
Part 1
‘’Teng! teng! Teng!’’ Bel tanda berakhirnya pelajaran telah berbunyi, pertanda waktu pulang sekolah tiba. Aku yang merasa lelah buru-buru kabur dari ruang kelas. Rasanya ingin cepat-cepat sampai dirumah melepas penat.
‘’Hay Ryn,’’ sapa seseorang dari belakang. Seperti tak asing lagi, iya aku mengenal suara itu. Aku memberhentikan langkah, lalu menoleh kebelakang.
‘’Kenzhi!’’ Dan benar dugaanku, ternyata suara itu adalah suaranya Kenzhi.
Kenzhi adalah temanku. Teman dari kecil, yang sejak dulu aku kagumi. Dia begitu baik, ramah, rendah hati, pintar, dan juga tampan. Bahkan, hingga sekarang kita berada di kelas sebelas SMU rasaanya tak bosan mengaguminya. Dan jujur, aku menyukainya, namun semua perasaan ini aku tutupi oleh sikap cuekku.
Aku selalu memarahinya, dan berusaha menghindarinya saat ingin mendekatiku. Aku selalu cemburu, ketika dia bersama teman wanita lainya, atau bahkan saat dia bersikap ramah dengan wanita lain, namun aku selalu diam. Aku memilih diam, bersembunyi di balik rasa yang terpendam.
‘’Kamu ngikutin aku? Kenapa sih kamu selalu saja kaya gini? Tidak bosen apa!’’ gerutuku merasa jengkel.
“Aku cuma pengen pulang bareng kamu, tidak boleh ya?” tanya Kenzhi.
“Ya, boleh. Tapi cara kamu terlalu berlebihan Zhi, dan aku tidak suka kamu terlalu berlebihan kaya gini,” ujarku tidak terima.
“Berlebihan? Apanya yang berlebihan?" tanya Kenzhi.
Aku menghela napas sejenak.
“ Tidak berlebihan bagaimana? Kamu selalu saja begini sejak dulu. Ah, sudahlah, aku tidak mau ribut.” Aku mengalihkan pandanganku, kemudian berbalik dan meneruskan langkahku. Cepat-cepat Kenzhi mencegah langkahku.
“Sebentar, aku ingin bicara sama kamu.” Kini Kenzhi berada tepat didepanku.
“Apalagi Zhi?” tanyaku, lalu menghela nafas pendek.
“Aku harus cepat pulang,” lanjutku.
“Okey, aku tahu. Beri aku waktu lima menit saja, setelah itu kamu boleh pulang," pinta Kenzhi.
“Ya sudah. Cepat katakan!” ujarku setengah menyeru.
“Aku suka sama kamu, Ryn. Dan, aku tidak bisa nyembunyin perasaanku terus-terusan.” Kata-kata Kenzhi bernada serius. Ada rona kegugupan di wajahnya.
“Apa,” gumamku pelan, nyaris tak bersuara. Darahku serasa berdesir cepat, dan jantungku serasa berdegup kencang.
“Ryn, aku benar-benar suka sama kamu. Dan, apa yang selama ini aku lakukan, karena aku tidak ingin jauh dari kamu.” Kenzhi nampak semakin serius.
“Tidak. Ini tidak mungkin,” gumamku.
“Aku ... aku ... mau kamu jadi pacar ku Ryn, aku serius," ujar Kenzhi, lalu tangan kanannya meraih tangan kananku pelan, dan menggenggamnya.
Tubuhku serasa mati rasa. Berdiri kaku, seperti jarum jam yang menunjuk pukul setengah duabelas tepat. Aku menghela napas panjang.
“Cukup! Ini berlebihan Zhi, dan aku tidak bisa! Aku, aku tidak bisa menerimanya Zhi,” tolakku. Ku tarik tanganku, dan ku lepas genggaman itu.
“Aku buru- buru Zhi. Dan maaf, aku harus cepat pulang.” Aku tidak lagi memperdulikan Kenzhi, cepat-cepat aku berlalu meninggalkan Kenzhi sendiri.
*****
Sesampai dirumah, cepat-cepat aku masuk kamar dan menutupnya. Tubuhku terasa gemetar, dan jantungku masih berdegup kencang. Aku duduk di tepi ranjang, menghela napasku pelan.
“Ini tidak mungkin!” ujarku setengah menyeru.
