Masihkah Ada Cinta

Masihkah Ada Cinta
Hujan


__ADS_3

Part 12


Malam ini langit tidak begitu bersahabat. Langit yang mendung, bulan yang hanya nampak samar-samar, dan bintang pun tak ada satu saja yang bersinar. Kurasakan dinginya angin yang berhembus cepat, merasuk jauh kedalam tubuh. Sementara satu sisi, kudengar suara rintikan hujan dan kurasakan air lekas menetes dari langit.


“Hey, ayo pergi. Hujan akan segera turun,” ujar kak Gavin sembari menarik lenganku, memberi kode untuk segera pergi.


“Em.” Aku mengangguk kecil, mengiyakan ajakan kak Gavin.


Gemuruh petir terdengar memekakkan telinga, dan rintik air hujan semakin cepat menetes. Aku berlari bersama kak Gavin menuju mobil. Tanpa sadar, Kak Gavin menggandeng lenganku sampai ke mobil. Sampai disana kami bergegas masuk kedalam, dan kak Gavin segera melajukan mobilnya. Kak Gavin menutup rapat semua jendela mobil, dan menyalakan pemanas mobil.


“Hujan diluar sangat deras, dan udara sangat dingin. Jadi aku menutup semua jendela, dan menyalakan pemanas. Kamu tidak keberatan kan?” tanya kak Gavin.


“Tidak. Ini lebih baik,” jawabku.


“Oh iya, aku minta maaf. Saat kamu pulang dari rumah sakit, aku tidak bisa ikut menjemput kamu. Aku juga tidak bisa menjenguknya, karena aku sangat lelah. Jadwalku juga padat.” Pandangan kak Gavin masih lurus kedepan, namun senyum kecil tersungging dibibirnya.


“Tidak apa-apa, aku mengerti. Terimakasih, Kakak sangat baik padaku. Setiap manusia, pasti memiliki rasa lelah.” Aku menoleh ke arah kak Gavin, lalu tersenyum kecil.


“Ryn, jika saja, aku bisa meminta satu hal. Apakah, kamu mau mengabulkanya?” Aku terkejut mendengar perkataan kak Gavin, tapi aku tetap berusaha tenang. Pikiranku menjadi kacau. Baru saja kita mengenal, dia sudah ingin meminta sesuatu dariku? Apa yang kak Gavin inginkan dariku? Apakah sikap baiknya kemarin-kemarin hanya pemanis saja? Haah, jangan-jangan kak Gavin ingin berniat jahat padaku dengan memanfaatkan keadaan sekarang ini? Aku sering menemukan fakta lapangan, pria bisa melakukan apapun sesuka hatinya dalam keadaan seperti ini. Dalam keadaan seperti ini, siapa yang bisa menolong? Selain karena hujan yang deras, kondisi jalanan pun mulai sepi. Dan dalam kondisi seperti ini, wanita bisa terbilang lemah, jika dibandingkan pria.


Aku menjadi takut, dan semakin banyak pikiran-pikiran buruk yang hinggap dikepalaku. Aku takut, jika nantinya dia berbuat yang tidak sepantasnya padaku. Ah, kenapa aku jadi mendadak cabul begini? Tapi, tidak ada salahnya bukan? Ini alamiah, tidak aku buat-buat, atau disengaja. Fakta lapangan juga banyak yang berkata seperti itu. Tidak, tidak. Aku harus membuang jauh-jauh pikiran burukku.


“Apa yang Kakak inginkan?” tanyaku ragu-ragu.


“Bisakah, kita menjadi teman? Itu jika kamu tidak keberatan. Semenjak aku kehilangan sahabatku, aku tidak pernah lagi memercayai wanita. Teman-temanku seringkali mengejekku, karena aku terlalu cuek dalam bersikap pada wanita. Meski banyak wanita yang mendekatiku, tapi aku sama sekali tidak pernah ada ketertarikan. Karena aku tahu, mereka hanya melihat diriku melalui penampilan luar, juga karena popularitas.” Lega rasanya aku mendengar jawaban kak Gavin. Ternyata benar, pikiranku tentang kak Gavin salah, bahkan salah besar.


“Itu saja? Kenapa aku?” tanyaku.


