Masihkah Ada Cinta

Masihkah Ada Cinta
Berharap


__ADS_3

Part 28


Aku tersenyum lagi, menatap langit yang hanya berhias awan putih. Jejak-jejak pesawat yang ditumpangi kak Gavin pun tak kelihatan. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang ke rumah. Sembari berjalan keluar bandara, aku memesan taksi online untuk transportasi pulang, dan berhenti sejenak ketika sampai di parkiran.


“Kak Gavin.” Aku mengguman pelan. Senyum kecil di bibirku terlukis ketika mengingat pertemuan pertamaku dengan kak Gavin di sini. Aku memutar semua memori di sini, berawal dari pembelaan kak Gavin ketika aku dimarahi satpam, lalu dia menenangkanku ketika menagis, dan akhirnya diantarkan pulang.


Perhatianku teralihkan ketika ponsel yang berada dalam genggaman bergetar. Di ponsel ternyata ada pemberitahuan jika taksi yang aku pesan sudah tiba. Aku pun buru-buru keluar bandara, dan sesampai di luar terlihatlah seorang pria paruh baya sedang bersandar pada taksi yang terparkir di sebelahnya sembari memainkan ponsel. Dengan cepat aku menghampirinya untuk memastikan jika dia adalah taksi yang dipesan.


“Maaf, Pak. Bapak supir taksi yang saya pesan melalui online bukan ya?” tanyaku memastikan.


“Dengan Mbak Airyn?” tanyanya menatapku serius.


“Iya,” sahutku singkat.


“Oh iya benar. Orangnya sama dengan yang di foto,” ujarnya melihat layar ponsel. Aku tersenyum kecil.


“Ayo Mbak, masuk. Saya supir taksi yang tadi dipesan,” ujarnya mempersilakan aku masuk sembari membukakan pintu.


“Em. Terimakasih Pak,” sahutku lalu masuk mobil. Pak supir taksi itu dengan cepat menutup pintu mobilnya dan masuk ke mobil di jok depan. Tak berapa lama kemudian mobil pun melaju, menapaki jalanan aspal menuju rumahku.


*****


Sesampainya di rumah, aku membayar taksi itu kemudian bergegas turun. Beberapa saat setelah turun, mobil itu dengan cepat melaju keluar halaman rumah.


Pagi, telah pergi


Mentari tak bersinar lagi


Entah sampai kapan


Ku mengingat tentang dirimu


Ku hanya diam


Menggenggam menahan


Segala kerinduan


Memanggil namamu


Disetiap malam


Ingin engkau datang


Dan hadir di mimpiku


Rindu


Ku dengar suara kak Alby sedang bernyanyi dengan iringan gitar di dalam. Aku yang hendak membuka pintu rumah pun menghentikan langkah. Ku tahan tangan kanan yang memegang gagang pintu untuk tidak membukanya dulu.


*Dan waktu ‘kan menjawab


Pertemuanku dan dirimu


Hingga sampai kini


Aku masih ada di sini


‘Ku hanya diam


Menggenggam menahan


Segala kerinduan


Memanggil namamu


Di setiap malam


Ingin engkau datang


Dan hadir di mimpiku

__ADS_1


Rindu*


Aku menjadi terlarut dalam lagu yang kak Alby nyanyikan. Bukan sekadar menikmati, tapi sangat menikmati. Hingga tak di sadari lagunya sudah berhenti.


Tiba-tiba ku rasakan pintunya tertarik ke depan dengan cepat, dan terlihatlah kak Alby tengah berdiri dengan sorot mata kurang mengenakkan menatapku. Aku terkejut melihatnya, karena tubuhku menjadi kurang seimbang dan tanganku masih memegang gagang pintu, aku ikut tertarik lalu jatuh ke lantai menimpa tubuh kak Alby.


“Aduuh,” keluhku merasakan sakit karena kepala bagian depan terbentur gitar milik kak Alby. Aku dengan cepat bangkit lalu beralih duduk sembari memegangi bagian kepala yang sakit.


“Kakak! Apa-apain sih main tarik-tarik pintu! Jadinya jatuhkan? Sakit tahu!” omelku.


“Kakak juga sakit. Tubuh kamu berat banget. Berasa ketimpa semen seratus kilo,” balasnya mengejek ketika beralih duduk di lantai sambil memegangi kepalanya yang sakit.


“Makanya, lain kali jangan usil.” Aku memukul gemas kak Alby dengan tas kecilku.


“Eh, eh, sakit tahu. Apaan sih mukul-mukul segala!” Kak Alby memegangi tanganku dengan kuat.


