
Part 17
Sinar mentari pagi yang menyusup di tengah\-tengah gorden jendela kamar menyilaukan mataku yang tengah terpejam. Perlahan aku pun membuka mata, kemudian beranjak dari tidurku. Uh, rasanya badanku sekarang lebih terasa nyaman, rasa lelah yang kurasakan kemarin kini tidak ku rasakan lagi. Dengan cepat, aku bersiap\-siap untuk berangkat sekolah. Tidak perlu banyak waktu, kini aku sudah berdiri di depan cermin sembari merapikan penampilanku. Tidak lupa juga kuberikan polesan make up tipis agar tidak terlihat pucat. Setelah memastikan semuanya sudah rapi, aku bergegas turun menuju ruang makan seperti biasa. Sampai di sana, ibu sudah menyiapkan roti selai kesukaanku dan segelas susu.
“Wah, kelihatanya itu lezat,” ujarku sembari menyeret kursi yang menghadap meja ke belakang beberapa centi.
“Hey, duduk dulu. Jangan langsung nyerobot seperti itu,” tegur ibu yang datang dari dapur ketika melihatku makan sambil berdiri.
“Hehe, iya iya. Maaf,” sahutku lalu duduk.
“Aku sagat lapar, dan ini rasanya sangat enak.” Aku tersenyum sambil melirik ke arah ibu.
“Kebiasaan. Makanya, jangan susah makan. Kalau lapar seperti ini, baru mau makan,” ujar ibu menasehati.
“Iya-iya Ibu, tidak akan. Hanya saja, aku membatasi porsi makanku. Aku tidak ingin gendut,” jawabku sambil cengengesan.
“Oh iya, bagaimana keadaan Gavin sekarang?” tanya ibu sembari menyeret kursi yang berhadapan denganku ke belakang beberapa centi lalu duduk.
“Emm, ya, begitulah. Aku tidak bisa menjelaskan,” jawabku lalu meneguk segelas susu.
“Tidak bisa mejelaskan bagaimana? Kamu yang bersamanya, masa iya tidak tahu persis kondisi dia?” tanya ibu penasaran. Rona wajahnya sangat jelas, ada guratan penasaran, dan juga khawatir.
“Kamu harus bersikap baik padanya, dia sudah banyak membantu. Jangan perlakukan dia dengan kasar, seperti sikap kamu pada Kenzhi dulu. Dia orangnya baik, juga sopan.” Ibu mewanti-wantiku. Aku yang sedang megoles selai di atas roti menjadi diam ketika mendengar ucapan ibu. Ada degupan kencang mendadak, ketika nama Kenzhi disebut. Aku jadi mengingat tentang perlakuan kasarku pada Kenzhi. Pikiranku sekarang menjadi sesak karena ingatan-ingatan itu. Hatiku terasa sakit, ketika mengingatnya. Aku sangat merasa menyesal pernah bersikap seperti itu. Andai saja bisa diulang dari awal lagi, tidak akan aku ulangi hal yang sama.
Aku menghela napas sejenak, “Tidak akan Ibu, dia teman yang baik bagiku.” lalu tersenyum lebar ke arah ibu.
“Ya, baguslah. Jangan sampai lupakan hal itu,” nasehat ibu.
“Iya,” jawabku dengan nada meyakinkan.
*****
Aku berjalan santai melewati koridor sembari menghirup puas-puas udara pagi yang segar ini. Setelah lama berjalan, akhirnya kelasku sudah terlihat dari kejauhan. Di depan kelas, terlihat Yelena sedang berdiri dengan raut yang kurang mengenakkan. Dia seperti sedang menunggu seseorang. Selang beberapa detik kemudian dia menoleh ke arahku, dan dengan tatapan sinis dia mendekatiku. Aku hanya diam, tidak mengerti tentang maksud Yelena. Dengan kasar, dia menarikku dan membawaku ke ruang labolatorium. Aku menjadi semakin tidak mengerti dengan maksud Yelena, tapi dia tampak marah padaku.
“Wah, sepertinya sudah bisa move on ya?’ tanyanya tiba-tiba.
“Maksud kamu apa? Aku tidak mengerti,” jawabku.
“Jangan pura-pura!” serunya. Jantungku berdegup lebih kencang mendengar seruan Yelena.
“Sekarang, jawab aku.” Dia menatapku sinis dengan mata melotot.
“Apa hubungan kamu dengan kak Gavin?” Aku terkejut ketika mendengar pertannyaan itu.
“Kenapa dia bertanya tentang hal ini?” pikirku.
