
Part 10
Aku masih merasakan hawa panas dipipiku, rasanya ingin cepat-cepat aku membasuh muka. Aku mempercepat langkahku menuju toilet. Sampai ditoilet, aku langsung menyalakan westafel dan membasuh wajah.
“Huh, lega,” batinku selesai membasuh wajah. Aku menatap wajahku dicermin, lalu menghela napas panjang. Masih ada sisa-sisa kegugupan dalam diriku.
“Kenapa? Gugup?” Aku terkejut mendengar suara orang disampingku.
“Sasa,” ujarku saat melihat yang disampingku adalah Sasa.
“Kenapa kamu disini? Sejak kapan?” Aku berusaha menutupi kegugupanku dan bertanya seperti biasa.
“Sejak tadi. Aku tuh nyusulin kamu kesini. Abisnya ngeloyor aja, main tinggal-tinggal lagi.” Kini Sasa melirikku dengan rona jutek. Aku baru ingat sekarang, tadi setelah kejadian itu aku langsung pergi meninggalkan kantin buru-buru, dan lupa jika ada Sasa yang menunggu diluar.
“Maaf. Aku benar-benar lupa kalau ada kamu menunggu diluar, jangan marah ya?” Aku menatap Sasa memelas, tapi dia malah tertawa menatapku.
“Kenapa kamu tertawa? Ada yang lucu?” Aku merasa tawa Sasa itu tawa mengejek karena kejadian tadi. Aku masih berusaha tenang seperti biasa.
“Banget,” jawab Sasa mantap.
“Aku melihat semuanya tadi. Wajah kamu sangat merah, pasti karena malu kan? Jangan ditutup-tutupin. Aku kenal kamu sejak lama, jadi paham lah. Dan, sekarang masih gugup kan?” Sasa menatapku semakin dekat dengan tatapan menggoda.
“Apaan sih kamu Sa? Tidak, aku biasa saja. Jangan bahas itu lagi, kamu tidak merasakan apa yang aku rasakan.” Aku menatap Sasa kesal.
“Jangan marah, aku bercanda saja. Memangnya apa yang kamu rasakan? Ayo beri tahu aku. Aku memang tidak merasakan, tapi setidaknya aku tahu apa yang kamu rasakan,” ujarnya sembari tersenyum mengejek.
“Bicara apa kamu? Itu hanya kejadian tidak sengaja,” ujarku membela diri.
Kulihat seorang siswa tiba-tiba masuk kedalam, spontan saja aku dan Sasa berteriak.
“Hey, apa yang kalian lakukan disini? Kenapa kalian disini?” Siswa yang masuk itu juga terkejut.
“Kenapa kamu masuk? Ini toilet wanita, kenapa disini?” Aku balik bertanya.
“Bicara apa kamu? Ini toilet pria. Sudahlah, aku tidak peduli. Minggir, aku akan masuk.” Siswa itu nampak tidak memperdulikan aku dan Sasa, dia main menerobos saja.
“Apa benar, aku salah masuk toilet?” pikirku. Aku cepat-cepat keluar toilet, dan sampai diluar aku menatap ke atas pintu. Disana tertulis, ”TOILET PRIA”. Ah, ternyata benar, aku keliru. Aku menepuk beberapa kali kedua pipiku dengan tangan.
“Kenapa jadi kacau begini?” batinku. Aku jadi merasa semakin malu.
“Ini, minum.” Sasa yang kini disampingku menyodorkan sebotol air mineral.
“Aku?” Aku mentap penuh tanya kearah Sasa.
“Kenapa? Cepatlah minum. Kamu sangat dehidrasi.” Sasa menyodorkanya lebih dekat.
“Ya, sepertinya begitu.” Aku menyambar botol ditangan Sasa lalu meminumnya.
“Hey, ayo cepat kita kesana! Pertandingannnya sudah mau mulai,” ujar salah satu dari segerombolan siswi yang kini melintas didepanku.
