Married With Teacher

Married With Teacher
Mwt bab 15


__ADS_3

Sudah cukup lama Ghea menunggu Gery. Bersama dengan teman-temannya, Ghea lebih dulu ikut mengantri untuk menyalami sang pengantin di pelaminan. Tepat di belakangnya Reza berdiri, sedangkan di belakang Reza ada Yura yang masih menunjukan wajah masam. Sepertinya masih tidak menyukai Ghea.


Ya. Ghea sadar akan hal itu. But, it’s okay. Tidak masalah. Karena saat ini Ghea tidak mau memikirkan hal yang lain selain memikirkan, kemana suaminya? Kenapa belum juga datang? Apa ada masalah dengan meetingnya? Apa ada sesuatu?


Bersama langkahnya yang maju, bersama itu pula segala macam pikiran mulai tumbuh. Dari apa yang tadi temannya katakan, Ghea membenarkan itu, jika sekarang memang sedang marak dengan yang namanya ‘pelakor’.


Tidak!


Digelengkan Ghea kepalanya samar dengan mata kosong memandang pada punggung orang yang ada di depannya itu. Ghea tidak boleh punya pikiran macam-macam yang nanti akan membuat dirinya sendiri sakit. Hancur. Lalu dengan sendirinya, ingatan ketika Gery merangkul pinggang seorang wanita di lobby kantornya melintas. Saat itu, dada Ghea sesak. Nafasnya tercekat. Tenggorokannya seakan sedang dicekik. Pandangan Ghea sedikit demi sedikit mulai mengabur, kepalanya mendadak pening. Dan kakinya seperti jelly. Susah untuk Ghea berpijak. Bahkan di saat orang di depannya sudah melangkah menghampiri sang pengantin, kaki Ghea justru terpaku untuk detik selanjutnya tubuh wanita itu oleng.


“Ghea!” Dengan kedua tangan sigap, Reza menahan punggung dan pinggang Ghea. “Loe gak papa?" tanyanya penuh dengan nada suara yang khawatir.


Mendengan suara keras dari Reza, auto semua orang memandang ke arahnya dengan tatapan heran dan penuh keingin tahuan.


Cindy dan Tama yang sudah turun dari atas pelaminan pun kembali naik. Menghampiri. Ikut khawatir dengan temannya itu.


Sedangkan Bu Novi dengan gaun pengantinnya yang elegan dan mewah, meninggalkan kursi pelaminan dan lelaki yang berdiri di depan kursi. Dengan dahi yang berkerut, Bu Novi memegang bahu Ghea. “Kamu kenapa, Ghe?” Lalu bertanya. Tidak kalah khawatir dengan yang lain.


Ghea menggeleng. Mengedarkan pandangannya ke segala penjuru dan orang-orang kini memusatkan dirinya


pada Ghea. Untuk sesaat Ghea menjadi hal utama di acara resepsi gurunya itu. Ia malu tentu saja. “Saya gak papa kok, Bu. Maaf,” katanya. Tidak enak.


Dianggukan Bu Novi kepalanya untuk kemudian wanita yang Ghea tahu pernah menyimpan rasa kagum pada suaminya itu membalikan tubuh. Berjalan. Menempatkan kembali dirinya di depan kursi pelaminan. Berdiri di samping pria yang Ghea tahu itu pasti suami dari Bu Novi.


“Lo beneran gak apa-apa, Ghe?” tanya Reza yang masih menyimpan kedua tangannya di punggung dan pinggang Ghea. Lalu menuntunnya untuk turun dari atas panggung pelaminan. Membawa cewek itu duduk di salah satu kursi dengan meja bundar.


Ghea mencoba tersenyum. Lalu menggeleng.


“Minum dulu, deh, Ghe!” Tama menyodorkan botol air padanya setelah membuka tutup botol itu.


Ghea meneguk air itu sedikit. “Makasih, Tam.”


“Hem,” gumam Tama seraya mengerutkan keningnya.


“Pak Gery belum datang juga, Ghe? Lo mau pulang aja atau gimana? Bibir lo pucet banget. Gue takut lo sama kandungan lo kenapa-napa,” ujar Reza. Rasa khawatir di wajah cowok itu begitu kentara. “Muka lo juga keringetan gitu.” Lalu dengan berani dan tanpa canggung Reza mengusap pelipis Ghea dengan punggung tangannya.


