
Part 18
“Aku akan mendukung kamu,” ujarku meyakinkan.
“Em.” Daffa menganggukkan kepalanya.
“Terimakasih sudah mendukungku. Aku akan mengubah takdir kali ini, dan tidak akan menyerah begitu saja.” Ada senyum tipis di bibir Daffa, dan aku membalas senyum itu.
“Terimakasih juga sudah mengobatiku, tapi ... kenapa kamu bisa di sini?” Daffa menatapku heran.
“Aku? Em ... aku ....” Aku bingung ingin menjawab apa. Tidak mungkin jika aku mengatakan yang sebenarnya kepada Daffa.
“Tidak mungkin sekadar lewat kan?” tanya Daffa memotong ucapanku.
Aku menggelengkan kepala sembari tersenyum tipis, “Kebetulan tadi gelangku hilang setelah aku lewat sekitar sini, jadi aku mencarinya.”
“Oooh, tapi ....” Daffa setengah mikir-mikir.
“Ayo kita ke kelas, sudah hampir masuk,” ajakku sembari melirik ke arah arlojiku. Aku beranjak dari dudukku lalu merapikan penampilanku.
“Ah, iya benar. Kelas hampir masuk, ayo kita jalan bersama.” Daffa beranjak dari duduknya. Aku tidak menyahutnya, hanya mengangguk kecil.
*****
Sudah sepekan berlalu tentang kejadian di ruang labolatorium antara aku dan Yelena, namun sampai kini masih saja aku teringat-ingat. Beberapa hari ini juga aku tidak tahu kenapa rasanya malas berkomunikasi dengan kak Gavin, meski banyak pesan WA atau panggilan yang masuk darinya. Aku selalu membalasnya dengan singkat, dan selalu mengatakan sedang sibuk, atau sengaja ku diamkan. Bukan apa-apa, tapi kata-kata penghinaan Yelena membuat akalku terus berfikir. Aku terus berfikir tentang kak Gavin. Jika di cerna lebih dalam, Yelena memang ada benarnya. Selama ini aku seperti bergantung pada kak Gavin, dia banyak sekali membantuku. Dan ketika orang lain yang melihatnya, kemungkinan besar mereka akan menilai sama dengan Yelena. Mereka akan berkata aku memanfaatkan kak Gavin, padahal sebenarnya tidak. Aku tidak pernah menyangka akan mengenal kak Gavin dalam keadaan yang seperti ini. Aku juga tidak pernah meminta bantuannya, tapi keadaan yang membuatnya membantuku.
Malam ini hujan deras mengguyur daerah sekitarku. Hawa dinginnya begitu terasa menyusup ke dalam tubuh. Setelah selesai mengerjakan PR, aku langsung menyembunyikan diri di balik selimut tebalku, berharap rasa dingin yang ku rasakan akan berkurang. Tiba-tiba bayangan ketika aku makan malam bersama kak Gavin di warung bakso datang mengusik pikiranku. Aku memejamkan mataku sejenak, namun ingatan itu malah semakin kuat. Aku pun membuka selimut yang menutupi tubuhku, lalu beralih duduk. Ku lihat layar ponselku menyala diiringi sebuah getaran. Ternyata ada beberapa pesan masuk dari kak Gavin.
“Apa kabarmu?”
“Apa kamu baik-baik saja?”
“Kenapa tidak menjawab panggilanku?”
“Apa kamu marah padaku?” Ada airmata yang menetes ketika aku membaca pesan-pesan dari kak Gavin.
Aku menghela napasku sejenak, “Maafkan aku, tapi sepertinya lebih baik jika hubungan kita seperti ini. Aku tidak bisa untuk terus bergantung denganmu, dan menyusahkan kamu.”