“Iya, cukup itu. Karena aku memercayaimu. Kamu berbeda dengan kebanyakan wanita yang aku temui. Aku tahu, tidak sembarang pria kamu mau mengenalnya. Maaf, jika itu membuat kamu keberatan.” Kak Gavin menoleh ke arahku, dan menatapku serius.


“Benar hanya itu? Kakak tidak sedang mempermainkan aku bukan?” tanyaku ragu-ragu. Meski aku merasa lega, tapi disatu sisi masih ada keraguan. Aku sering melihat dalam layar drama, pria sering berbicara dengan manis hanya untuk menutupi rencana licik.


“Mempermainkan bagaimana? Jangan-jangan kamu berpikir yang tidak-tidak?” tanya kak Gavin curiga. Wajahku menjadi mendadak merah.


“Aaa, aku tahu. Kamu pasti takut aku akan berbuat macam-macam bukan? Jangan cabul, aku tidak akan berbuat serendah itu dengan memanfaatkan keadaan.“ Kak Gavin malah terkekeh. Sementara aku, wajahku menjadi seperti kepiting rebus. Malu sekali rasanya.


“Itu tidak benar. Aku tidak memikirkan sampai sejauh itu,” elakku.


“Drrttt, ddrrrttt,drrttt.” Ponselku bergetar, dan kulihat ada pesan singkat dari kak Alby.


“Kamu dimana sekarang?” tanya kak Alby melalui pesan singkat itu.


“Di jalan, aku dalam perjalanan pulang. Kenapa?” balasku.


“Beliin aku bakso dong, mumpung kamu masih diluar. Laper nih, hujan-hujan enaknya makan yang anget-anget, hehe.” Enak sekali memanfaatkan suasana, pikirku.


“Tidak mau. Beli saja sendiri, Kakak kan tidak menitip uang padaku,” balasku.


“Ya ampun, segitu pelitnya sama Kakak sendiri. Peritungan banget sih. Sekarang ngutang dulu, nanti kalau sudah sampai dirumah Kakak ganti uangnya.” Aku sengaja tidak membalasnya, hanya kubaca. Dan setelah itu, aku masukkan kedalam saku jaket. Aku menghela napas pendek.


“Kak, setelah ini bisakah kita mampir membeli bakso sebentar?” tanyaku pada kak Gavin. Rasanya agak tidak enak juga sih minta tolong.


“Kamu lapar? Aku baru saja ingin menawarimu makan, tapi kamu sudah mengajakku. Kalau begitu, mari kita makan bersama. Aku juga lapar,” ajak kak Gavin.

__ADS_1


“Tidak, bukan begitu sebenarnya. Kak Alby memintaku untuk membelikan bakso. Tapi, ya sudahlah, sekalian saja kita makan bersama. Maksudku, anggap saja ini dinner,” ujarku.


“Ya, baiklah. Aku tahu warung bakso yang enak,” ujarnya.


Singkat cerita, kak Gavin melajukan mobil menuju tempat warung bakso. Tidak lama kemudian, kami sampai ditempat tujuan.


“Hujan masih deras, pakailah ini untuk masuk kedalam.” Kak Gavin menyodorkan jaket yang diambilnya dari jok belakang.


“Aku? Aku sudah memakai jaket, lebih baik jika Kakak yang memakainya,” tolakku.


“Tidak, jangan. Aku baik-baik saja, kamu saja. Gunakan ini, sebagai payung. Maaf, aku tidak punya payung dimobil.” Kak Gavin menyodorkanya lebih dekat.


“Kakak lebih membutuhkanya, aku bisa menggunakan jaketku sebagai payung.” Kulihat kak Gavin kini menatapku dalam-dalam. Aku mengehla napas pendek.


“Baiklah, kita pakai saja bersama,” ajakku. Kak Gavin diam, dan masih menatapku dengan tatapan yang sama. Sepertinya dia melamun kali ini.


“Hey, Kak. Ayo kita keluar,” ajakku sembari melambaikan tangan didepan wajahnya.


“Oh ya, tentu saja. Mari kita keluar, dan makan,” jawabnya.


Kak Gavin bergegas keluar mobil, dan begitupun denganku. Baru saja aku sampai diluar, kak Gavin memayungiku dengan jaketnya. Ketika aku menoleh kearahnya, hampir saja wajah kami bertabrakan. Kami diam sejenak, dan kami saling beradu pandang. Wajah kami sekarang begitu dekat.