“Kami hanya teman,” jawabku singkat.
“Teman?” Dia tersenyum kecut, “Tidak mungkin. Jawab aku dengan jujur!!” desaknya.
“Kami hanya teman, tidak lebih.” Aku menegaskan.
“Kalau teman, kenapa begitu dekat? Jangan bohong.” Sekarang lebih tepatnya aku sedang di interogasi. Tapi untuk apa? Aku benar-benar tidak mengerti.
“Yelena, aku benar-benar berkata jujur. Maksud kamu apa menginterogasiku seperti ini?” Aku balik tanya.
__ADS_1
“Masih tidak mengerti juga? Jangan munafik kamu Ryn.” Dia sekarang malah mengataiku munafik, padahal aku masih berusaha untuk bersikap tenang, dan bertanya baik-baik.
“Jangan sembarangan bicara kamu Yelena. Maksud kamu apa, menyebutku munafik?” Aku tidak bisa bersikap tenang lagi sekarang.
“Jangan mendadak bodoh di depanku Ryn.” Yelena menatapku dengan senyum kecut.
“Kamu dulu begitu pandai memanfaatkan Kenzhi, sampai dia tergila-gila denganmu. Sealipun aku mendekatinya, dia tetap memilihmu. Dan sekarang, setelah Kenzhi tiada, kamu mendekati kak Gavin. Untuk apa? Sekedar pelarian? Mencari belas kasihan? Atau, hanya sebagai alat? Seperti dulu kamu memerlakukan Kenzhi.” Aku sangat terkejut mendengar ucapan Yelena, dia sangat merendahkanku kali ini. Jantungku berdegup kencang, tubuhku gemetar, sekarang aku benar-benar naik darah. Bisa-bisanya dia berkata seenak jidat seperti itu. Memangnya dia siapa? Berani menilaiku seperti ini.
“Dengarkan aku baik-baik, aku tidak akan tinggal diam jika kakakku kamu manfaatkan seperti Kenzhi. Dia orang yang baik, dan tidak pantas jika dia bersamamu. Jangan pernah berharap, kamu memiliki hubungan lebih dari teman. Karena itu tidak akan mungkin terjadi,” ancamnya. Jari-jariku mengepal, aku sangat jengkel dengan Yelena. Ingin rasanya aku meninjunya.
“Yelena, cukup. Aku tidak pernah sekalipun ingin memanfaatkan kak Gavin, atau Kenzhi. Tolong, jangan berkomentar seenaknya jika tidak tahu kondisi sebenarnya,” tegasku lalu pergi.
“Hey! Berhenti, aku belum selesai bicara!” serunya lantang, tapi aku tidak menghiraukannya. Dadaku terasa nyeri, sakit sekali rasanya mendengar penghinaan Yelena tadi. Tidak terasa airmataku menetes, aku pun cepatcepat menyekanya. Aku berlari menuju lapangan sekolah, tidak jauh dari sana, ada sebuah pohon besar dan aku segera sembunyi di sana. Aku rasa itu tempat yang cocok untukku meluapkan rasa kesalku karena mendengar penghinaan Yelena tadi. Sampai di sana, aku duduk bersandar dan meluapkan semua kekesalanku. Airmataku berderai-derai membasahi baju seragam yang ku kenakan. Ingatanku tentang penghinaan Yelena tidak kunjung hilang dari pikiranku, sehingga aku terus merasa kesal. Rasanya menyesal juga, kenapa tadi tidak ku tinju bibir nyinnyirnya.
“Aaaahh, kenapa jadi seperti ini!” Aku mendengar seseorang menggerutu. Aku cepat-cepat menyeka airmataku dan menghela napas sejenak. Aku beranjak dari dudukku dan mencari sumber suara yang ku dengar.
“Daffa,” gumamku ketika melihat Daffa berdiri tidak jauh dariku. Raut wajahnya terlihat seperti orang yang frustasi. Penampilan yang biasanya terlihat rapi, kini acak-acakan.
“Aaaaaaaaaa,” teriaknya sembari memukul-mukulkan tangannya ke pohon yang berada di depannya. Cepat-cepat aku menghampirinya.
“Daf,” sapaku dari belakang.
“Ryn.” Daffa menoleh ke belakang, dan terkejut ketika melihatku.
“Sejak kapan kamu di sini?” tanyanya.
“Sejak tadi. Apa yang terjadi? Kenapa kamu seperti ini?” Aku balik bertanya.