Mereka terlihat terburu-buru menuju lapangan. Rupanya pertandingan sepakbola sudah dimulai.
“Ayo kita ikut kesana,” ajak Sasa sembari menarik lenganku.
“Eh, Sasa. Tunggu dulu, pelan-pelan.” Sasa tidak memperdulikan bicaraku, dia berjalan setengah berlari sembari menarikku. Aku yang berada selangkah dibelakangnya merasa agak keteteran.
Sampai dilapangan, suasananya terlihat sangat ramai. Banyak siswa\-siswi bersorak sorai mendukung tim masing\-masing. Kali ini, tim sekolahku yang bertanding melawan sekolah SMA Taruna Bangsa. Aku dan Sasa mencari tempat duduk yang kosong, dan kudapati berada di barisan tengah urutan keempat dari atas. Semakin berjalanya waktu, pertandingan semakin seru, dan persaingan mencetak gol semakin ketat.
Sorak-sorai supporter sokolahku semakin ramai ketika salah satu anggota tim sepakbola sekolahku yang dipimpin kak Gavin berhasil mencetak gol, dan berhasil memimpin dibabak awal. Selesai babak awal, pertandingan diistirahatkan lima belas menit.
“Ryn, aku ke kantin bentar ya, laper nih,” ujar Sasa sembari memegang perutnya.
“Makan mulu, nanti gendut kamu. Katanya mau yang langsing, tapi kok banyak makan?” sindirku. Sasa meringis kearahku.
“Yee, kan tadi abis sorak-sorak. Berkurang banyak nih, tenagaku. Mau nitip tidak? Mumpung baik hati.” Sasa menatapku dengan senyum lebar.
“Ya sudah, boleh deh aku nitip. Beliin donat dua bungkus yah, sama roti selai strowbery satu, coklat satu, keju satu. Oh iya, air mineral satu.” Tanpa aku sadari, Sasa menatapku heran.
“Kenapa? Ada yang salah?” tanyaku.
“Ternyata, kamu punya selera makan banyak juga yah,” ujar Sasa setengah menggumam sambil menggaruk-garuk kepala.
“Biar saja. Toh, yang penting aku kenyang,” ujarku membela diri.
“Ya, ya, ya. Terserah saja. Aku pergi dulu,” ujarnya lalu pergi.
“Tadi bilang padaku jangan banyak makan, tapi sekarang dia juga banyak makan. Heeh, aneh.” Kudengar Sasa menggerutu, tapi aku hanya tersenyum saja.
“Daffa,” gumamku melihat Daffa yang duduk dilapangan melepas lelah setelah bertanding, dihampiri seorang siswi yang membawa sebotol air mineral dan handuk kecil. Siswi itu menghampiri dengan menyunggingkan senyum lebar dibibirnya.
__ADS_1
“Ah, ya ampun.” Aku terkejut, dan mengatupkan kedua tanganku dimulut saat melihat siswi itu dengan sikap centilnya mendekati Daffa.
Tidak hanya memberikan sebotol mineral saja, tapi dia juga mengelap keringat yang menetes di dahi Daffa menggunakan handuk kecil yang dibawanya. Sementara itu, Daffa terlihat mengiyakan dan bersikap biasa saja.
Aku jadi memikirkan perasaan Sasa, jika dia melihatnya pasti akan cemburu berat.
Aku juga pernah merasakanya, dulu. Iya, waktu itu Kenzhi tengah istirahat seusai mengikuti perlombaan pencak silat.
Aku berjalan dengan membawa obat P3K menuju ruang perlombaan pencak silat. Aku akan menemui Kenzhi disana. Hari ini, dia mengikuti lomba pencak silat antar sekolah. Waktu istirahat, adalah waktu yang tepat bukan? Selain mengobati lukanya akibat terkena pukulan lawan tadi, aku juga sudah mempersiapkan makan siang untuknya didalam tas ranselku.
