Married With Teacher

Married With Teacher
15


__ADS_3

.


.


.


Rara menatap Melisa yang kini masih duduk terdiam dikursi nya dan juga Fela dan Chaca. Rara bisa melihat Melisa tampak gusar di tempatnya saat mendengar gosip itu. Ia bisa merasakan kegugupan Melisa. Tapi Fela dan Chaca tak menyadarinya karna mereka asyik dengan gosip mereka sendiri.


Kini para siswa heboh di kantin itu mengetahui fakta itu, sepertinya istri pak Keland ada disekolah itu. Lalu siapa dia? Kini semua semakin penasaran. Ada yang saking penasarannya sampai mengabsen setiap nama gadis yang termasuk cantik di sekolah itu, dan memiliki posthur tubuh mirip seperti itu dan juga panjang rambutnya saking penasarannya mereka. Dan hal itu membuat Melisa semakin gusar di tempat.


Menyadari kegusaran Melisa yang sangat kentara membuar Rara segera membawa Melisa dari sana sebelum ada yang menyadarinya. Karna memang ciri-ciri nya sangat mirip dengan Melisa karna itu dia.


"Mel temanin aku ke toilet yuk" ajak Rara kemudian menarik Melisa yang kini Rara bisa rasakan sangat gemetaran.


Dan Fela juga Chaca hanya melihat punggung mereka yang menjauh pergi kemudian melanjutkan kembali gosip mereka seputar pak Keland yang juga membuat mereka penasaran.


Sesampainya di toilet Melisa luruh terduduk di lantai, ia tiba-tiba saja menangis sesenggukan. Seandainya Rara tidak paham ia sudah pasti terkejut sekarang dan sangat penasaran mengapa melisa tiba-tiba menangis. Tapi karna ia sudah mengerti dan kini semakin yakin karna sikap Melisa.


Tapi Rara tidak ingin membuat Melisa semakin sedih, jadi ia pura-pura bertanya saja. "Mel, kamu kenapa tiba-tiba nangis? Apa kaki kamu masih sakit? Kamu jatuh tiba-tiba begini" tanya nya pura-pura. Sebenarnya ia merasa prihatin dengan Melisa saat ini. Tapi yang lebih mendominasi itu rasa bahagianya. 


Ternyata impian Melisa menikah dengan orang yang mirip Sehun itu terwujud, menurut Rara Melisa itu sangat beruntung. Ia juga mengagumi Keland, tapi ia benar-benar tak menyangka istri pak Keland yang sangat ia kagumi adalah sahabatnya sendiri. Melisa, ia masih sulit percaya tapi ia senang mengetahuinya. Pantas saja Melisa sangat kekeh menolak Raymond semalam.


Apakah Melisa dan pak Keland saling mencintai? Pertanyaan Rara dalam fikirannya, tapi melihat bagaimana mereka berpelukan begitu mesranya tadi malam Rara sangat yakin kedua manusia itu saling mencintai. Memikirkannya membuat Rara geli.... mengingat bagaimana selama ini Keland selalu bersikap dingin pada Melisa saat jam pelajaran.


"Mel, kamu kenapa sih?" Rara kembali bertanya. Ia memancing apakah Melisa akan memberitahunya kali ini tapi jawaban gelengan kepala dari Melisa membuat Rara paham sepertinya Melisa belum ingin memberitahunya.


Dan untuk mencairkan suasana Rara menggoda Melisa "apa jangan-jangan kamu cemburu yah istri pak Keland siswi sekolah kita, makanya kamu nangis. Hayo ngaku...." dan godaan Rara itu berhasil membuat Melisa diam mematung di tempatnya.

__ADS_1


"Ak..aku nggap papa kok ra, kaki aku cuman sakit saja tiba-tiba" bohong Melisa yang Rara sudah tau tapi ia tetap mengangguk pura-pura mengerti. 


"Oh yah ra, aku duluan yah. Aku ada keperluan bentar" ijin Melisa dan Rara yakin sekarang Melisa pasti akan menemui pak Keland, emang apalagi keperluan Melisa disekolah?


"Hmm...kamu hati-hati yah, jangan jatuh lagi. Kaki kamu masih sakit kayaknya" ucap Rara pura-pura. Sementara ia akan mengikuti Melisa. Rara yang notabenya adalah manusia yang sangat kepo itu tak bisa tinggal diam saja untuk hal-hal begini.


"Ia makasih" ucap Melisa kemudian melangkah pergi meninggalkan Rara. Tanpa kecurigaan ia melangkahkan kakinya menuju ruangan Keland dengan hati-hati takut ada yang lihat, sementara ia tidak tau ia sudah di untit oleh Rara sedari tadi dari belakang.


Dan benar perkiraan Rara, Melisa menemui pak Keland dan entah mengapa itu membuatnya terkikik geli dengan tingkah sahabatnya yang ternyata diam-diam sudah menikah tersebut.


Rara bisa melihat Melisa mengetuk pintu Keland dan beberapa saat kemudian ia masuk setelah dipersilahkan.


Rara mendekat ingin mencuri dengar apa yang mereka bincangkan.