“Biarin. Salah sendiri nyelakain orang lain.


Biar kapok!” Aku meronta dan memukuli kak Alby lagi.


“Cukup. Cukup. Kakak ngaku salah. Aku minta maaf,” ujarnya menyesali.


“Bodo. Ini belum cukup, aku laporin ke ibu nanti,” ancamku.


“Aku bilang cukup!” serunya. Kak Ably mencengkeram kuat kedua lenganku. Wajah kami menjadi sangat dekat, dan saling bertukar pandang dengan sorot tajam.


“Bi.” Perhatianku dan kak Alby teralihkan ketika mendengar suara seseorang di belakangku.


“Ruhan, Jhia.” Kak Alby terkejut ketika melihat Ruhan dan Jhia berdiri dengan tatapan canggung di belakangku. Dengan cepat kak Alby melepaskan cengkeraman tangannya, lalu berdiri. Aku juga dengan cepat berdiri di sebelah kak Alby.


“Aku ... aku melihat semuanya,” ujar Ruhan hati-hati.


“Maaf. Sudah mengganggu kalian,” lanjutnya.


“Tidak. Tidak mengganggu. Kalian salah paham” sahutku dan kak Alby hampir bersamaan.


“Aku, aku akan menunggu di luar,” ujar Jhia lalu pergi begitu saja. Sebelum pergi, dia sempat menatapku dengan tatapan tidak mengenakkan.


“Terimakasih. Tapi, bagaimana kamu tahu ini rumahku?” tanya kak Alby.


“Mudah saja. Aku punya banyak detektif informasi,” sahutnya dengan sedikit candaan.


“Aku tidak akan lama di sini. Aku harus pergi ke rumah sakit dengan Jhia sekarang. Aku pergi dulu ya,” ujar Ruhan pamit.


“Oh iya, jangan galak-galak. Tapi tadi itu romantis juga,” ujarnya setengah berbisik seraya melirik ke arahku, lalu tersenyum dan beralih pergi.


Kak Alby mengantarkannya sampai di depan motor milik Ruhan sembari berbincang-bincang, sementara aku berdiri di depan pintu melihatnya dengan tetap diam. Beberapa saat sebelum pergi, Ruhan melambaikan tangan kananya sembari tersenyum ke arahku. Aku tersenyum, lalu menganggukkan kepala pertanda mengerti.


Setelah Ruhan dan Jhia pergi, kak Alby berbalik masuk rumah. Dia melewatiku dengan tatapan muram, tak ada guratan senyum sedikitpun. Kak Alby masuk ke kamarnya lalu menutup pintu dengan agak keras. Aku menutup pintu rumah, kemudian pergi ke kamar dan merebahkan diri di ranjang.


“Aku lelah,” gumamku sembari memeluk boneka kesayangan.


“Kamu tahu, aku sangat lelah. Tapi, kamu membuatku tenang sekarang,” ujarku tersenyum kecil.


*****


Aku duduk di kursi menghadap meja belajar sembari menata buku-buku paket yang baru saja usai dipealajari. Aku lekas beranjak dari tempat duduk, kemudian beralih menuju ranjang untuk merebahkan diri. Malam ini terasa lebih dingin dari malam-malam sebelumnya.


Aku menyandarkan kepalaku di atas boneka kesayangan sembari menatap langit-langit rumah. Aku mengalihkan sorot pandang sepasang bola mataku ke arah jendela ketika mendengar suara gemuruh pesawat di malam hari. Terlihat dari celah jendela lampu pesawat berkelap-kelip seiring dengan berlalunya pesawat.


“Kak Gavin,” gumamku pelan. Aku mengingat waktu perpisahan dengan kak Gavin di bandara tadi.


“Kak, apa kamu sudah sampai? Apa kamu sibuk, sampai tidak menghubungiku?” Aku terus menggumam pelan.


“Kamu membuatku khawatir.” Aku tersenyum kecil dengan penuh harap kak Gavin akan menghubungiku.


*****


Aku masih menunggu sebuah kabar setelah beberapa hari lalu kak Gavin pergi ke London. Aku merasa kurang tenang beberapa hari ini, pikiranku pun seringkali terbayang-bayang kak Gavin. Bagaimanapun juga, dia orang baik yang memiliki arti dalam hidupku.


Sesekali aku mengecek email ponsel, mencoba memastikan ada kabar tentang kak Gavin. Nyatanya tak ada satu email pun masuk dari kak Gavin. Aku menepis bayang-bayang buruk yang berkelebat menambah rasa khawatir, menggantinya dengan pikiran yang lebih positif.