Jarang-jarang aku mau melakukan hal ini.
Jika bukan karena dia memaksaku kemarin, aku tidak akan datang memeberi support dan melihatnya bertanding. Sebenarnya, alasanku selalu menolak untuk melihatnya bertanding, bukan karena tidak mau. Tapi, aku tidak ingin terbawa perasaan ketika nanti melihat Kenzhi didekati wanita lain. Aku juga tidak tega melihatnya terluka ketika bertanding.
Aku berhenti didepan pintu ruangan, lalu menghela napas sejenak. Kulihat, Kenzhi yang tengah istirahat sedang diobati oleh Yelena. Jarak mereka juga sangat dekat. Apalagi, sesekali Kenzhi mengaduh sakit, Yelena semakin memperlakukan Kenzhi dengan manja.
“Baiklah, waktu yang tidak tepat. Rupanya aku salah, datang kesini. Teruskan saja,” batinku menggerutu waktu itu lalu pergi.
Uh, jika mengingat kejadian itu, rasanya kesal sekali. Sama seperti saat ini aku melihat Daffa bersama siswi itu.
“Hey! Kenapa melamun seperti itu? Memikirkan apa?” Aku terkejut mendengar suara Sasa yang kini menyadarkan lamunanku.
“Tidak. Sini makananku,” aku menyambar kantong plastik berisi makananku, sementara Sasa yang melihatku hanya menggelengkan kepala.
Pertandingan babak kedua sudah dimulai, siswa-siswi yang tadi berhamburan pergi jajan, atau entah kemana, kini sudah kembali memenuhi lapangan untuk melihat pertandingan. Sorak sorai semakin terdengar bising dan memekakkan telinga. Persaingan untuk mencetak gol semakin ketat. Tidak ada yang bisa mencetak gol hingga akhir waktu. Tim sekolahku yang memiliki keunggulan skor satu kosong, kini memenangkan pertandingan semifinal dan berhasil melaju ke babak final.
Aku berjalan pulang melewati koridor bersama Sasa. Entah kenapa, banyak siswa-siswi nampak memerhatikanku diam-diam. Mereka juga sesekali fokus dengan ponsel mereka sembari menahan tawa. Aku jadi merasa bingung, apa yang mereka tertawakan? Apakah penampilanku aneh? Apa ada yang salah? Aku terus memikirkanya, Rasanya tidak nyaman, tapi aku tetap berusaha biasa saja dan cuek.
Sampai didekat gerbang, aku memberhentikan langkah, juga Sasa. Aku melihat Daffa sedang bercakap-cakap dengan siswi tadi. Siswi itu mengucapkan salam perpisahan dengan manja pada Daffa. Tidak hanya sampai disitu, dia juga mencubit gemas pipi kanan Daffa lalu pergi begitu saja sembari melambaikan tangan dan tersenyum lebar. Aku melirik kearah Sasa, dia terlihat cemburu.
“Jangan melirikku. Aku juga melihatnya,” ujar Sasa kesal sembari menatapku geram, lalu pergi meninggalkan aku begitu saja.
Aku masih bingung, tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka. Dulu-dulu, mereka selalu kompak dan bersama-sama. Tapi sekarang, mereka terlihat jauh. Bahkan hari ini, aku tidak sama sekali bertatap muka dengan Daffa ketika aku bersama Sasa sekalipun.
“Lebih baik aku mengejar Sasa. kasihan juga, dia pasti sedih,” batinku.
Ketika aku berjalan beberapa langkah kedepan, kudengar suara kak Gavin memanggilku dari belakang. Dia menghampiriku dengan napas ngos-ngosan.
“Kak Gavin. Kenapa Kakak ngos-ngosan begini? Ada apa memanggilku?” tanyaku. Aku merasa agak gugup kali ini, masih terbawa suasana malu karena kejadian tadi. Kak Gavin diam sejenak, lalu mengatur napasnya.
