
Part 7
Aku melihat sekeliling, entah dimana aku sekarang berada. Tempatnya begitu luas, banyak pohon ilalang bergoyang mengiringi hembusan angin kesana-kesini.
“Kenzhi.” Ku lihat sosok Kenzhi berdiri agak jauh dari lokasiku berdiri sekarang.
“Kenzhi!” seruku. Dia hanya menoleh dan tersenyum manis. Aku menyusul ke tempat Kenzhi berada, tapi dia malah lari.
“Kenzhi, jangan lari.” Aku berusaha mengejarnya, namun larinya semakin cepat.
“Zhi, jangan pergi.” Aku berhasil meraih lengan kanannya, dia menghentikan langkahnya.
“Zhi,” lirihku saat menatap wajahnya yang kini juga berbalik menatapku.
“Jangan pergi,” mohonku. Airmataku menetes, namun nyatanya dia hanya terus tersenyum.
“Kenzhi. Jawab aku!” bentakku yang lekas kesal.
“Kenapa diam saja? Berkata lah. Aku merindukanmu!” Dia masih saja tidak menyahut.
“Tidak. Biarkan aku pergi,” ujarnya seraya melepas tanganku.
“Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu pergi.” Aku berusaha menahan tanganya.
“Kini, saatnya kita berpisah. Sudah tiba waktuku untuk pergi, jangan halangi aku.” Dia melepaskan tanganku dengan paksa kemudian berlalu dari hadapanku.
“Kenzhi!” teriakku. Cepat-cepat aku mengejarnya, tapi langkahnya yang begitu cepat membuatku tertinggal jauh.
“Kenzhi!” teriakku. Kini, dia sudah tak terlihat di pelupuk mata. Aku terus mencarinya, tapi tidak kutemukan.
“Kenzhi!” Aku terus meneriakinya sembari berjalan tidak tentu arah.
“Kenzhi,” gumamku saat melihat sosok Kenzhi yang berada jauh didepan sana. Aku mengejarnya, namun menghilang. Begitulah, terjadi berulang-ulang.
“Kenzhi!” Aku terperanjat, nyatanya ini hanya mimpi. Napasku tersenggal-senggal tak terkondisikan. Terasa keringat dingin mengalir membasahi baju yang kukenakan.
“Dimana aku?” tanyaku dalam hati. Mataku menyapu luas ruangan. Ini seperti kamarku, dan benar. Ini memang benar-benar kamarku. Aku yang kini tengah terbaring di ranjang, dengan cepat menyingkap selimut yang menutupi tubuhku lalu beralih duduk ditepian.
“Apa yang terjadi? Kenapa aku disini?” terus saja aku bertanya-tanya dalam hati. Aku mencoba mengingat apa yang sebenarnya terjadi.
“Ah, Kenzhi,” gumamku teringat kejadian tadi. Kedua tanganku yang bertumpu pada paha, kini menyangga dahiku.
“Kenzhi,” lirihku. Aku tak bisa menahan airmataku yang meronta-ronta ingin cepat keluar.
“Aku tidak percaya ini,” gumamku. Aku menjadi terisak, perasaanku sangat hancur sekarang ini.
“Eh Ryn, kamu sudah sadar.” Ku dengar suara seseorang yang berada dibelakangku. Kini, dia beralih duduk di tepian ranjangku. Dia mengelus punggungku mencoba menenangkan.
“Ibu,” lirihku saat melihat yang disampingku ternyata ibu.
“Ibu tahu perasaan kamu,” ujarnya seraya merangkul pundakku. Tanpa berpikir panjang, aku langsung menghambur kepelukan ibu.
“Ibu, aku tidak percaya ini terjadi. Kenapa ini terjadi padaku Bu? Kenapa?” tangisku semakin menjadi-jadi. Napasku sesegukan tak beraturan.
“Ryn, kamu harus ikhlas,” ujar ibu.
“Biarkan Kenzhi tenang disana. Jika kamu seperti ini, kamu akan menyakitinya Ryn.” Ibu menasehatiku.
“Tidak Bu, Kenzhi belum tiada. Ibu jangan bicara seperti ini!” seruku tidak terima.
“Tapi ini faktanya Ryn, Kenzhi sudah tiada,” ujar ibu membenarkan.
