Married With Teacher

Married With Teacher
Permen


__ADS_3

Ada dosanya uyyyy. Jangan sepikan komennya. Nanti dosanya dua kali lipat loh kalean. Ahahaha


**


Pak Gery mematikan sambungan teleponnya. Berjalan ke arah Ghea yang berdiri mematung di depan pintu seraya memasukan benda canggih itu ke dalam kantong celana.


"Kenapa? Hem?" Mengusak puncak kepala gadis yang sudah tidak lagi gadis itu dengan sayang. Menarik kedua sudut bibirnya untuk tersenyum. Terpaksa harus menyembunyikan ke kagetannya saat tadi ia bicara kasar di telepon. Takut jika Ghea mendengarnya. Dan itu memang benar.


Diam sebentar. Berpikir antara ia bertanya Pak Gery tadi bicara dengan siapa atau bodo amat aja? Uh bingung Ghea jadinya. "Eum … itu dapurnya kamu yang bersihin? Kompornya juga ganti." Alih-alih bertanya penasarannya. Ghea justru menanyakan soal dapur.


"Iya. Pas kamu berangkat ke sekolah. Aku manggil tukang kebersihan sama sekalian buat masang kompor yang baru." Menjawab dengan santai. Seolah Pak Gery sangat cerdas untuk menyembunyikan segala hal. "Makanya tadi aku telat datang ke sekolah." Lanjutnya kemudian.


Tangan yang tadi mengusak rambut Ghea. Kini tersimpan di saku celana kain hitam setengah lutut itu. Sepertinya Pak Gery habis mandi. Dari wangi dan pakaian aja udah ganti. Gaya rambutnya juga udah gak seperti akan mengajar di sekolah. Lebih santai dan kalem. Poni rambut itu dibiarkan menutupi dahinya. Kaos t-shirt berwarna putih tulang membuat otot lengan Pak Gery menonjol. Terkesan seksi dan menggairahkan.


Ghea yang melihat penampilan Pak Gery seperti itu membuatnya susah menelan saliva. Kok kesannya sekarang jadi Ghea yang mesum, ya? Tapi its ok lah. Namanya juga sama suami sendiri. Sah-sah aja kan? Tubuh Pak Gery juga haknya Ghea kok. Ah otak Ghea sudah mulai traveling.


"Oh …" Menaik turunkan kepala. Gak tahu lagi Ghea harus jawab apa. Malah jadi lupa juga untuk nanya ke Pak Gery. Tadi bicara sama siapa?


**


Malam harinya. Ghea duduk selonjoran di kasur. Kepala dan punggungnya bersandar pada hearboad. Tangannya memainkan tali bantal guling. Bola matanya bergoyang ke seluruh arah. Ghea masih mengingat cewek misterius itu. Rasa penasarannya dari awal sampai sekarang tidak menghilang. Dan justru malah semakin bertambah.


Kamar mandi terbuka dengan lebar. Tubuh tinggi, tegap dan perfect itu nyembul keluar dari sana. "Eh, kok belum tidur?" Terkesiap, Pak Gery sejenak berhenti. Lalu mendongakan kepala kemudian mengeringkan wajahnya dengan handuk yang ada di tangan kekarnya itu.


Ghea menarik bibirnya ke samping sambil melipatnya ke dalam. "Belum ngantuk." Pun tangannya tidak berhenti memainkan tali sarung bantal guling.


Sebelum naik ke atas kasur, Pak Gery lebih dulu menghampiri cermin. Ghea mengamati gerak-gerik cowok itu dengan bola mata indahnya. Mau tidur aja pake ngegaya dulu. Dih. Ghea berdecih kecil. Tapi suka juga. Pak Gery ini terlihat sangat menjaga penampilannya. Berbanding terbalik dengan Ghea yang notabennya cewek.


Pak Gery mengaplikasikan body lotion pada kedua tangannya. "Tadi katanya udah ngantuk." Pak Gery terkekeh. "Apa mau anu dulu?" Goda cowok itu. Menolehkan wajahnya yang kini menatap ke arah dimana Ghea sedang menatapnya nanar.

__ADS_1


Duh, jadi merah kan wajahnya. Dan lupa lagi sama cewek yang bikin Ghea penasaran. "Anu apa, sih, Mas?" Polos Ghea bertanya. Dan itu membuat Pak Gery terkekeh lagi. Lucu banget dengan pertanyaan Ghea.


Berjalan pelan, Pak Gery mengusap-ngusap tangan kanan. Menaik turunkan usapannya. Mengoleskan body lotion sisa yang masih terasa lengket di sana.


Bola mata Ghea tak lepas mengamati langkah Pak Gery yang kini sudah naik ke atas ranjang di sebelahnya. Wajah Ghea menoleh ke arah sana. Namun tubuh dan kakinya masih tidak berubah. Tangannya pun semakin keras memainkan tali bantal guling.


Pertama yang Pak Gery lakukan saat sudah berada di atas kasur. Ia menghadapkan seluruh tubuhnya ke arah Ghea. Tersenyum miring dengan tatapan mata yang menggoda. Kedua alisnya pun bergerak naik turun. Membuat Ghea bingung. Ada apa dengan suaminya ini?


"Kenapa, Mas?" Ghea bertanya. Ekspresi dan nada bicaranya itu polos banget.


Maklum aja, Ghea masih anak ABG yang belum tahu soal apa 'anu' itu. Mana Pak Gery pakenya kode-kodean lagi. Udah kaya main teka teki silang aja.