Rasanya aku masih kaget, lalu merebahkan diri ke kasur. Aku memeluk boneka panda di sampingku, berharap mendapat ketenangan. Masih ku ingat kejadian tadi, semua terasa begitu aneh tapi nyata.
Aku tidak mengira Kenzhi akan mengungkapkan perasaanya tadi. Ternyata dia memiliki perasaan yang sama denganku. Kudekap erat bonekaku. Rasanya perasaanku agak tenang sekarang, dan entah kenapa aku mengantuk berat.
*****
“Ryn, bangun.” Kudengar sayup-sayup suara di telinga.
“Ryn! Bangun!” Aku terkejut mendengarnya, lantang, dan jelas.
__ADS_1
“Ibu,” rengekku melihat ada ibu di jhu samping ku duduk di tepi ranjang.
“Bangun, sudah lama kamu tidur. Ada Kenzhi ....” ujar ibu.
“Apa!” gumanku pelan. Aku beranjak dari tidurku, dan kini duduk disamping ibu.
“Dimana Kenzhi sekarang?” tanyaku. Ibu malah tersenyum ke arahku.
“Sudah pulang, kamu tadi dibangunin tidak bangun-bangun,” jelas ibu.
“Syukurlah." Aku mengelus dada.
“Hah, apa?” Ibu terlihat bingung.
“Em, maksud aku kalau sudah pulang ya bagus dong. Kan malu mau ketemu tapi berantakan gini.” Aku berusaha untuk tidak gugup. tapi ibu menatapku curiga.
“Kamu tidak marahan kan?” tanya ibu memastikan.
“Kenapa Ibu bertanya seperti ini? Hubungan kita baik-baik aja kok,” elakku.
“Tidak, tidak ada apa-apa. Tadi, Kenzhi menitipkan ini pada Ibu, katanya untuk kenang-kenangan.” Ibu menyodorkan kotak kado berukuran sedang yang berwarna merah, dan berhias pita berwarna orange.
“Apa ini?” tanyaku. Entah kenapa perasa’anku tiba-tiba menjadi tidak enak.
“Kamu buka saja sendiri. Sudah, Ibu mau ke dapur, masih banyak yang harus Ibu beresin,” ujar Ibu kemudian berlalu.
Aku mengotak-atik kotak itu, entah kenapa aku berfikir kotak ini masih ada kaitanya dengan kejadian tadi. Perlahan ku buka kotak itu, dan ternyata di dalamnya berisi kotak musik.
“Kotak musik? Ini kan kotak musik yang waktu itu liat di mall,” gumamku.
*****
Setelah lama muter-muter di toko buku, ku dan Kenzhi akhirnya berhenti disebuah mini cafe di mall.
“Ryn, makasih ya udah nganterin beli buku,” ujar Kenzhi yang duduk didepanku.
“Iya, sama-sama,” jawabku singkat.
“Kamu mau minum apa Ryn? Biar aku yang memesan," tawar Kenzhi.
“Ok. Tunggu sebentar, aku akan memesanya,” Kenzhi kemudian bangkit dari duduknya dan pergi memesan minuman.
Pandanganku menyapu seluruh isi ruangan. Huh, rasanya ingin cepat pulang. Hawa panas masih begitu terasa, meski sudah ada AC. Kebisingan terdengar memekakkan telinga. Namun, di satu sisi aku merasa ada rasa senang, karena aku bisa menghabiskan waktu bersama Kenzhi.
“Nih, minuman kamu Ryn.” Kenzhi yang tiba-tiba datang membawa dua gelas minuman, kemudian menaruh segelaas jus didepanku.
“Makasih," jawabku singkat. Aku langsung meminum habis jus di depanku.
“Ummmm, Zhi. Pulang yuk,” ajakku.
“Apa! Baru aja minum, masa udah mau pulang," ujar Kenzhi kaget.
“Ya udah cepetan habisin, setelah itu kita pulang,” ujarku setengah memaksa.
“Iya iya," sahut Kenzhi.
Pandangan ku sapu lagi ke segala penjuru ruangan, kali ini pandanganku tertuju pada toko dibsebelah cafe. Di sana banyak aksesoris dijual, tapi ada satu yang menarik pandanganku.
Sebuah kotak musik berukuran sedang, dan diatasnya boneka Cinderella menari berputar-putar mengiringi melodi musik. Rasanya, seperti menemukan kenyamanan.
“Hey, Ryn. Jadi pulang tidak?” tanya Kenzhi sembari menepuk bahuku.
“Eh, iya kenapa?” Aku malah bertanya balik.
