Masihkah Ada Cinta

Masihkah Ada Cinta
Merasa dimanfaatkan


__ADS_3

Part 20


Tepat pukul tujuh malam, aku dan kak Alby pergi nonton film ke bioskop. Sampai di sana ternyata ada sekitar lima orang teman\-teman kak Alby, dua wanita, dan tiga pria sudah menunggu di lobi. Aku terkejut ketika melihatnya, rasanya pun menjadi canggung. Di satu sisi, aku juga merasa agak kesal dengan kak Alby karena tidak memberitahuku jika pergi nonton filmnya rame\-rame.


“Hey By,” sapa salah seorang teman pria kak Alby.


“Hey. Maaf ya, nunggunya lama.” Kak Alby tersenyum ke arah teman-temannya.


“Tidak apa-apa. Kita belum lama di sini,” sahut seorang teman pria lainya. Mereka kini tampak memerhatikanku dengan serius, dan ini membuatku semakin canggung.


“Oh iya, wanita cantik di sebelahmu itu siapa?” tanya salah seorang teman pria kak Alby yang ke tiga sembari menaikkan kedua alisnya.


“Ah iya, hampir lupa. Kenalkan ini Ryn, dia wanita yang pernah aku ceritakan pada kalian tempo hari itu.” Kak Alby memperkenalkanku dengan teman-temannya. Aku terkejut mendengar ucapan kak Alby yang mengatakan pernah menceritakan tentangku kepada teman-temannya. Aku jadi berpikir-pikir, apa yang pernah di ceritakannya.


“Hai, salam kenal.” Aku mengembangkan senyum tipis.


“Hai. Salam kenal juga, aku Ruhan. Sebelahku namanya Kenan, dan wanita sebelahnya Kenan namanya Rana. Kemudian, Pria sebelahnya Rana namanya Mirza, dan wanita sebelahnya Mirza namanya Cyra.” Aku mengangguk-angguk pertanda mengerti sembari tersenyum kecil ketika teman kak Alby bernama Ruhan memperkenalkan teman-temannya satu persatu.


“Ruhan, kita ini bisa berkenalan sendiri-sendiri, tidak perlu perwakilan.” Kenan memberikan protes.


“Tapi aku sudah memperkenalkan kalian, dan dia sudah tahu nama kalian, jadi tidak perlu diulang.” Ruhan menjawabnya santai.


“Hey, kenapa kalian jadi ribut seperti ini? Lihat, dia menjadi canggung. Jangan diteruskan,” sela Mirza sembari melirik ke arahku. Setelah mendengar ucapan Mirza, yang lainnya langsung melirik ke arahku, dan kini terlihatlah wajah gugupku.


“Itu tidak benar, aku biasa saja kok,” sahutku.


“Pipinya memerah, seperti menahan malu,” ujar Rana yang mengamati rona wajahku.


“Dia ini lucu, tidak mau mengakuinya,” sambung Mirza.


“Jangan canggung, kita ini bukan seperti guru BK.” Cyra ikut menyela.


“Anggap saja kita ini teman lama, dan jangan anggap seperti orang asing. Karena kita bukanlah orang asing.” Kenan tersenyum tipis ke arahku.


“Benar apa yang diucapkan Kenan, kita ini bukan orang asing. Bersikaplah seolah teman lama.” Ruhan membenarkan ucapan Kenan.


“Hey, hey, sudah. Dia ini masih butuh adaptasi, jadi biarkan dia menyesuaikan dulu.” Kak Alby membelaku.


“Ya, ya, baiklah. Aku mengerti,” sahut Kenan.


“Kalian hanya ber lima? Jhia tidak ikut?” tanya kak Alby.


“Tidak, kami ber enam dengan Jhia. Tadi dia pergi membeli minuman, mungkin saja masih antre,” jawab Cyra.

__ADS_1


“Apa kamu merindukannya, By?” tanya Ruhan. Mendengar pertanyaan Ruhan, wajah kak Alby nampak gugup.


“A ... apa? Aku?” Ada nada kegugupan dari suara kak Alby.


“Aku hanya bercanda, tenang saja. Kenapa wajahmu terlihat gugup?” tanya Ruhan.


“Ruhan, bercandamu itu berlebihan. Tidakkah kamu lihat, ada siapa di sebelah Alby? Bisa-bisa dia salah paham,” timpal Mirza.


“Itu hanya sekadar candaan, tidak mungkin dia salah paham.” Ruhan membela diri.


