Married With Teacher

Married With Teacher
Mwt bab 26


__ADS_3

Ini Flashback ya gengsss.


 


“Mas, tolongin saya, Mas… tolongin saya! Saya mohon!”


Masih terlihat jelas di mata Gery wajah ketakutan, tubuh gemetaran dan kedua tangan yang tengah mendekap dirinya sendiri. Seorang wanita, berpakaian seksi, menghampirinya pada malam itu.


Malam dimana ketika Ghea menginginkan makan soto.


Awalnya, Gery menghiraukan. Tidak ingin perduli karena Gery pikir ini hanya sebuah trik murahan yang dilakukan seorang wanita malam kepada seorang pria kaya yang ditemuinya. Yang ditargetkannya.


Gery menarik satu alis. Kedua matanya menilik wanita di depannya ini dari ujung rambut lalu turun sampai kaki. Cowok itu berdecih jijik bersama kakinya yang melangkah untuk kemudian tangan kiri sampai pada memegang handle pintu mobil. Ia sama sekali tidak tertarik dengan wanita yang mencoba menggodanya ini.


Namun, alih-alih pintu mobil itu dibuka, tangan berjari lentik menahan tangan Gery di sana. Secara refleks pula, Gery menoleh. Ia menekan garis bibirnya. Menarik tangan dari sentuhan tangan wanita di sampingnya ini. Kedua bola mata abu-abunya berkilat-kilat. Jelas menunjukan rasa tidak sukanya. Berani-beraninya wanita ini menyentuh milik Ghea.


Cowok itu ingin marah. Dia menggerakan bibirnya saat wanita di depannya ini mengucapkan kembali, “Mas… Mas, saya mohon. Tolongin saya!” Kepala wanita itu menoleh ke belakang bersama nafasnya yang memburu. Wanita itu seperti kesulitan untuk mengambil udara dari dalam paru-parunya. Lalu saat bibir Gery ingin bergerak mengucapkan sesuatu, wanita itu memusatkan lagi pandangan kepadanya. “Saya sedang dikejar-kejar oleh seseorang. Saya mohon, Mas, tolongin saya!” Dan sorot ketakutan yang masih ada itu memohon pada Gery. Mengeratkan genggaman tangannya di tangan Gery.


“Heh Airin! Sini lo! Jangan kabur!”


Mendengar suara yang menghardiknya. Wanita itu membalikan tubuh dengan gerakan refleks. Begitu pula Gery. Mata abu-abunya langsung berpusat pada dua orang pria yang tiba-tiba muncul entah dari arah mana.


“Lo ikut kita sekarang! Jangan buat bos marah!” perintah dari satu orang pria di antara dua pria yang datang.


Wanita yang Gery dengar dipanggil Airin itu beringsut mundur. Menghindari kedua pria yang berangsur mendekat tentu saja. Dan Airin bersembunyi di balik punggung tegap Gery.


“Saya mohon, Mas... Tolong bantu saya. Saya tidak ingin lagi kembali pada pekerjaan itu.” Gery merasa ada yang mencengkram belakang kemejanya. Dan Gery yakin jika wanita yang bersembunyi di belakangnyalah sang pelaku itu.


“Saya mohon. Saya akan melakukan apa saja jika Mas mau menolong saya dari jeratan neraka yang mereka semua ciptakan untuk saya.” Ada sesal dan sesak dari suara yang Gery dengar. Lalu mendengar wanita ddi belakangnya ini mulai terisak.


Samar-samar Gery memiringkan kepala ke satu sisi. Melihat bayangan si wanita dari pantulan lampu jalan yang menyoroti tanah—yang tepat lampu itu tergantung di tiang belakang wanita itu. Bayangan wanita itu menunjukan gerakan yang gelisah dan sejenak jika diamati, ada getaran ketakutan yang wanita itu tunjukan.


“Rin! Lo ikut sama kita dengan sukarela, atau kita paksa dan nyeret lo?” ancam si pria asing satunya yang berkepala plontos bersama langkah kedua pria itu mendekat dan semakin mendekat. Dan tubuh Airin semakin gemetar hebat dengan rasa takut yang terus menjalar di tubuh. Seolah setiap detik yang berjalan, Airin merasakan nafas kematian menelusuri setiap urat nadinya.


