Masihkah Ada Cinta

Masihkah Ada Cinta
Pelukan Mendadak


__ADS_3

Part 25


Dari kejauhan, ku lihat kak Gavin berdiri di atas panggung sembari tersenyum puas. Ayah kak Gavin yang berdiri di barisan sebelah kanan bersama wali yang lain juga mengembangkan senyum lebar di bibirnya. Di wajahnya juga tersirat rona-rona rasa bangga akan putranya.


Setelah pemberian hadiah dan pengambilan foto bersama kepala sekolah juga walinya, mereka semua turun ke bawah dan kembali ke tempat duduk. Tepuk tangan meriah tidak lupa mengiringinya ketika mereka turun dari panggung.


Ku lihat kak Gavin mendapat sambutan ucapan selamat dari teman-temanya ketika kembali ke tempat duduk. Mereka menampakkan senyum kepuasan dan bangga akan temannya.


“Baik, kita lanjutkan sesi acara berikutnya, yaitu pentas seni dari kelas XI MIPA yang akan menampilkan sebuah tarian tradisional.” Suara pembawa acara membuat jantung teman-temanku yang hendak menari berdebar-debar. Rona wajahnya terlihat gugup dan kurang percaya diri.


“Hey, kenapa kalian gugup? Semangat dong! Kalian tiap hari sudah berlatih dengan keras, jadi pasti akan sukses. Jangan gugup.” Aku menepuk pundak Novita yang berdiri di sebelahku sembari tersenyum lebar.


“Benar yang Ryn katakan. Kita sudah berusaha keras, terutama kalian. Latihan kalian tiap hari akan membuahkan kesuksesan di panggung nanti. Semangat!” sambung Maira. Aku dan teman-teman lainya tersenyum lebar sembari menyemangati mereka yang akan menari.


“Em.” Mereka mengangguk mantap ke arah ku dan yang lainnya.


“Mari kita berikan sambutan tepuk tangan meriah untuk kelas XI MIPA yang akan memestaskan tarian Sekapur Sirih dari Jambi.” Suara tepuk tangan dan sorakan terdengar ramai dan keras mengiringi mereka yang menari naik ke atas pangung. Aku dan teman-teman lainya juga ikut bersorak dengan keras dan bertepuk tangan.


“Eh Ryn, kita jajan ke kantin yuk, aku haus nih,” ajak Maira tiba-tiba.


“Boleh. Kebetulan aku juga haus,” sahutku. Aku dan Maira akhirnya pergi ke kantin. Di tengah jalan, ketika melewati koridor sekolah aku dan Maira bertemu dengan Sasa dan Daffa yang baru saja keluar dari ruang ganti. Sasa mengenakan gaun berwarna biru muda seperti gaun Cinderella, dipasangkan dengan sepatu kaca warna biru dan tatanan rambut yang mirip seperti Cinderella. Sementara itu, Daffa berpakaian seperti seorang pangeran. Mereka berdua tampak serasi dengan pakaian yang mereka kenakan.


Melihat Sasa dan Daffa, rasanya aku seperti melihat diriku sendiri bersama Kenzhi. Otakku bekerja dengan cepat, dan memunculkan ingatanku ketika dulu aku memakai gaun Cinderella seperti Sasa, dan Kenzhi yang mengenakan pakaian seorang pangeran seperti yang Daffa kenakan sekarang ini. Ketika itu, sekolah mengikuti lomba drama antar sekolah, dan aku terpilih menjadi pemeran utama dalam drama tersebut yang dipasangkan dengan Kenzhi.


“Ryn.” Maira menyenggol lenganku, dagunya menunjuk ke arah depan. Awalnya aku merasa kaget dan tidak mengerti dengan maksud Maira, tapi setelah pandanganku mengikuti arah yang ditunjuk dagunya, aku jadi mengerti.


“Kalian serasi ya,” pujiku sembari tesenyum ketika sadar Daffa dan Sasa sekarang berada di depanku.


“Kalian sangat cocok memakainya,” lanjutku. Sasa dan Daffa malah diam melihatku, seperti tidak menunjukkan respon. Aku jadi bingung sendiri bagaimana menyikapinya.


“Ahaha, tentu saja. Kita ini memang sangat serasi.” Daffa tertawa bangga sembari menepukkan kedua tangannya dengan keras.


“Benar kan?” Daffa menatap ke arah Sasa sembari meranagkul lengannya erat.


“Benar, benar sekali. Kita memang sangat serasi,” sahut Sasa sembari tersenyum lebar ke arah Daffa.


“Kalian mau ke mana?” tanya Daffa setelah melepas rangkulannya.


