Masihkah Ada Cinta

Masihkah Ada Cinta
Bertemu Kenzhi


__ADS_3

Part 22


Bertemu Kenzhi


Kak Alby menarik pergelangan tanganku, memberi kode untuk segera kembali berkumpul dengan teman\-teman yang lain. Sembari berjalan, aku masih menyapukan pandanganku mencari\-cari sosok pria itu. Berharap, aku akan menemukannya dan bisa bertanya kenapa dia meninggalkanku begitu saja tanpa pamit, atau hanya sekadar mengucapkan terimakasih.


“Mereka sudah datang,” ujar Mirza ketika melihat aku dan kak Alby berjalan menghampiri mereka.


“Akhirnya,” sambung Rana lalu menghela napas lega.


“Kalian datang juga,” lanjutnya.


“Kamu dari mana saja Ryn? Tidak tersesat kan?” tanya Cyra.


“Aku mencari udara segar. Tidak kok, maaf membuat kalian lama menunggu.” Aku tersenyum kecil ke arah mereka.


“Tidak apa-apa, tidak perlu minta maaf. Kalau ingin minta maaf, minta maaf sama Alby. Dia sangat menkhawatirkan kamu tadi,” ujar Kenan. Ada guratan senyum lebar di bibir Kenan yang menghias wajah tampannya.


“Benar sekali, bahkan dia sangat terlihat sangat panik ketika kamu susah di hubungi,” sambung Rana.


“Alby sudah menelfon kamu berkali-kali, mungkin sekitar .... sepuluh, sampai ... dua belas kali. Tapi, kamu tidak menjawabnya satu pun. Dia juga mengirimimu pesan, tapi tidak dibalas juga. Lain kali, tolong jangan buat dia mengkhawatirkan kamu, kasihan Alby. Jika kamu tidak ingin bicara, setidak-tidaknya balas pesannya. Atau ... kabari dia lebih dulu agar tidak membuatnya panik.” Ruhan memberi nasihat.


“Iya, tidak akan. Lain kali, aku akan memberi kabar kak Alby.” Aku tersenyum tipis.


“Aku sudah membayar makanannya, mari kita pulang, hari sudah larut malam.” Ruhan memakai jaket jeansnya yang di sandarkan di kursi bagian belakang dia duduk.


“Em,” sahut yang lain mengiyakan.


Sembari berlajan menuju parkiran, aku mempergunakan kesempatan ini untuk memeriksa ponselku. Aku ingin memastikan ucapan Ruhan yang mengatakan jika kak Alby tadi berkali-kali menghubungiku. Bukan tidak percaya, hanya saja tadi aku tidak mendengar dering ponselku, atau sekadar merasakan getarannya. Dan benar, ternyata ada banyak panggilan juga pesan masuk dari kak Alby.


“By, kita balik dulu ya,” ujar Ruhan membuka percakapan.


“Ya, baiklah. Hati-hati di jalan. Kalau sudah sampai, kabari aku.” Kak Alby tersenyum ke arah Ruhan.


“Aku senang bisa mengenalmu Ryn, lain waktu kita bertemu lagi ya,” ujar Cyra.


“Iya, aku juga senang bisa bertemu dengan kalian semua. Semoga lain waktu kita bisa bertemu lagi,” sahutku.


“Iya, semoga.” Mirza menyambung pembicaraan sembari tersenyum tipis. Tidak lama kemudian teman-teman kak Alby meninggalkan parkiran, dan tidak ada yang tersisa. Tiba-tiba aku teringat kejadian tadi dengan pria bertopi hitam yang memelukku ketika aku nyaris jatuh. Aku masih merasa penasaran dengan pria itu, kenapa dia meninggalkanku begitu saja. Aku menyapukan pandanganku ke sekeliling cafe, berharap melihat pria itu sekali lagi.


“Ayo pulang,” ajak kak Alby.


“Ha?” tanyaku setengah sadar.


