
...Mentari saja tahu jika kamu hanyalah Gerynya Ghea....
...Ghea Virnafasya...
...****...
Pak Gery akan mengingat ini sebagai rasa sayangnya untuk Ghea yang amat terlampau besar. Mengesampingkan rasa muak yang sudah ia tahan di tenggorokannya saat ia menduduki kursi restoran di privat room.
“Apa kabar, Ger? Sudah lama ya kita tidak bertemu setelah makan siang itu. Aku kangen tau sama kamu.” Dalam hening yang sudah berlangsung dalam lima belas menit sejak ia duduk di seberang seorang cewek yang paling ia benci di dunia ini. Dita memulai bicaranya dan itu menambahkan rasa muak Pak Gery padanya. “Ini aku sudah pesan makanan kesukaan kamu. Aku masih ingat loh.” Saat Dita mengatakannya beberapa pramusaji tengah menyajikan beberapa makanan yang beraneka jenis di atas meja bundar.
Rasanya Pak Gery ingin membantingkan semua piring lalu diarahkannya pada cewek yang sedang duduk di seberangnya. Melempar sendok dan melemparkan gelas hingga pecah menjadi puing-puing yang tidak bisa disatukan lagi.
Itu jelas sudah pasti Pak Gery lakukan jikalau tidak ada cewek yang paling ia sayangi duduk di sampingnya. Menggenggam tangan Pak Gery lalu menoleh hanya untuk memberikan senyuman pada sang suami.
Beberapa jam sebelumnya saat Ghea akan berangkat sekolah dengan Chacha. Ia melihat sang suami menerima panggilan telepon dan tiba-tiba marah-marah dengan sangat kacau ketika panggilan itu terputus.
Ghea bertanya dan Pak Gery tidak lagi bisa menyembunyikan hal apapun dari Ghea jika tidak ingin Ghea meninggalkannya.
Ghea sempat tidak yakin untuk ikut bersama dengan sang suami menemui Dita si cewek yang sudah sengaja memeluk tubuh suaminya di lorong toilet pas acara party waktu lalu. Namun karena Pak Gery meyakinkan dirinya jika ini menyangkut pernikahannya Ghea pun menyetujui. Dan disinilah dia sekarang. Memberikan ketenangan pada Pak Gery lewat genggaman tangannya. Ghea juga ingin memberitahu pada Dita bahwa dia tidak akan memberikan sesuatu yang sudah menjadi miliknya pada orang lain.
“Oh Iya, gimana dengan keinginan aku yang akan kamu penuhi waktu itu, Ger?” Dita bertanya seraya mengusap bibir gelas yang ada di depannya. Bola matanya terus mengikuti jari telunjuk yang memutari bibir gelas itu sebelum menengadah menatap Pak Gery yang duduk tepat di depannya.
Permintaan?
Permintaan apa? Kenapa Ghea tidak tahu? Apa yang Pak Gery sembunyikan lagi darinya?
Yang dibalas Pak Gery dengan dengusan. “Heuh, lo pikir gue serius bicara itu sama lo?”
Dita terlihat tidak suka mendengar hal demikian dari cowok yang dicintainya itu. Menaikan satu alisnya, Dita tertawa hambar. “Jadi kamu bohong? Supaya apa? Supaya aku gak gangguin kamu dan --” Mata Dita mengerling pada Ghea. “Cewek yang sudah merebut kamu dari aku. Iya?” Ditataplah wajah Ghea oleh Dita dengan tatapan yang sangat menusuk tajam.
Ghea salah tingkah. Melihat mata Dita yang seakan ingin memakannya, Ghea mengeratkan lagi genggaman tangannya. Dan Pak Gery dapat merasakan tangan Ghea yang sudah mengeluarkan keringat dingin di dalam genggaman itu.
“Sebenarnya bukan gue yang ngerebut dia dari lo. Tapi lo-nya aja yang terlalu terobsesi pada dia.”
Walau merasa ciut dengan mata Dita yang tajam. Namun,Ghea mencoba memberanikan diri untuk melawan.
Waw … Pak Gery tercengang tentu saja. Lalu diam-diam tersenyum dengan keberanian istrinya itu.
__ADS_1
“Bukan terobsesi. Tapi cinta.” Dita membalas tidak ingin kalah dari Ghea. Lalu meneguk teh di dalam cangkir dengan gerakan santai.
“Cinta?” Ghea berdecih. “Menurut lo itu yang dinamakan cinta?” Lalu ghea pun tergelak. Walau sejujurnya gelakkan itu hanya untuk menutupi ketakutannya saja. Karena Ghea tahu berhadapan dengan cewek macam Dita yang seperti psikopat ini harus dengan tenang dan santai. Tidak perlu memakai urat, namun harus dengan otak.
“Ya.” Dita mengangguk. “Lo tahu kan jika cinta itu harus diperjuangkan?” Dita mencondongkan dadanya ke depan hingga belahannya itu tercetak jelas karena Dita mengenakan baju ketat yang super duper minim bahan. Oh hampir tak berbahan mungkin.
“Dan lo tahu juga kan jika cinta itu tidak bisa dipaksakan?” Entah dapat sejuta keberanian dari sehingga Ghea juga dengan beraninya mencondongkan dadanya ke depan bersama matanya yang menatap Dita tak kalah dalam.
