Masihkah Ada Cinta

Masihkah Ada Cinta
Bayang-bayang Kenzhi


__ADS_3

Part 15


Aku berjalan melewati koridor sembari memapah kak Gavin dengan hati-hati. Sesekali kak Gavin meringis menahan sakit, tapi dia berusaha untuk menyembunyikanya dariku.


“Kak, Kakak tidak apa-apa?” tanyaku khawatir.


“Tidak, aku baik-baik saja,” jawabnya.


“Tapi, sepertinya Kakak kesakitan. Apa kita istirahat sebentar?” tawarku.


“Tidak perlu, kita lanjut saja. Tenang, aku tidak apa-apa kok.” Kak Gavin melempar senyum ke arahku. Dia seperti tidak ingin membuatku semakin khawatir.


“Tidak. Kita duduk sebentar,” ujarku memaksa. Kak Gavin hanya diam dan menurut. Kami duduk sebentar di kursi koridor.


“Kakak yakin baik-baik saja?”tanyaku memastikan.


“Iya, aku baik-baik saja,” jawabnya lalu tersenyum.


Kulihat kaki kak Gavin membengkak, ”Kaki Kakak membengkak, kita perlu cek ke rumah sakit.”


“Ini hanya bengkak wajar kok, tidak perlu ke rumah sakit, nanti juga kempes sendiri,” tolaknya.


“Yakin?” tanyaku memastikan. Kak Gavin tidak menjawabnya, dia hanya mengangguk saja.


“Tapi Kak, kita perlu memastikan jika itu baik-baik saja.” Aku merasa tidak tega melihatnya.


“Tidak, sudah lebih baik kok. Bisa kita pulang sekarang?” tanyanya.


“Ya baiklah.” Aku membantu kak Gavin berdiri, ku lihat kak Gavin meringis menahan sakit.


“Aaaa.” Kak Gavin mengerang kesakitan ketika mulai berjalan.


“Kak, Kakak tidak apa-apa?” tanyaku panik.


“Tidak, tidak. Aku baik-baik saja,” jawabnya sambil meringis menahan sakit.


“Kita ke rumah sakit sekarang, aku mohon, jangan menolak.” Aku menatap iba kak Gavin.


“Jika tidak segera ditangani, takutnya nanti tambah parah,” lanjutku.


Kak Gavin menghela napasnya, “Ya, baiklah. Aku mau,” sahutnya.


Singkat cerita, aku naik taksi bersama kak Gavin. Selain karena aku tidak bisa mengemudi mobil, kak Gavin ternyata juga tidak membawanya. Sekitar dua puluh menit perjalanan jam, akhirnya sampai di rumah sakit. Aku duduk di kursi panjang ruang tunggu selagi kak Gavin diperiksa dokter. Jantungku terasa berdebar\-debar saat ini. Persis rasanya, ketika aku dulu menunggu Kenzhi sedang diperiksa dokter karena patah tulang pergelangan kakinya. Waktu itu, aku nyaris menangis, tapi untungnya aku bisa mengontrol airmataku untuk tidak keluar.


Tiba-tiba, pintu ruangan depanku duduk terbuka, dan aku melihat seorang siswi keluar sembari mendorong kursi roda yang diduduki seorang pria mengenakan seragam bela diri.


“Makanya, besok-besok kalau tidak siap bertanding tidak usah ikut, jadinya patah begini kan,” omel siswi itu. Rupa-rupanya kaki kanan pria itu patah, dan harus menggunakan kursi roda.


“Tadi hanya kecelakaan saja. Aku kan kuat, jadi luka seperti ini hanya hal kecil,” sahut pria itu membela diri.

__ADS_1


“Eleh. Hal kecil tapi kok teriak-teriak kesakitan,” ejek siswi itu.


“Tentu saja aku akan teriak, hanya hal itu yang bisa aku lakukan agar kamu perhatian padaku. Memangnya apa lagi yang bisa aku lakukan? Jika aku tidak sakit, kamu pasti akan tetap cuek padaku seperti biasanya. Benar bukan?” Pria itu menatap siswi di belakangnya sembari tersenyum lebar.


“Kalau iya memangnya kenapa? Apa perlu, aku memerlakukanmu seperti anak kecil? Memangnya aku siapa? Aku bukan ibumu.” Ada nada jengkel dari ucapan sisiwi itu.


“Iya, memang bukan, tapi sekarang kamu akan menjadi ibuku. Orangtuaku di luar negri, aku tinggal sendirian, jadi... kamu yang akan merawatku,” ujar pria itu dengan PD.


“Aish. Dasar modus.” Siswi itu menepuk keras pundak kanan pria itu, tapi pria itu malah terkekeh. Aku terus mengamatinya, hingga mereka berlalu jauh dariku. Airmataku tidak terasa menetes, tubuhku juga bergetar. Ketika melihat pria yang didorong tadi, aku seperti melihat sosok Kenzhi. Gaya bicaranya sangat mirip dengan Kenzhi, dan upacan dialog terakhirnya pada siswi itu, hampir sama seperti yang dulu pernah dikatakan Kenzhi padaku ketika patah tulang.