“Ayo, pulang. Memangnya kamu ingin menginap di sini?” tanya kak Alby.


“Tidak,” jawabku singkat.


“Siapa yang kamu cari?” tanya kak Alby penasaran.


“Tidak ada. Aku ... aku hanya ingin mencari udara segar,” jawabku.


“Udara segar? Atau ... pria yang menawan?” Kak Alby mendekatkan pandangannya, ada senyuman nakal di bibir kak Alby.


“Iih, Kakak.” Aku menjauhkan wajah kak Alby dari depanku.


“Jangan bicara sembarangan. Aku tidak mudah tertarik dengan pria, sekalipun dia menawan dan kaya.” Aku memberi penegasan.


“Aku hanya bercanda, kenapa nadanya marah?” tanya kak Alby tidak terima.


“Jelas aku marah, Kakak seperti merendahkan aku. Seleraku itu unik, dan hanya aku yang tahu.” Aku membela diri.


“Tinggi, menawan, muka-muka blasteran dua negara, jago bela diri, memiliki tubuh seperti pasukan militer, dan berprofesi sebagai dokter. Itu kan, kriteria kamu?” Kak Alby menatapku sembari tersenyum. Aku mendengarkan dengan detil setiap kata yang diucapkan kak Alby, mencoba memastikan jika apa yang diucapkannya itu benar. Nyatanya, setiap kata yang di ucapkan kak Alby itu benar. Kriteriaku memang begitu rumit, namun itulah aku. Aku menyukai hal yang rumit, dan langka.

__ADS_1


“Benar?” tanya kak Alby memastikan.


“Tidak. Itu tidak benar. Pokoknya, hanya aku yang tahu, titik.” Aku mengelak.


“Tidak perlu bohong, kamu sendiri dulu yang mengatakannya kepadaku. Apa tidak ingat?” Kak Alby mencoba mengingatkan.


“Dan ... itu ... kemungkinan hanya ada satu orang.” Mendengar ucapan kak Alby, aku tahu jelas siapa yang dimaksudnya. Meski tidak diutarakan dengan jelas, tapi langsung menjurus pada seseorang yang selama ini aku kagumi. Kenzhi, dia lah satu-satunya orang yang aku kagumi, dan mayoritas kriteriaku ada padanya.


“Aku tidak ingin membahas ini lagi. Tolong, jangan diteruskan.” Ada genangan air mata di kelopak mataku ketika aku teringat dengan Kenzhi. Dadaku selalu mendadak nyeri ketika mengingatnya.


“Maaf, Kakak tidak berniat menyinggung perasaan kamu. Lain kali, Kakak tidak akan membahas hal ini lagi.” Ada tatapan penyesalan di wajah kak Alby.


“Sebaiknya kita bergegas pulang sekarang, hari sudah semakin larut malam,” lanjutnya. Aku hanya mengangguk pelan.


*****


Sesampainnya di rumah, kak Alby dengan cepat memarkirkan motornya di garasi. Kami bergegas memasuki rumah, dan ternyata ibu sudah menunggu aku dan kak Alby di ruang tamu.


“Ibu belum tidur?” tanyaku ketika melihat ibu sedang sibuk mengotak atik ponselnya.


“Bagaimana bisa tidur, sementara anak-anakku belum di rumah,” jawab ibu.


“Maaf Ibu, kami pulang terlambat.” Kak Alby menyesal.


“Tidak apa, lupakan saja. Sebaiknya cepat tidur, hari semakin larut.” Ibu melirik ke arah arloji di tangannya.


“Iya Ibu, kami permisi ke kamar dulu,” sahutku dan kak Alby hampir bersamaan.


“Ibu juga segera tidur, tidak baik jika wanita tidur terlalu malam.” Kak Alby mengingatkan.