“Tidak, tidak ada apa-apa. Hanya masalah kecil, dan pribadi,” jawabnya. Raut wajahnya seperti menyembunyikan sesuatu, seperti tidak ingin aku ketahui.
Daffa diam sejenak, “Aku harus pergi. Maaf, tidak bisa berlama-lama disini,” dia beralih membelakangiku dan melangkah pergi.
“Jangan menghindariku.” Aku memegang tangannya, mencegah dia untuk pergi. Daffa hanya diam, tidak berkata sedikitpun.
“Tolong lepaskan, aku harus pergi,” pintanya.
“Kenapa? Apa ini ada kaitanya dengan Sasa?” tanyaku spontan. Entah kenapa tiba-tiba aku mengatakanya.
“Kenapa kamu bertanya seperti itu?” Daffa berbalik menatapku, ada rona kemarahan dalam tatapanya.
“Aku ... aku hanya menebak,” jawabku. Setelah mendengar jawabanku, raut kemarahan di wajah Daffa berkurang.
“Tanganmu terluka,” ujarku ketika melihat ruas-ruas punggung jarinya melecet dan berdarah.
“Ayo ikut aku, biar aku obati.” Aku menarik tangannya, sembari berjalan menuju kursi yang berada beberapa meter di sebelah kananku. Kebetulan, di dalam tas ada obat P3K yang selalu ku bawa. Aku bisa memanfaatkan situasi ini untuk bertanya mengenai hubungannya dengan Sasa yang akhir-akhir ini terlihat kurang baik.
“Ceritakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?” tanyaku sedikit memaksa.
“Tidak ada. Aku ... maksudku tidak ada yang perlu diceritakan.” Kini Daffa memalingkan wajahnya.
“Lihat aku Daf,” pintaku.
“Kamu jelas menyembunyikan sesuatu denganku. Ceritakan, apa yang terjadi?” paksaku. Rasanya aku sangat penasaran.
“Kenapa kamu memaksaku?” tanyanya.
__ADS_1
“Aku ini sahabatmu Daf,” jawabku lalu menghela napas pendek, “Tapi sepertinya sekarang tidak lagi. Kamu tidak menganggapku sebagai sahabat.”
“Kenapa bicara seperti itu? Aku akan terus menjadi sahabat, sampai kapanpun.” Daffa terkejut mendengar jawabanku tadi.
“Kalau begitu, ceritakan padaku apa yang terjadi? Apa ini ada kaitanya denga Sasa?” tanyaku. Daffa diam sejenak, kemudian mengangguk pelan.
“Kenapa kalian saling diam? Apa kalian bertengkar?” tanyaku. Daffa hanya diam.
“Kamu dan Sasa ini sahabatku. Kita sudah bersahabat lama, dan aku sangat mengetahui tentang kalian. Tidak biasanya kalian seperti ini,” ujarku.
“Aku tidak ingin mencampuri urusan pribadi kalian, tapi tolong, jangan hancurkan hubungan persahabatan antara kita. Kalian juga menutupi semuanya dariku. Aku sama sekali tidak mengerti, kenapa kalian tega tidak menganggapku,” lanjutku.
“Ryn, bukan seperti itu, kejadiannya begitu rumit.” Daffa mencoba memberi alasan.
“Kenapa? Apa ini tentang perasaan?” tanyaku menebak. Daffa mengangguk pelan.
“Jawab aku, apa kamu memiliki perasaan kepada Sasa?” tanyaku. Daffa hanya diam, dia seperti ingin menjawab, tapi terlihat ada keraguran.
“Daf, jawab aku.” Aku menegaskan.
“Aku akan bertanya sekali lagi, jika tidak menjawabnya aku akan memutuskan kalau itu memang benar.” Aku memang seperti memaksa, bukan seperti lagi sih, tapi memang memaksa.
“I ... iya. Aku memiliki perasaan dengan Sasa. Aku sudah lama memilikikinya, sejak kita SMP,” jawabnya.
“Lalu apa masalahnya? Bukanya Sasa juga memiliki perasaan yang sama?” tanyaku.
“Dia memang memiliki perasaan yang sama denganku, dan aku sangat tahu itu. Tapi ... aku tidak bisa bersamanya. Hubungan kami hanya sahabat, dan sekarang sudah berakhir,” jawabnya. Ada guratan kecewa di wajah Daffa.
“Maksudmu apa? Jelaskan dengan detil. Aku tidak mengerti permasalahanya.” Aku menjadi bingung sekarang tentang hubungan kedua sahabatku yang tidak aku ketahui ini.
