Married With Teacher

Married With Teacher
Mwt bab 14


__ADS_3

“Ghe, lo gak apa kan kalau masuk sendiri?” Karena Adi harus menyelesaikan tugas selanjutnya. Tugas yang tidak boleh diketahui Gery atau siapa pun. Termasuk Ghea sendiri. Cowok itu berdiri di samping pintu mobil yang sudah terbuka dengan Ghea berdiri di sana.


Sejujurnya Ghea merasa deg-degan dan tidak terlalu percaya diri masuk ke dalam gedung sendirian. Tapi harus bagaimana lagi, tidak mungkin juga ia memaksa Adi untuk menemaninya sebelum kedatangan suaminya itu. Menundukan pandangan untuk melihat penampilannya dari bawah, kepala Ghea menggeleng. “Yaps, gak apa kok. Lagi juga Mas Gery tadi bilang gak akan telat datang,” katanya walau ragu. Karena setelah Ghea sampai, lelakinya itu belum juga terlihat. Dan menghubungi Ghea pun belum sepertinya. Ah, ya, Ghea lupa untuk mengecek hand phone.


“Aman deh. Kalau gitu gue duluan ya. Lo telepon deh tuh si Gery jangan biarin lo nunggunya kelamaan. Takut aja gue kalau tuh kambing bakal telat dan ngebiarin lo nunggu di sini. Udah cantik gini juga. Masa dibiarin nunggu. Sayang amat dah gue.”


Ghea tertawa. Malu. Pipinya merona. “Lebay amat sih, Mas.”


“Ya emang. Kagak ngadi-ngadi gue mah.”


“Iya, iya, iya. Ini mau aku telepon.” Dirogoh Ghea hand phone di dalam cluth peraknya itu untuk kemudian menghubunginya karena benar saja, tidak ada pesan atau notifikasi apa pun dari lelakinya ini.


“Gimana?” Adi bertanya lagi setelah panggilan kedua yang Ghea lakukan.


“Belum dijawab," jawabnya sambil menempelkan hand phone ke sisi wajah.


Adi berdecak. Embusan nafasnya ia keluarkan secara kasar. Mengepalkan satu tangan di sisi tubuh. Adi rasanya ingin menjambak rambut seseorang saja. Jika bisa, tangan yang sekarang sedang terkepal itu ingin ia layangkan pada rahang tegas Gery.


Shit!


“Mending lo duluan masuk aja, sana! Jangan nunggu di luar!” Perintah Adi. Sebisa mungkin harus terlihat tenang meski dadanya bergemuruh dan bom waktu itu seakan ingin meledak saja di dalam diri Adi.


“Ya sih.” Kepala itu mengangguk. “Eh undangannya mana, Mas? Ntar lupa gak dikasih masuk lagi." Lalu Ghea tertawa.


“ya ampun, Ghe. Gak pake undangan juga lo mah pasti dikasih masuk,” kata Adi seraya membuka pintu mobil depan. Mengambil undangan yang terkesan mewah itu dari atas dashboard untuk kemudian memberikannya pada Ghea. “Lo istrinya bos ini.”


Ghea tertawa. “Iya. Tapi beberapa dari mereka kan gak tahu, Mas.” Lupa kali Adi ini jika pernikahan Ghea dan Gery waktu itu tidak terpublis. Meski empat tahun menikah, Gery tidak pernah mempubliskan pernikahannya pada orang luar. Pengecualian Putra Grup. Perusahaan Papa Dika yang memang Ghea sering ke luar masuk sana. Tentu harusnya mereka tau, bukan—meski tanpa diberi tau.


Kalimat Ghea mengundang decakan keluar dari bibir Adi. “Ya udahlah, gampang itu mah. Kalau suami lo kagak mau lo di publis sama orang-orang luar.” Adi menepuk bahunya. “Biar gue yang ngundang para wartawan. Sekalian dah tuh lo biar masuk TV." Katanya dengan kekehan kecil. Bermaksud untuk melucu padanya. “Kali aja ntar ada produser yang mau nawarin lo main film. Penyanyi. Atau ngundang lo ke acara Talk Show-nya. Biar bisa ngalahin ketenaran suami songong lo itu.”


Ghea hanya bisa tertawa mendengar lelucon dari sepupu suaminya ini. Sambil menggelengkan kepala, Ghea membuka cluth kemudian memasukan undangan itu ke dalam sana. “Bisa aja sih, Mas Adi. Ya udah, aku masuk duluan, ya. Agak dingin juga di luar ternyata.”