“Gue gak papa, Za.” Ghea menjauhkan tangan yang mengusap pelipisnya itu menggunakan tangannya. Canggung. Malu. Dan semua rasa bercampur menjadi satu. “Thanks udah nahan gue tadi.” Karena jika tidak, bisa saja tubuh Ghea terjatuh.


“Santai aja.” Reza menjawab dengan garis bibirnya yang tertarik. Lalu ketika tangannya hendak mengusak puncak kepala Ghea, tangan besar yang lain menahannya. Sehingga membuat tangan Reza menggantung di atas kepala Ghea.

__ADS_1


Bukan hanya Reza. Tama dan Cindy pun ikut mengangkat pandangan. Melihat siapa pemilik tangan besar yang menahan tangan Reza itu.


“Pak Gery,” seru Cindy. Untuk kemudian Ghea yang awalnya menunduk, perlahan mengangkat wajah saat nama seseorang yang sedari tadi ditunggunya disebut.


“Mas.” Ghea menyapa. Namun, tidak dengan senyuman. Melainkan wajahnya yang masam.


“Pulang!” Hanya satu kata itu yang keluar dari mulut tebal Gery. Tanpa berbasa-basi atau melakukan say halo pada mantan murind-muridnya, cowok dengan segala keangkuhan dan sikap dinginnya itu menarik siku Ghea. Secara otomatis Ghea berdiri. Mengikuti langkah Gery. Sedikit terseok-seok karena langkahnya seperti digusur.


Reza dan yang lainnya hanya memandang tidak mengerti pada sikap Gery yang selalu demikian. Untuk kemudian mereka saling melempar pandangan dan mengedik.


“Mas, kamu apa-apaan, sih? Datang-datang kok main tarik aku gini?” Ghea tentu protes sambil mengikuti tarikan dari Gery. “Kamu juga belum nemuin Bu Novi dan kasih selamat.”


Gery masih tidak mendengarkan. Menjawab apa lagi. Bersama langkahnya yang menarik Ghea, bersama itu pula pembuluh darah di kepalanya seakan ingin pecah. Meledak.


“Mas! Kenapa, sih?”


Barulah langkahnya itu berhenti. Diembuskan Gery nafasnya kasar. Mengguyar rambutnya dengan tangan kiri dan tangan kanan berada di atas pinggang. Cowok itu seperti tengah menahan frustasi di dalam diri sekaligus amarah yang menggerogoti.


Kini keduanya sedang berada di lorong yang sepi. Dan di sebelah kanan ada lift. Ghea menyandarkan punggung serta belakang kepalanya pada dinding lorong itu. Tidak tahu harus apa dan bagaimana. Karena yang Ghea lihat cowok yang menjadi suaminya, kini terlihat sedang kacau.


Untuk beberapa detik berjalan, keduanya tetap diam. Hanya ada nafas keduanya saja yang menjadi irama dalam keheningan. Seolah itu sedang mewakili.


Tapi semua itu seakan tidak bisa Ghea keluarkan. Semuanya tertahan di kerongkongan. Matanya hanya mampu bergoyang kesegala arah untuk kemudian memberanikan diri menatap wajahnya yang tengah menengadahkan wajah. Matanya terpejam. Dan Ghea mendengar nafasnya tidak teratur. Seperti seseorang yang baru saja lepas berburu.


“Tubuh bagian mana lagi yang mendapat sentuhan dari cowok sialan itu?”


Dikerutkan Ghea dahi itu. “Hah?” Lalu kedua rangannya terbuka. Terkejut. Omong kosong apa yang keluar dari mulut suaminya ini? Sebuah pertanyaan yang seperti sedang menghakimi. “Maksud kamu apa, Mas?” tanyanya yang tentu saja tidak dapat dimengerti oleh Ghea sendiri. Ia terkekeh.


Gery mendengus sambil membuang mukanya. Ingin sekali cowok itu mengumpat. Gery mendekat pada Ghea yang bersandar. “Selain di sini.” Lalu tangannya menyentuh punggung Ghea yang polos karena gaun sialan yang diberikan Gery padanya itu. Menyentak untuk kemudian menariknya mendekat. “Di mana lagi dia nyentuh kamu?” Tatapannya begitu menusuk sampai menembus jantung Ghea.


“Di sini?” Masih dengan mempertahan tangan di punggung Ghea, tangan yang lain naik menyentuh pelipisnya.