“Tidak. Ini tidak benar! Informasinya pasti salah.” Aku terus saja ngeyel.
“Ini benar, Ibu sudah memastikan informasinya ke bandara.” Aku masih tidak percaya.
“Tapi ... aku ... aku ....” Aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku.
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarku. Aku segera melepas pelukan ibu, dan kulihat Sasa, Daffa, Kak Gavin masuk kedalam. Mereka menatapku iba. Sorot matanya menampakkan kesedihan. Ibu beranjak dari duduknya, digantikan oleh Sasa yang kini duduk disampingku. Sasa langsung memelukku erat.
“Sasa,” lirihku.
“Ryn, aku tahu ini berat bagi kamu, tapi kamu harus ikhlasin Kenzhi. Biarkan dia tenang disana,” ujar Sasa.
Aku melepas pelukan Sasa, kedua tanganku menutupi wajahku dan aku terisak.
“Tidak. Ini tidak benar! Kenapa kalian bicara seperti ini? Kenzhi belum tiada! Kenzhi masih hidup,” seruku.
__ADS_1
“Ryn, kamu harus sabar. Ini benar adanya, kami sudah memastikan ke bandara.” Aku masih saja tidak percaya.
“Apa yang diucapkan Sasa benar. Bahkan, kami mengeceknya lebih dari lima kali, dan hasilnya sama.” Daffa memantapkan kata-kata Sasa.
“Aku tidak percaya. Kalian bohong! Kenzhi masih hidup,” elakku.
“Ryn ....” Sasa menatapku dengan begitu iba.
Aku mengusap airmataku, aku berusaha menghela napas meski masih sesegukan.
“Biarkan aku sendiri, aku mohon kalian semua keluar,” ujarku setengah menyeru.
“Tapi Ryn ....” protes Sasa.
“Aku ingin sendiri. Jangan ganggu aku!” ujarku dengan mantap.
Beberapa detik kemudian, kamarku sudah sepi, hanya ada aku didalam. Aku kembali terisak, masih seperti mimpi rasanya. Aku tidak sanggup jika kehilangan Kenzhi.
Senja kini sudah berganti malam, tapi aku masih tidak bisa menghentikan tangisku.
“Ryn, buka pintunya. Ini Kakak, biarkan aku masuk.”Kudengar suara kak Alby dari luar, diiringi ketukan pintu.
“Tidak. Jangan ganggu aku!” seruku.
“Sebentar saja, biarkan aku masuk,” mohon kak Alby. Mungkin aku bisa bercerita dengan kak Alby.
“Dialah orang yang satu-satunya yang bisa memberiku harapan untuk percaya padaku,” pikirku.
Aku bangkit, lalu membuka pintu. Saat kulihat wajah kak Alby, aku langsung memeluknya. Rasanya aku ingin menumpahkan keluh kesahku.
“Duduklah, kamu jangan seperti ini Ryn, jangan menangis lagi,” ujarnya seraya mengajakku duduk, lalu mengusap airmataku.
“Kakak,” lirihku.
“Kenapa Kakak bicara seperti ini? Kakak ternyata sama dengan mereka. Kenzhi belum tiada Kak, dia belum tiada!” Aku tidak bisa menahan airmataku yang mengalir deras.
“Dengarkan Kakak, kamu harus kuat. Ini sudah takdir Ryn, apalagi yang bisa kita lakukan? Mengingkarinya? Itu tidak mungkin. Kenzhi sudah tiada, jangan menyakitinya dengan tangis kamu seperti ini. Airmata tidak akan menyelesaikan masalah, lebih baik kamu berdoa untuk dia.” Setiap kata yang diucapkan kak Alby terasa semakin menyakitiku.
“Tidak! Kenzhi masih hidup. Kakak jangan bicara seperti itu! Aku kira Kakak mengerti, tapi nyatanya aku salah mempercayai Kakak,” ujarku dengan napas yang masih sesegukan.
“Bukan begitu Ryn ... Kakak ... Maksudnya ....” Wajah kak Alby terlihat gugup saat aku menatapnya tajam.
“Keluar dari kamarku! Aku ingin sendiri!” Aku menarik kak Alby keluar kamar.
“Tunggu sebentar, bukan seperti itu maksud Kakak. Kakak bisa ....” Aku tidak bisa percaya lagi.