__ADS_1
“Aku tidak ingin disebut lagi memanfaatkan orang lain. Ini memang salahku, seharusnya aku tidak mengenalmuu.” Aku membatinya dalam hati. Airmataku semakin sering menetes, dan aku tidak bisa menahannya untuk tidak menetes. Namun jauh di dalam lubuk hatiku, sebenarnya bukan tentang kak Gavin yang membuatku sangat merasa sakit. Tetapi, penghinaan Yelena yang juga mengatakan jika aku dulu menafaatkan Kenzhi. Dadaku sangat terasa nyeri ketika mengingatnya. Kenzhi memang sering menolongku juga melindungiku, meski aku berlaku kasar sekalipun kepadanya. Dia selalu ada dan berada di sisiku setiap waktu. Walau begitu, bukan berarti aku memanfaatkannya. Aku tidak pernah meminta dia melakukan semuanya, aku tidak memaksanya melakukan hal itu. Dia melakukannya karena kemauannya sendiri.
Aku menyeka airmataku, dan mencoba mengatur napasku agar lebih tenang. Aku mengalihkan pandanganku dan tanpa sengaja aku melihat kotak musik yang diberikan Kenzhi di atas meja belajarku. Dengan cepat aku meraihnya, lalu ku buka kotak musik itu, dan muncullah seorang boneka cinderella kecil menari berputar-putar seiring dengan melodi lagu dari kotak musik itu.
“Kenzhi,” gumamku pelan.
“Apa kabarmu sekarang? Bagaimana keadaanmu? Apa kamu baik-baik saja?” tanyaku pelan sembari menatap kotak musik yang ku pegang.
“Dulu, kamu yang selalu mengatakan kalau aku mirip seperti Cinderella, tapi sekarang tidak ada lagi yang mengatakan seperti itu. Tidak ada lagi yang mengatakan aku cantik seperti Cinderella setelah kamu pergi.” Airmataku terus menetes, membasahi baju yang ku kenakan.
“Aku merindukanmu Zhi. Aku merindukanmu,” gumamku.
“Aku juga merindukanmu.” Ku lihat sosok Kenzhi kini berdiri di depanku. Ada guratan senyum tipis di bibirnya.
“Kenzhi.” Airmataku mengalir lebih cepat.
“Kamu akan tetap cantik seperti Cinderella, sampai kapan pun.” Dia menatapku serius.
“Kenapa kamu mengatakan itu? Kenapa?” tanyaku.
“Karena hanya aku yang bisa mengatakan itu. Bukan orang lain,” jawabnya.
“Kenapa Zhi? Jawab aku? Kenapa kamu diam?” Aku terus menanyainya dengan banyak pertanyaan, tapi sosok itu tiba-tiba menghilang begitu saja tampa memberiku jawaban. Setelah sosok itu menghilang, aku tidak bisa membendung tangisku lagi. Dadaku terasa nyeri dan napasku menjadi tidak beraturan.
*****
Tepat satu bulan hari ini aku terus menghindari kak Gavin. Aku sangat jarang membalas pesan darinya. Bertemu di sekolah pun jarang, karena aku terus menjauhinya. Dimana aku melihat kak Gavin dari jauh, aku langsung berbalik arah. Aku selalu bersembunyi ketika dia mencariku.
Aku melirik arlojiku, dan ku lihat jarumnya masih menunjuk pukul setengah tiga. Aku bergegas menuju perpustakaan. Hari ini, aku mendapat pemberitahuan akan ada ulangan Biologi minggu depan, maka dari itu aku memutuskan sepulang sekolah mampir sebentar ke perpustakaan mencari buku-buku yang bisa aku jadikan tambahan materi.
“Kak Gavin.” Aku memberhentikan langkahku di depan pintu perpustakaan ketika melihat kak Gavin sedang mencari buku di perpustakaan. Dengan pelan aku menyusup masuk ke perpustakaan mencari buku, tanpa sepengetahuan kak Gavin. Mataku mengawasi gerak-gerik kak Gavin, sembari mencari buku. Dalam hatiku aku berharap dia tidak tahu aku ada di sini. Tidak lama kemudian aku melihat kak Gavin keluar dari perpustakaan, aku pun menghela napas lega. Sekarang, aku bisa mencari buku lebih leluasa lagi dengan keadaan yang tenang. Setelah menemukan buku yang aku cari, aku cepat-cepat keluar perpustakaan.
“Kak Gavin.” Aku terkejut ketika melihat kak Gavin tiba-tiba muncul di depanku ketika aku keluar perpustakaan. Wajah kami hampir bertabrakan karena posisi kita sekarang sangat dekat.