“Kenzhi.” Aku menggumam sangat pelan.


‘Jujur, aku sangat merindukanmu. Tapi, aku tidak tahu dimana kamu sekarang,’ batinku. Aku menghela napas panjang, lalu cepat-cepat ku hapus airmata yang membasahi pipi.


“Ryn.” Aku menoleh kebelakang ketika mendengar namaku disebut.


“Kak Gavin.” Aku melihat kak Gavin berdiri di depan pintu masuk dengan satu sisi di bantu kruk penyangga. Aku beranjak dari dudukku dan menghampiri kak Gavin.


“Bagaimana Kak? Apa baik-baik saja?” tanyaku.


“Tidak apa-apa kok. Sebentar yah, aku nebus obat dulu,” ujarnya, dan aku mengangguk. Aku pun mengantarnya untuk menebus obat.


*****


Singkat cerita, setelah menebus obat, aku mengantar kak Gavin pulang naik taksi.


“Terimakasih sudah mengantarku,” ujar kaka Gavin memulai percakapan.


“Jadi... karena itu kamu menolongku? Jika aku tidak menolongmu, maka... kamu tidak akan mengantarku pulang?” Pandangan kak Gavin yang tadinya lurus ke depan, kini beralih menatapku. Aku terkejut mendengar ucapan kak Gavin, sepertinya aku salah berucap tadi.


“Tidak, bukan seperti itu maksudku. Tolong, jangan salah paham dulu...” Aku mencoba menjelaskan, takut nanti kak Gavin salah paham.


“Aku bercanda, jangan di anggap serius.” Kak Gavin menatapku sembari tersenyum. Dalam hatiku aku bersyukur, kak Gavin tidak salah paham dengan ucapanku.


“Ya, baiklah. Tidak akan,” balasku sambil tersenyum.


*****


Sampai di depan rumah kak Gavin, aku bergegas turun bersama kak Gavin, lalu membayar taksi.


“Terimakasih ya Pak,” ujarku sembari mengumbar senyum ke arah bapak sopir taksi.


“Iya, sama-sama,” jawabnya kemudian berlalu.


“Yuk masuk,” ajak kak Gavin.


“Iya,” jawabku singkat lalu mengangguk. Aku memegangi lengan kiri kak Gavin, menuntunnya berjalan pelan. Meski sudah memakai tongkat penyangga, tapi masih kurang stabil kondisinya, dan aku juga tidak tega membiarkanya berjalan sendiri. Ketika sampai di depan pintu, kak Gavin menghentikan langkahnya.


“ Tunggu sebentar,” ujarnya lalu mengambil sesuatu dari saku celananya. Ternyata dia mengambil kunci rumah, dan dengan cepat dia membuka pintu rumahnya yang terkunci.

__ADS_1


“Ayo masuk,” ajaknya, dan aku mengangguk.


“Maaf ya, kalau terlihat berantakan. Hari ini bibi libur, jadi rumah belum sempat aku rapikan,” ujarnya.


“Iya, santai saja,” sahutku. Aku mengantarkanya ke kamar untuk istirahat. Untung saja kamarnya di lantai bawah, jadi tidak perlu kesulitan menaiki anak tangga. Ketika masuk ke dalam, aku terpesona melihat isi kamar kak Gavin. Ruangannya begitu luas, seperti dua kali lipat ukuran kamarku. Din sana terpampang satu lemari kaca berisikan piala-piala dan medali, juga ada sertifikat kejuaraan. Di sebelahnya ada sebuah rak buku berukuran sedanag, lalu ada sebuah piano di sudut kanan kamar yang menghadap ranjang. Di dinding kamar juga tertempel banyak foto yang menghiasi kamar. Ada foto moment ketika kak Gavin bersama teman-temanya. Kemudian foto bersama keluarganya, dan foto ketika masa kecil. Dari balita, hingga yang sudah besar pun ada. Tapi, yang menarik perhatianku, ada foto kak Gavin bersama seorang wanita yang sama-sama mengenakan seragam SMP. Mereka tersenyum dan terlihat sangat bahagia.