“Mas…,” Gery merasakan cengkraman semakin kuat di kemeja punggungnya. Wajahnya tetap miring, melihat tubuh gemetaran wanita itu. Namun begitu, ujung mata Gery tetap waspada pada titik yang Gery yakin itu menjadi ancaman bagi wanita yang tidak Gery kenal ini.


Gery masih bergeming. Tidak ada pergerakan sama sekali meski ujung matanya awas mengawasi setiap langkah kaki dari kedua pria yang dekatnya sudah hanya lima langkah darinya berdiri.


“Rin! Jangan paksa kita buat kasar sama lo, ya. Si Bos bakal gak suka. Dan itu akan menambah keadaan semakin buruk! Lo mending serahin diri lo selagi kesabaran kita masih ada.” Dengan menunjukan wajah bengis, si pria plontos itu bersuara lagi.


“Nggak! Saya gak mau ikut!” Teriak Airin masih tetap berdiri di belakang punggung tegap Gery. Dan entah mengapa, perasaan aman tiba-tiba datang merayapi Airin.


“Saya sudah tidak mau kerja jadi penari lagi di tempat itu.”


“Kita gak perduli sama keinginan lo. Yang bos ingin … lo ikut! Lagi juga, dengan lo jadi penari di club, makin banyak pelanggan yang datang. Dan tentu saja bos tidak ingin kehilangan pelanggan yang paling menguntungkan bagi club jika lo berhenti.”


Oh… sekarang Gery mengerti. Wanita malang yang dipaksa bekerja—ah, atau tepatnya menggoda. Di sebuah club malam. Pantas saja penampilannya menarik dan satu yang Gery lihat. Seksi.


Tapi tentunya Ghea yang lebih seksi dari wanita mana pun yang tersedia di dunia ini.


“Saya tetap tidak mau kembali ke neraka kalian!”

__ADS_1


Bersama suara penolakan kukuh itu terdengar, bersamaan dengan itu pula, Dan dengan gerakan secepat kilat tangan si pria plontos menarik tangan Airin. “Memangnya kita akan perduli? Tidak sama sekali! Yang sekarang kita perduliin lo ikut ke neraka yang lo maksud itu!” Si pria plontos menarik-narik paksa tangan Airin. Dan Gery sama sekali tidak berbuat apa-apa. Oh atau belum?


“Mas, tolongin saya, Mas,” mohon Airin sangat. Terus menatap bola mata abu-abu yang selalu memabukan itu ketika tubuhnya terus digusur.


“Lepasin berengsek! Saya gak mau kem—“


Bughhhh…


Si pria pelontos itu terjatuh ke tanah.


“Sialannn!” sengit si pria satunya. “Berani lo ikut campur?” hardiknya mengepalkan kedua tangan melihat temannya terjatuh akibat pukulan keras dari Gery.


“Ya!” itu suara geraman Gery yang terdengar kasar.


“Siapa lo beraninya ikut campur?” tanya si pria plontos sembari beringsut dengan siku sebagai penopang untungnya berdiri.


“Mau jadi pahlawan sok heroik, lo?” kali teman si pria plontos itu—yang mengenakan jaket kulit hitam bertanya. Tertawa mengejek pada satu kata geraman yang Gery ucapkan.


Airin sudah berdiri. Dan Gery yang membantunya tentu saja. Untuk kemudian menyisikan wanita itu ke belakang punggungnya. Airin mengusap sikunya yang memerah. Sakit yang ia rasakan di sana.


“Kita gak ada masalah, ya, sama lo. Dan lo—“ tunjuk si pria berjaket hitam pada wajah Gery. “—jangan cari mati dengan cari mencari masalah sama kita!”


“Gue lagi gak cari masalah kok. Gue Cuma ngebantu orang yang minta bantuan sama gue. Itu doang." Kedua bahu Gery mengedik. Sesantai mungkin cowok itu melengkungkan garis bibirnya ke bawah. Ini terlalu mustahil. Karena hal yang jarang Gery lakukan adalah membantu orang yang tidak ia kenal. Alih-alih demikian, sekarang Gery membantu orang asing dengan melibatkan dirinya pada masalah orang asing ini. Dan Gery sadar, setelah ia terjun pada masalah ini, hidup damainya akan terusik.


“Oke kalau itu mau lo.”


Saat itu serangan tiba-tiba menghantam wajahn Gery. Hampir saja jika Gery tidak menghindar dengan cara menahan pergelangan tangan si pria jaket kulit hitam dan kemudian Gery memelintirkan tangannya ke belakang punggung si pria jeket hitam lalu menendang bokongnya.