“Oh maaf, ayo kita masuk,” ajak kak Gavin mencairkan suasana. Aku mengangguk kecil, mengiyakan ajakan kak Gavin.


“Pak bakso dua mangkuk ya, dan teh hangat dua gelas.” Aku memesan bakso begitu sampai disana, lalu kami mencari tempat duduk.


“Baik Neng, tunggu sebentar,” ujar Bapak penjual bakso mengiyakan.


“Pakai ini, kamu terlihat sangat kedinginan.” Kak Gavin tiba-tiba memakaikan jaketnya kepunggung ku. Aku terkejut, lalu menoleh ke arah kak Gavin.


“Tidak, ini tidak perlu. Aku hanya menstabilkan pipiku yang dingin, pakai kak Gavin saja, Kakak lebih membutuhkanya.” Aku mengambil jaket kak Gavin, lalu mengembalikanya. Kak Gavin terlihat ingin mengatakan sesuatu, tapi perhatianya teralihkan oleh Bapak penjual bakso yang datang membawa pesanan.


“Ini pesanannya, silahkan makan,” ujar Bapak penjual bakso sembari meletakkan dua mangkuk bakso dan dua gelas teh hangat.


“Terimakasih Pak,” sahutku lalu tersenyum kecil.


Aku dan kak Gavin menikmati baksonya, dan memang enak rasanya. Dinner ini, menjadi dinner pertamaku bersama kak Gavin. Dulu, selain kak Alby, aku tidak pernah makan, atau pergi dengan pria yang bukan keluargaku, hanya saja terkecuali Kenzhi. Itu karena dia sudah aku kenal sejak kecil. Jika hujan begini, aku menjadi ingat sebuah kenangan bersama Kenzhi.


#####


Seperti biasa, aku pulang jalan kaki bersama Kenzhi. Hari sudah mulai sore, tapi aku tidak langsung pulang. Kami, membeli roti bakar langganan kami, lalu pergi ke danau. Kenzhi memaksaku pergi kesana, aku sudah menolaknya, tapi dia terus memaksa. Sampai disana, kami duduk dibawah pohon dekat danau.


“Cepat buka, aku sangat lapar,” ujar Kenzhi tidak sabaran.


“Aku sedang membukanya, sabar sedikit.” Aku menatapnya setengah sinis.


“Kamu tidak tahu betapa tersiksanya diriku hari ini. Aku sangat lelah, juga lapar sekali,” keluhnya.


“Aku tahu, jadi diamlah. Sejak kita keluar kelas, kamu sudah mengatakanya berkali-kali,” ujarku setengah menyeru.


“Cepat makan. Setelah itu kita pulang,” ujarku cuek. Kenzhi menggeser duduknya lebih dekat denganku. Aku bergeser menghindar, tapi dia terus saja mendesakku


.

__ADS_1


“Jangan mendekat. Kamu itu apa-apaan sih? Aku sudah bergeser, tapi kamu malah terus saja mendesakku.” Aku menatapnya sinis kali ini.


“Bisakah kamu bersikap manis sedikit saja padaku? Aku hanya ingin kita bisa menikmati sore dengan damai.” Kenzhi kini menatapku dengan serius. Pikiranku menjadi kalut dibuatnya. Aku diam, dalam hatiku rasanya ingin sekali berdamai denganmu, tapi karena keadaan, aku tidak akan bisa. Aku masih belum siap, jika kamu mengetahui perasaanku sebenarnya.


“Tidak. Aku tidak bisa,” jawabku, lalu memalingkan wajah.


“Kenapa? Apa kamu takut terbawa perasaan padaku?” Pertanyaan itu sangat tepat bagiku sekarang, namun aku berusaha untuk tetap tenang, dan tidak menanggapi. Padahal, dalam hatiku ingin sekali aku jawab, ‘Iya. Iya, aku takut terbawa perasaan. Bahkan, lebih dari itu.’


“Tidak. Aku selalu bersikap seperti ini, karena kamu itu ngeselin, orangnya suka jahil, dan banyak bicara seperti wanita. Tidak hanya itu, kamu selalu memanfaatkan keadaan jika bersamaku. Jangan-jangan kamu yang terbawa perasaan padaku. Ayo, ngaku?” Aku melihatnya semakin sinis.


