Ghea terus menerus mengeluarkan suara yang membangkitkan adrenalin di dalam diri.


Sungguh pun, satu tangan Gery menyusup ke dalam kaos yang dikenakan Ghea. Ia begitu lihai dalam memainkan puncak kecoklatan yang sudah mengeras. Begitu peka menerima sentuhan dan pelintiran dari dua jari Gery.


Sedangkan satu tangan yang lain bertumpu pada kasur, tepat di samping kepala Ghea. Menahan beban tubuhnya agar tidak menekan pada perut wanita yang sedang berada di dalam kuasa Gery ini.


Sesaat Gery menghentikan aktifitas itu. Mengangkat wajah dan mengeluarkan tangan dari dalam kaus Ghea. Kini kedua tangan itu bertumpu di setiap sisi kepala wanita yang tengah menatap heran padanya bersama satu alis yang tertarik.


Mata Gery yang berkilat-kilat penuh gairah menatap Ghea serius. Menusuk tepat di sana dan seakan menghujami jantung Ghea begitu dalam. Nafas cowok dengan sejuta kelembutannya memburu tidak beratur. Kedua bahu tegap cowok itu naik turun.


“Ghe, apa kamu yakin ingin semua ini?” tanya Gery. Suaranya serak. “Karena aku gak akan berhenti sampai sini aja, setelah kamu menawarkan diri.”


Oh Tuhan, tawaran Gery seakan ini hal yang baru pertama kali mereka lakukan. Bercinta.


“Hem…” Gumam Ghea menganggukan kepala yakin.


Gery menelan ludah. Ia berdiri dari ranjang untuk kemudian membuka jam tangan mewah dan meletakannya di atas nakas. Dibuka Gery laci nakas, mengambil sebunggus poil dari sana kemudian.


Tunggu. Sejak kapan cowok itu menyimpan sebuah pengaman di dalam laci nakas kamarnya? Setahu Ghea, cowok itu tidak pernah membeli barang tersebut.


Senyum lucu terpancar dari wajah cantik Ghea. Tidak percaya, ternyata suaminya ini penuh dengan kendali diri. Padahal Ghea sangat mengetahui jika Gery tidak suka saat bercinta memakai sebuah pengaman.


“Kamu tanya dokter langsung, Mas?” Tubuh Ghea bangun. Kedua tangannya terulur membuka kancing kemeja Gery yang belum tuntas itu. Sungguh pun dengan kelopak mata Ghea berkedip pelan disertai nakal, membuat Gery menggigit bibir bawah untuk kemudian meloloskan kemejanya melewati tangan.


Alih-alih menjawab, dibuka oleh Gery kaos Ghea melewati kepala. Lantas seketika mata abu-abu penuh gairah itu terpesona oleh keindahan tubuh Ghea yang selalu jadi candu baginya.


“Kamu kok makin cantik dan seksi aja, Ghe?” Dibelai Gery belahan dada wanita itu begitu sensual menggunakan ujung jari lentik.


“Mas…” Panggilan itu membuat jantung Gery berpecut karena kelembutan suaranya.


“Hemm?!”


“Kamu tanya dokter?”


“Tanya apa?”


“Itu… tadi…”


“Tidak,” kata Gery. Bibirnya maju menuju belahan itu. Mengecupnya beberapa kali kemudian.

__ADS_1


Ghea melengkungkan kepala ke belakang sembari meremat rambut wanginya. “Terus … eumhhh—“


“Aku tanya lewat aplikasi yang aku unduh di hand phone, Ghe.” Kecupan itu naik ke tulang selangka Ghea. Menghisaapnya, meninggalkan jejak merah di sana sembari Gery yang mendorong tubuhnya secara pelan sampai terbaring di atas kasur. Tanpa melepaskan kecupan-kecupan panas di tulang selangkanya. Bahkan sesekali bibir


cowok itu mengakses belahan dada Ghea yang terekspos.


Dimasukan semua jemari Ghea ke dalam rambut hitam dan wangi Gery. Merematnya. Menekankan kepala cowok itu pada dirinya agar lebih memperdalam lagi apa yang dilakukan cowok yang sedang mencoba membuka pengait braa.