Cepat-cepat aku menutup pintu dengan keras, lalu menguncinya. Aku menghempaskan diri ke ranjang. Kupeluk boneka kesayanganku yang kini menjadi tampungan airmataku. Tanganku mengepal, dan beberapa kali aku hentakkan di ranjang. Aku geram, aku kesal. Tidak ada yang bisa kupercaya lagi.
#####
Sudah seminggu sejak kejadian itu, aku masih mengurung diri dikamar. Aku tidak pernah lagi berjumpa dunia luar, yang aku tahu hanya pergantian antara siang dan malam. Aku tidak peduli seberapa banyak alfa di daftar absen kelasku.
Aku sudah tidak peduli lagi, bagaimana kondisiku sekarang. Kondisiku mungkin sangat buruk, mataku terasa bengkak, dan fisikku sangat lemah. Aku masih membenci semua orang yang mengatakan Kenzhi tiada. Aku yakin jika Kenzhi masih hidup.
Sekarang, dirumah hanya ada aku. Ibu sudah berangkat ke restoran pagi tadi, dan kak Alby sudah balik ke Malang untuk kuliah tadi malam. Bosan juga rasanya aku dirumah. Aku akhirnya memutuskan pergi ke danau yang berada tidak jauh dari rumah. Danau itu sudah menjadi tempat favoritku ketika aku ingin mencari ketenangan.
“Ah, lega rasanya. Aku bisa menghirup udara bebas,” batinku.
Setelah sampai di danau, aku duduk bersandar dibawah pohon besar yang ada di dekat danau. Aku memutar kotak musik pemberian Kenzhi yang kini kubawa, dan muncullah boneka Cinderella menari berputar mengikui melodi. Aku begitu menikmati suasana ini, rasanya beban yang sekarang ada berkurang.
“Kenzhi,” lirihku.
__ADS_1
“Disini banyak sekali kenangan kita,” batinku.
Aku jadi teringat, waktu dulu dia memberi kejutan di danau ini. Dia sengaja membawaku kesini setelah pulang sekolah. Kemudian dari dalam tasnya dia mengeluarkan setoples permen coklat. Katanya, permen itu oleh-olehnya setelah balik dari Singapura.
Dulu, setiap libur semester, Kenzhi selalu berlibur ke Singapura. Tidak hanya liburan sih sebenarnya, sebab disanalah orangtuanya tinggal. Dan setiap pulang ke Indonesia, dia selalu menyempatkan membeli permen coklat untukku. Iya, waktu itu pertama kalinya aku diberinya permen coklat. Aku juga ingat, ketika moment pertama kami makan bersama permen coklat itu.
Saat itu, kami naik perahu yang ada ditepi danau. Kenzhi mendayungnya sampai ketengah, dan kami duduk berhadapan. Toples permen yang aku pegang itu dibuka, namun sifat jahilnya Kenzhi hadir merusak suasana.
Ketika tengah asyik memakan permen, Kenzhi mendekatkan posisi duduknya maju kearahku, dan akupun mundur menghindar. Namun, Kenzhi terus mendesakku yang duduk semakin menepi, hingga perahu itu tiba-tiba kurang seimbang, dan terbalik.
Apalagi? Tentunya kami berdua jatuh ke danau, dan permen-permen itu sudah entah bagaimana nasibnya. Bukan merasa bersalah, dia malah cengar-cengir tidak jelas. Seragam yang kami kenakan juga basah kuyup.
Aku sangat kesal, dan aku memarahinya habis-habisan. Dia hanya tersenyum kearahku, lalu malah mencipratkan air kewajahku. Karena tidak terima, aku pun membalasnya. Eh, jadinya kita main air.
Tidak terasa aku sudah terlalu lama mengingat kenangan itu. Rasanya hatiku semakin miris, dadaku terasa sesak. Aku terus memainkan kotak musik yang ku genggam, terhanyut dalam suasana musik.
“Zhi, aku yakin, suatu saat kita akan bertemu lagi. Aku yakin, kamu masih hidup.” Aku mengusap airmata dipipi.
“Ryn,” sapa seseorang dari belakang. Aku menoleh kebelakang, dan kudapati kak Gavin berdiri dibelakangku.
“Kak Gavin,” gumamku.
