
Part 6
Aku berjalan menuju sekolah bersama kak Gavin. Entah kenapa disepanjang koridor banyak siswa siswi melihat dengan tatapan aneh. Aku berpisah dengan kak Gavin setelah sampai dipersimpangan koridor.
Aku menghela napas sejenak, ternyata sudah banyak siswa siswi yang datang lebih dulu sebelum aku didalam kelas. Baru saja selesai meletakkan tas ranselku, bel tanda upacara dimulai berbunyi. Aku bergegas keluar kelas menuju lapangan bersama siswa siswi lainya.
“Ryn ... tunggu aku,” seru Sasa yang berada jauh dibelakangku.
“Jangan cepat-cepat. Tunggu aku,” ujar Sasa dengan napas ngos-ngosan.
“Iya, aku berjalan seperti biasa. Kamu saja yang lambat,” ejekku pada Sasa yang kini berjalan disisiku.
“Ye, jangan meremehkan aku seperti ini. Jarak kita tadi cukup jauh,” ujar Sasa membela diri.
“Daffa mana? Biasanya kalian berdua?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.
“Ehtah. Dia seperti hantu saja. Tiba-tiba muncul, dan tiba-tiba menghilang begitu saja.” Kulihat Sasa tersenyum kecut.
“Jangan bicara ngawur kamu Sa, bagaimanapun dia selalu ada untuk kamu.
Sepertinya dia suka sama kamu.” Aku menatap kearah Sasa dan kudapati wajahnya langsung memerah.
“Apa? Tidak benar, mana mungkin dia menyukaiku?” elak Sasa.
“Jangan pura-pura tidak tahu, jagalah dia sebelum pergi darimu. Atau ... kamu ....” Aku mengatakanya spontan. Aku terdiam, tiba-tiba aku mengingat bahwa apa yang aku katakan pada Sasa adalah yang terjadi denganku sekarang. Sejak dulu aku selalu berusaha menghindari Kenzhi, aku selalu berusaha menutupi perasaanku, dan sekarang aku kehilangannya.
“Atau apa? Meski aku dan dia sering bersama, tapi hubungan kita hanya teman. Tidak pernah lebih.” Raut wajah Sasa menampakkan bahwa dia menaruh harapan pada Daffa.
“Ooo. Jadi, kamu menginginkan hubungan lebih dengan Daffa?” Aku menyunggingkan senyum kecil, sembari meliriknya dengan lirikan menyindir.
“Tidak seperti itu! Maksudnya ... aku ....” Sasa semakin salah tingkah.
“Ow. Wow, sepertinya itu kode untukku. Baiklah, aku akan membantumu mengatakan kepada Daffa jika kamu menginginkan hubungan lebih denganya.” Aku rasa Sasa menjadi jengkel, karena aku terus saja menggodanya melalui setiap kata-kataku.
“Sudah, cukup. Jangan meledekku seperti ini, lebih baik kita cepat berbaris mengikuti yang lainya.” Kini Sasa berjalan selangkah lebih cepat dariku.
“Iya-iya,” ujarku sembari menyeimbangi langkah Sasa.
__ADS_1
Setelah semua peserta upacara berkumpul, upacara pun dimulai. Berawal dari pembukaan, sampai akhir susunan acara berjalan lancar. Ketika hendak dibubarkan, tiba-tiba Pak Bimo kepala sekolahku memberi kode kepada pembaca susunan upacara agar tidak dibubarkan dulu karena ada pengumuman penting. Pak Bimo mengambil alih acara upacara tersebut, raut wajahnya terlihat serius.
Entah kenapa, dadaku berdebar. Rasanya akan ada suatu hal yang tidak mengenakkan akan terjadi. Ujung-ujung jari tangan dan kakiku terasa dingin. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan diriku, tapi rasanya aneh. Tidak biasanya aku merasakan ini, namun ketika melihat wajah pak Bimo aku semakin merasa gamang.