**
Musik bervolume rendah mengalun indah di dalam mobil, menemani perjalanan Ghea dan pak Gery yang hening mengambil alih. Baik pak Gery yang mencengkram kemudi dengan sangat erat begitu juga dengan Ghea yang hanya diam memalingkan wajahnya ke luar jendela mobil bersama punggung dan kepalanya yang bersandar.
Sebuah tangan terulur menyentuh tangan Ghea yang tersimpan di atas pahanya. Ghea menoleh malas lalu berdecak dengan sangat kesal yang kentara.
“Maaf.” Sebelumnya mengatakan kata itu Pak Gery sudah menepikan mobilnya. Ia memiringkan duduknya agar sepenuhnya bisa melihat wajah Ghea yang tengah cemberut. Namun anehnya Pak Gery menyukai itu.
“Ghe …”
Ghea diam.
“Yang …”
“Sayang …”
Kalau Pak Gery sudah memberikan jurus andalannya jika sedang membujuk Ghea dengan mengubah aksen panggilannya menjadi sayang, rasanya Ghea juga tidak bisa jika mendiamkannya terlalu lama. Lantas Ghea pun mengubah duduknya. Hingga kini posisi keduanya duduk saling berhadapan bersama tangan Pak Gery yang menggenggam kedua tangannya.
“Kamu itu, ya, Mas.” Ghea memejamkan kedua matanya sesaat. Menarik nafasnya dalam lalu ia embuskan dengan pelan. “Huh … kenapa kamu tahan aku buat nyakar wajah tuh cewek gila, sih?”
Oke ini saatnya Pak Gery mendengarkan kekesalan sang istri tercinta. Cowok itu melipat kedua bibirnya ke dalam. Menyimak celotehan Ghea yang menurutnya sangat menggemaskan seraya menatap bibir merah alami sang istri yang terus bergerak naik turun, berceloteh tak ada hentinya.
"Udah?" tanya Pak Gery ketika bibir Ghea berhenti bersamaan dadanya yang kembang kempis. Mungkin cewek itu terlalu kesal sehingga tidak bisa mengontrolnya.
"Udah!" jawabnya Ghea ketus.
Bagaimana Ghea tidak kesal coba. Disaat Dita yang terus saja dengan sengaja memperlihatkan belahan dadanya begitu pun dengan isinya yang menonjol pada Pak Gery. Dan tidak sengaja pula mata Ghea melihat mata Pak Gery yang menatap entah ke mana. Dipikir Ghea suaminya itu tengah menatap mesum pada belahan dada Dita yang terekspos.
Refleks saja tangan Ghea mendorong bahu Dita dengan mudahnya karena tubuh cewek stres itu tepat di depannya.
__ADS_1
Jelas Dita ambek.
Bagaimana tidak. Tubuhnya hampir kejengkang juga.
Dan di saat Pak Gery melihat kemarahan Dita yang memuncak, suami Ghea itu segera menarik tangan Ghea. Membawanya keluar dari ruang panas itu. Karena jika tidak, entah apa yang akan dilakukan Dita pada Ghea. Bisa saja kan gila Si Dita kumat lagi?
"Terus, maunya gimana sekarang?" tanya Pak Gery memiringkan wajahnya seraya menarik satu alisnya.
Dengusan pun menjadi jawaban Ghea. "Kamu pikir dada aku kurang gede apa?"
"Heuh?" Tidak mengerti tentu saja. Disaat Pak Gery bertanya apa mau istrinya, Ghea justru menjawab tidak nyambung.
Duh mungkin otak Ghea sedang konslet kali ya? Gegara belahan dada Dita. Eh …
Ghea melepaskan genggaman tangan Pak Gery sebelum dipalingkan wajahnya ke depan dengan kedua tangan yang terlipat di atas perut.
Oww rupanya ke-ambekkan cewek itu masih berlangsung.
Lantas Pak Gery mengambil handphonenya yang disimpan di atas dashboard. Tanpa sepengetahuan cewek yang tengah menatap ke depan itu, Pak Gery mengaktifkan aplikasi kamera lalu membidikkannya pada Ghea.
Pak Gery bersiul membuat Ghea menoleh. Bersamaan dengan wajah Ghea yang mengarah pada kamera handphone bersamaan dengan itu pula Pak Gery menekan ikonnya.
"Nih Gheanya aku yang lagi ngambek," katanya masih mengarahkan kamera handphone pada Ghea dengan bibirnya yang mengerut.
"Ihhh … Mas Gery apaan, sih?" Tangan Ghea mencoba merebut handphone itu dari tangan Pak Gery.
Namun, dengan cepat juga Pak Gery menjauhkannya. Mengangkatnya. Pun dengan Ghea yang tidak mau menyerah mengambil handphone itu.
"Itu jelek pastinya. Siniin deh, Mas!" Bibir Ghea mencebik. Tangannya pun bersedekap. Ceritanya Ghea ambek lagi. Lihat saja pandangannya yang berpaling menatap ke jalan depan.
Pak Gery kembali bersiul lagi. Kali ini dengan senyuman geli. "Kenapa kalau lagi cemberut gini makin tambah cantik aja, ya?" Katanya sambil melihat hasil jepretannya di handphonenya.
...TBC...
Uhuyyyy gengggssss ... otak aku lagi lemot maafkeun kalau kurang nyessss-nya gitcyuuu. Kurang bagus atau kurang apa pun. Mudah - mudahan pada suka ya gengssss. ILY
Seizy
__ADS_1
Si penulis rengginang yang sayang kalian tanpa batas. Cipoxxx jauhhh dari aku.. Muachhhhh