“Tetap saja tidak boleh seperti itu. Alby memang sudah berteman dekat sejak lama dengan Jhia, tapi dia tidak ada ketertarikan sama sekali dengannya. Jadi, jangan menggodanya.” Kenan memberi peringatan.


“Benar yang diucapkan Kenan. Jhia itu sudah milikmu, jangan kamu bersikap seolah ingin memberikannya kepada orang lain,” sambung Rana.


“Kalian ini bicara omong kosong apa? Justru itu, aku menannyakannya kepada Alby, karena mereka sudah dekat sejak lama. Apa dia merindukan temannya? Aku hanya menggodanya saja. Lagi pula, aku tahu Jhia itu seperti apa. Dia tidak mungkin menghianati aku.” Ada senyuman manis terhias di bibir Ruhan.


Aku benar\-benar tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan, tapi entah kenapa aku menjadi penasaran dengan sosok Jhia yang sejak tadi disebut\-sebutnya. Juga, tentang hubungan antara kak Alby dan Jhia. Apa benar? Hanya temannya kak Alby? Aku terus berpikir\-pikir tentang hal itu.


“Hai, aku kembali. Maaf menunggu lama.” Ku lihat seorang wanita berparas cantik, tinggi, dan badannya yang semampai datang menghampiri kami dengan membawa sebuah kantong plastik berisi beberapa minuman. Ada guratan senyum di bibirnya dan berhias lesung pipi di kedua sisi pipinya. Senyumnya terlihat benar-benar manis.


“Tidak apa-apa Jhia, kami masih menunggumu kok.” Cyra menyahuti.


“Oh ya Jhia, kenalkan ini Ryn. Dan ... Ryn, kenalkan ini Jhia.” Ruhan memperkenalkan Jhia sembari merangkul Jhia.


“Siapa dia?” Jhia terlihat kaget ketika melihatku di sebelah kak Alby.


“Gadis kecilku. Ini adalah gadis kecilku,” timbrung kak Alby sembari mememeluk pingganggku. Ku lihat, ada guratan senyum dibibir kak Alby. Aku sempat terkejut ketika kak Alby memeluk pinggangku. Aku mencoba melepaskan diri dari pelukan kak Alby, namun aku tidak bisa berkutik karena kak Alby malah semakin mempererat pelukannya.


“Oooh.” Jhia hanya menyahutnya singkat setelah mendengar ucapan kak Alby. Sekarang, guratan senyum di bibirnya menciut ketika melihatku. Bahkan, bisa dibilang ekspresi datar. Aku menjadi tidak enak hati ketika dia melihatku dengan tatapan itu, seolah-olah aku sepetti orang yang tidak diinginkan kehadirannya di sini.


“Salam kenal.” Jhia mengulurkan tangannya.


“Iya, salam kenal.” Aku menjabatnya dengan senyum kecil, namun dia tidak membalas senyumanku. Dia jugu dengan cepat menarik tangannya.


“Kamu tahu Jhia, tadi aku menggoda Alby ketika kamu pergi, dan wajahnya langsung berubah gugup.” Ruhan kini terlihat antusias menyampaikannya kepada Jhia.


“Benarkah? Memang kamu menggodanya bagaimana?” Jhia setengah melirik sinis ke arah kak Alby.


“Tadi dia mengira kamu tidak ikut nonton, karena di sini hanya ber lima. Tapi, Cyra mengatakan kalau kamu sedang pergi membeli minuman. Jadi ... aku bertanya, apa Alby merindukan kamu? Dan dia tidak bisa menjawab dengan cepat, wajahnya berubah menjadi gugup, seperti itu.” Ruhan mengangkat dagunya, mengarahkan ke arah kak Alby. Mendengar ucapan Ruhan, spontan saja Jhia melihat ke arah kak Alby. Raut wajahnya menjadi berubah agak murung ketika melihat kak Alby.


“Ya, seperti itu. Persis sekali,” lanjut Ruhan disusul dengan tawa kecil.


“Ruhan, cukup. Jangan membahas hal itu lagi, apa kamu tidak kasihan dengan orang yang berdiri di sebelah Alby. Nanti dia salah paham.” Rana mengingatkan.

__ADS_1


“Hey, dia tidak mungkin salah paham. Aku yakin, dia ini wanita baik, juga sabar. Nyatanya sejak tadi dia tidak pernah marah, atau sekadar berkomentar.” Ruhan membela diri.