“Iya, Ibu akan segera tidur,” sahutnya. Setelah mendengar sahutan ibu, aku dan kak Alby bergegas pergi memasuki kamar masing-masing. Sesampai di kamar, dengan cepat aku langsung merebahkan diri di ranjang empuk milikku. Ku peluk boneka kesayanganku, mencoba mencari ketenangan, dan melepas rasa lelah.


*****


“Ryn, Ryn. Bangun lah, sebentar saja. Ayo bangun Ryn, dan lihat aku.” Suara itu kini terdengar semakin jelas.


“Lihat aku, sebentar saja.” Aku langsung membuka mataku dan ku lihat seorang pria yang tadi memelukku di cafe, duduk di tepi ranjangku. Topi hitamnya menutupi separuh wajahnya. Aku beranjak dari tidurku, dan beralih duduk. Aku merasa terkejut ketika melihatnya. Bagaimana bisa dia masuk ke sini, dan tahu jika ini kamarku. Juga, dari mana dia bisa tahu kalau namaku Ryn. Aku menggeser beberapa senti ke belakang, mencoba memberi jarak dengannya. Dadaku terasa berdebar saking terkejutya, dan napasku menjadi tidak beraturan.


“Siapa kamu? Kenapa bisa masuk kamarku?” tanyaku penasaran.


“Kamu tidak mengenaliku?’ Dia malah bertanya balik.


“Tidakkah kamu mengenal suaraku?” tanyanya lagi. Ku lihat ada guratan senyum kecil di bibirnya.


“Suara?” Aku mengingat-ingat, berharap menemukan seseorang yang suarannya mirip dengannya.


“Eh, jangan mendekat.” Aku mundur ke belakang ketika dia mendekatkan duduknya.


“Jangan takut, aku bukan orang jahat,” sahutnya mencoba meyakinkanku.


“Lalu kenapa kamu berada di kamarku? Tidak sopan. Ini sudah larut malam.” Ada nada marah dalam bicaraku.


“Aku tidak peduli kamu akan mengataiku apa. Yang jelas, aku merindukanmu.” Dia membuka topi hitam yang menutup wajahnya, dan betapa terkejutnya aku ketika melihat wajahnya.


“Kenzhi.” Ada genangan airmata yang tiba-tiba memenuhi kelopak mataku ketika mengetahui jika pria itu adalah Kenzhi.


“Ternyata kamu tidak lupa padaku.” Kenzhi tersenyum manis ke arahku.


“Apa ini benar-benar nyata? Ini benar-benar kamu?” Tanganku gemetarn ketika hendak menyentuh wajahnya.


“Ini aku. Benar-benar aku.” Dengan cepat, Kenzhi menggenggam tanganku erat.


“Kenzhi,” ujarku setengah menggumam. Air mata yang menggenang akhirnya menetes juga.

__ADS_1


“Sudah sering aku bilang, jangan menangis. Kenapa kamu masih saja menangis?” Dia perlahan mengusap air mataku dengan lembut.


“Aku ada di sini, bersamamu. Jangan kamu buang air mata saat bersamaku. Aku tidak suka melihat kamu menangis.” Kenzhi merapikan rambutku yang berantakan.


“Aku merindukanmu.” Kenzhi mendekapku erat dalam pelukannya.


“Aku juga sangat merindukanmu.” Aku merasakan getaran ketika berada dalam dekapannya. Dadaku berdebar-debar dengan keras, napasku juga menjadi tidak beraturan. Namun, aku merasa sangat senang karena bisa bersama dengan Kenzhi lagi, dan aku benar-benar merasakan nyatanya dekapan ini.


*****


“Ryn, Ryn.” Samar-samar ku dengar suara ibu setengah berteriak dari kuar kamarku.


“Ryn.” Suaranya kini terdengar lebih keras. Aku membuka mataku, dadaku terasa berdebar seiring dengan helaan napas panjang. Aku segera beralih duduk dari tidurku.