“Kita mau ke kantin. Beli minum,” sahut Maira sembari tersenyum.


“Ooh, begitu ya.” Daffa mengangguk-angguk pelan, pertanda mengerti.


“Mau nitip?” tawarku.


“Eh, tidak. Tidak usah, kami nanti beli sendiri saja,” tolak Sasa.


“Ya sudah. Kalau begitu kita duluan ya, aku sangat haus,” ujar Maira sembari menarik lenganku.

__ADS_1


“Okay,” sahut Daffa sembari tersenyum lebar. Sasa tidak menyahut, tapi melambaikan tangannya sembari tersenyum, dan aku membalasnya.


*****


Setelah membeli minuman ringan, aku dan Maira duduk-duduk sebentar di kantin. Karena cuaca hari ini sangat panas, aku dan Maira memanfaatkan kesempatan ini untuk sekalian ngadem di kantin. Kami merasakan agak berkurang suhu panasnya karena di kantin ada kipas angin.


“Cuacanya sangat panas, aku merasa sangat haus dan gerah. Untung saja ada kipas angin di sini.” Maira menghela napas lega.


“Iya, aku juga merasa kegerahan.” Aku meneguk teh botol yang ku genggam.


“Chessy!” Ku dengar suara seseorang yang tidak asing berteriak keras, sehingga membuat aku dan Maira terkejut. Aku dan Maira beranjak dari tempat duduk lalu menoleh ke arah sumber suara. Dari kejauhan, ku lihat kak Gavin berlari ke arahku, bibirnya tersenyum lebar. Setibanya di depanku, dengan cepat dia memelukku erat. Tentu saja aku terkejut, namun aku tidak sempat menghindarinya karena terjadi sangat cepat. Maira yang berdiri di sebelahku juga terkejut tidak percaya dengan apa yang sekarang dilihatnya. Bahkan, beberapa saat mulutnya sampai membentuk huruf O. Setelah sadar, dia dengan cepat menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Tetapi, dia malah menjadi cegukan, dan dengan cepat dia meminum sisa minuman yang tadi dibelinya.


“Chessy, Chessy.” Ku dengar kak Gavin mengumamkan nama Chessy. Suaranya terdengar sangat jelas karena mulutnya berada beberapa centi di belakang telingaku.


“Kak, Kakak.” Aku mencoba menyadarkan kak Gavin.


“Chessy, hari ini aku lulus, dan mendapat nilai terbaik. Aku merasa sangat senang sekarang ini. Ini semua karena kamu yang selalu mendukungku, sehingga membuatku merasa lebih semangat. Setiap kali aku mengingat senyummu, aku merasa seperti mendapat kekuatan untuk bangkit dari keterpurukan. Aku merasa hari-hariku menjadi lebih hidup dari sebelum-sebelumnya.” Aku terdiam mendengar setiap kata yang diucapkan kak Gavin. Aku menjadi tersentuh dan larut dalam makna setiap katanya.


“Aku ... sangat mencintai kamu Chessy.” Kak Gavin membisikkannya pelan tepat di telingaku. Suaranya terdengar sangat tulus dan lembut.


“Ternyata, Chessy berpengaruh besar dalam kehidupan kak Gavin. Seperti Kenzhi, yang juga berpengaruh sangat besar dalam hidupku,” batinku.


“Kakak, Kak Gavin. Ini aku, Ryn. Bukan Chessy.” Aku mencoba menyadarkan kak Gavin ketika aku sadar sekarang ini aku tengah berada di pelukan kak Gavin. Jika ada yang melihat aku dan kak Gavin berpelukan kan bahaya.


“Kak Gavin!” Aku setengah menyeru sembari mencoba melepaskan pelukannya. Kak Gavin yang merasa ada pemberontakan di pelukannya, akhirnya melepas pelukannya. Dia nampak terkejut ketika melihat wajahku. Kedua pipinya nampak merah padam karena malu.


“Tadi ... Kakak ... tiba-tiba memelukku,” sahutku malu-malu.


“A, apa?” Dia seperti tidak percaya. Sejenak kak Gavin diam seperti berpikir. Mungkin saja mengingat apa yang sudah dilakukannya padaku.


“Aku minta maaf. Sangat minta maaf,” ujarnya menyesali.


“Aku benar-benar tidak sadar melakukannya.” Kak Gavin terlihat sangat menyesal.


“Iya, tidak apa.” Aku menyahut pelan.


“Lupakan kejadian barusan, dan anggap saja tidak pernah terjadi,” lanjutnya.