Satu lawan dua.


Mengasikan bagi Gery, karena sudah sangat lama cowok ini tidak melonggarkan syaraf-syaraf ototnya. Ia bisa mengalahkan kedua pria asing itu. Meski begitu, Gery tidak lolos dari pukulan dan serangan. Hanya saja ia lebih bisa banyak menghindarinya sampai kedua pria itu menyerah lalu sama-sama mengangkat kedua tangannya ke


udara.


“Siapa lo? Kalau lo juga mau Airin, lo bisa minta baik-baik sama bos kita! Setelah itu lo bisa kerja sama dengannya!” si pria berjaket kulit bersuara dengan nafas yang terengah sambil memegangi dada dan mata tidak lepas mengawasi Gery yang menjulang di depannya.


Sedangkan si pria pelontos hanya diam karena sudah kehabisan tenaga. Mungkin sekalinya bersuara bisa mengakibatkan dirinya cedera lebih parah. Cih.


Mendengar itu, sosok cowok yang tengah mengibas-ngibaskan tangannya mendekat, kemudian mencengkram kerah jaket kulit hitam itu. Dengan tulang punggung yang membungkuk. “Dengar ini baik-baik! Gue Gery Mahardika Putra. Bilang sama bos lo, cari gue di Putra Grup jika kalian menginginkan balas dendam.” Untuk kemudian Gery


mendorong kerah jaket kulit itu. Bola mata abu-abunya berkilat marah.


“Terimakasih, Mas,” kata Airin mendekati Gery setelah kedua pria yang mengejarnya tadi menghilang dengan memberikan jari telunjuk pada wajah Gery sebagai selamat datang di neraka yang sempat Airin katakan sebelumnya.


Gery tersadar dari segala hal.


Hal pertama. Gery sudah memberikan pintu masuk pada masalah orang lain. Kedua, Gery sudah membiarkan kehidupan damainya bersama Ghea sebentar lagi akan terusik. Dan ketiga, Gery sudah membiarkan Ghea menunggu lama di rumahnya. Itu adalah sebuah kesalahan besar bagi seorang Gery Mahardika Putra.


Lantas, Gery melihat arloji di pergelangan tangan. “Shit!” Benda bundar bermerek itu sudah menunjukan pukul satu malam. Dan jika dihitung mundur, sudah berapa lama Gery berada di tempat ini?


Langkah Gery yang membalikan tubuh secara buru-buru pun dilihat oleh Airin—wanita yang Gery selamatkan malam ini. Alih-alih menjawab atau menanggapi ucapan terimakasih Airin, Gery membuka pintu mobil dan berlalu dari sana. Dengan teganya membiarkan seorang wanita berdiri sendiri di tengah dinginnya udara malam. Dan itu adalah keputusan paling tepat yang Gery ambil, sebelum sowok berbola mata abu-abu itu membiarkan masalah orang lain mengetuk pintu masuk kehidupannya.

__ADS_1


Sampai pada pagi harinya ketika Gery berniat membelikan sarapan untuk Ghea di taman kompleks, Gery mengira ia tidak akan bertemu lagi dengan wanita yang akan menimbulkan masalah dalam kehidupan damai Gery dan Ghea. Nyatanya, pikiran itu salah. Justru masalah yang akan datang itu muncul dengan sendirinya.


Dari duduknya, Gery melihat wanita itu sedang dikejar oleh seorang pria tua.


Awalnya, Gery tidak yakin dengan apa yang matanya lihat. Namun itu salah ketika wanita yang dikejar pria tua itu berhenti di depannya dengan si pria tua menarik-narik tasnya sampai pada akhirnya si wanita itu punggungnya membentur dada Gery. Untuk yang kedua kalinya Gery menolong si wanita yang ia ingat Airin itu.


“Pak, saya tidak punya uang. Saya sudah gak kerja di tempat itu lagi.” Sesaat Airin menyempatkan menoleh pada pria di belakangnya. Ia tertegun tentu saja. Namun, kesadarannya kembali saat tas kecil yang warnanya sudah mulai usang itu ditarik paksa oleh si pemilik tangan keriput.


“Gue gak perduli, ya, Rin. Lo harus bayar hutang budi lo dan Ibu lo sama gue!” kata si pria tua sambil mengobrak-ngabrik tas kecil yang berhasil direbutnya dari genggaman Airin. “Kalau bukan karena gue yang nolong lo dan Ibu lo, lo udah mampuss dibawa sama gigolo itu. Inget lo? Heuh?”


