
Part 16
“Oh ya? Aku jadi penasaran.” Aku tersenyum ke arah kak Gavin.
“Kalau begitu, nanti rasakan sendiri.” Kak Gavin membalas senyumku.
Tidak lama kemudian, mang Dodot datang sembari membawa dua bungkus sate yang tadi dipesan.
“Ini Den Gavin pesenannya,” ujar mang Dodot sambil menyerahkan dua bungkus sate ke kak Gavin.
“Ini Mang, uanganya.” Kak Gavin lalu menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan.
“Oh iya terimakasih. Ini kembalianya,” ujar mang Dodot kemudian memberikan kembalian.
“Iya Mang, sama-sama.” Kak Gavin tersenyum ke arah mang Dodot.
Mang Dodot membalas senyum kak Gavin, “Saya permisi dulu Den.” Lalu pergi dan melanjutkan berkeliling.
“Yuk makan,” ajak Kak Gavin.
“Em.” Aku mengangguk mantap.
“Terimakasih,” lanjutku. Aku membuka bungkusan sate itu, aroma gurihnya yang khas langsung menyusup ke dalam rongga hidung. Ketika melihat tusukan-tusukan sate didepanku ini, salivaku seperti ingin menetes saja. Aku memakanya perlahan, dan ini benar-benar terasa enak.
“Rasanya enak kan?” tanya kak Gavin sembari menatapku.
“Iya.” Aku mengangguk pelan.
*****
Hari sudah hampir gelap, aku melirik arlojiku dan kulihat hampir pukul 18:00.
“Ini sudah hampir malam, kamu pulang saja. Pasti lelah juga,” ujar Kak Gavin.
“Ini masih sore, tidak apa-apa.” Aku tersenyum yakin ke arah kak Gavin. Ya, aku akui aku merasakan lelah, juga mengantuk.
“Bagaimana dengan bibi? Dia pasti mencemaskan kamu.” Kak Gavin terlihat mencemaskanku.
“Aku sudah WA ibu tadi. Jadi, tidak masalah lagi.” Aku tersenyum ke arah kak Gavin. Aku lihat, kak Gavin seperti merasa tidak enak denganku.
“Tenang saja, ibu tidak marah kok,” ujarku mencoba menenangkan dia yang sedikit tegang. Tapi, rona wajahnhya seketika berubah ketika mendengar kata-kataku barusan. Sekarang, dia menjadi ebih tenang, namun masih ada keraguan.
“Benarkah?” tanyanya memastikan. Aku mengangguk mantap.
“Syukurlah, aku bisa tenang sekarang.” Ada sunggingan senyum kecil di bibirnya.
“Apa?” tanyaku pura-pura memastikan. Aku sengaja bertanya seperti itu karena ingin mendengar dia menjawab maksud dari pertanyaan singkatku.
__ADS_1
“Ha? Ah, tidak. Tidak apa-apa.” Sekarang dia terlihat canggung.
“Kamu suka nonton film?” tanyanya tiba-tiba. Dia berusaha mencairkan suasana sekarang.
“Em, aku?” Aku diam sejenak, “Suka. Kenapa?”
“Mari kita nonton bersama. Aku punya beberapa kaset film,” ajaknya. Aku diam, kenapa dia mendadak seperti ini? Ah, mungkin saja karena aku belum lama mengenal dia.
“Oh ya? Sepertinya itu menarik, Kakak juga suka nonton ya?” tanyaku balik.
“Hanya itu hiburan yang aku miliki sekarang.” Kini wajahnya menjadi berubah agak sedih.
“Ayo kita nonton sekarang,” ajakku sembari tersenyum ke arah kak Gavin. Sepertinya ucapanku tadi mengingatkan sesuatu yang membuat sedih kak Gavin. Kak Gavin tidak menyahut, dia hanya menganggukkan kepala dan tersenyum.
Singkat cerita, aku membantu kak Gavin berjalan ke ruang keluarga yang berada di balik pintu kamarnya. Sampai di ruang keluarga, aku membantunya untuk duduk di sofa panjang yang menghadap ke arah tv. Kak Gavin menyuruhku untuk memilih kaset film yang ingin di putar di sebuah kotak yang ada di samping tv.
“Film petualangan,” batinku. Aku mengambil sebuah kaset, dan ternyata ini film Narnia. Dulu, aku sangat menyukainya. Sekarang juga masih suka, hanya saja aku jarang menonton.
“Kenzhi.” Aku menggumam sangat pelan. Saat aku memandangi kaset yang ku pegang sekarang, aku mendadak ingat Kenzhi. Selain aku, Kenzhi juga sangat menyukainya. Entah kenapa dulu apapun yang aku suka, Kenzhi juga ikut menyukainya, termasuk film ini.
“Kakak suka film Narnia ya?” tanyaku ketika menemukan banyak koleksi kasetnya.
“Aku juga suka,” sambungku.
“Hanya saja, sudah lama sekali aku tidak menontonnya,” lanjutku.
“Kamu ingin menontonnya?” tanya Kak Gavin.
“Ha?” Responku singkat.
Kak Gavin tersenyum, “Ayo kita nonton bersama.”
‘Iya,” sahutku lalu tersenyum.
Singkat cerita, aku dan kak Gavin begitu menikmati film yang sedang kami putar, hingga sekarang tidak teraa sudah sampai pertengahan film. Aku merasa semakin lelah, mataku mulai terasa pedas, dan aku merasa lemas karena mengantuk. Tanpa aku sadari, kepalaku perlahan semakin terasa berat. Kepalaku menjadi tidak seimbang, dan tumbang ke bahu kiri Gavin. Aku yang tersadar segera mengangkat kepalaku dan memfokuskan pandanganku ke depan, tentunya juga untuk duduk normal seperti tadi. Sekarang gantian aku yang menjadi canggung, aku juga menjadi malu.
