Masihkah Ada Cinta

Masihkah Ada Cinta
Kenzhi Menghilang


__ADS_3

PART 3


Mendadak ponsel Daffa berdering, dan dengan cepat diangkatnya.


“Hallo, apa? Di mana? Oh iya-iya tunggu sebentar, aku kesana.” Setelah pembicaraan singkat itu, Daffa memutuskan panggilanya.


“Ryn, ayo kita pergi. Baru saja Sasa memberitahuku, ada kabar tentang data penumpang pesawat di mading.” Ujarnya.


“Oh ya? Ayo Daff, kita harus cepat," ujarku.


 


Aku dan Daffa bergegas ke mading Bandara. Sesampainya di sana, ternyata sangat ramai. Banyak orang memenuhi depan mading. Mereka berebut di posisi paling depan, untuk mengecek kabar tentang keluarganya, atau orang-orang yang mereka cari. Banyak tangisan-tangisan terdengar. Bahkan, tak sedikit juga yang pingsan. Suasananya begitu gaduh, dan memekakkan telinga.


 


Tidak ada ketenangan, yang ada sekarang hanyalah ketegangan. Mataku menyapu pandangan ke seluruh tempat, mencari lokasi Sasa. Namun tak berselang lama, kulihat Sasa yang tengah berdesakan dengan banyak orang di depan mading. Ia melambaikan tanganya, seolah memberi kode agar aku dan Daffa menyusulnya.


“Daf, itu Sasa! Ayo kita kesana,” ajakku.


Aku menarik lengan Daffa, dan pergi menyusul ke tempat Sasa. Sampai disana, aku dan Daffa ikut berdesakan dengan banyak orang. Aku berusahaa menerobos ke depan. Sulit, namun aku tidak ingin menyerah begitu cepat. Beberapa kali aku mencoba, dan kini berhasil juga. Dengan cepat, pandanganku menyapu seluruh data penumpang. Mencari-cari nama Kenzhi.


“Kenzhi Rafisqy Shaquille” Ku lihat nama itu tertulis di daftar korban hilang.


“Apa!” gumamku tidak percaya. Aku mengulanginya, meneliti dari atas lagi namun hasilnya tetap sama.


“Ini tidak mungkin," pikirku.


Aku terus saja mengulanginya. Seperti tadi, hasilnya sama. Air mataku mulai tak terbendung, dan aku terus saja mengingkari hasil yang aku dapat.


“Kenzhi,“ gumamku. Tubuhku bergetar, serasa kehabisan tenaga. Rasanya lemas sekali, aku tidak bisa menahanya. Apalagi, kepalaku juga terasa berat, dan pusing. Sekarang pandanganku tiba-tiba memudar, lalu semua terasa gelap dan aku tidak ingat apa-apa.


*****


“Ryn." Ku dengar samar-samar suara Sasa.


“Ryn, Ryn. Bangun Ryn." Suara lembut itu terdengar kuat di telinga. Aku membuka mata perlahan, kulihat disampingku Sasa dan Daffa.


“Di mana aku?” tanyaku yang masih bingung. Pandanganku menyapu ruangan. Seperti Rumah Sakit, tapi lebih sederhana.


“Kamu di klinik. Tadi kamu pingsan, dan kita panik. Ya, akhirnya kita bawa kamu kesini,” jelas Sasa. Kepalaku masih terasa pusing, dan tubuhku terasa lemas.


“Tadi Dokter sudah memeriksa kamu, dan kamu perlu banyak istirahat. Tubuh kamu terlalu lemah karena banyak pikiran,” sambung Daffa.


“Sudahlah Ryn, jangan terlalu banyak berfikir dulu. Tentang Kenzhi, biar aku dan Daffa yang urus. Sebaiknya, kamu aku antar pulang," ujar Sasa memberi nasihat.


Saat aku mendengar kata “Kenzhi” terucap di lisan Sasa, aku jadi ingat bahwa aku harus memastikan kabar yang aku lihat tadi.


“Aku harus pergi.” Aku membatin dalam hati.


“Ayo, aku antar pulang," tawar Daffa.


“Tidak! Aku, aku tidak ingin pulang. Aku harus mencari kabar tentang Kenzhi. Aku harus memastikanya lagi!" ujarku ngotot. Aku beranjak turun dari ranjang yang aku tiduri sekarang, tapi Daffa dan Sasa mencegahku.