“Hubunganku dengan Sasa hanya sahabat Ryn, tidak lebih. Apa yang bisa aku harapkan dari hubungan ini?” Kini Daffa menatapku serius.
“Kamu tidak akan mendapatkan yang kamu harapkan kalau kamu hanya diam. Kamu selalu memerlakukan Sasa lebih dari sahabat, tapi kamu tidak pernah mengungkapkan perasaan kamu yang sebenarnya. Kamu ....” Ucapanku terhenti ketika Daffa memotong perkataanku.
“Karena aku tidak akan pernah bisa. Aku sudah salah memerlakukanya, aku sudah salah bersikap kepadanya selama ini. Tidak seharusnya aku memerlakukanya seperti itu, aku ... aku sudah menyakitinya. Aku sudah sangat menyakiti perasaan dan hatinya sekarang,” ujarnya. Aku sangat tidak mengerti dengan apa yang diucapkanya. Kata-katanya tidak jelas maksudnya.
“Ungkapkan perasaanmu sekarang, sebelum kamu kehilangannya.” Aku memberi saran.
“Aku tidak akan pernah bisa, waktunya sudah terlambat. Sekarang kami memiliki kehidupan masing-masing dengan orang lain,” ujarnya.
“Maksud kamu, kamu sudah memiliki wanita lain, dan Sasa juga memiliki pria lain?” tanyaku. Aku terkejut ketika mendengar ucapan Daffa tadi. Daffa mengangguk pelan, dan ku anggap itu sebagai jawaban yang membenarkan.
“Kenapa? Kalian saling suka, tapi kenapa bersama orang lain?” tanyaku penasaran.
“Aku ... aku sudah tunangan,” jawab Daffa dengan nada gemetar.
“Apa! Tunangan? Tapi kamu masih SMA Daf, ini masih terlalu muda untuk usia seperti kita.” Aku tidak percaya.
“Aku terpaksa, ayahku menjodohkanku dengan anak rekan kerjanya. Aku dipaksa menerimanya karena sudah ada perjanjian. Ayahku menjodohkanku karena ingin mempererat hubungan bisnis yang dibangunnya dengan rekan kerjanya itu. Jika aku menolaknya, maka aku akan mempermalukan seluruh keluargaku, terutama ayahku. Hubungan keluargaku dengan keluarga rekan kerja ayahku sangat dekat, dan itu sudah terjalin sejak aku masih kecil.” Daffa memberi penjelasan.
“Maka dari itu, aku selalu diam. Aku selalu memerlakukan Sasa lebih dari sahabat sebab aku menginginkan hubungan lebih jauh dari itu. Aku selalu berfikir ribuan kali untuk mengungapkan perasaaanku, tapi aku tidak bisa. Aku selalu ragu untuk berani mengungkapkanya karena adanya perjodohan ini. Dan sekarang, Sasa sudah memiliki pria yang lebih baik dariku. Tidak ada lagi yang bisa aku harapkan dari hubunganku dengan Sasa, kecuali sebatas sahabat.” Daffa menjelaskan panjang lebar, dan aku hanya bisa diam. Aku tidak bisa lagi menannyainya, atau berkata-kata. Aku menjadi bingung, dan sekarang pikiranku buntu, tidak ada ide untuk sekadar memberi solusi.
“Wanita yang bersamaku ketika di UKS itu ... dia tunanganku. Dan pria yang bersama Sasa waktu itu adalah orang yang menggantikan posisiku,” lanjut Daffa.
“Dulu, aku selalu takut, jika suatu saat nanti hal seperti ini akan terjadi. Aku takut, jika aku akan kehilangannya, aku sangat takut. Nyatanya, semua benar-benar terjadi. Kini aku kehilangannya, hubungan kita juga berakhir.” Kulihat ada airmata yang menggenang di kelopak matanya, namun tidak menetes. Aku menjadi kasihan dengan Sasa dan Daffa.
__ADS_1
Aku menghela napas sejenak, “Tidak Daf, belum terlambat. Masih ada waktu sebelum adanya ikatan resmi. Gunakan kesempatan ini untuk berjuang, kamu tidak bisa menyerah seperti ini. Kamu bisa merencanakan menikah dengan siapa, tapi kamu tidak bisa tahu akan menikah dengan siapa. Maksudku, ini hanya tunangan, belum ada ikatan pernikahan antara kalian berdua. Kamu bisa merubah takdir selagi kamu mau berusaha. Jangan menyerah Daf, aku percaya, kamu bisa melakukannya.”