“Ah, rasanya nyesel juga, kenapa tidak mau pulang sejak tadi? pikirku.
“Kamu pulang saja, pasti lelah.” Kak Gavin menoleh ke arahku.
“Tidak, aku tidak lelah. Aku masih kuat kok,” jawabku tanpa menoleh ke arah kak Gavin. Aku mempertajam pandanganku ke arah tv.
“Mata kamu merah,” ujarnya.
__ADS_1
“Tidak.” Aku menyahut cepat.
“Jangan bohong, aku melihatya.” Kak Gavin terus saja mencari-cari alasan. Aku jadi merasa kesal, karena seperti diremehkan.
“Aku bilang tidak!” seruku sembari memutar arah menghadap kak Gavin. Tanpa sengaja, aku menyenggol bahu kiri kak Gavin ketika memutar badan. Karena senggolanku kencang, kak Gavin malah terjatuh ke sofa. Beberapa detik sebelum terjatuh, dia sempat meraih lenganku untuk berpegangan, tapi aku malah ikut terjatuh dan menimpanya. Wajah kami sekarang menjadi sangat dekat, sorotan matanya kini nampak serius. Aku juga kaget, mataku menatapnya tajam, dan jantungku kini berdegup lebih cepat. Sesaat kemudian aku tersadar, dan cepat-cepat bangkit, kak Gavin juga sama. Sekarang kami menjadi saling diam, tidak ada sepatah kata pun terucap. Pipiku menjadi panas, dan kemerah-merahan karena malu.
“Pulang saja, ayahku akan segera pulang.” Akhirnya kak Gavin berani bersuara mengawali percakapan.
“Aku ... aku ....” Aku bingung ingin menjawab apa. Satu sisi aku memang lelah, tapi di sisi lainya aku juga tidak tega meninggalkan kak Gavin sendiri.
“Aku tidak bermaksud mengusir kamu, hanya saja aku tidak ingin membuat bibi khawatir. Kamu juga sangat lelah, perlu istirahat. Hari semakin malam, tidak baik jika kita bersama seperti ini.” Kak Gavin meyakinkanku.
Aku menghela napasku pelan,” Kakak yakin tidak apa-apa? Iya, memang benar, kita tidak seharusnya seperti ini. Tapi kita kan tidak berbuat yang tidak-tidak, aku hanya ingin membantu saja.”
“Terimakasih, aku sangat tahu itu. Tapi pandangan orang lain bisa berbeda. Pulang saja,” pintanya. Aku diam sejenak, ada ke ragu-raguan dalam diriku.
“Ya, baiklah. Aku akan pulang. Maaf, aku tidak bisa membantu banyak,” ujarku sambil mengambil tas ranselku di meja.
“Ini sudah lebih dari cukup bagiku,” ujarnya sembari tersenyum.
“Terimakasih, sudah mengkhawatirkanku Chessy.” Samar-samar aku mendengar kak Gavin memanggilku dengan sebutan Chessy. Aku diam sejenak, sepertinya kak Gavin mengingat Chessy.
“Apa?” tanyaku memastikan.
“Hati-hati di jalan nanti.” Kak Gavin menatapku tersenyum.
“Oh ya, aku akan pesankan taksi, tunggu sebentar.” Kak Gavin meraih ponselnya, lalu menelfon taksi dan memintanya datang ke rumahnya.
“Terimakasih,” ujarku berterimakasih. Kak Gavin hanya tersenyum kecil.
Sepuluh menit kemudian taksinya tiba. Dari luar terdengar suara klakson mobil berkali-kali. Aku beranjak dari dudukku, lalu merapikan penampilanku.
“Hati-hati di jalan. Kalau sudah sampai rumah, kabari aku ya.” Kak Gavin mewanti-wanti.
“Iya, aku akan memberi kabar kalau sudah sampai rumah. Terimakasih, sudah memesankanku taksi. Aku pulang dulu,” ujarku sembari melambaikan tangan sesaat, lalu pergi. Kak Gavin membalas lambaianku dan tersenyum.
*****
Setelah menempuh perjalanan sekitar lima belas menit, akhirnya aku sampai juga di rumah. Aku membayar taksi itu kemudian turun. Tidak lama setelah aku turun, taksi itu pergi dari depanku. Sementara aku bergegas masuk rumah. Sampai di teras, pintu rumah ternyata terkunci, ini pertanda bahwa ibu belum pulang, dan kak Alby sudah berangkat kuliah. Untung saja aku membawa kunci cadangan, jadi aku bisa masuk rumah tanpa menunggu ibu. Aku langsung berjalan menuju kamarku, sampai di sana, aku langsung merebahkan diri di ranjang empukku.
“Ah, rasanya aku sangat mengantuk. Lega juga aku sekarang bisa istirahat,” batinku.
“Hati-hati di jalan, kalau sudah samoai rumah, kabari aku.” Tiba-tiba aku teringat kata-kata kak Gavin. Aku merogoh tas ranselku dan mengambil ponselku.
“Aku sudah sampai di rumah dengan selamat.” Ku kirim pesan singkat itu ke kak Gavin. Aku meejamkan mataku, ku rasakan hawa nyaman di kamarku. Sesaat setelahnya ponselku bergetar, layarnya menyala. Ternyata ada balasan pesan dari kak Gavin.
“Syukurlah, kalau begitu istirahat saja. Cepat tidur, agar besok tidak kesiangan.” Aku hanya membacanya tan tidak aku buka. Setelah itu aku memejamkan mataku, dan tanpa sadar aku akhirnya tertidur.
__ADS_1