“Sudah pagi,” batinku ketika merasakan sinar matahari yang menyusup melalui celah gorden jendelaku menyilaukan mata. Kurasakan bagian bawah kelopak mataku basah, mataku juga terasa sembab. Aku melirik ke arah kasur, dan ku lihat guling yang tadi malam ku peluk terlihat basah. Dengan cepat aku beranjak dari ranjang, kemudian beralih ke depan meja rias. Mataku terlihat sembab, dan basah karena air mata. Untuk sekadar berkedip saja rasanya sakit.


“Aku bermimpi,” gumamku mengingat ketika berada di dalam dekapan Kenzhi.


“Semalam aku hanya mimpi?’ tanyaku tidak percaya. Ada genangan air mata di kelopak mataku.


“Tapi ... kenapa rasanya begitu nyata? Dia benar-benar terasa bersamaku.” Aku melihat ke arah cermin, dan terlihatlah air mataku yang kembali menetes.


“Ryn,” panggil ibu dari luar diiringi ketukan pintu. Aku cepat-cepat menghapus air mataku.


“Iya, Ibu.” Ada sedikit getaran dalam nada suaraku.


“Cepat bangun, hari sudah siang.” Ibu setengah berteriak dari luar.


“Iya, Bu.” Aku menyahut singkat setengah berteriak.


“Ibu dan kak Alby menunggu di ruang makan.” Ku dengar suara derapan kaki ibu mulai menuruni tangga.


“Iya,” jawabku singkat. Aku bergegas ke kamar mandi lalu membasuh mukaku. Setelah mengelapnya dengan handuk, aku menyisir rambutku agar terlihat sedikit lebih rapi. Setelah itu, aku dengan cepat keluar dari kamarku dan turun untuk bergabung dengan ibu dan kak Alby di ruang makan. Sesampai di ruang makan, aku menyeret beberapa senti ke belakang kursi yang kini ada di depanku menghadap meja makan. Aku mengambil selembar roti tawar lalu mengolesinya dengan selai coklat. Setelah itu, perlahan aku melahapnya.


“Kenapa kamu bangunnya siang begini? Mata kamu ... juga terlihat sembab. Kamu menangis?” tanya ibu curiga. Aku diam sejenak, mencari-cari akal untuk menjawab pertanyaan ibu dengan tetap berusaha tenang.


“Hari ini kan libur, jadi aku bisa bangun siang.” Aku menyerutup segelas susu yang tersedia di meja.


“Tapi, mata kamu terlihat sembab, seperti habis menangis. Apa ... kamu baik-baik saja?” Suara ibu kini terdengar seperti orang yang khawatir.


“Kamu sakit?” tanya ibu lagi.


“Aku ....” Aku menghentikan ucapanku. Ada keraguan untuk menjawabnya.


“Ibu, jangan khawatir, Ryn baik-baik saja. Mungkin, semalaman dia menangis karena dia terbawa mimpi dari film yang di tontonnya semalam. Dia kan mudah terbawa perasaan kalau nonton film.” Kak Alby kini melirik ke arahku.


“Kakak, jangan mengejekku seperti itu.” Aku membela diri.


“Aku tidak mengejek, itu benar. Aku bahkan sering memergoki kamu menangis ketika menonton film.” Kak Alby membenarkan.


“Memang, apa salahnya jika menangis? Itu namanya mendalami cerita.” Aku mengoleh lagi selembar roti tawar dengan selai coklat.


“Sudah, jangan mulai bertengkar,” sela ibu.


“Kakak mengejekku Bu, bagaimana aku bisa diam,” ujarku tidak terima.


“Sudah aku bilang, aku sering memergoki kamu menagis ketika menonton film. Jadi, itu bukan ejekan, tapi kebenaran.” Kak Alby membenarkan.


“Tidak, itu tidak benar.” Aku mengelak.


“Benar,” sahut kak Alby.


“Tidak.” Aku melirik sinis ke arah kak Alby. Ibu yang memerhatikan kami, hanya tersenyum tanpa memberi komentar.

__ADS_1


__ADS_2