Aku memapah kak Gavin dan membantu duduk di ranjangnya. Sebenarnya, ini adalah pengalaman keduaku masuk ke kamar pria yang bukan saudara setelah Kenzhi. Ya, Kenzhi. Hanya dia, pria yang pernah aku masuki kamarnya. Dulu, aku sering ke rumahnya waktu Kezhi sakit patah tulang. Bahkan, sampai menginap disana beberapa hari. Padahal, waktu di rumah sakit aku sudah menemaminya setiap hari. Awalnya aku menolak untuk menginap di rumah Kenzhi, tapi dia terus saja memaksaku, dan ibu malah mengizinkan. Ditambah lagi, dia membujuk Daffa juga Sasa untuk ikut menginap di rumahnya, dan keduanya juga menyetujuinya. Ya, akhirnya aku pasrah, aku tidak memiliki asalan lagi untuk menolaknya. Dalam hatiku, sebenarnya aku memang tidak ingin menolaknya. Aku juga tidak tega melihat kondisinya waktu itu. Sudah babak belur, patah tulang pula kakinya. Apalagi, orangtuanya juga tidak ada di sisinya, dia hanya tinggal seorang diri di Indonesia. Alasanya singkat, hanya ingin mandiri. Tapi, aku juga memiliki gengsi untuk rasa ibaku. Aku tidak ingin terbawa perasaan lebih dalam, ketika aku semakin dekat dengannya.


“Kamar Kakak luas yah,” ujarku mengagumi.


“Ya begitulah. Aku dulu memang sengaja meminta yang luas, agar bisa menampung banyak barangku. Lagipula, pemandangan ruanganya juga terlihat lebih nyaman,” sahutnya.


“Itu piano Kakak?” tanyaku penasaran.


“Iya. Piano itu adalah kenangan berharga bagiku. Ayahku membelikanya ketika aku masih SD. Dulu, aku sering bermain piano itu bersama sahabat masa kecilku. Hampir tiap hari dia kesini, hanya untuk bermain piano saja. Rasanya lucu memang, jika mengingatnya.” Senyum kecil tersungging di bibir kak Gavin, tapi ada guratan kesedihan di wajahnya. Sepertinya aku salah bertanya tadi, aku jadi merasa tidak enak.


“Maaf, aku tidak bermaksud mengingatkanya.” Aku meminta maaf.


“Kenapa minta maaf? Meski kamu tidak mengingatkanya, aku selalu mengingatnya sendiri. Dia akan selalu aku ingat melalui kamarku. Disinilah kenangan-kenangan manis bersamanya tersimpan. Dan, aku akan selalu menjaganya sampai kapanpun,” jelas kak Gavin tersenyum kecil.


Mendadak aku merasa perutku sakit, dan selang berapa detik setelahnya berbunyi, memberi kode minta diisi makanan.


‘Aduh, malu-maluin ini perut, kenapa bunyi sekarang,’ batinku.


“Kamu lapar ya?” tanya kak Gavin. Kedua pipiku langsung memerah ketika mendengar pertanyaan kak Gavin.


“Maaf yah, gara-gara aku kamu jadi lapar begini,” lanjutnya.


Aku tersenyum malu, “Tidak kok Kak, santai saja. Lagipula, aku tidak begitu lapar.”


“Ya sudah, tunggu sebentar. Aku akan memesan makanan, kamu mau makan apa?” Kak Gavin mengambil ponselnya dan membuka aplikasi Go food.


“Aku... aku....” Belum selesai aku berucap, perhatianku teralihkan dengan bunyi bel penjual sate dari luar, disusul juga suara mamang tukang sate yang meneriakinya.


“Mang Dodot,” ujar kak Gavin setengah menyeru ketika melihat penjual sate melewati samping rumahnya. Tanpa pikir panjang, Kak Gavin membuka jendela di samping ranjangnya.


“Mang, beli satenya,” Teriak kak Gavin keras. Mang Dodot penjual sate itu menghentikan dorongan gerobak satenya ketika mendengar teriakan kak Gavin.


“Berapa Den?” teriak mang Dodot yang tak kalah kerasnya dari kak Gavin.


“Kamu mau sate tidak? Enak loh satenya,” tawar kak Gavin. Aku diam sejenak, memutar otak untuk berfikir.


“Ya baiklah. Aku mau,” jawabku. Yah, daripada aku kelaparan, dan tidak enak juga jika aku meminta kak Gavin membelikan makanan orderan.


“Dua Mang, di bungkus saja,” ujar Kak Gavin sembari mengangkat kedua jari tengahnya.


“Oke, siap. Tunggu sebentar,” ujarnya sembari tersenyum lebar. Mang Dodot mulai membakar satenya, dan aroma sate itu lekas menyeruak masuk ke dalam rongga hidungku. Emm, aroma khas satenya saja sangat harum, apalagi rasanya. Dari aroma itu, aku bisa langsung membayangkan bagaimana rasa satenya, pasti sangat enak.


“Enak kan aromanya?” tanya kak Gavin.

__ADS_1


“Iya,” jawabku singkat.


“Mang Dodot itu sudah menjadi langgananku sejak kecil. Rasa satenya sangat berbeda dari yang lainya, dan sebenarnya, sate mang Dodot itu menjadi salah satu makanan faforitku. Kamu tidak akan menyesal, jika makan satenya mang Dodot.” Wajah Kak Gavin terlihat sangat meyakinkan.


__ADS_2