Masihkah Ada Cinta

Masihkah Ada Cinta
Saung Angklung Udjo dan Warung Daweung


__ADS_3

Part 26


“Hai.” Kak Gavin melambaikan tangannya sembari tersenyum.


“Hai,” balasku sembari memaksakan bibirku tersenyum.


“Kamu punya waktu?” tanya kak Gavin tiba-tiba.


“E, senggang. Maksudku, aku tidak sibuk,” jawabku agak gugup.


“Itu artinya, kamu memiliki waktu luang kan?” Aku mengangguk.


“Ayo kita keluar. Aku ingin menepati janjiku,” ajaknya.


“Janji? Janji apa nih? Perasaan tidak ada,” pikirku.


“Aku ingin mengajak kamu makan. Bisa kan? Aku ingin menepati janjiku untuk mengajak kamu makan setelah setelah pengumuman kelulusan.” Setelah mendengar penjelasan kak Gavin, aku jadi mengerti sekarang.


“Bisa.” Aku mengangguk pelan.


“Aku akan menunggu kamu siap-siap,” ujarnya.


“Iya. Aku akan segera kembali,” sahutku lalu bergegas pergi ke kamar bersiap-siap. Selesai bersiap-siap, aku langsung turun menemui kak Gavin.


“Sudah?” tanya kak Gavin. Aku mengangguk mantap sembari tersenyum.


*****


Hari semakin sore, tapi kak Gavin masih menyusuri jalanan. Aku tidak tahu dia akan membawaku ke mana, agaknya lokasi yang dituju jauh. Jalananya pun menanjak seperti jalur perbukitan. Sejak kita masuk mobil, komunikasi diantara kita pun tidak ada.


“Em ... soal tadi siang ... aku minta maaf.” Kak Gavin membuka pembicaraan. Aku agak terkejut mendengar ucapan kak Gavin barusan. Dia ternyata masih mengingat-ingat.


“Tidak apa-apa. Aku mengerti,” sahutku.


“Aku, benar-benar tidak sadar waktu itu. Melihat kamu, aku seperti melihat Chessy. Mungkin karena, belakangan ini aku sering memikirkannya.” Aku bisa mengerti apa yang kak Gavin jelaskan, ini seperti yang terjadi kepadaku jika aku memikirkan Kenzhi.


“Jujur saja, aku juga sama. Aku sering berhalusinasi, dan kadang menganggap orang lain itu Kenzhi,” sambungku. Aku menghela napasku sejenak, lalu tersenyum menatap kak Gavin.


“Kita pasti akan menemukan mereka.” Tanpa sadar, tangan kananku memgangi tangan kiri kak Gavin yang sedang menyetir. Kak Gavin diam sejenak, lalu tersenyum ke arahku sembari mengangguk.


Tidak lama kemudian, kami menemukan destinasi wisata bernama Saung Angklung Udjo. Kak Gavin mengemudikan mobilnya masuk ke area Saung Angklung Udjo, lalu memberhentikan mobilnya di area parkir.


“Yuk turun,” ajaknya sembari melepas sabuk pengaman.


“Em.” Aku mengangguk lalu melepas sabuk pengaman. Aku masih agak bingung, kenapa kak Gavin mengajakku ke sini. Padahal, dia bilang ingin mengajakku makan.


“Tempat apa ini?” tanyaku tidak mengerti.

__ADS_1


“Ha?” Kak Gavin malah terlihat bingung mendengar pertanyaanku.


“Kamu tidak tahu?” Aku menggeleng. Kak Gavin menghela napasnya lalu tersenyum menatapku yang masih bingung.


“Ini namanya Saung Angklung Udjo. Salah satu destinasi wisata yang populer di Bandung. Di sini adalah pusat pelestarian dan pertunjukan kebudayaa tradisional yang ada di Bandung.” Kak Gavin memberikan penjelasan.


“Ooh. Ternyata aku kuno yah. Orang Bandung, tapi tidak tahu mengenai ini,” sahutku malu-malu.


“Kalau kamu tidak tahu, aku yang akan memberi tahu.” Kak Gavin tersenyum ke arahku.


“Saung Angklung Udjo dibangun pada tahun 1966 oleh Udjo Ngalagena atau juga dikenal sebagai Mang Udjo bersama dengan istrinya, Uum Sumiyati dengan tujuan melestarikan seni dan budaya tradisional Sunda.