__ADS_1


“Mungkin kak Gavin sibuk,” gumamku sembari menatap layar ponsel yang menyala. Aku yang tengah membaca buku di perpustakaan kembali menyimpan ponselku di saku, lalu mengalihkan pandanganku pada buku yang ada di meja.


*****


Hari-hari pun berlalu tanpa ada kabar dari kak Gavin. Aku yang sudah menyelesaikan ujian semester kenaikan kelas, akhirnya sekarang menapaki kelas XII. Aku masih menjalani hari-hari bersama dengan pengharapan yang tak kunjung terkabul. Aku sudah mencoba mengirim beberapa email sejak beberapa hari setelah kepergian kak Gavin sampai lusa kemarin, namun tak pernah ada satu pun yang terbalas.


“Apa kamu lupa denganku?” gumamku pelan. Aku yang tengah fokus membaca buku di perpustakaan seperti biasa menjadi kehilangan rasa fokus secara perlahan ketika mengingat kak Gavin. Aku menutup buku yang ku baca sembari mendengus pelan.


“Sudah waktunya pulang,” gumamku setelah melirik arlojiku yang menunjuk pukul 14:30. Aku mengemasi buku-bukuku, lalu dengan cepat keluar perpustakaan.


“Hai Ryn,” sapa Daffa dan Sasa hampir bersamaan ketika melihatku keluar dari perpustakaan.


“Eh, hai.” Aku tersenyum menatap Sasa dan Daffa. Mereka juga menatpku sembari mengumbar senyum.


“Mau pulang?” tanya Daffa.


“Pertanyaan konyol. Apa seperti itu harus ditanyakan? Sudah jelas ini waktunya pulang, masih nanya juga. Emang kamu pikir mau nginep di sini?” serobot Sasa.


“Aku kan hanya bertanya, itung-itung basa-basi. Aku juga tahu ini waktunya pulang,” sahut Daffa membela diri.


“Hey, sudah. Kenapa mulai berantem? Ini hanya hal kecil, jangan dibesar-besarkan,” selaku.


“Kita pulang saja,” ajakku lalu berjalan mendahului Sasa dan Daffa.


“Ryn.” Ku dengar suara seseorang memanggiku dengan pelan, mirip seperti bisikan. Aku menoleh ke arah kanan dan kiri, namun tidak ada tanda-tanda ada orang yang memanggil.


“Ryn.” Ku dengar lagi suara seseorang memanggil dengan pelan seperti tadi. Aku memberhentikan langkah lalu kembali menoleh ke arah kanan dan kiri, namun masih tidak ada tanda-tanda.


“Kenapa Ryn?” tanya Sasa heran.


“Em, tidak. Tidak ada apa-apa kok,” sahutku.


“Kamu baik-baik saja kan, Ryn?” tanya Daffa.


“Iya. Aku baik-baik saja. Mungkin aku mulai lelah,” jawabku.


“Mau kita antar pulang?” tawar Sasa.


“Eh, jangan. Maksudku, aku jalan kaki saja. Rumahku kan dekat,” tolakku.


“Bener?” Sasa memastikan.


“Em.” Aku mengangguk mantap.


*****


“Kamu yakin tidak mau kita antar pulang?” tanya Daffa ketika sampai di parkiran.


“Tidak.” Aku menggeleng. “ Aku akan pulang sendiri saja.”


“Tapi kamu benar baik-baik saja kan?” Aku tersenyum mendengar pertanyaan Sasa yang terdengar mengkhawatirkan.


“Aku baik-baik saja Sa.” Aku menekankan kata-kata terakhir.


“Hai Ryn,” sapa Ghany yang tiba-tiba muncul di dekatku, membuat terkejut aku, Sasa, dan Daffa.


“Ghany,” gumamku.


“Aku mencari kamu sejak tadi, tapi ternyata kamu di sini,” ujarnya.


“Kenapa kamu mencariku? Ada apa?” tanyaku bingung, karena tidak biasanya Ghany mencariku.


“Aku membawa sesuatu untuk kamu. Ada seseorang yang ingin bertemu dengan kamu,” jelasnya.


“Seseorang? Siapa?” tanyaku penasaran sekaligus masih bingung.


“Ini.” Ghany menunjukkan layar ponselnya ke arahku.


“Kak Gavin,” gumamku pelan ketika melihat kak Gavin sedang tersambung video call di ponsel Ghany.


“Hai Ryn,” sapanya sembari tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2