"Kak aku takutt.... hiks...hiks..." Rara mendengarnya dan ia semakin penasaran sedang apa mereka di dalam. Ia mengintip dari celah jendela yang entah mengapa alam mendukung acara mengintipnya kali ini karna ia bisa melihat semuanya dari celah kecil itu. Sepertinya sekarang ia seperti penguntit tapi ia tak perduli. Hal seperti ini sangat penting baginya.


"Kamu jangan takut yah, itu gak bakalan terjadi. Kakak nanti akan bungkam reporter dan juga sumber yang menyebarkan berita itu agar kamu aman" ucap Keland meyakinkan Melisa membuat Melisa mengangguk kemudian mengecup bibir Keland. Tak ingin kalah Keland menarik tengkuk Melisa dan mencium gadis itu dalam dan itu berhasil di tangkap oleh Rara semua yang seketika membuat jantungnya spot olahraga.  Ia benar benar terkejut, tak menyangka kedua makhluk itu akan melakukan itu. Dan tadi Melisa yang memulainya, sahabatnya itu agresif juga pada pak Keland.


Tak ingin jadi gilak disana, Rara memutuskan untuk pergi, ia pun tak ingin mengundang kecurigaan orang lain yang bisa saja melihatnya. Sebelum itu terjadi ia memutuskan untuk pergi dengan bayangan-bayangan akan ciuman pak Keland dan Melisa. 


Astaga hott...


Jika mereka bahkan sudah melakukan hal senekat itu di sekolah. Jadi apa yang mereka lakukan ketika berdua dikamar?


Seketika Rara teringat kaki Melisa yang sakit, apa jangan-jangan....


"Oh tidakkkk" teriaknya tiba-tiba tanpa sadar membuat orang yang ia lalui pun melihatnya serempak, tatapan mereka seakan mengatakan 'apa kau gilak?' dan hal itu pun berhasil membuatnya malu. 

__ADS_1


Bel berbunyi, Rara pun memilih kembali ke kelas. Dan setelah sampai di kelas ia bisa lihat teman-temannya yang kini sudah lengkap di tempat duduk mereka masing-masing kecuali kursi bagian Melisa. 


Sesekali juga ia masih mendengar teman-temannya sedang menggosipkan perihal pak Keland. Dan sebentar lagi pelajaran orang yang telah mereka bicarakan akan dimulai.


Beberapa lama kemudian Melisa masuk kelas, jelas saja Rara menyadari bagaimana Melisa sedang menggigiti bibir bawahnya yang agak sedikit bengkak. 


Cihhh...


Rara berdecihh kesal dengan Melisa. Ia seperti tampak tenang tak terjadi apa-apa sekarang sementara barusan ia habis berciuman dengan hot nya bersama pak Keland. Temannya satu ini sangat pintar menyembunyikan sesuatu. Jika saja Melisa bukan sahabatnya maka sudah bisa diapastikan kalau ia akan membongkar semuanya saat ini. Mulutnya itu memang tak tahan dengan gosip. Tapi karna Melisa adalah sahabatnya, ia tak mungkin tega melakukannya. Ia akan berpura-pura saja seperti orang bodoh tak tau apa-apa. Ia akan mencoba menjaga mulutnya dan menutup rapat-rapat.


Dan tak lama setelah Melisa masuk pak Kalend pun masuk.


"Cihh di rencanakan sekali" kesal Rara tanpa sengaja melontarkan isi hatinya membuat semua mata yang mendengar menatapnya tak terkecuali sahabat-sahabatnya dan juga Keland.


"Apa kau punya masalah dengan saya? Kalau ya silahkan keluar" ucap Keland berhasil membuat Rara ketakutan dan menggeleng cepat.


"Ti..tidak pa. Saya tadi tidak sengaja, maaf" ucapnya membuat Keland mengangguk. Sebenarnya Rara kesal dengan sikap Keland. Tadi baru saja ia melihat pria itu berkata begitu lembut pada Melisa. Tapi sekarang pria itu berkata begitu tegas padanya seperti biasanya. 


"Baiklah kita mulai pelajaran kita, kita akan memasuki bab terakhir. Karna minggu depan kalian akan segera ujian, dan sebelumnya saya mengucapkan selamat ujian pada kalian dan selamat mengerjakan ujian masing masing dengan semangat" ucap Keland membuat mereka semua menjawab


"Siap, makasih pak"


Dan mengalirlah pelajaran matematika hari itu hingga pulang, namun yang Rara perhatikan itu interaksi antara Keland dan Melisa saja. Ia tak begitu fokus akan pelajaran, karna menurutnya ada yang lebih penting.


Namun semakin lama ia memperhatikan ia semakin bosan juga, bagaimana tidak?? Keland mengajar seperti biasa, ia juga kadang membentak Melisa jika melakukan kesalahan. Sungguh Rara kagum betapa profesionalnya pria itu dalam bekerja. 


Dan sikapnya itu tak akan ada yang mampu membayangkan jika yang di marahi mati-matian oleh Keland saat ini adalah istrinya sendiri. Sekarang ia sungguh tak menyesal telah keluar malam itu untuk mengejar Melisa. Dengan itu teka-teki dalam otaknya terpecahkan meskipun ia sangat begitu terkejut awalnya.

__ADS_1


....


__ADS_2