“Mas,” gumam Ghea. Didongakan Ghea wajah itu hingga tatapannya bertemu dengan bola mata abu-abu yang kini memerah. Menahan segala kilat amarah.


“Atau …” menahan kalimatnya, dilangkahkan Gery kakinya. Membuat langkah Ghea mundur lalu langkah itu menuntun keduanya untuk masuk ke dalam lift yang berada di sebelah kanan setelah sebelummnya jari lentik Gery menekan tombol.


“Di sini?” Lanjut Gery dengan punggung Ghea yang telah disandarkan di dinding lift seraya tangan yang awalnya berada di pelipis Ghea, diturunkan Gery tangan itu menyentuh bibir bawahnya. Mengusapnya menggunakan jari jempol dan jari-jari yang lain tepat berada di dagu Ghea. Ditekannya kuat tubuh Ghea sehingga dirinya terkunci oleh


tubuh tegap suaminya.

__ADS_1


Ghea bingung. Dikerutkan kembali Ghea dahi yang berkeringat itu. Dadanya naik turun.


Wajah Gery yang menunduk auto melihat bongkahan lembut milik Ghea yang berirama. Ikut naik turun. Tanpa membebaskan jari jempol dari bibir bawahnya, dan tangan lain yang masih berada di balik punggung Ghea, perlahan merambat. Naik. Sampai menyentuh belakang leher wanitanya itu. Merematnya dengan lembut. Memberikan adrenalin pada detak jantung Ghea.


“Mas.” Digumamkan Ghea lagi nama panggilan itu dengan suara lirih. Hampir tersedat malah karena merasakan belakang lehernya yang semakin dipijat. Ditekan. Diusap dengan jari-jari lentiknya. Lembut. Pun dengan kedua tangan Ghea semakin kuat mencengkram cluth di bawah perutnya.


“Kamu tahu betul kan, sayang.” Oh suara yang Ghea dengar saat ini seperti sebuah ancaman bahaya yang dapat menyerangnya kapan saja.


Gery bukan hanya menundukan pandangan. Bahkan sekarang bibirnya hampir menyentuh bibir Ghea yang mana jari jempol milik Gery masih betah mengusapnya. Dari sudut kanan bibirnya lalu berjalan ke sudut bibir kirinya. Kemudian ditarik Gery bibir bawah Ghea secara sensual.


“Sshhh …” desau Ghea. Darah di dalam setiap nadinya semakin mendidih. Merasakan pecutan di detak jantungnya.


“Jika aku gak akan pernah rela tubuh kamu disentuh oleh cowok mana pun?” Cowok itu melanjutkan.


Oh Tuhan …


Apa yang harus Ghea lakukan?


Untuk saat ini ia tidak bisa melakukan apa-apa. Untuk kabur pun apa lagi.


Melihat kilat amarah karena rasa cemburunya—mungkin di bola mata abu-abunya membuat Ghea susah untuk menelan saliva. Kerongkongannya pun mendadak kering. Lalu dengan perlahan ditarik matanya. Melihat angka yang masih berjalan di atas pintu lift.


Sial!


Ghea baru sadar, jika lift itu berjalan naik. Semakin naik dan naik hingga mata Ghea melihat di angka 15.


Mau dibawa kemana dirinya oleh Gery?


Harusnya Ghea tahu konsekuensi apa yang akan ia terima nanti.


“Mas, ta—tadi itu Reza Cuma—“


Gery semakin menekan tubuh Ghea menggunakan tubuhnya. Sehingga bongkahan lembut milik wanitanya itu dapat Gery rasakan dengan lembut di dadanya. “Persetaaannn dengan kata ‘menolong’ itu, sayang!” suara itu menekan. Berat. Tetapi Ghea masih bisa mendengar akan kelembutan dari nadanya. Meski kalimat itu terdengar sebagai umpatan kasar.


 


Note Seizy :


untuk semuanya maaf sudah menunggu terlalu lama. Bukan maksudnya menggantungkan. Jika yang follow Ig aku pastinya tau kalau aku abis kena musibah (kakek aku wafat) dua minggu yang lalu. Dan untuk kamu yang masih menunggu, terimakasih. Anw bab ini diketik 1.400 lebihan. hihiii. Tadinya mau panjang gitu, tapi aku bagi jadi dua bab aja lah. Biar gak pegel baca cerita sederhana kang ngetik amatiran ini. Huhuuuu

__ADS_1


__ADS_2