“Hey, kamu belum sehat betul. Jangan memaksakan diri begini. Apa kamu sudah tidak waras? Bagaimana jika terjadi lebih buruk dari ini?” ujar Daffa dengan nada sedikit marah.


“Daffa! Jangan seperti itu!” Sasa geram setengah membisik, lenganya menyenggol pinggang Daffa. Sorot matanya sinis melirik Daffa.


“Apa yang dibilang Daffa memang ada benarnya,” pikirku.

__ADS_1


“Ryn, sebaiknya kamu pulang. Apa yang dikatakan Daffa memang ada benarnya juga. ibu kamu pasti khawatir, apalagi sekarang sudah sore," sela Sasa.


“Sudahlah, ayo pulang. Kamu jangan khawatir, aku sudah meminta nomor petugas bandara, jika ada kabar tentang Kenzhi, mereka akan menghubungi.” Daffa menggoyang-goyangkan ponsel miliknya.


“Kakak dan ibumu pasti khawatir, jika kamu tidak cepat pulang," ujar Sasa.


“Kakak, ibu." Ah, aku bahkan melupakan mereka. Sasa benar, aku harus cepat pulang.


“Baiklah, aku akan pulang,” ujarku dengan nada pasrah.


*****


 


Sesampainya dirumah, aku langsung masuk kamar. Aku terduduk di tepi kasur, air mataku tidak bisa lagi dibendung. Aku mengusapnya berkali-kali tapi tetap saja menetes.


 


“Kenzhi,” gumamku sembari menangis sesegukan.


“Kenapa seperti ini!” batinku geram.


“Aku masih tidak bisa terima,” pikirku.


“Tok, tok, tok.” Bunyi suara pintu kamar diketuk.


“Ryn, ini Kakak. Apa Kakak boleh masuk?” Kudengar suara Kak Alby. Aku mengusap air mataku, dan menghela nafas panjang.


“Iya, masuk saja," sahutku singkat.


“Matamu sembab.” Komentar Kak Alby yang kini duduk di sampingku.


“Lihat Kakak.” Kak Alby mengangkat daguku, lalu menatapku dalam-dalam.


“Wajah kamu pucat, hidung kamu memerah, mata kamu sembab seperti bengkak, dan kamu bilang ini seperti biasa?” Kakak memang pandai membaca kondisi wajahku.


Ah, rasanya aku tidak bisa menatap lama-lama wajah kakakku seperti ini. Tubuhku terasa bergetar, denyut nadiku serasa bergerak lebih cepat. Rasanya ingin aku luapkan apa yang aku rasakan, namun aku tidak bisa. Bibirku terasa kelu untuk berkata-kata, hanya saja mataku sekarang terasa berkaca-kaca.


“Kalau ingin menangis, menangis saja. Tidak usah kamu tahan, Kakak tahu apa yang kamu rasakan,” ujarnya seraya mendekapku.


“Kakak," rengekku dalam dekapanya.


Airmataku leleh begitu kak Alby mendekapku.


“Ke, Ke, Kenzhi Kak,” ujarku sesegukan.


“Kakak sudah tahu semuanya, Kakak mengerti apa yang kamu rasakan. Memang berat, tapi kamu harus ingat, masih ada kakak disini.” Kak Alby mencoba menenangkanku.


“Kakak tahu, dia berperan penting di hidup kamu, wajar jika kamu seperti ini. Dia masih dinyatakan menghilang kan? Tidak meninggal bukan? Jadi, masih ada kemungkinan selamat. Jangan sedih, Kakak akan bantu kamu cari kabar tentang Kenzhi,” lanjutnya.


Setelah lebih tenang. dan tangisan sesegukan tak terdengar lagi, kak Alby melepas dekapanya.


“Istirahatlah. Kamu memerlukan banyak tenaga, Kakak akan menyiapkan makan untuk kamu.” Kak Alby lalu beralih ke dapur. Aku menggangguk pelan.


“Kenzhi, Kenzhi, Kenzhi.” Aku tidak bisa berhenti memikirkanya. Kepalaku terasa pusing sekali, tapi otak dan hatiku tidak bisa berhenti menghawatirkan Kenzhi. Aku memejamkan mataku, lalu menghela nafas panjang.


*****


“Ryn, bangun. Lihatlah aku. Kudengar sayup-sayup suara seorang yang tidak asing lagi.

__ADS_1


“Bangun, dan lihatlah aku.” Suara itu terdengar dekat di telinga. Mataku yang terpejam, kubuka perlahan.