“Untuk apa Kakak kesini? Lebih baik Kakak pulang. Aku ingin sendiri, jangan ganggu aku!” Aku beranjak dari dudukku berniat menghindar, tapi Kak Gavin lebih dulu mencegahku. Tanganya menahan lenganku, memberi kode agar aku tidak pergi.
“Aku perlu bicara, biarkan aku disini,” mohonnya.
“Lepaskan aku.” Aku menatapnya tajam.
“Tidak. Aku tidak akan melepaskanya.” Dia mengencangkan pegangan tangannya.
“Untuk apalagi? Tidak ada yang perlu dibicarakan. Kakak sama saja dengan mereka, tidak mungkin mem ....” Aku tidak lagi menatapnya, pandanganku tertuju kearah depan.
“Aku percaya. Aku sepihak dengan kamu. Jadi, berikan aku waktu bicara.” Belum selesai aku bicara, kak Gavin sudah memotong pembicaraanku. Aku tersentak mendengar kata-kata kak Gavin, namun aku tidak bisa mempercayainya begitu saja.
“Tidak. Aku tidak percaya, pulang saja,” ujarku mengusirnya.
“Aku akan pulang, jika kamu pulang,” sahut kak Gavin.
“Sampai kapan kamu menyiksa diri seperti ini? Lihat kondisi kamu, sangat buruk. Kamu kira, dengan seperti ini Kenzhi senang melihatmu? Justru kesalahan besar sudah kamu buat. Dengan seperti ini, kamu terus menyakitinya. Bahkan, jika airmatamu habis, dan kering, itu juga tidak bisa membuat keadaan membaik.” Aku tidak bisa menahan airmataku, namun aku masih berusaha cuek.
”Aku tidak akan pulang. Apa peduli Kakak? Jangan menatapku kasihan! Kita bukan teman, hanya sebatas Kakak kelas dan Adik kelas.” Aku tidak bisa menahan kondisi labilku. Aku berkata sekenanya.
“Tidak. Aku peduli. Jika aku tidak sepihak dengan kamu, untuk apa aku kesini? Kamu salah menilai aku. Aku mengenalmu, tapi kamu tidak pernah menyadarinya. Itu tidak penting dibahas sekarang, aku hanya ingin kamu pulang. Jangan menjadi egois, dan menyalahkan banyak orang.
Aku mempercayai kamu. Aku percaya, Kenzhi masih hidup. Aku janji, akan membantu mencari informasi tentang Kenzhi. Ayahku seorang Polisi, dia punya banyak teman, dan kamu bisa memercayainya. Aku akan meminta bantuan ayahku untuk melacak tentang tragedi kecelakaan itu. Meski itu terjadi diluar negri, tapi itu tidak terlalu sulit bagi seorang polisi.” Kak Gavin melontarkan setiap kata itu dengan mantap.
“Apa ... Kakak benar-benar percaya padaku?” Aku bertanya ragu-ragu.
“Tentu saja. Kamu sudah menyakiti ibumu, dia menjadi korban egoismu. Kamu tahu? Sekarang ini dia begitu mencemaskan kamu. Pulanglah. Kita akan mencari bersama-sama kabar tentang Kenzhi, kamu bisa memegang janjiku.”
Aku sampai tidak berpikir tentang ibu, bagaimana kondisinya sekarang pun aku tidak tahu. Seminggu penuh, aku mengurung diri dan tidak pernah bertemu orang. Ah, aku pasti sudah terlalu banyak menyakiti perasaanya. Aku tidak kuat lagi berpura-pura cuek.
Airmataku mengalir dengan deras, sekarang dalam diriku berkecamuk, antara masalah Kenzhi, dan juga perasaan ibu. Aku sudah egois, dan aku juga bersikap tidak sepatutnya. Tubuhku lemas, aku langsung tersimpuh ke tanah.
“Sudahlah, jangan menangis seperti ini. Mari kita pulang,” ajak kak Gavin seraya mengusap airmataku.
Aku mengangguk pelan, mengiyakan ajakan kak Gavin. Kak Gavin membantuku berdiri, tapi tiba-tiba perutku terasa sakit, kepalaku terasa berat dan pusing. Tubuhku terasa sangat lemas, pandanganku semakin buram, lalu menjadi gelap dan aku tidak bisa mengingat apa-apa.
__ADS_1