Ah, rasanya aku seperti siswi yang akan mendapat hukuman karenma melakukan kesalahan. Tapi, kesalahan apa? Aku selalu datang tepat waktu, bolos pun aku tidak pernah. Alfa, aku juga jarang sekali. Aku menghela napas panjang, berharap akan lebih rileks setelahnya.
“Selamat pagi semua. Maaf, upacara tidak dibubarkan dulu, sebab ada beberapa pengumuman penting yang harus Bapak sampaikan,” terang pak Bimo.
“Ryn, sudah pegel-pegel nih aku berdiri terus,” keluh Sasa yang berbaris disamping kananku.
“Sabarlah, siapa tahu ada berita baik.” Aku mencoba tersenyum, meski rasanya dadaku semakin gamang dibuatnya. Sasa tidak menyahut, hanya melempar senyum kecut kearahku.
“Yang pertama, minggu depan sekolah kita akan mengikuti event pertandingan sepak bola antar sekolah. Seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap sekolah memiliki giliran menjadi tuan rumah dalam event yang diadakan. Kebetulan sekali, tahun ini sekolah kita yang menjadi tuan rumah event tersebut.
Maka, Bapak harap kalian mempersiapkan segalanyanya dengan baik. Mulai dari panitia disiapkan sebaik mungkin, hingga yang utama adalah tim sepak bola sekolah kita. Untuk tim sepak bola, lakukan latihan lebih keras lagi. Bapak akan mempersiapkan pelatih untuk kalian, jadi semangat. Raih piala juara untuk sekolah kita.” Pak Bimo menjelaskannya dengan rona berbinar-binar.
Setelah mendengar pengumuman pertama, suasana menjadi gaduh. Banyak yang sibuk berbicara dengan teman-temannya membahas event tersebut.
“Ryn. Aku suka pengumuman ini. Waahh, bagaimana nanti acaranya yah? Pasti rame dan seru.” Sasa menyenggol lengan kananku sembari tersenyum lebar.
“Hihi, iya. Kamu memang selalu benar. Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana nanti acaranya. Pastinya juga banyak pria tampan dari sekolah lain. Ah, jika aku bisa memiliki satu.” Ucapan Sasa jadi ngelantur kemana-mana. Aku sudah menebaknya, pasti dia akan membahas tentang pria tampan. Dan benar sekali dugaanku, sama sekali tidak meleset. Aku hanya menggelengkan kepalaku, aku malas menyahuti ucapan Sasa.
“Pengumuman kedua, Bapak ucapkan selamat atas keberhasilan peserta olimpiade Matematika, Bahasa Inggris, dan Mipa yang berhasil membawa pulang piala kejuaraan. Pengumuman ini memang agak lambat, karena sempat mengalami kendala kecil dalam proses penilaian juara.
Yang biasanya hanya satu bulan, kini menjadi tiga bulan. Tapi, sudahlah. Yang paling penting sekarang, sekolah kita berhasil membawa pulang piala kejuaraan.” Rona wajah pak Bimo semakin berbinar-binar.
“ Selamat bapak ucapkan untuk Yelena Freya Gayatri sebagai juara ketiga olimpiade Mipa. Kemudian, selamat untuk Gavin Pradipa Mahaprana sebagai juara satu olimpiade Matematika. Dan yang terakhir, selamat untuk Airyn Deolinda Zemira sebagai juara kedua olimpiade Bahasa Inggris. Untuk para juara olimpiade silahkan maju kedepan.” Sorak-sorai tepuk tangan nyaring terdengar.
Aku sama sekali tidak menyangka bahwa aku mendapat juara kedua dalam olimpiade itu. Saat kudengar suara pak Bimo mengucapkan namaku, rasanya seperti mimpi. Ini pertama kalinya aku mendapat juara kedua. Biasanya hanya juara harapan, dan paling tinggi yang pernah aku raih adalah juara ketiga. Itupun hanya sekali aku mendapat juara ketiga, ketika olimpiade Bahasa Indonesia.
