
"Ya Tuhan ... Ghea, lo gak lagi ngeprank gue kan? Gak percaya! Gue kagak percaya sama omongan elu."
"Serah lo, mau percaya atau nggak. Gue gak minta juga buat lo percaya. Syukur juga kalau lo kagak percaya," jawab Ghea acuh tak acuh seraya menyuapkan batagor ke dalam mulutnya dengan santai.
Setelah Reza yang keceplosan tadi pagi, Ocy meminta penjelasan pada karib dan pacar barunya itu. Kini ocy dan Ghea sedang duduk di warung batagor Mang Asep. Namun, hanya Ghea saja yang memesan. Karena Ocy kalau makan batagor perutnya merasa tidak akan kenyang. Katanya.
"Jadi lo serius?"
Ghea mengangguk.
"Pantas aja waktu itu gue gak sengaja bertabrakan sama Pak Gery. Gak sengaja juga tuh gue lihat doi pake cincin. Tapi bilangnya itu cincin tunangan. Bukan cincin kawin." Lalu Ocy mendelik ke arah Ghea. "Jangan-jangan elu cuma ngaku-ngaku aja udah kawin sama duplikatnya Kai itu. Heuh? Yang sebenarnya elu malah kawin sama-"
"Sama siapa? Heuh? Kim Jonging gitu? Atau Sama Oh Sehun? Ngaco lo!" Ghea menyela kalimat Ocy seraya menoyor pelipis karibnya itu.
"Serah lo, deh, ya, mau percaya atau nggak sama gue. Tapi gue udah jujur, nih, sama lo," kata Ghea sambil bangkit dari duduknya. Mungkin udah mau bayar juga karena batagor dalam piringnya itu sudah terlihat habis.
"Btw, mulut lo awas, ya, kalau sampai bocor kaya si reza! Gue bejek-bejek jadi ayam geprek." Kemudian Ghea membungkukan tubuhnya. Mencondongkan wajahnya pada Ocy. "Karena ini, tuh, pernikahan rahasia! Kalau sampe yang lain tahu, gue yang bisa dijadiin kentang prekedel sama doi. Ngerti kan lo?" Serius Ghea berucap. Tatapannya itu seperti sedang mengintimidasi Ocy. Hingga membuat bulu kuduk Ocy berdiri.
"Ekhem. Yaelah, lo kaya yang baru kenal gue aja, Neng. Santai aja kalau sama gue. Aman. Asal ada heum." Dua jari Ocy memperagakan seakan ia siap untuk mengunci mulutnya. Asal ada jaminannya.
"Duit maksud lo?" tanya Ghea dengan prontalnya.
Ocy terkekeh. Tahu aja Ghea ini. "Bukan. Duit mulu yang ada di otak lo, Ghe. Selama satu bulan lo harus traktir gue makan!" pintanya pada Ghea sambil tergelak.
"Dasar. Tadi pagi aja gaya lo udah kek orang kaya beneran aja mau teraktir gue makan. Sekarang malah sebaliknya. Gak ada akhlak emang!"
"Masa bodo yang penting makan gratisss," kata Ocy terkekeh geli. Padahal dia cuma bercanda aja sama Ghea. Tanpa diminta pun, Ocy tidak akan membiarkan rahasia sahabatnya itu sampai bocor.
Tanpa mereka ketahui. Dari luar tenda warung seseorang telah mencuri obrolan rahasia Ocy dan Ghea. Dipikir Ghea dan Ocy di warung batagor Mang Asep itu tidak ada siapa-siapa karena memang hanya ada mereka berdua saja. Namun dugaannya salah. Seorang cewek kini menunjukan seringai licik di tempatnya. Seolah kali ini dia yang akan menang.
**
__ADS_1
Setelah Ghea kenyang makan batagor di warung Mang Asep yang ditemani Ocy. Keduanya pun berjalan santai beriringan. Sambil sesekali mengobrol ngalor ngidul hal yang tidak penting.
Namun, ketika sampai di gerbang sekolah. Ghea melihat Adi keluar dari mobil. Sang sepupu suaminya itu terlihat sangat tergesa bersama wajahnya yang tidak biasa. Terlihat panik dan khawatir.
Ghea buru-buru menghampiri Adi. Meninggalkan Ocy yang terlihat bingung.
"Elah, Ghe. Buru-buru amat lo. Masuk masih delapan menit lagi, cuy." Saat melihat Ghea yang setengah berlari. Dipikir Ocy, Ghea akan buru-buru masuk kelasnya.