“Tepat sekali Ruhan, sangat tepat. Tebakanmu memang tidak pernah meleset, kamu memang penebak yang jenius. Gadis kecilku ini memang jarang sekali marah, dia sangat sabar. Untuk itu, aku merasa sangat beruntung memilikinya. Aku akan merasa sangat menyesal jika aku meninggalkannya.” Kak Alby membenarkan ucapan Ruhan. Senyumnya mengembang menghias wajahnya.


“Kalian memang pasangan serasi, meski usiannya terpaut beberapa tahun lebih muda dari kamu, tapi dia terlihat bisa menyesuaikan.” Kenan menyambung. Aku kaget ketika mendengar Kenan mengatakan aku dan kak Alby adalah pasangan serasi.


“Pasangan? Pasangan apa? Aku ini adiknya, bukan pacarnya,” elakku.


“Adik?” Mereka mengatakannya hampir bersamaan. Di wajahnya ada rona keterkejutan setelah mendengar ucapanku.


“Iya.” Aku menjawabnya mantap.


“Itu tidak benar. Sebenarnya, dia ini gadis pemalu. Dia lebih senang disebut adik, dan dia tidak suka mengumbar-umbar tentang hubungan kami. Dia tidak ingin lingkungan publik mengetahuinnya, jadi dia lebih senang jika di lingkungan umum disebut adik.” Kak Alby mencoba memberi penjelasan. Pelukannya di pingganngku semakin erat saja, dan ini membuat rasa sakit.


“Oooh.” Mereka mengatakannya hampir bersamaan.


“Jadi, sekarang ini kak Alby melakukan sandiwara? Dia menyebut kita pacaran?” batinku.


“Kenapa tidak bilang sejak awal, kalau tahu akan seperti ini, aku kan bisa menolak ajakannya untuk pergi ke bioskop. Kak Alby benar-benar keterlaluan, aku dibohonginya dua kali. Maksudnya apa coba? Kenapa dia memanfaatkan aku seperti ini?” gerutuku dalam hati.


“Kakak!” teriakku dalam hati. Degup jantungku menjadi berdetak lebih cepat, jari-jariku mengepal kuat. Aku menjadi sangat kesal dengan kak Alby.


“Dia ini wanita unik. Aneh-aneh saja.” Mirza menatapku heran.


“Benar sekali, dia ini sangat lucu,” Rana.


“Sudah cukup, jangan menyudutkan gadis kecilku ini. Beberapa menit lagi filmnya akan diputar, sebaiknya kita cepat masuk. Kalau tidak, nanti tidak kebagian kursi depan.” Kak Alby melirik ke arah arlojinya.


“Ah iya, benar sekali Alby. Sebaiknya kita cepat masuk,” sambung Cyra. Kami pun bergegas masuk, dan mencari tempat duduk. Sampai di dalam, kami mendapat kursi di barisan nomor tiga dan empat dari atas, karena sudah banyak kursi yang terisi. Aku, kak Alby, Jhia, dan Ruhan duduk di kursi nomor tiga. Sedangkan Kenan, Rana, Mirza, dan Cyra duduk di kursi barisan nomor empat.


“Kenapa Kakak tidak bilang, kalau nontonnya rame-rame?” Aku mengirimi sebuah pesan WA kepada kak Alby.


“Aku kan jadi canggung, aku tidak mengenal teman-teman Kakak.” Aku mengirimi pesan lagi sembari menampakkan wajah cemberut ke arah kak Alby.


“Tenang saja, ada aku di sini. Tidak apa-apa, hanya sekali ini saja,” balasnya.


“Tapi jangan aneh-aneh loh ya,” ancamku.


“Tidak, santai saja.” Setelah membalas pesanku, kak Alby tersenyum menatapku.


“Kakak sudah memanfaatkan aku, mengatakan kalau kita ini pacaran. Apa maksudnya ini?” Aku mencoba meminta penjelasan.


“Tidak ada maksud apa-apa. Kakak hanya tidak ingin terlihat seperti jomblo menyedihkan ketika tidak pergi dengan pasangan. Lagi pula kamu dapat enaknya juga, bisa nonton gratis di bioskop.” Kak Alby memberi penjelasan.

__ADS_1


“Kalian ini saling berbalas WA?” Mendengar pertanyaan Ruhan, aku dan kak Alby spontan menoleh ke arahnya.


“Huh, lucu sekali. Duduknya bersebelahan, tapi komunikasi melalui pesan. Hentikan komunikasi pesan kalian, filmnya sebentar lagi di putar.” Ruhan terlihat heran dengan tingkahku dan kak Alby.


__ADS_2