Airin menggeleng. Dan Gery masih berdiri di belakang wanita itu. Sedangkan pengunjung taman yang lain Airin tidak memperdulikannya. Sebagian dari mereka juga mungkin sudah tidak aneh dengan Airin dan pria tua itu yang sering bertikai.


“Ya. Saya ingat. Bapak memang sudah menyelamatkan saya dan Ibu dari mereka. Tapi, apa bedanya dengan sekarang yang justru Bapak sendiri yang menjerumuskan saya. Memaksa saya untuk bekerja di tempat yang penuh dengan api neraka itu? Bukannya itu tidak jauh berbeda dengan Bapak yang menjual saya ke mereka?”


“Ahhh … Gue kagak perduli. Yang gue perduliin itu duit, Rin. Duit!” Tawanya meremehkan seorang wanita sambil melempar tas kecil ke wajah Airin setelah si Bapak tua itu mendapatkan apa yang dicarinya.


Bisik-bisik mulai terdengar di sekitar Airin berdiri. Dan Airin tidak perduli dengan semua itu. Ia membungkukkan tulang punggung untuk kemudian mengambil tasnya. Tubuhnya menegang saat ia membalikan tubuh. Melihat si bola mata abu-abu masih bergeming di sana.


Bukannya Airin tidak ingat siapa dia. Namun, Airin kesal karena cowok arogan namun berwajah bagai Dewa Yunani ini mengabaikan rasa terimakasihnya. Dan meninggalkan dirinya semalam di sana. Ya. Jujur saja, Airin jengkel. Tapi, its okay. Dia sudah biasa ditinggalkan. Dan kenapa pula ia sempat-sempatnya berpikir bahwa cowok berwajah


Dewa Yunani ini akan mengajaknya pulang bersama dengan mobilnya?


Itu mustahil.


Bahkan sangat mustahil.


Tapi, tunggu!


Mungkin semalam Gery—sang pria berwajah Dewa Yunani ini mengabaikan ucapan terimakasih dari Airin. Tapi, tidak dengan pagi ini.


Ketika Airin yang tiba-tiba kepalanya merasa pusing, Gery justru berbaik hati mengantarkannya dan menyempatkan dirinya duduk di kursi rotan yang berada di ruang tamu sepetak rumah sederhana Airin. Gery tidak menyangka rumah wanita yang sudah dua kali ditolongnya ini tinggal di belakang kompleks perumahan yang Gery dan Ghea tempati.


“Terimakasih sudah mengantarkan anak saya, Nak… Eumm—“


“Gery, Bu.” Jawab Gery. Cowok itu duduk santai di kursi rotan. Namun, jangan berharap dengan wajahnya yang akan tersenyum. Sudah dapat diduga bukan bagaimana ekspresi cowok itu? Kaku!


Ibu Nana—Ibu Airin itu tertawa pelan. “Terimakasih, Nak Gery sudah menolong anak saya,” kata wanita seumuran Mamanya dengan syal merah berbahan rajut yang melingkar disepanjang lehernya itu.


“Sama-sama.”


Airin ke luar dari ruangan lain yang masih satu ruang dengan ruang tamu kecil rumah itu. Gery tebak ruangan lain itu adalah kamarnya. Wanita itu sudah berganti pakaian. “Airin bikin minum dulu, Bu,” ujarnya sambil berlalu dan punggungnya menghilang di balik gordeng yang menjadi penutup ambang pintu antara ruang tamu dan dapur. Mungkin. Gery hanya menebaknya saja.


“Kalau begitu saya permisi.” Tubuh Gery sudah menjulang dan hendak melangkah sebelum kemudian ada kedua tangan menahannya. Gery menunduk. Melihat kedua tangan Ibunya Airin menggenggam sikunya. Wajah Ibu Nana mendongak dengan mata berkaca-kaca. “Saya mau minta tolong. Boleh?”


 


Note Seizy :


Selalu aku ucapkan maaf sebelum terimakasih sudah menunggu bab ini di update. Awalnya aku tuh mau update kemarin hari minggu. Tapi karena menemukan satu komentar yang membuat aku bad mood. Jadinya aku diemin aja nih naskah. Hihii


So, selalu sehat buat kamu semua.  Ada satu bab lagi flashback-nya. ILY

__ADS_1


Seizy kang ngetik amatiran


__ADS_2