“Lagian tumben amat lo pake baju kebuka gitu, Ghe?” kelakar Adi ketika Ghea sudah berada tiga langkah darinya berdiri. Untuk itu Ghea menoleh dengan senyum khasnya. “Mas Gery yang nyuruh aku pake gaun ini,” katanya. Melanjutkan kembali langkah dengan anggun dan menawan. Adi melihat punggung Ghea yang polos dengan


pandangan nanar. Sampai punggung itu menghilang di belokan lorong sebelah kiri. Bersamaan dengan itu hand phone Adi bergetar. Satu pesan masuk untuknya.


“Shit!”


Dengan amarah yang sudah ia tahan sejak tadi, kini rasanya Adi tidak bisa menahannya lagi di saat ia mendapat sebuah pesan berupa gambar. Untuk kemudian cowok itu berjalan menuju tempat yang sebelumnya ia dapatkan dari orang suruhannya lewat pesan singkat di bawah pesan gambar.


**

__ADS_1


Di sisi lain.


“Maaf,  Pak. Saya tidak bermaksud untuk—“ Sesaat  Arini tidak bisa meneruskan kalimatnya. Digigit Arini bibir bawah itu. Ia berjalan cepat mengikuti langkah tegap di belakang punggungnya. “Lain kali saya tidak akan mengulanginya lagi—“ kemudian kalimatnya terpotong.


“Tidak ada kata lain kali, Arini!” ucapnya. Tegas. Dingin bersama suara beratnya.


Arini dengan segala rasa bersalahnya menganggukan kepala. “Maaf, Pak.” Dan hanya kalimat itu yang bisa Arini katakan pada bos-nya ini.


Melewati lobby Hotel Raffles, barulah langkah Gery berhenti. Tanpa mengalihkan pandangan. Kedua tangan tenggelam dalam saku celana. “Saya akan menghadiri acara selanjutnya,” katanya lagi dengan mata tertuju pada pilar yang jauh di hadapannya.


“Baik, Pak.”


Ketika Gery melangkah, kaki Arini pun ikut melangkah. Sebagaimana mestinya seorang sekretaris yang selalu mengikuti jejak sang atasan. Di belakangnya. Namun, itu tidak seterusnya, karena di langkah Gery yang keempat, cowok itu berhenti auto membalikan tubuh. Yang membuat Arini refleks menghentikan langkah kaki.


“Kamu gak perlu ikut!” katanya dingin. “Kamu bisa kan pulang naik taxi?”


“Bi—bisa, Pak." Arini gagap. Tubuhnya semakin merasa terintimidasi. Ia sama sekali tidak berani menatap Gery. Hanya mampu menundukan pandangan dengan rasa bersalah yang semakin menjalar pada nalurinya. Dan sialnya, mata itu memanas. Tidak bisa lagi untuk menahan laju cairan bening yang sudah menumpuk.


Okay. Is fine. Ini salahnya.


Tanpa diduga pula, seseorang melihat keduanya dari jarak jauh. Memancing kembali emosi dengan bendera perang yang sudah berkibar di atas puncak gedung. Lihat saja nanti apa yang akan dilakukan Adi padanya.


**


Kakinya akan lebih melangkah lagi ke dalam gedung sebelum ada suara yang memanggil namanya dari belakang punggung. Ghea menoleh lalu senyumnya mengembang.


“Astaga … lo beneran Ghea? Gue kira tadi salah lihat,” sapa seorang wanita sambil memberikan kecupan di pipi kanan dan kiri. Sepertinya wanita itu habis menggunakan toilet. “Apa kabar lo?” tanyanya dengan tawa yang pelan. “Gila … makin-makin aja lo, Ghe.” Lalu menilik penampilan Ghea dari ujung kaki sampai kepala. “Cantik banget. Sumpah. Pangling gue lihatnya, Ghe.”


Ghea tersenyum. “Baik. Gue baik, Cin. Kabar lo gimana? Sekarang kerja apa masih lanjut kuliah ke S2, nih?”


“Ya gitu lah, Ghe. Boro-boro lanjut ke S2, S1 aja kagak gue. Kerja aja gue mah, Ghe.Tahu sendiri kan lo keluarga gue kek gimana? Itu juga gue makasih sama lo dan Pak Gery yang waktu itu—“ Cindy menahan kalimatnya untuk menatap Ghea sesaat. “—Hah kalau aja waktu itu Pak Gery gak cabut surat DO gue, gak bakal punya ijazah buat gue lamar kerja. Ya walau Cuma ijazah SMA doang lah. But, it’s okay.”