“Aku sejak tadi mencari kamu kemana-mana, tapi ternyata ketemunya disini. Sekarang kamu ikut aku, ini penting.” Dia menatapku serius kali ini.
“Ada apa? Kenapa?” tanyaku bingung.
“Aku akan menunjukkan sesuatu, ini sangat penting. Aku tidak bisa mengatakanya disini,” ujarnya.
“Memangnya kenapa? Penting bagaimana?” Aku masih saja tidak mengerti dengan ucapan kak Gavin.
Kak Gavin melirik kearah kanan dan kiri, lalu melirik kearahku. Dia memberi kode bahwa sekarang banyak siswa\-siswi memperhatikan kami. Aku terkejut, kenapa mereka memandang kami dengan tatapan aneh seperti ini.
“Ah, ya ampun. Banyak sekali,” batinku.
“Oh, ya. Aku ingat. Ayo kita pergi,” ajakku mencoba bersikap seperti biasa dan cuek dengan mereka yang memerhatikan.
Kak Gavin tersenyum kearahku dan mengangguk. Tanpa aku sadari, kak Gavin menggandeng tangan kananku berjalan menuju parkiran mobil. Sampai disana, kami langsung masuk ke mobil, dan tak lama kemudian kak Gavin melajukan mobilnya keluar sekolah. Mobilnya melaju agak kencang, dan kami saling diam.
Aku jadi penasaran, hal penting apa? Sesuatu apa? Apa ada sesuatu buruk akan terjadi? Pikiranku terus berkecamuk, oleh pertanyaan-pertanyaan yang meronta meminta jawaban. Akhirnya, kuberanikan diri bertanya.
“Eum, Kak. Ada apa sebenarnya? Kenapa Kakak tadi memanggilku?” tanyaku penasaran.
“Aku mendapat WhattsApp dari ayah, jika ada kabar tentang Kenzhi dari Singapura. Ini sangat penting untukmu bukan? Hanya kita yang tahu, jadi aku tidak bisa mengatakanya disana,” ujar kak Gavin dengan tatapan lurus kedepan.
“Benarkah ada kabar tentang Kenzhi?” tanyaku antusias.
Aku merasa memiliki sebuah harapan tentang kebenaran. Aku berharap, berita tentang kematian Kenzhi itu tidak benar. Aku yakin, Kenzhi masih hidup.
“Iya, tapi aku belum tahu jelas bagaimana kabarnya. Makanya aku mengajakmu ke kantor polisi tempat ayahku bekerja, dan kita akan mengetahuinya setelah sampai disana.. Aku harap, apapun kabarnya, kamu siap menerima.” Kini, kak Gavin menatap kearahku.
__ADS_1
“Iya. Apapun itu, aku akan menerima. Terimakasih, Kakak banyak sekali membantuku.” Aku menatap kearah kak Gavin sembari tersenyum kecil.
“Aku sudah berjanji padamu tentang masalah ini, jadi aku akan memenuhi janjiku. Kita teman bukan? Seorang teman yang baik, akan membantu temanya dalam masalah.” Meski tidak menatapku, tapi dia menyunggingkan senyum manisnya.
Aku jadi menyesal, pernah mengatakan dia bukan temanku. Padahal, dia banyak membantuku.
“Kakak benar, seorang teman akan membantu temanya yang kesulitan,” ujarku tanpa ekspresi.
Setelah sampai dikantor polisi, kak Gavin memarkirkan mobilnya, dan kami segera turun dari mobil kemudian masuk kedalam. Aku diam sejenak, lalu mengehela napas panjang. Ada keraguan dalam diriku, Apakah Kenzhi benar-benar tiada, atau masih hidup?
“Ayo kita masuk, kita tidak memiliki waktu banyak. Ayahku hanya menjanjikan waktu satu jam, sebab dia nanti ada rapat penting.” Kak Gavin menoleh kearahku.
