
Part 11
Sepanjang perjalanan pulang aku diam saja, kak Gavin juga sama. Aku masih memikirkan tentang apa yang aku lihat dikantor polisi tadi. Rasanya seperti ditinju ribuan kali. Sakit, sangat sakit rasanya. Aku tidak percaya, haruskah aku kehilangan Kenzhi dengan cara seperti ini? Untuk melihatnya terakhir kali saja aku tidak bisa.
Aku menjadi penuh sesal, kenapa aku dulu begitu bodoh. Aku terlalu sibuk memikirkan pendapat orang lain tentang diriku, aku terlalu meninggikan ego, dan aku malah mengabaikan perasaanku sejujurnya. Aku terlalu menutup ruang untuk Kenzhi dalam hidupku, hingga sekarang aku kehilanganya.
Jika seandainya waktu bisa diputar sebentar saja, aku tidak akan membuat kesalahan sama. Akan aku ubah, dan aku tidak akan menyia-nyiakan Kenzhi dalam hidupku.
“Maaf, hasilnya tidak seperti yang kamu harapkan. Aku tahu kamu sekarang sangat sedih, maafkan aku. Aku sudah membuat kamu kecewa,” ujar kak Gavin membuka percakapan.
“Tidak apa-apa. Kakak sudah berusaha, maafkan aku terlalu sering merepotkan Kakak. Kakak sudah menepati janji, itu lebih dari cukup bagiku. Aku sudah berkomitmen tadi, apapun hasilnya aku harus bisa menerima.”Aku menoleh ke arah kak Gavin sembari tersenyum kecil.
“Baiklah, aku mengerti.” Kak Gavin mengehela napas pendek, dan aku hanya membalas dengan senyum kecil. Selang beberapa menit kemudian kak Gavin memberhentikan mobilnya.
“Aa, sudah sampai ya? Oh, ini dimana?” Ketika aku hendak membuka pintu mobil, ternyata ini bukan didepan rumahku. Aku menoleh ke arah kak Gavin, tapi dia sudah tidak berada disampingku.
“Ayo keluar,” ujar kak Gavin yang kini berada diluar mobil dekat pintu aku duduk. Dia mengetuk beberapa kali kaca mobil.
“I ... iya,” ujarku singkat lalu keluar dari mobil.
“Kita ada dimana? Mau kemana kita?” tanyaku bingung.
“Tenang saja, aku tidak akan macam-macam. Aku hanya ingin menebus rasa kecewa kamu,” jawabnya lalu menyunggingkan senyum kecil. Aku tidak menjawabnya, hanya tersenyum kecil.
“Jangan cemas, aku sudah meminta izin sama ibu kamu untuk pulang agak terlambat.” Kak Gavin kini menatap dengan tatapan menenangkan. Aku hanya diam, aku tidak bisa menjawabnya. Apalagi ibu sudah mengizinkan, menolaknya aku rasa tidak mungkin.
Ku akui, sebenarnya aku sangatlah lelah. Bukan karena kegiatan sekolah hari ini, tapi karena Kenzhi. Otak dan hatiku tidak bisa berhenti memikirkanya, airmata dipelupuk mata pun sudah meronta-ronta ingin keluar, tapi aku masih menahanya. Rasanya ingin segera aku peluk boneka kesayanganku dirumah, agar aku bisa melampiaskan rasa lelahku dan menumpahkan bebanku sekarang disana.
__ADS_1
Hari sudah mulai gelap, dan kini aku berada entah dimana. Yang aku lihat sekarang, adalah taman yang luas. Banyak pohon bunga warna-warni, bermacam-macam jenis disepanjang jalan.
“Ayo ikut aku,” ajak kak Gavin. Aku mengangguk kecil.
Sambil berjalan, aku mengamati sekitar. Lampu warna-warni terlihat menghiasi taman. Ada rekaan pohon bunga sakura yang bunganya bersinar karena lampu kecil didalam kelopak bunga. Ada juga rekakan pohon yang dihiasi balon lampion warna-warni.
