
.
.
.
Ditengah-tengah kebahagiaan Melisa tiba-tiba Keland mendapatkan telfon dari rumah sakit. Saat ini ayah Melisa sedang di rawat karna jantungnya kambuh. Seketika Keland berubah panik. Ia tidak tega menghancurkan kebahagiaan Melisa tapi ia tak mungkin tak memberitahunya.
Segera Keland menghubungi Melisa dan Melisa yang masih ada di depan serta memperhatikan gerak-gerik Keland yang tiba-tiba berubah panik itu membuatnya mengernyitkan alisnya bingung. Beberapa saat kemudiam ia menyadari getar ponselnya dan ia melihat nama Keland disana, mengapa pria itu menghubunginya? Tak pikir panjang Melisa pun mengangkatnya. Jujur saja perasaannya memang sudah tidak enak dari tadi. Dan sekarang ia bisa dengar nada bicara Keland yang tampak gemetar
"Melisa....ayahhhh....ayah di rumah sakit.. jantungnya kambuh" Melisa langsung lemas rasanya mendengar itu. Ia jatuh meluruh di lantai. Air mata nya mengalir tanpa disuru. Sekarang semua pandangan mata menuju padanya. Ia melihat isyarat Keland yang seperti mengatakan 'ku tunggu' dan Melisa yang mengerti pun kini bangkit kembali dan kemudian berlari meninggalkan aula dengan terisak membuat semua menatap terkejut serta penasaran padanya. Ia tak berkata apa-apa apalagi meminta ijin pada guru. Ia tak sempat melakukannya. Ia sedang sangat khawatir saat ini. Ia tak mau sesuatu yang buruk terjadi pada ayahnya. Hanya tinggal ayahnya yang ia punya saat ini. Ia tak mau kehilangan ayahnya. Tidakkk....
___
Sesampainya di simpang ia melihat mobil keland sudah menunggunya disana. Segera Melisa berlari lalu masuk ke dalam dan tanpa fikir panjang Keland pun langsung menjalankan mobilnya menuju rumah sakit.
Di sepanjang perjalanan kini Keland bisa melihat betapa terpuruknya Melisa. Gadis itu diam saja sedari tadi dan tak mengatakan apa-apa. Sepertinya Melisa sangat syok hingga tidak bisa lagi berkata apa-apa.
Setibanya di rumah sakit Melisa berlarian mencari ruangan ICU tempat ayahnya dirawat yang tadi sempat diberitahukan oleh Keland padanya di mobil. Dan kini keland juga ikut berlari untuk mengejar Melisa yang kini tampaknya sudah menemukan ruangannya.
Bisa ia lihat Melisa tampak menguatkan diri sebelum memasuki ruangan ayahnya kemudian ia membuka pintu dan masuk di susul oleh Keland.
"Ayahh..."kini tangis Melisa yang tertahan sedari tadi pecah sudah. Harry tampak memperhatikan putrinya yang datang menangis kemudian berlari kepelukannya. Harry tersenyum akhirnya Melisa datang.
"Ayahh...." pangil Melisa kembali lirih.
"Melisa... ayah gak papa, ayah baik-baik saja" ucap Harry tersengal-sengal menenangkan melihat Melisa tampak begitu khawatir. Kini tatapan Harry beralih pada Keland, dan ia tersenyum.
__ADS_1
"Keland, terimakasih... kamu telah membuktikan, kamu mampu menjaga melisah melebihi saya. Saya sudah dengar peringkat Melisa. Saya sangat senang. Tolong kamu jaga putri saya" ucap Harry membuat Keland mengangguk sementara tangis Melisa semakin pecah. Entah apa maksud ayahnya berkata demikian pada Keland.
"Ayahh...ayah baik-baik aja kan?" Tanya Melisa sambil terus sesenggukan dan Harry membalasnya dengan tersenyum.
"Yah, saya janji saya akan menjaga Melisa, saya akan menjaganya melebihi diri saya sendiri, ayah jangan khawatir, saya sangat menyayangi Melisa" ucap keland membuat kelegaan di hati Harry dan ia pun tersenyum.
"Melisa, baik-baik yah. Jaga diri, jadilah istri yang berbakti. Ayah menjodohkan kamu karna ayah sayang sama kamu... ayah mau kamu punya keluarga baru saat ayah tiada nanti..." ucap Harry semakin membuat tangis Melisa meledak.
"Ayah jangan bicara begitu, ayah bakalan baik-baik saja. Ayah harus hidup sampai Melisa tua. Ayah tidak boleh pergi, Melisa hanya punya ayah sekarang. Melisa gak mau ayah pergi...gak mau" teriak Melisa menjadi-jadi sambil memukul kasur kosong tempat Harry berbaring.
Harry tersenyum kemudian mengecup kepala Melisa dengan sayang.