“Wah, selamat ya Ryn, kamu mendapat juara dua,” ujar Sasa mengucapkan selamat.
“Iya, terimakasih Sa.” Pantas saja rasanya berdebar-debar, ternyata aku bisa meraih juara kedua. Ini kabar baik, aku merasa ada kelegaan dalam diriku. Tapi disisi lain, aku masih tetap merasa ada yang mengganjal dalam diriku.
“Hey, kenapa diam saja? Ayo cepat maju kesana!” seru Sasa sembari tersenyum lebar.
“Iya, bawel. Aku akan maju kok,” ujarku diiringi senyum meledek kearah Sasa. Aku mulai melangkah maju kedepan. Tubuhku jadi panas dingin begini, dan aliran darahku terasa berdesir lebih cepat. Aku berbaris sesuai dengan urutan juara yang diraih.
__ADS_1
“Selamat Ryn. Kamu mendapat juara kedua olimpiade Bahasa Inggris,” ujar kak Gavin yang berada disebelah kananku.
“Kakak juga, selamat yah.” Aku balas mengucapkan selamat. Kak Gavin melirikku dengan senyum yang menyungging kecil dibibirnya. Aku membalasnya dengan senyum simpul.
Setelah penerimaan piala masing\-masing juara, kami pun kembali kebarisan masing-masing diiringi tepuk tangan meriah dari peserta upacara. Suasana masih terasa bising memekakkan telinga. Tak jarang juga yang mengucapkan selamat kepadaku.
“Ryn. Selamat yah,” ujar Novita memberi selamat.
“Iya, terimakasih Nov.” Aku menyambutnya dengan senyum.
“Selamat yah Ryn, kamu jadi juara kedua.” Kini, Rina teman sekelasku yang memberi selamat. Dan, aku juga mengucapkan terimakasih diiringi senyum yang menyungging dibibirku.
Tak jauh didepan aku berdiri, Sasa mengacungkan dua jempolnya sembari tersenyum lebar. Aku cepat-cepat menghampirinya.
“Ah, nanti jangan lupa makan-makan. Kan dapat juara,” sindir Sasa.
“Hm, iya. Nanti kita makan bersama deh,” ujarku seraya tersenyum.
“Perhatian-perhatian. Bapak masih memiliki satu pengumuman lagi, tolong jangan gaduh.” Pak Bimo kembali menarik perhatian, dan kini suasana menjadi lebih tenang.
Aku menjadi penasaran, apa sih pengumuman ketiga. Kenapa dadaku jadi lebih berdebar seperti ini. Ku lihat, rona wajah pak Bimo menjadi lebih redup, tidak secerah tadi.
“Pengumuman ketiga, Pagi ini kita mendapat kabar duka dari salah satu teman kalian.” Aku terasa terhentak oleh setiap kata-kata yang diucapkan pak Bimo.
“Tadi, Bapak mendapat kabar dari pihak bandhara, bahwa Kenzhi, teman kalian yang dua bulan lalu mengalami kecelakaan pesawat, dinyatakan sebagai korban meninggal.”
Bagai tersambar petir rasanya. Tubuhku langsung terasa lemas seperti tak bertulang. Dadaku terasa berguncang hebat, napasku tersenggal-senggal. Aku tidak percaya, ini seperti mimpi bagiku.
“Sekali lagi, kabar duka Bapak sampaikan. Bahwa atas nama Kenzhi Rafisqy Shaquille kelas XI Mipa menjadi salah satu korban meninggal dalam kecelakaan pesawat dua bulan lalu. Maka dari itu, mari kita panjatkan doa untuknya. Semoga semua amal ibadahnya diterima disisi-Nya.”
__ADS_1
Setiap kata-kata yang aku dengar, terasa seperti ribuan tusukan yang menghujam tubuhku. Sakit, sangat sakit aku rasa. Aku tidak kuat lagi menopang tubuhku, diri ini terasa melayang, diiringi pandanganku yang semakin buram.