“Jika benar aku terbawa perasaan bagaiman? Apa yang akan kamu lakukan?” tanya Kenzhi.


“Sudahlah, aku tidak ingin membahas ini. Bicara sama kamu itu jadi ngelantur, kemana-mana tidak jelas arah,” elakku. Aku mencomot satu potong roti selai coklat, lalu memasukkanya kedalam mulut. Dengan makan, sudah menjadi cukup alasan bagiku untuk mengakhiri pembicaraan.


Tidak lama setelah kami selesai makan, kurasakan rintik hujan menetes membasahi tanganku. Semakin lama semakin cepat, dan terjadilah hujan deras. Aku berlari bersama Kenzhi, karena disekitar sini tidak ada rumah, maka kami memutuskan untuk pulang saja. Tanpa aku sadari, tangan Kenzhi menggandeng erat lengan kananku. Sampai dirumah, kami duduk di kursi panjang yang ada di teras. Selain karena melepas lelah, kami juga mengatur napas yang sempat tidak beraturan. Setelah agak tenang, aku mengajaknya masuk rumah. Namun, ternyata rumah dikunci. Untung saja aku membawa kunci cadangan, jadinya bisa masuk.


Kenzhi duduk di ruang tamu, sedangkan aku pergi ke kamar berganti pakaian. Aku juga mengambil pakaian ganti untuk Kenzhi. Niatku, ingin kupinjami baju kak Alby, namun kamarnya terkunci. Terpaksanya aku meminjamkan kausku, dan diantara sekian banyak kaus dilemari, hanya ada satu yang cocok. Aku cepat-cepat turun ke bawah menemui Kenzhi


“Ini, cepat pakai.” Aku menyodorkan sebuah kaus oblong ke arahnya. Kaus itu warna putih, yang ditengahnya bergambar Hello Kitty.


“Apa! Yang benar saja, aku memakai ini? Tidak, aku tidak akan memakainya,” tolak Kenzhi yang terkejut setelah melihat kaus yang aku berikan itu ada gambar Hello Kitty.


“Jangan banyak protes, hanya ada ini yang cocok. Aku sudah ke kamar kak Alby, dan disana terkunci. Jadi, aku mencari di kamarku, dan hanya ada ini,” jelasku. Dengan wajah terpaksa, Kenzhi pun memakainya juga. Aku ingin tertawa lepas melihat Kenzhi yang memakai kaus Hello Kitty, namun aku menahanya.


“Hujan sudah reda, aku akan pulang sekarang,” ujarnya dengan tatapan kecewa.


“Jangan bersedih begitu, senyum dong?” godaku.


“Jangan mengejek. jika bukan karena terpaksa, aku tidak akan memakainya,” ujarnya membela diri.


“Aku tidak mengejek. Lagi pula, kaus ini juga berjasa padamu,” ujarku.


“Iya-iya. Aku pulang dulu,”


.


ujar Kenzhi berpamitan. Aku tidak menjawabnya, hanya mengangguk. Setelah Kenzhi pulang, aku tertawa lepas. Aku melepaskan tawa yang sejak tadi aku tahan. Ternyata, dia mau juga memakai kaus Hello Kitty.


######


Tanpa terasa, bakso dimangkuk ku sudah habis. Aku melirik kearah kak Gavin, dan disana juga sudah habis.


“Pulang sekarang?” tanya kak Gavin.


“Boleh, ini sudah semakin malam juga. Oh iya, sebentar. Aku akan memesan satu bungkus untuk kak Alby.” Hampir saja aku lupa.


“Ya, baiklah. Aku akan menunggu,” sahut kak Gavin.


“Pak. Pesan satu mangkuk bakso lagi, tapi dibungkus saja,” ujarku memesan.


“Siap Neng, tunggu sebentar.“ Bapak penjual bakso itu dengan cepat menyiapkan pesanan.


Tidak lama kemudian pesanan siap, dan bapak penjual itu menyodorkanya ke arahku. Ketika kak Gavin ingin membayari makanannya, aku menolak. Rasanya tidak enak juga, jika kak Gavin yang membayar. Dia sudah banyak membantuku hari ini. Selesai membayar, aku pun diantarnya pulang.

__ADS_1


__ADS_2