“Iya,” sahutku singkat sembari mengangguk. Sejenak kami saling diam, suasana pun menjadi canggung.


“Aku ... aku, akan pergi.” Aku mengambil sisa minuman yang ku beli tadi, lalu melirik ke arah Maira sembari menaikkan sebelah alisku sebagai kode ajakan untuk pergi. Maira tidak menyahut, tapi dia hanya diam sembari mengangguk.


*****


Di sepanjang perjalanan balik ke aula, aku masih terpikirkan kejadian di kantin. Jujur saja, ketika berada di pelukan kak Gavin dadaku terasa berdegup kencang, tubuhku juga gemetaran.


“Perasaan kak Gavin ternyata sangat dalam. Dia sungguh-sungguh mencintai Chessy,” batinku ketika mengingat segala yang diucapkan kak Gavin di kantin tadi.

__ADS_1


“Aku benar-benar tidak menyangka akan melihatnya,” ujar Maira sembari menyenggol lenganku.


“Dia memeluk kamu sangat erat, dan setelah melakukannya, dia seperti orang yang tidak sepenuhnya sadar.” Maira mengucapkannya dengan serius.


“Lupakan saja. Aku tidak ingin mengingatnya,” sahutku.


“Eh, jangan bilang siapa-siapa ya, itu terjadi tidak sengaja.” Aku menatap Maira serius.


“Takutnya ada gosip yang tidak-tidak,” lanjutku.


“Iya, tidak akan. Aku tidak akan buka mulut tentang kejadian tadi.” Maira menatapku cengengesan.


“Tapi ... kalau boleh, aku ingin bertanya sesuatu.” Maira memelankan suaranya.


“Apa?” tanyaku penasaran.


“Sebenarnya, hubungan kalian bagaimana sih?” tanyanya takut-takut.


“Kami hanya berteman, tidak lebih,” jawabku mantap.


“Dia itu seperti menyukai kamu Ryn. Kenapa kalian tidak pacaran saja?” Aku tersenyum menanggapi pertanyaan Maira.


“Tidak, teman saja sudah cukup.” Aku tersenyum lebar ke arah Maira.


“Tapi ....” Maira masih terlihat kurang puas dengan jawabanku.


“Sudahlah, jangan membahas itu. Kita bahas yang lain saja.” Aku memotong kalimat Maira yang belum selesai diucapkan.


*****


Sejak tadi siang hingga sekarang sudah sore, ingatanku tentang kejadian di kantin tidak kunjung hilang. Aku menyerutup secangkir kopi sembari berdiri di balkon kamarku menikmati indahnya langit sore.


“Aku bisa merasakan kesedihan yang dialaminya,” batinku.


“Dia tidak jauh berbeda nasipnya denganku.” Aku memutar-mutar sendok yang berada di dalam cangkir kopi ku. Aku berpikir sejenak setelah menyerutup kopi ku sembari menghela napas.


“Kenzhi, Chessy, kalian di mana? Tidakkah kalian tahu, jika di sini ada orang yang sangat merindukan kalian, dan sangat menginginkan kehadiran kalian.” Air mataku menggenang, aku jadi sangat merindukan Kenzhi. Aku juga ikut merasa sedih atas kak Gavin.


Sudah sekitar seperempat jam aku berada di balkon, dan aku seperti tidak ingin berpindah tempat. Aku masih sangat menikmati senja kali ini, rasanya di hati sangat pas, dan bisa meminimalisir ingatanku tentang kejadian di kantin.


Pandanganku teralih ketika ku lihat sebuah mobil Toyota putih masuk ke halaman rumahku. Sorot mataku tajam menatap ke bawah, mengamati siapa yang datang.


“Hah, kenapa dia ke sini? Ada perlu apa?” Aku bertanya-tanya dalam hati ketika melihat kak Gavin keluar dari mobil. Kak Gavin melambaikan tangannya ketika melihatku dari kejauhan, aku hanya tersenyum kecil sembari menganggukkan kepala. Aku bergegas turun ke bawah menemui kak Gavin, sementara kak Gavin berjalan menuju teras.


Aku memberhentikan langkahku ketika sudah berada tepat di depan pintu. Sejenak, aku menghela napasku.


“Apa dia datang ke sini untuk bertanya tentang kejadian di kantin? Kenapa tidak memberi tahuku jika mau datang?” pikirku.

__ADS_1


“Tapi ... untuk apa menanyaiku? Itu terjadi tidak sengaja kan?” Aku terus berpikir-pikir. Aku merasa canggung ketika ku dapati wajah serius kak Gavin setelah membuka pintu.


__ADS_2