‘Iya, mari kita masuk,” ujarku lalu menoleh ke arah kak Gavin. Aku dan kak Gavin masuk ke kantor. Sampai didalam, kami menemui seorang polisi wanita yang duduk menghadap meja didepanya sembari mencatat sesuatu dibuku kecil.
“Permisi, selamat sore,” sapa kak Gavin.
“Oh iya, ada yang bisa saya bantu?” tanya polisi wanita itu tanpa berpaling dari buku kecilnya.
“Bibi Ana, ini aku, Gavin. Apakah Ayahku masih didalam? Aku ingin menemuinya,” tanya kak Gavin. Begitu mendengar kak Gavin menyebutkan namanya, dia beralih menatap ke arah kak Gavin.
“Ooh kamu Gavin. Maaf, Bibi tidak memerhatikan. Ayah kamu ada diruangannya, temui saja kedalam.” Dia menatap kak Gavin sembari tersenyum kecil.
“Terimakasih Bibi,” ujar kak Gavin. Aku dan kak Gavin lekas berlalu dari hadapan polisi itu.
“Eh, tunggu dulu. Ini siapa? Tidak biasanya kamu kesini bersama wanita,” cegah polisi itu saat kami baru saja melewatinya beberapa langkah. Polisi itu berbalik menatap kearah kami. kini dia nampak memerhatikanku.
“Dia temanku,” jawab kak Gavin singkat.
“Ouw, baiklah. Yaa, aku mengerti,” ujarnya sembari tersenyum penuh arti.
“Dasar anak muda,” ujarnya setengah menggumam lalu berbalik lagi kearah meja. Sementara itu, aku dan kak Gavin segera menuju ruang kerja ayah kak Gavin. Ayah kak Gavin ternyata sudah menunggu didepan ruangan.
“Aaah, ternyata kalian sudah sampai,” sambut ayah kak Gavin yang melihat aku dan kak Gavin datang.
“Sore Om,”sapaku lalu tersenyum kecil.
“Iya, sore juga. Karena kalian sudah datang, maka langsung saja kita masuk,” ajak ayah kak Gavin memasuki ruangan. Aku dan kak Gavin mengangguk, kami mengikuti ayah kak Gavin yang lekas memasuki ruangan.
“Jadi, kamu mencari sahabat kamu yang hilang ya?” tanya ayah kak Gavin sembari duduk dikursinya menghadap laptop yang berada diatas meja kerjanya.
“I ... iya Om,” jawabku lalu mengangguk kecil.
“Kalau begitu, apapun hasilnya kamu harus siap menerimanya,” ujarnya mewanti-wanti.
Aku menjadi gugup rasanya. Aku diam sejenak, pikiranku berkecamuk. Banyak pertanyaan-pertanyaan buruk tentang kenzhi sedang menari-nari.
“Apapun itu, asalkan itu benar. Saya ... saya akan menerimanya,” ujarku.
“Baiklah.” Dia lekas menyalakan laptopnya, dan memulai mengotak-atiknya.
“Aku sudah menghubungi seorang teman polisiku di Singapura, aku meminta data tentang korban kecelakaan itu, lalu rekaman cctv di TKP. Aku juga sudah memeriksa rekaman cctv di sekitar bandara, sebelum keberangkatan. Sebelum pesawat berangkat, ada seseorang yang gerak-geriknya mencurigakan. Dia juga ikut naik dalam pesawat tersebut menuju Singapura. Kalian bisa melihat rekaman cctv sekitar bandara sebelum keberangkatan.” Ayah kak Gavin menujuk kearah laptopnya. Aku dan kak Gavin melihat video rekaman itu, dan memang terlihat seorang pria memakai jas abu-abu berkacama hitam dan topi hitam terlihat mencurigakan.