“Kenapa Kakak di sini?” Aku memundurkan langkahku ke belakang beberapa langkah.
“Kenapa kamu menghindariku?” tanyanya. Kak Gavin memajukan langkahnya.
__ADS_1
“Aku? Aku ... aku tidak menghindar.” Aku berusaha bersikap tenang, mencoba menutupi rasa gugup yang sekarang aku rasakan.
“Aku sudah mengatakan kalau belakangan ini aku sibuk bukan? Jadi, itu artinya aku tidak menghindar.” Aku mencoba mencari alasan.
“Kamu tidak pernah seperti ini sebelumnya. Kenapa kamu lakukan ini padaku?” Kak Gavin menatapku serius, dia mendekatkan wajahnya kebih dekat.
“Maksud Kakak apa? Aku tidak mengerti.” Aku memundurkan lankahku, mencoba menjauh dari tatapan kak Gavin.
“Jawab aku, apa salahku? Kenapa kamu selalu menjauh dariku? Kenapa kamu sering menghindar ketika melihatku? Pesanku juga jarang dibalas. Apa kamu memiliki masalah denganku?” Dia kini memberondongku dengan banyak pertanyaan.
“Ti ... tidak. Itu semua tidak benar,” elakku.
“Lalu kenapa? Berikan aku satu alasan untuk menjadi semua jawaban dari pertanyaanku.” Kak Gavin terus mendesakku. Setiap kali aku memundurkan langkah, kak Gavin terus saja memajukan langkahnya.
“Aku hanya ingin sendiri,” tegasku.
“Aku ... aku ingin sendiri dulu, tolong mengertilah.” Aku menatap kak Gavin serius.
“Tapi kenapa? Kenapa harus menjauh dariku? Kamu seperti menutupi sesuatu dariku, dan sudah satu bulan lamanya kamu mendiamkan aku seperti ini.” Sorot matanya seakan meminta keterangan jelas dariku. Aku menjadi bingung, aku tidak bisa menjawabnya lagi. Tidak mungkin jika aku akan mengatakan semua yang dikatakan Yelena kepadaku waktu itu.
“Maafkan aku, tapi biarkan aku sendiri dulu. Sementara ini, aku tidak ingin bergaul dengan banyak orang. Aku ... aku ingin mencari ketenangan,” jelasku.
“Kamu bohong, aku sudah tahu semuanya.” Kak Gavin tersenyum ke arahku.
“Ini semua karena Yelena bukan?” Aku hanya diam mendengar pertanyaan kak Gavin.
“Bagaimana dia bisa tahu,” pikirku.
"Jangan cemas, ada aku untuk kamu." Kak Gavin menyakinkanku.
“Jadi, jangan menghindariku lagi. Semuanya akan baik-baik saja. Jangan ada yang berubah lagi, jangan mendiamkan aku lagi.” Kak Gavin mengucapkannya dengan nada lembut. Sorot matanya terlihat sangat tulus, dan itu membuatku tersentuh. Airmataku menggenang di kelopak mata, ada ingatan penghinaan Yelena kepadaku waktu itu mengusik pikiranku.
“Tolong, jangan menghindariku,” pintanya. Kak Gavin kini menggenggam erat tanganku.
“Kak ... aku ... aku ... aku tidak bermaksud memanfaatkan Kakak selama ini. Aku ... tidak pernah berharap kita mengenal dengan kondisi yang seperti ini. Maafkan aku, maafkan aku.” Airmataku menetes, dan lama-lama menjadi sebuah tangis.
“Jangan minta maaf, kamu sama sekali tidak salah. Kita tidak merencanakan semua ini, tapi skenario Tuhan lah yang mengatur segalanya. Orang lain tidak pernah tahu yang sebenarnya karena tidak menjalaninya. Kita yang tahu, juga mengerti. Berhentilah menyalahkan diri sendiri, jangan memikirkan pendapat orang lain.” Kak Gavin menyeka airmataku. Dia mencoba menenangkanku, juga memberiku nasihat.
__ADS_1
"Okay," lanjutnya.
“Em.” Aku mengangguk pelan, lalu tersenyum kecil.