"Mas Adi!" panggil Ghea dan Adi refleks memutar tubuhnya saat sudah berada jauh dari letak mobil yang sudah terparkir.
"Ghe,"
"Mas Adi ngapain kesini? Tumben," tanya Ghea. Heran. Karena tidak biasanya Adi mengunjungi Pak Gery kalau tidak ada hal yang darurat.
"Itu, eum ... mau ketemu Gery, Ghe," katanya gagu.
"Oh. Mas Gery mungkin di ruangannya, Mas. Mau aku antar gak ke sananya?"
"Emang Mas Adi tahu ruangannya Mas Gery? Bukannya Mas Adi baru pertama kali, ya, ke sekolah ini?"
"Tahu lah, Ghe. Ini kan yang puny-" Hampir saja Adi keceplosan. Jika yang punya yayasan sekolah ini adalah Papa Dika. Untung ia keburu sadar.
"Kenapa, Mas?"
"Eh, nggak, Ghe. Ya udah, boleh, deh, lo anterin gue ke ruangannya Gery."
Kemudian Ghea mengantar Adi ke ruangan sang suami. Meninggalkan Ocy yang menggerutu kesal di tempat parkiran.
"Dasar Ghea. Udah punya laki juga masih aja ganjen sama cowok lain. Lagian cakep juga, sih, tuh cowok," ujar Ocy ketika melihat Ghea berjalan dengan Adi. Yang terlihat sangat akrab. Ocy belum tahu jika Adi adalah sepupu Pak Gery. Makanya dia berpikiran demikian soal.Ghea.
"Oya, Indah gak ikut, Mas?" tanya Ghea di sela-sela perjalanan kakinya menuju ruangan Pak Gery.
__ADS_1
"Nggak. Gue dari kantor langsung kesini," sahutnya. Dalam hati Adi sedang merasa cemas. Namun sebisa mungkin juga Adi menyembunyikan raut itu.
"Dari kantor Papa Dika, ya, Mas?" Adi mengannguk sebagai bentuk jawaban.
"Oya, Mas, aku boleh tanya sesuatu gak?"
Ah, Adi merasa hawa disekitarnya sangatlah panas. Hatinya mulai tidak tenang. Takut jika Ghea bertanya yang justru tidak seharusnya Adi menjawab.
"Tanya apa, Ghe?" Adi tetap menampilkan wajahnya setenang mungkin.
"Emm, itu. Aku kan kemarin ke restoran seafood sama Mas Gery. Terus pas di kasir ada cewek yang gak aku kenal. Tapi dianya kaya kenal gitu sama aku. Dan aku baru inget kalau dia juga pernah nyenggol bahu aku di rumah sakit waktu aku lagi itu ... ekhem, tahu pasti kamu lah, ya, Mas, aku ke rumah sakit sama Mas Gery mau apa?" Ghea agak kikuk bilang hal yang sipatnya pribadi sama Adi.
"Iya. Gue tahu. Terus?" Untung Adinya ngerti. Adi juga penasaran sama kelanjutan cerita Ghea. Karena Adi mulai menduga siapa cewek yang sekarang sedang Ghea ceritakan.
"Nah, pas kemarin di restoran dia juga tiba-tiba datang lalu-"
"Di, lo ngapain di sini?"
Ah, kenapa, sih, Pak Gery harus muncul disaat yang tidak tepat?
Adi dan Ghea refleks menoleh pada sumber suara itu. Adi berdecak. Sedangkan Ghea memasang wajah masamnya. Masih kesal pada Pak Gery dengan penampilannya yang super keren. Ghea gak ikhlas. Sumpah.
"Ger, gue ada urusan yang darurat sama lo," kata Adi sambil mengedipkan satu matanya memberi isyarat. Pasalnya Adi tidak ada bilang dulu sama Pak Gery jika ia akan datang ke sekolah.
Mengerti maksud darurat yang dibilang Adi, pun Pak Gery langsung mengajak Adi ke ruangannya. "Ya udah kita bicara di ruangan gue aja."
Lalu kedua cowok itu melangkah. Meninggalkan Ghea sendiri di tempatnya. "Hal darurat apa, sih, sampai Mas Adi datang langsung ke sekolah kaya gini? Gue jadi penasaran."
TBC
Maaf telat update guys. Sambil nunggu yuk baca cerita aku yang judulnya MY ENEMY IS MY LOVE. Makasih guys..
__ADS_1