
“Itu—bukan—anak—gue!" Menekan satu kalimat itu, Gery menatap manik Adi dengan tajam. Keduanya saling menatap sengit. Jemari lentik Gery yang mencengkram kerah kemeja Adi ia lepaskan dengan satu dorongan keras. Membuat tubuh Adi sedikit terhuyung. Namun, masih bisa Adi seimbangkan.
Adi tertawa pelan. Dirogoh saku jas bagian dalamnya untuk kemudian Adi mengeluarkan sesuatu dari sana. “Seyakin apa, jika itu bukan anak lo?” Lalu Adi melempari wajah Gery dengan beberapa lembar foto yang telah ia cetak sebelumnya. Untuk kemudian lembaran-lembaran itu jatuh melewati dada Gery.
“Masih gak mau ngaku juga?” geram Adi dengan gigi yang gemeletuk menahan kesal dan amarah.
Pandangan Gery turun, melihat di dekat kakinya, sebuah foto dirinya yang tengah mendapati ciuman pipi dari Airin.
Foto itu diambil oleh orang suruhan Adi sewaktu di café hotel, di mana Airin dan Gery saat menemui seseorang di sana.
“Jadi, lo mata-matain gue?” Gery menggerakan kakinya untuk menyingkirkan foto yang menyentuh ujung sepatu mengkilapnya.
“Kalau gue gak ngelakuin itu, gue gak bakal tahu seberengsek apa elo di belakang Ghea.” sengit Adi.
Di dalam ruangan itu kini hanya ada kemarahan di antara dua saudara yang sebelumnya tidak pernah ribut apalagi saling adu kepalan tangan. Tapi, malam ini seolah dunia keduanya saudara itu sedang dijungkir balikkan.
Gery menyugar rambutnya. Menghela nafas berat sebelum tubuhnya kembali mendekat pada Adi. “Dengerin gue!” katanya penuh dengan tekanan. Menatap Adi tanpa ada kedipan di bulu mata lentik miliknya. “Gue dan Airin tidak pernah memiliki hubungan apa pun selain dia yang menjadi sekretaris gue. Dan gue gak perduli lo mau percaya
atau nggak, jika Airin hamil …, itu bukan karena gue. Bukan gue yang lakuin itu sama dia! “
“Terus, gue harus percaya gitu aja sama elo?” Kini bagian langkah Adi yang mendekat pada Gery. Menarik satu alisnya dan tersenyum miring. “Setelah bukti yang elo lihat ini?" tunjuk Adi pada lembaran-lembaran foto yang berserakkan di lantai menggunakan dagu.
Gery tertawa pelan. “Terserah! Elo mau percaya atau nggak sekali pun sama gue. Yang jelas, Airin hamil bukan gue yang nidurin dia.” Gery menenggelamkan kedua tangan ke dalam saku celana. “Sekali lagi gue tegasin,” sahutnya membusungkan dada pada Adi. “Itu bukan anak gue!”
“Oh, ya?” Seakan Adi mengejek Gery dalam kata-kata dan senyum cowok itu. “Terus, kalau bukan elo, siapa? Setan? Jin? Makhluk ghaib atau—“
“Nandan Lesmana!”
**
Di Rumah sakit.
__ADS_1
Tepatnya di ruangan yang kini hanya terdengar sebuah suara pendeteksi jantung dan organ vital lainnya, Ghea masih mematung di depan pintu yang sudah ia tutup. Kedua kaki Ghea bagaikan sebuah jelly. Tidak bisa ia gerakan sama sekali. Seluruh tubuhnya lemas. Matanya pun tidak kuat untuk meneteskan kristal bening.
Melihat sang Papa yang tidak bergerak sama sekali dan bernafas pun dibantu dengan ventilator yang terpasang di hidung. Kehidupan Ghea seakan berhenti detik itu juga. Ia menekan dadanya guna menyentuh debar jantung yang seakan saat ini tidak dapat Ghea rasakan.
“Papa,” gumam Ghea. Dilangkahkan Ghea pelan kakinya menuju ranjang rumah sakit, di mana, di sana, Papa terbaring dengan jarum infus yang terpasang di punggung tangan kanan, juga sebuah alat lain yang terpasang di punggung tangan kirinya. Ghea tidak tahu persisnya itu alat untuk apa. Tapi dengan hati yang merasa ikut terluka, Ghea tidak kuat melihat Papa yang seperti ini.
Papa … yang biasa ia lihat selalu tertawa.
Papa … yang biasa selalu mengajaknya bercanda.
Dan Papa … yang selalu terlihat kuat. Baik-baik saja.
Tapi, kini, Ghea tidak melihat semua itu dari Papa.
Kini, Papa butuh dorongan semangat darinya. Butuh untuk dirinya kuat agar Papa juga bisa kuat.
Maka dari itu, Ghea berusaha kuat untuk Papa. Ia menghapus air mata yang menganak sungai di pipi mulusnya menggunakan punggung tangan.
Sebuah angka-angka yang muncul di monitor, sama sekali tidak Ghea pahami. Namun, Ghea tahu angka paling atas yang berlambangkan hati, jika itu adalah kerja detak jantung Papa. 145 dan terus naik mencapai 150. Dan beberapa detik selanjutnya, turun lagi mencapai 145 sampai 140. Angka—yang naik turun—yang Ghea lihat muncul di monitor itu. Dan Ghea tidak tahu, angka 140-150 itu termasuk normal atau tidak untuk detak jantung Papa.