Ghea terdiam. Ia ingat masa-masa itu. “Eh, btw temen-temen yang lain pada datang gak, nih? Kangen gue pengen ketemu.” Untuk sejujurnya, Ghea menghindari obrolan menyedihkan ini.


“Dateng kok. Tuh mereka lagi pada duduk-duduk makan aja. Ke sana yuk! Gue yakin mereka bakal happy banget ketemu sama nyonya besar,” ucapnya tertawa.


“Apaan dah. Ngawur banget sih, Cin.”


Lalu keduanya berjalan dengan Cindy yang merangkul pundak Ghea. Sedangkan yang dirangkul hanya bisa tertawa elegan saja.


“Gimana kabar lo sama Tama?” Dalam langkah ke sekian, Ghea tiba-tiba bertanya random padanya. Tahu jika sebelum kecelakaan yang menimpanya beberapa tahun lalu Cindy dan Tama sering sekali adu mulut. Ia jadi terkikik mengingat adu argumen keduanya itu ketika di kantin.

__ADS_1


Cindy memutar bola mata meski sadar Ghea tidak melihatnya. “Hah … playboy kayak dia mana ada serius sama cewek, Ghe.”


“Masa? Sekenal gue Tama gak gitu orangnya. Dia tipe cowok yang setia, sih.”


“Itu menurut lo. Lagi juga segimana gue jelekin dia, lo bakal belain dia karena lo karibnya.”


“Gue udah lama banget gak ada kontekan sama Tama dan yang lainnya, Cin.” Sesaat Ghea menoleh pada Cindy yang tengah mengerutkan dahi.


“Woah … Ghea …" seru beberapa teman yang Ghea kenal tentu saja dengan sorakan heboh. Mereka semua yang duduk di kursi dengan meja bundar besar menyambutnya dan berdiri. Memberikan Ghea ciuman pipi kanan dan kiri.


Ada Tama, Yura, Reza dan beberapa dari teman seangkatan yang tidak terlalu dekat dengannya ketika masa SMA itu. Dan Cindy yang masih berdiri di samping Ghea.


“Hai …” Ghea menjawab sambutan. Senyum yang seolah tidak ingin pergi dari bibir. Mengingat masa-masa sekolahnya dulu. Namun, dalam detik berikutnya senyum itu perlahan mulai luntur. Teringat akan sosok yang harusnya sekarang bergabung, justru sosok itu tidak akan pernah kembali lagi. Ghea ingat Ocy.


Oh, Ocy …


“Duduk, Ghe!" Tawaran itu berasal dari Reza yang dirinya memilih menggeser duduk di kursi sampingnya yang kosong.


“Thank’s, Za." Bibir itu sedikit tertarik untuk kemudian duduk.


“Apa kabar, Ghe?" Sapaan dari Yura. Ia duduk di seberang Ghea.


“Baik. Lo sendiri gimana?” tanya Ghea seraya menatap Yura lalu beralih menatap Reza.


“Baik,” jawabnya singkat.


Uh apa masih ada rasa iri di hati Yura untuk Ghea sehingga wajah wanita itu terlihat masih


seperti menyimpan dendam?


It’s okay. Ghea tidak ingin memikirkan itu untuk saat ini.


“Lo dateng ama siapa, Non?” itu Tama yang bertanya—yang duduk di samping Yura dengan sedikit menggoda Ghea. “Pak Gery mana?”


“Dianter sama Mas Adi. Nanti doi nyusul kok.”


“Lo bae-bae kan sama suami lo? Hati-hati loh, Ghe, jagain tuh suami lo yang sialnya tampan itu. Jangan sampe keembat sama jenis cacing kepanasan! Sekarang emang lagi musim yang begonoan tahu,” kata salah satu teman perempuan yang ikut gabung di meja itu. Mengingatkan.


“Baik kok. Dia bakalan telat karena ada meeting mendadak gitu katanya.” Ghea menjawab dengan baik. Walau hatinya merasa ragu meeting dengan siapa suaminya ini? Katanya tidak akan telat juga. Tapi sampai Ghea sudah duduk lebih dari sepuluh menit dengan teman-temannya, Gery belum juga muncul. Namun, Ghea dapat menyembunyikan keraguannya itu.


No, Ghea. Lo harus percaya sama Mas Gery.

__ADS_1


__ADS_2