"Ayah sayang sama Melisa, maaf selama ini ayah sering mengekang Melisa hingga melisa kurang nyaman, ayah sayang banget sama Melisa, karna itulah ayah lakuin semua itu" ucap Harry kemudian tersenyum dan detik itu juga ia sudah menghembuskan nafas terakhirnya membuat Melisa sempat syok tak percaya. Kemudian saat ia menyadari yang terjadi... ia pun berteriak-teriak tak karuan.
"Ayahh.....ayahhhhh gak boleh ninggalin Melisa....ayahhh......Melisaaa sayang sama ayah....ayahh bangun......"teriak Melisa meraung-raung menangis sejadi-jadinya dan Keland tak tega melihatnya namun ia membiarkan saja membiarkan Melisa melepas semua emosi dalam dirinya. Mungkin saat ini Melisa sangat membutuhkan itu. Keland merasa kasihan padanya. Kini ia harus lebih memperhatikan Melisa lagi. Gadis itu kini telah kehilangan ayahnya, maka Keland harus membuat Melisa tak ke kurangan apapun agar tak semakin merasa kekurangan sesuatu. Ia berjanji akan menyayangi Melisa melebihi apapun, agar gadis itu tak ke kurangan kasih sayang apapun itu.
Keesokan harinya...
Hari penguburan ayah Melisa.
Keland menghampiri Melisa yang kini tampak Rapih di depan tubuh kaku ayahnya yang sudah tak bernyawa.
Sebentar lagi Harry akan di makamkan. Saat ini mereka sedang memanjatkan doa terakhir untuknya.
"Melisa, kau sudah siap?" Tanya Keland membuat Melisa menoleh padanya dan mengangguk. Kemudian mereka pun berangkat ke pemakaman dimana ibu Melisa dulu dimakamkan juga katanya.
Dan kini....
__ADS_1
Melisa melihat tubuh ayahnya akan dimakamkan di samping ibunya. Isak tangis nya semakin menjadi-jadi. Ia tak akan pernah lagi melihat ayahnya. Itu adalah hari terakhir.
Dia benar-benar tak kuat berdiri lagi. Kakinya serasa lemas dan tak berdaya. Kemudian ia berpegangan pada keland yang berdiri di sampingnya. Ia tak ingin ambrukk saat itu juga, ia masih ingin menyaksikan itu untuk terkahir kalinya.
Dan keland dengan setia memeluk Melisa. Kini gadis itu terisak menangis sambil menenggelamkan kepalanya di dada bidang Keland. Ia terpukul berat menyaksikan bagaimana tanah perlahan menutupi ayahnya.
Tangis nya tiada henti, dan Kalend dengan setia menenangkannya dan memeluknya.
Fela, Rara, dan Chaca yang mendengar kabar kematian ayah Melisa pun tak bisa tinggal diam. Mereka akan kesana setidaknya menyaksikan pemakamannya karna kemarin mereka tak sempat ke rumah sakit karna belum tau kabar tersebut. Dari kemarin mereka menghubungi Melisa tapi tidak diangkat dan chatt tidak di balas. Mereka khawatir melihat melisa berlarian dari aula dengan wajah menangis. Dengan kecemasan luar biasa segera mereka ke rumah Melisa untuk mencarinya, namun mereka terkejut melihat bendera pertanda orang meninggal disana. Hal itu semakin membuat mereka cemas dan bertanya ke pembantu disana dan informasi yang mereka dapat cukup mengejutkan mereka.
Bagaimanapun mereka masih ingat betapa baiknya Harry, ayah Melisa tersebut kepada mereka saat mereka berkunjung kesana. Mereka juga tak bisa membiarkan Melisa menanggung itu sendirian.
Karna itu mereka segera bergegas ke tempat pemakaman yang alamatnya mereka dapat dari pembantu rumah Melisa.
____
Dan setelah mereka sampai mendekati di area pemakaman dan mereka bisa melihat dari kejauhan betapa sedihnya Melisa hingga ia menangis sangat keras dan itu membuat hati mereka juga mencelos sakit. Namun beberapa saat kemudian mereka sadar, setelah mereka semakin mendekat, mereka menemukan seseorang yang dipeluk Melisa. Melisa tampak menangis lalu memeluk orang itu.
Dan hal itu sontak membuat mereka terkejut saat mengetahui bahwa siluet itu adalah orang yang sangat mereka kenali. Pak keland??
Ya, tidak salah lagi. Mereka sangat terkejut kecuali Rara tentunya yang sudah tau sedari awal. Dan ia juga tau dari tadi kalau pak Keland pasti ada disini bersama Melisa. Tapi ia tak perduli lagi Chaca atau Fela tau karna ia lebih mengkhawatirkan keadaan Melisa.
Chaca dan Fela masih tercengang di tempat sampai bahu mereka di tepuk Rara
"Ayok cepat, kita harus kesana nguatin Melmell" ucap Rara namun kedua temannya masih tampak syok dengan kenyataan itu.
"Jika kalian ingin tau itu, nanti. Sekarang kita kesana dulu" kesal Rara dan akhirnya Fela dan Chaca pun mengangguk dan melangkah mendekat walaupun wajah terkejut keduanya belum hilang.
__ADS_1
....