“Kenzhi." Kulihat ada Kenzhi disampingku tidur, duduk di tepi ranjang dan tersenyum ke arah ku. Aku beranjak dari tidurku, beralih duduk bersender di headboard.


“Kenzhi,” gumamku pelan. Aku tidak bisa menahan air mataku, seketika mengalir tanpa bisa aku kendalikan.


“Jangan menangis, hanya karena aku,” ujarnya seraya tangan kanannya mengusap airmata dipipiku.


“Ini, ini benar-benar kamu?” tanyaku.


“Menurutmu, siapa lagi? Adakah yang sama sepertiku? Selain aku ?” Dia balik tanya. Aku terdiam, ku genggam tanganya di pipiku.


“Air matamu terlalu mahal. Jangan kamu buang sia-sia seperti ini,” ujarnya sembari tersenyum.


“Jangan pergi lagi, tetaplah disini,” ujarku.


“Aku, selalu ada disini.” Kenzhi menurunkan tangannya yang ku genggam, mengalihkanya di dadaku. Seolah mengkode bahwa dia akan terus berada di hatiku.


“Dan kamu, akan selalu disini,” tangannya kini berbalik menggenggam tanganku, lalu menempelkan di dadanya.


“Berjanjilah! Kamu akan selalu mencintaiku.” Kenzhi menatapku serius. Sunggingan senyum di bibir tipisnya tak luput mengiringi perkataannya.


“Aku berjanji!” jawabku.


“Aku lega. Dengan jawabanmu, aku bisa pergi dengan tenang.” Kenzhi menghela napas lega.


“Tidak! Jangan pergi Zhi, aku tidak ingin berpisah lagi," cegahku tidak rela.


“Aku, hanya pergi sementara waktu saja. Aku berjanji akan datang menjemputmu suatu hari nanti dan membawa kebahagiaan.” Kenzhi berusaha meyakinkanku.


“Tidak! Kamu tidak boleh pergi lagi.” Aku setengah menyeru.


“Ma’af, aku tidak bisa


Aku harus pergi sekarang. Jangan menangis dan bersedih lagi, karena aku ada di dalam hatimu yang paling dalam," ujarnya seraya melepaskan genggaman tangannya. Ku lihat semakin lama, Kenzhi seperti bayang-bayang. Memudar, memudar, dan hilang tanpa jejak.


“Tidak!” Aku menyeru.


*****


“Ternyata aku bermimpi,” gumamku yang sadar bahwa itu hanya mimpi. Aku terbangun dari tidur lelapku. Napasku terengah-engah, keringat membasahi wajah dan tubuhku. Jantungku berdegup lebih kencang, darahku juga terasa berdesir lebih cepat.


“Ryn, makan dulu, kakak memasak nasi rebus kesukaan kamu.” Ujar Kak Alby yang masuk kekamar sembari membawa nampan berisi nasi rebus dan segelas susu. Nasi rebus adalah julukan nasi yang di rebus, dan di beri potongan bawang merah, cabai, bawang putih, juga di bumbui garam dan penyedap rasa. Makanan ini sudah menjadi favoritku sejak kecil.


“Kamu akan merasa lebih baik setelah makan," ujar Kak Alby seraya meletakkanya di meja. Aku hanya diam.


“Kamu kenapa?” tanya Kak Alby.


“Tidak. Aku tidak kenapa-kenapa. Memangnya ada apa?” Aku balik tanya.


“Tidak ada. Sudah, ayo makan," ajak kak Alby.


“Ibu dimana? Kenapa aku tidak mendengar suaranya? Atau bahkan melihatnya?” Ttnyaku.


“Ibu masih berada di Restoran, sepertinya akan pulang agak malam. Masih banyak pekerjaan yang harus dikerjakanya,” Jelas Kak Alby. Aku mengangguk-angguk kecil mendengar penjelasan Kak Alby.


“Ayo. Cepat makan. Kamu harus memulihkan tenaga kamu,” ujar Kak Alby.


“Iya, aku akan memakanya. Terimakasih. Kakak begitu peduli padaku,” ujarku lalu tersenyum.

__ADS_1


“Kamu ini adik yang paling Kakak sayangi. Wajar, jika Kakak melakukan ini. Karena Kakak, sayang kamu," sahut Kak Alby, lalu menyunggingkan senyum kecil di bibirnya.


__ADS_2