Kemudian sebuah kolam kecil yang ditengahnya ada air mancur, dan di tepi kolam dihiasi lampu-lampu kecil yang disusun berdiri rapi melingkar.
Aku dan kak Gavin kemudian berhenti dibangku taman, dan duduk disana.
“Kadang, seseorang yang pergi membuat rapuh jiwa yang menyayanginya. Kadang pula, perasaan yang dalam membuat orang terluka. Tapi, sebuah keyakinan bisa membangkitkan jiwa yang rapuh, juga perasaan yang terluka.” Aku diam saja, pandanganku masih fokus kearah depan. Kata-kata kak Gavin barusan sangat mengena dengan kondisiku, dan lebih tepatnya bagiku sebuah sindiran.
“Aku tahu, saat ini kamu sangatlah kecewa, kamu merasakan lelah yang amat sangat, dan airmata dipelupuk mata yang meronta itu, selalu ditahanya. Maaf, aku tidak bisa membantu banyak, aku tidak bermaksud juga mencampuri urusan pribadi kamu, aku hanya berusaha membantu mencari jalan keluar, tapi nyatanya gagal. Maafkan aku Ryn.” Kak Gavin menatap serius kearahku.
Aku menoleh kearah kak Gavin, semakin terlihat jelas wajah seriusnya. Aku masih diam, tidak tahu ingin bicara apa. Pikiranku berkecamuk, aku masih merasakan gundah gulana dalam hatiku.
Setiap kata-kata yang kak Gavin ucapkan mengingatkanku pada Kenzhi. Aku tidak bisa lagi menahan airmataku, aku tidak bisa lagi menahan rasa sedih yang sejak tadi tertahan. Aku menutup wajahku dengan kedua tangan, dan aku terisak dalam tangisku. Kak Gavin merengkuhku dalam dekapan hangatnya.
“Kak, apa salahku? Kenapa aku harus kehilangan orang yang aku sayangi? Kenapa ini terjadi padaku?” Aku masih saja terisak.
“Ryn, aku sangat paham dengan apa yang kamu rasakan. Aku, juga pernah merasakanya,” ujarnya.
“Jika airmata membuatmu tenang, maka menangislah. Tapi ingat, airmata saja tidak bisa menyelesaikan masalah.” Kak Gavin mendongakkan kepalaku, lalu menatapnya dalam-dalam.
“Jangan terus menangis. Lama-lama airmata itu semakin membuat sakit, dia akan terus membuat luka seiring tetesan airmata yang jatuh.” Kak Gavin mengusap airmataku perlahan, dia masih menatapku dengan tatapan yang sama. Meski aku masih sesegukan, namun sudah tidak seperti tadi. Aku memegang kedua tanganya dipipiku, dan kami saling beradu pandang.
“Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu semakin sedih.” Kak Gavin menarik kedua tanganya. Aku tidak menjawabnya, dan langsung beralih menatap kedepan.
“Dulu, aku sering kesini. Ini tempat faforitku bersama seorang sahabatku. Sejak kecil, kami suka bermain-main disini. Sampai SMP, kami masih saja kesini sepulang sekolah. Aku menyukainya, dia seorang wanita tangguh. Gayanya yang tomboy dan pemberani, menjadi ciri khas dalam dirinya. Namun, aku kehilangannya sekarang.
__ADS_1
Waktu kami kelas dua SMP, dia pindah ke Australia. Aku tidak tahu kenapa dia pindah. Dia memberitahuku secara mendadak, dan aku hanya bisa mengucapkan salam perpisahan. Disini pertemuan yang terakhir kalinya, aku masih ingat betul hari itu. Sebagai tanda perpisahan, aku memberinya kalung perak berliontinkan hello kitty. Dia sangat senang, lalu memelukku beberapa saat sebelum pergi.