“Kamu melamun yah? Mikirin apa sih? Sampai-sampai dari tadi aku panggil kamu nggak merhatiin aku,” ujar Kenzhi.
“Maaf. Sudah selesai kan? Yuk kita pulang,” ajakku.
“Tunggu diluar dulu yah, biar aku bayar minumanya," perintah Kenzhi.
__ADS_1
“Iya, aku tunggu diluar,” jawabku.
Kenzhi tersenyum kearah ku, lalu pergi membayar minuman yang dipesan tadi. Sementara, aku menunggu di luar cafe. Ah, dan ku lihat lagi kotak musik itu, begitu menggiurkan. Rasanya, ingin sekali aku miliki.
“Hey, Ryn! Jangan melamun lagi, ayo kita pulang," tegur Kenzhi.
“Tidak kok. Yuk kita pulang," sahutku.
*****
Kuambil kotak musik itu dari dalam kotak kado, dan ternyata di bawah kotak musik itu ada sebuah amplop. Saat kubuka, amplop itu berisi surat.
Dear : Ryn
Ryn, apa kabar? Aku harap, kabar kamu baik-baik sekarang, dan seterusnya. Mungkin, saat kamu membaca surat ini, kita sudah tidak bertemu lagi. Aku minta maaf, jika selama ini aku sudah membuatmu jengkel, dan tidak nyaman.
Aku juga minta maaf atas kejadian tadi. Aku sadar, mungkin aku terlalu berharap, aku memang tidak pantas untuk kamu. Maaf, aku tidak bisa bohong Ryn, aku benar-benar menyukaimu, dan aku tidak bisa menutupinya terus-terusan. Setidaknya, aku lega tadi bisa mengungkapkanya. Ya, walaupun ditolak, dan kamu meninggalkanku begitu saja.
Ryn, meski kamu tidak menyukaiku, tapi kamu harus ingat, aku akan tetap menjaga perasa’an ini. Aku, tidak akan pernah merubahnya, dan aku harap suatu hari nanti, kamu akan membalas perasaanku.
Sebenarnya, tadi adalah pertemuan kita yang terakhir. Karena, sore ini aku harus berangkat ke Singapore. Aku akan meneruskan sekolah disana, dan aku tidak tau kapan bisa kembali lagi ke Indonesia. Sebenarnya tadi aku ingin bicara langsung, tapi kamu sudah terburu- buru pulang.
Aku harap, kamu bisa jaga diri baik-baik, karena aku sekarang tidak bisa menjaga kamu lagi seperti kemarin-kemarin. Jangan lupakan aku Ryn, meski sekarang kita berjauhan. Aku menyayangimu.
Kenzhi
Air mataku menetes perlahan, mengalir, dan membasahi pipi. Sekarang menyesal rasanya, setelah semua yang aku lakukan kemarin-kemarin, dan juga tadi.
“Kenzhi, maaf. Aku mengecewakanmu. Aku menyesal sekarang! Aku minta maaf,” gumamku.
Airmataku semakin deras menetes, membasahi hingga ke seragam yang aku kenakan.
“Kenapa harus seperti ini?” gumamku.
“Kamu tega Zhi, kenapa harus mendadak begini perginya. Aku minta maaf,“ gumamku menyesal.
Kudekap erat kotak musik yang ku pegang, surat yang kupegang menjadi teremas dalam genggaman.
“Aku juga mencintai kamu Zhi, aku minta maaf. Beri aku satu kesempatan Zhi,” gumamku lagi.
.
“Telfon, iya aku harus telfon," pikirku.
Sejenak aku diam, menghapus air mata di pipi, lalu segera meraih ponsel yang ada di meja samping ranjang. Dengan cepat ku cari kontak Kenzhi dan menelfonya. Sudah berdering, namun tak kunjung di angkat.
.
“Zhi, angkat dong! Please, angkat.” Aku berharap Kenzhi menjawab telfon.
Beberapa kali aku telvon, namun tak juga diangkat. Bahkan, sekarang telfonya tidak aktif lagi.
“Kenapa sih Zhi, kamu tidak angkat telfonya? Sekarang malah tidak aktif! “ Aku merasa kesal dan cemas.
“Zhi,” gumamku.
“Tok, tok, tok." Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu kamar.
__ADS_1
“Ryn, ayo makan dulu. Ibu sudah menyiapkan makan,” seru Ibu menyusul setelah ketukan pintu.
Cepat-cepat aku menghapus air mataku.