“Sementara, dalam rekaman cctv di bandara Singapura, pria yang berpakaian sama juga ada disana. Kecelakaan terjadi ketika penumpang lekas turun meninggalkan pesawat, pria itu turun paling awal dari penumpang lain dan terlihat buru-buru. Sekitar sepuluh menit kemudian, pesawat meledak. Banyak korban meninggal, juga luka berat.” Ayah kak Gavin menunjukkan video rekaman cctv bandara Singapura.
“Jadi ... Itu seperti direncanakan? Dan itu disengaja? Lalu, secara inti bisa disebut bukan kecelakaan?” sela kak Gavin bertanya.
“Sepertinya kamu benar, ini direncanakan. Motifnya masih belum diketahui, mengapa melakukan peledakan dipesawat. Namun, sepertinya ada yang diincar oleh peledak. Dan, pria itu bisa saja pelakunya. Dia masih menjadi buronan sampai sekarang,” jelas ayah kak Gavin.
Tubuhku bergetar, detak jantungku terasa lebih cepat. Kenapa dilakukan peledakan? Apa salah Kenzhi, sampai dia juga ikut terlibat menjadi korban dipesawat? Kenapa? Aku merasa geram, aku merasa sangat kesal.
“Dalam data korban luka-luka tidak ada nama sahabatmu, dan data korban meninggal yang diketahui identitasnya juga tidak ada. Namun, ada satu korban meninggal yang seluruh tubuhnya terkena luka bakar seirus, bahkan wajahnya tidak bisa diidentifikasi dengan jelas. Tapi, tanganya memegang tas ransel yang didalamnya ada kartu tanda pengenal bernamakan sahabatmu.” Kini ayah kak Gavin menatapku serius. Dia kemudian mengotak-atik laptopnya, lalu menunjukkan foto tas ransel, kartu tanda pengenal, dan korban meninggal dengan wajah yang benar-benar sama sekali tidak bisa dekenal. Aku mengatupkan kedua tanganku dimulut, rasanya aku tidak memercayainya, tapi bukti nyata ada didepan mataku.
“Jadi, korban meninggal itu bisa dikatakan sahabat saya?” tanyaku.
“Iya. Setelah melakukan pemeriksaan, pihak rumah sakit dan polisi menyatakan itu sahabat kamu. Sebelum akhirnya data itu dikirim ke pihak bandara di Indonesia. Maaf, tapi itu kenyataan yang didapati. Kamu harus bisa menerimanya,” ujar ayah kak Gavin.
“Iya, saya mengerti.” Aku mengangguk kecil.
Airmataku meronta ingin keluar, wajahku memerah menampung kesedihan, tapi aku menahanya.
“Maaf, aku hanya bisa membantu sampai disini,” ujar ayah kak Gavin.
“Terimakasih, Om sudah membantu saya terlalu banyak. Sekarang, bukti sudah saya lihat, dan saya memercayainya.” Aku berusaha untuk tetap terlihat tenang.
“Permisi, maaf saya menganggu. Pak, sekarang anda sudah ditunggu diruang rapat. Mohon segera hadir,” ujar seorang polisi pria yang tiba-tiba datang. Ayah kak Gavin mengangguk, lalu mengisyaratkan polisi itu untuk pergi. Sementara itu, aku dan kak Gavin sejenak bertukar pandang.
“Semua sudah jelas, maaf saya terlalu banyak menyita waktu bekerja Om. Terimakasih, sudah banyak membantu, saya mohon undur diri,” ujarku.
“Ayah, kami pamit pulang,” sambung kak Gavin.
“Ya, baiklah. Ingat Nak, jangan menjadi rapuh karena suatu masalah. Tetap semangat, sebab masih banyak harapan baru dimasa depan.” Ayah kak Gavin menatapku sembari menyungginkan senyum manis.
“Em. Iya, terimakasih Om. Kami pamit dulu,” ujarku lalu tersenyum kecil. Aku dan kak Gavin kemudian berlalu dari ruangan itu.
__ADS_1