Terlihat Pak Gery menghela nafas panjang sebelum ia embuskan dengan kasar. Dalam hati terus berkata 'sabar-sabar' sambil menarik sudut bibirnya samar. Sebelum kemudian tangannya bergerak bersama jari jempolnya yang turut bertindak, membelai sepanjang garis bibir merah alami Ghea. "Aku mau ini. Boleh?" Pertanyaan Pak Gery yang membuat Ghea menelan salivanya kelat. Lalu mengerjapkan matanya bodoh.


"Bibir aku?" Setelah jempol Pak Gery menjauh dari garis bibir Ghea. Namun tak henti dengan jari telunjuknya yang mengusap rambut Ghea. Membenarkan sebagian rambut itu yang menghalangi pelipisnya.


Pak Gery mengangguk. "Iya. Boleh?" Kemudian menyelipkan rambut ke belakang telinganya.


"Hahaha … kamu itu aneh, tau gak, sih, Mas." Masih ada sedikit gelakkan di ujung kalimatnya. "Masa mau bibirku? Emangnya bibir aku permen apa? Lagi juga Mas sendiri kan punya bibir. Emangnya bibir aku mau Mas apain, sih?"


Ghea benar-benar tidak peka. Jika tadi siang Ghea melihat Pak Gery yang berpenampilan cakep, keren dan tampan saja membuat otak Ghea konslet. Traveling kemana-mana. Eh, kenapa sekarang saat Pak Gery memberi sinyal, Gheanya tidak conect?


"Mau aku ****," ujarnya kesal. Udah gak berselera lagi rasanya. Tangan dan jari-jarinya juga udah menjauh dari wajah Ghea. Kesellll pake banget.


"Hahaha … ya ampun, Mas. Kamu bener, anggap bibirku ini permen, ya? Astaga." Ghea menggelengkan kepalanya sambil tertawa polos. Menurutnya itu lucu apa? Sumpah Pak Gery rasanya udah mau menerkam Ghea aja, deh. Tapi tahan.


Mengurut pangkal hidungnya yang mendadak berdenyut, wajah Pak Gery sudah terlihat gusar.


Oh Tuhan, sabarkanlah!

__ADS_1


"Kamu kalau mau permen, bilang dong! Aku punya. Sebentar, ya, aku ambil dulu. Di tas sekolah aku banyak loh, Mas." Ghea pun menurunkan kedua kakinya dari ranjang. Dipikir Ghea emang iya Pak Gery itu mau permen. Abis katanya tadi mau ****-emutan. Ya, bener kan kalau yang di **** itu permen? Dasar Ghea. Otaknya benar-benar sudah tidak conect dengan benar.


"Nih, Mas. Banyak kan? Mau rasa apa? Ini ada mint sama cerry. Mau yang mana?" tanya Ghea. Setelah kembali dari mengambil permen di tas sekolahnya. Ia kembali ke sisi ranjang. Duduk bersama kedua kaki yang kini bersila di atas kasur. Tepat saling berhadapan dengan Pak Gery.


Pak Gery mendongak. Sedari tadi wajahnya menunduk sambil mengurut pangkal hidungnya. Kemudian menghembuskan nafasnya kasar sebelum menerima permen yang Ghea sodorkan.


"Aku gak mau rasa-rasa yang ini," ujar Pak Gery. Namun tak juga menolak permen dari tangan Ghea.


"Ada juga rasa yang ini, Mas. Emang mau rasa apa, sih? Nanti besok aku beliin, deh, kalau mau rasa yang lain."


"Rasa bibir kami aja!"


"Hah?" Kini Ghea mengerutkan dahi. Ia mengerjap bingung beberapa kali, mendengar celetukan Pak Gery yang membuatnya terheran-heran. Tak ingin ambil pusing, Ghea membuka bungkusan permen yang ada di tangannya. Kemudian berucap, "ya udah, Mas, jangan mau rasa yang gak ada! Udah, nih, rasa yang ada aja." Ghea memberikan permen tepat di depan mulut Pak Gery.


Dengan kesal Pak Gery membuka mulut. Menerima suapan permen dari jari tangan Ghea terpaksa. Namun sebentar kemudian, setelah permen itu masuk ke dalam mulutnya, tangan Pak Gery malah menarik ceruk leher Ghea. Lalu satu tangan yang lain menempel pada pipi cewek itu.


Sekali hentak, bibir Ghea langsung dilahapnya dengan sangat rakus dan Pak Gery menciumnya agresif. Tak ada kelembutan seperti di awal-awal. Yang ada hanya tautan kasar. Namun, itu membuat jantung Ghea berdentum dengan sangat cepat dan tidak terkendali. Ghea begitu sangat mendamba sentuhan bibir Pak Gery.


Menggigitnya kecil sampai Ghea membuka mulutnya. Kemudian Pak Gery mengalihkan permen yang ada di mulutnya untuk berpindah ke mulut Ghea.


Susah payah Ghea mengimbangi sentuhan Pak Gery pada bibirnya. Pak Gery semakin mendominasi tautan tersebut. Mengekspos setiap rongga di dalam mulut Ghea. Hingga permen yang ada di dalam sana berpindah-pindah tempat. Dari lidah Ghea kemudian ke lidah Pak Gery.


Ini hal pertama yang Ghea rasakan.


Sensasi bertautan itu membuatnya menggelinjang. Apalagi saat Ghea merasakan tangan Pak Gery semakin menekan kuat ceruk lehernya. Lalu tangan yang lain sudah pindah posisi menjadi di atas pahanya. Mengelus, membelainya lembut penuh penekanan.


TBC


Aku butuh bernafas sebentar. Udara di sekitaran aku panas banget. Airrr aku membutuhkannya. ow ow owwwww

__ADS_1


Awas ya kalau komen sama like nya masih sepi. Btw aku Up nya tuh pas abis magrib. Kalau lama. Ya maafkeun. (sengaja kasih infoh)


__ADS_2