“Papa …” Suara Ghea bergetar menahan isakkan. Semua jemarinya meremat seprai berwarna biru yang melapisi ranjang Papa. Benar-benar tidak kuat melihat kondisi Papa. Pandangan buramnya karena air mata itu kembali menengadah, melihat layar monitor yang berisik dan terus bekerja merubah angka-angka.
Tangan Papa terangkat dengan gerakan pelan dan gemetar. “Eunghh …” Dan Papa hanya bergumam seperti itu saja. Ghea buru-buru menurunkan pandangannya dari menatap monitor pada Papa yang segera Ghea genggam tangan Papa yang terangkat lemah itu.
“Iya, Pa. Ghea di sini,” ucap Ghea membungkukkan wajahnya untuk kemudian mencium kening Papa. “Papa yang kuat!” Bisiknya ke telinga Papa. “Papa harus janji sama Ghea. Pokoknya Papa harus kuat. Papa harus semangat sembuh. Papa mau kan lihat cucu Papa lahir?”
“Eunghh …” Lagi. Papa hanya bergumam tanpa mengeluarkan suara untuk berkata. Dan itu pun Ghea melihat kedua mata Papa yang tidak terbuka.
Mendengar dari Mama jika Papa terkena tetanus. Sebuah penyakit yang belum ada obat untuk menyembuhkannya secara total. Selain antibiotik untuk membunuh bakteri yang sudah menyebar di dalam tubuh dan obat penenang. Juga dilakukan vaksin tetanus.
Ghea belum bertanya sepenuhnya pada Mama, kenapa bisa Papa di diagnosa dengan penyakit demikian? Karena belum juga Mama menjelaskan apa penyebabnya Papa bisa seperti itu, perawat yang membantu menjaga Papa sudah menyuruhnya untuk masuk ke ruang ICU.
__ADS_1
Ghea terus membisikan kalimat-kalimat semangat untuk Papa. Ia duduk di samping ranjang Papa sembari tidak sedikit pun melepaskan genggaman tangannya dari Papa. Tak terhitung pula, wajah Ghea sudah berapa kali menengadah, menengok pada layar monitor yang mana angka-angkanya terus saja berubah-ubah. Naik turun.
“Papa harus kuat, demi aku dan Mama!” Suara itu parau sambil mata menatap layar di atas sisi kanan. Ketika kalimat itu keluar dari mulut Ghea, ia merasakan cengkraman kuat di tangannya. Lalu Ghea menurunkan pandangan. Memfokuskannya lagi pada Papa. “Ghea tahu, Papa denger Ghea, kan?” Dan cengkraman tangan Papa kembali mengetat di genggaman Ghea.
“Ghea tahu, Papa laki-laki terhebat. Papa laki-laki kuat,” ucapnya lagi. Linangan air mata yang tak mampu Ghea tahan sehingga menetes mengenai punggung tangan Papa. Ghea buru-buru mengusap itu karena Ghea tahu jika Papa melihat, beliau tidak akan suka.
“Papa yang selalu bilang ke Ghea gitu, kan, Pa? Ghea harus kuat! Ghea harus sabar! Ghea harus jadi wanita yang sholeh untuk suami Ghea!” Kalimat petuah yang selalu Papa ajarkan untuknya. Ia mengulang itu. Mengingat kembali saat Papa memberikan petuahnya dengan air mata yang bandel—yang tidak mau berhenti untuk mengalir, melewati pipi Ghea.
“Ghea ngaji, ya, buat Papa. Biar Papa cepet sembuh,” sahutnya melepaskan tangan yang saling menggenggam itu.
Menyeka pipinya yang basah lalu Ghea segera melangkah ke kamar mandi untuk kemudian mengambil air wudhu. Saat kembali, di samping Papa sudah ada seorang wanita mengenakan seragam putihnya. Wanita itu menutup kepalanya dengan kerudung putih. Ghea yakin dia adalah seorang perawat. Di tangannya sebuah buku ia peluk lalu sesekali mencatat ketika seorang laki-laki dengan jas putih berkata pada perawat itu. Dan Ghea tebak itu adalah dokter yang menangani penyakit Papa.
“Gimana Papa saya, Dok?” tanya Ghea setelah berdiri di belakang wanita berseragam putih itu.
Refleks, perawat mau pun dokter menoleh padanya. Keduanya diam sebentar untuk menatap Ghea sebelum Dokter itu menjelaskan.
Begitu pula dengan Ghea yang sedikit shock, tidak percaya melihat seorang Dokter yang berdiri di depannya ini.
“Alvin.”
Note seizy :
Hai... selamat malam. Maaf baru update lagi. Dan terimakasih karena kalian dengan sabar sudah menunggu cerita ini di update. Dan maaf untuk di bab ini, mungkin gak berhubungan dengan Ghea dan Gery, tapi... entah mengapa aku ingin sekali menulis sebagian yang aku rasain saat ini. Makasih buat kamu yang sudah kasih semangat.
Anw, kalau boleh nih, ya, aku punya akun youtube loh. Ceritanya sih mau update cerita di youtube gitu. Tapi baru buat cerita short aja. Hihiii
kalau boleh subscribe dong, soalnya baru beberapa biji doang gitu. wkwkw
Nama channelnya HALU CHANNEL
Dan terimakasih buat yang udah bantu subscribe. Dan satu hal lagi. Jangan lupa buat kasih komen di setiap chapcernya. ILY ;)
__ADS_1