Beberapa hari setelah dia sampai disana, kami masih berkomunikasi dengan baik. Seminggu kemudian, kami hilang komunikasi. Tiba-tiba ayahku mendengar berita kebakaran massal diperumahan tempat sahabatku tinggal. Karena kejadiannya tengah malam, banyak orang yang meninggal dunia dan sedikit yang berhasil selamat. Itupun pasti dalam keadaan terluka parah. Sahabatku bersama keluarganya juga terdaftar menjadi korban kebakaran, dikabarkan meninggal dalam tragedi itu. Bahkan jasadnya saja tidak ditemukan, dan kemungkinan besar hangus dalam kebakaran.
Aku yang mendengar berita itu sama sekali tidak percaya, dan sama sekali tidak ingin memercayainya.. Aku sangat terpukul semenjak kepergianya. Aku masih sangat yakin, jika dia masih hidup. Meski ayahku mencari bukti-buktinya, dan memang benar dalam kebakaran itu diduga korban hangus dan menjadi abu karena tidak ditemukan jenazahnya, juga karena apinya yang sangat besar. Tapi, aku masih bersi kukuh menyangkalnya. Sampai sekarang, aku masih berharap bertemu lagi dengannya.
Dia satu-satunya wanita penting bagiku setelah ibu. Sebenarnya, hubunganku dengan ayah tidak begitu baik sejak dulu. Aku dulu membencinya dan menyalahkanya karena ketika ibu meninggal, ayah masih sibuk bekerja. Tapi semua berubah, sejak kehadiran sahabatku. Dia yang membuatku percaya lagi dengan ayah, dia juga yang memperbaiki hubunganku dengan ayah.” Cerita kak Gavin yang panjang lebar itu menyedihkan juga. Intinya sama, kami kehilangan orang yang disayang, namun terdengar lebih menyedihkan daripada aku.
“Apa kamu benar-benar yakin Kenzhi sudah tiada? Apa Kamu percaya tentang hal yang kamu lihat tadi?” Aku menoleh kearah kak Gavin.
“Kenapa dia bertanya seperti itu? Apa maksudnya?” pikirku.
“Kenapa Kakak bertanya seperti itu?” tanyaku balik.
“Tidak usah dijawab, aku sekarang sudah tahu jawabanya,” ujarnya. Aku tersenyum kecil lalu kembali menatap kearah depan.
“Ryn, nasib kita sama. Sama-sama kehilangan orang yang disayang. Tapi bukan berarti kita menjadi benar-benar lemah karenanya kan? Kita juga tidak harus menyerah pada satu masalah bukan? Aku yakin, dikehidupan yang baru kita akan bertemu dengan orang yang kita sayang,” ujar kak Gavin sembari tersenyum kecil.
“Kak Gavin benar, kita tidak bisa menyerah begitu saja.” Aku membenarkan kata-kata kak Gavin, lalu tersenyum kecil.
“Orang lain belum tentu bisa mengerti kita, dan mereka terkadang hanya ingin tahu saja. Sulit untuk memercayai seseorang dalam hidup,” lanjutku.
“Benar, aku juga merasakan hal yang sama,” ujar kak Gavin.
“Kamu tahu, ini pertama kalinya aku kembali datang kesini semenjak aku dan sahabatku berpisah. Dan, hanya ada dua wanita yang aku ajak kesini,” ujar Kak Gavin lalu menghela napas pendek.
“Oh ya? Pasti mereka beruntung? Siapa mereka?” tanyaku.
“Yang pertama sahabatku, dan yang kedua kamu.” Aku menoleh kearah kak Gavin begitu mendengar namaku disebut.
“Benarkah? Kalau begitu, aku termasuk wanita yang beruntung.” Aku menatapnya sembari tersenyum. Kak Gavin tidak menjawabnya, dia hanya membalas senyumanku.
__ADS_1