Ghea melengkungkan punggung hingga menjauh dari kasur. Kedua tangannya melepas rematan di rambut untuk kemudian tali braa itu terlepas melewati bahu. Gery menjatuhkan benda itu ke lantai kemudian.


Tubuh Gery menjauh. Duduk di atas bawah tubuh Ghea. Sehingga wanita itu dapat merasakan bukit gairah Gery di balik celana jeansnya mengeras.


Kobaran api gairah itu sungguh sudah membesar. Mungkin dari efek empat hari empat malam dan hampir lebih beberapa jam mereka tidak melakukan hubungan percintaan. Sampai dengan gelembungnya mampu membakar tubuh mereka. Bulir-bulir kristal mengkilat itu keluar dari setiap pori tubuh. Hawa dingin dari AC pun sungguh tidak dapat menyejukan gelora yang semakin menerjang.


Kedua tangan besar Gery menggerayang sisi tubuh Ghea. Dari atas bahu turun ke lengan, siku, lalu pergelangan tangan Ghea diraih Gery dan ia bentangkan ke atas kepala wanita yang terbaring itu. “Jangan bergerak!” perintah yang tidak bisa dibantah.


Oh Tuhan!


Ini begitu memikat. Begitu memacu adrenalin luar biasa nikma duniawi.


Disentuh kedua panggul Ghea untuk kemudian dengan nakalnya kedua tangan berjari panjang itu menurunkan celana berwarna siver Ghea. Perlahan. Hingga terlepas dari sang pemilik kaki indah dan jenjang.


Dilempar Gery celana berwarna silver itu ke lantai. Tepat bersantai di atas braa. Sebuah celana berenda seksi yang kini tersisa di tubuh Ghea. Wanita itu sudah benar-benar polos.


“Aku suka menyentuh bagian ini, Ghe,” kata Gery. Suaranya berat oleh kabut duniawi. Mata abu-abu lurus tertuju pada bola mata indah Ghea, sedangkan tangan besar itu mulai memasuki celana berenda dan jari jempolnya memutar bahkan menekan di daging kecil merah muda dibalik celana berenda itu.


“Eumhh—“ Ghea menggigit bibir menahan suara yang ingin mendesak keluar.


Sungguh pun Gery suka dengan pemandangan wajah merah itu. Ia tatap lamat-lamat dengan seringai iblis yang sialnya begitu menakjubkan. Bersama jari jempol yang terus berputar di sana. Di bawah pusat Ghea.


Selain itu, rasa yang mampu menerbangkan Ghea dan melupakan semua yang ada di dunia, dimainkan ujung jari Gery di atas pusar Ghea. Naik ke atas dan sampai pada bulatan indah miliknya.


Puncak berwarna kecoklatan itu sedari tadi menegang. Dan semakin mengeras ketika dua jari Gery dimainkan di sana. Dicapit untuk kemudian ditarik.


Demi apa! Rasa ini begitu surgawi. Sungguh pun Ghea sampai menjauhkan punggung dari kasur dan menekankan belakang kepala pada bantal. Bersama kedua tangan yang berada di atas kepalanya mencengkram seprai.


Ghea mencapai kenikmatan surgawi pertamanya.


“Kamu selalu indah jika mencapai puncak itu, sayang. Dan aku selalu suka melihatnya. Apalagi ketika bibir kamu memanggil nama aku.”


Nafas Ghea tidak teratur. Jantungnya bagai dipecut dengan cambuk kuda. Kelopak mata itu terpejam erat dengan bulir keringat yang keluar dari pori pelipis dan turun melewati sisi wajah cantik yang kini terlihat sedang mengatur nafas itu.


Belum juga Ghea merasakan kegagahan Gery berada di dalam dirinya. Tapi… Ya Tuhan! Rasanya sudah bisa melupakan semua kesakitan dan kesedihan Ghea. Ia serasa dibawa terbang ke atas langit paling tinggi.


“Giliran aku, Ghe.”


DEGH DEGH DEGH

__ADS_1


TO BE CONTINUED ...


Dahlahhhh aku mau tarik selimut lagi aja.


__ADS_2