Udjo Ngalagena adalah seorang seniman angklung yang berasal dari Jawa Barat. Lahir pada tanggal 5 Maret 1929. Udjo Ngalagena adalah anak ke-enam dari pasangan dari Wiranta dan Imi. Udjo Ngalagena sudah mengenal kesenian angklung dengan akrab sejak berumur 4 tahun, sehingga tidak heran bila Udjo Ngalagena sangat mencintai kesenian ini sampai akhirnya mendirikan Saung Angklung Udjo.” Aku mendengarkan penjelasan kak Gavin dengan saksama sembari kami berjalan menuju lokasi penjualan tiket.


“Sebentar, aku bayar tiketnya dulu.” Kak Gavin memberhentikan penjelasannya setelah kami sampai di lokasi penjualan tiket masuk. Setelah membayar, kami berjalan berkeliling melihat-lihat.


“Selain angklung, Udjo Ngalagena juga mendalami seni bela diri tradisional yaitu pencak silat, gamelan, kecapi, dan juga lagu-lagu daerah berbahasa Indonesia dan Belanda. Karena itu Saung Angklung Udjo tidak hanya menyajikan pertunjukan angklung, namun juga berbagai macam kesenian khas Jawa Barat.


Sepeninggal Udjo Ngalagena pada tanggal 03 Mei 2001, Saung Angklung Udjo tetap diteruskan oleh para putra-putri Udjo Ngalagena. Sehingga Saung Angklung Udjo tetap ramai dengan pengunjung yang ingin menyaksikan keindahan kesenian tradisional daerah.” Mendengar penjelasan kak Gavin aku menjadi semakin mengerti. Di satu sisi, ada rasa malu juga sebenarnya karena aku sebagai warga Bandung tidak mengetahui jika Ada destinasi wisata yang mendidik.


“Ternyata, kak Gavin juga pandai dalam sejarah.” Aku membatinnya.


“Kakak ternyata tahu banyak ya sejarah Saung Angklung Udjo. Aku jadi malu, tinggal di Bandung lama, tapi tidak tahu ada tempat seperti ini.” Aku tersenyum kecil ke arah kak Gavin.


“Tidak banyak, hanya itu yang aku tahu. Dulu, waktu kecil aku sering ke sini dengan ayah dan ibuku ketika libur sekolah. Sepeninggal ibu, aku jadi tidak pernah ke sini lagi. Ternyata tidak banyak berubah, masih terus ramai pengunjung.” Kak Gavin tersenyum ke arahku.


“Em ....” Aku setengah mikir-mikir. Sorot mataku mengawasi sekitar, banyak sekali pertunjukan seperti Demonstrasi Wayang Golek, Halaran, Tari Topeng, Angklung Orkestra dan beberapa pertunjukan lain.


“Karena di sini namanya Saung Angklung Udjo, bagaimana jika kita menonton Angklung Orkestra.” Aku menatap kak Gavin meminta pendapat.


“Ok. Pilihan yang ... tidak terlalu buruk,” jawabnya.


“Tidak terlalu buruk?” Nadaku agak meninggi setelah mendengar ucapan kak Gavin.


“Aku hanya bercanda. Kenapa nadamu meninggi?” Aku diam sejenak, kak Gavin juga sama. Kami saling beradu pandang, dan beberapa detik kemudian kami tertawa bersama.


“Ayo kita nonton,” ajaknya, dan aku mengangguk. Kak Gavin menggandeng lenganku sembari berjalan maju ke kerumunan penonton.


Sorak sorai dan tepuk tangan meramaikan suasana pertunjukan. Aku juga sangat menikmati pertunjukan ini, kebetulan aku sudah sangat lama tidak melihat pertunjukan seperti ini. Bahkan tidak terasa aku berdiri di sini sudah lumayan lama. Tiba-tiba aku merasakan ada tarikan di tanganku. Ketika aku menoleh, ternyata kak Gavin yang menarik tanganku. Dia kemudian mengajakku berkeliling melihat banyak pertunjukan lain. Dia juga mengajakku melihat pusat produksi angklung. Aku jadi semakin tahu banyak tentang Saung Angklung Udjo ini. Ternyata sangat menyenangkan berada di sini, sebab kita juga bisa belajar lebih banyak tentaang kesenian tradisional, terutama yang menyangkut Angklung.


Setelah puas menikmati wisata Saung Angklung Udjo, kak Gavin mengajakku pergi dari sini. Entah, dia mau membawaku ke mana lagi. Kami melewati jalanan terjal yang menanjak. Bahkan, jalanannya tidak semua aspal tetapi berbatu, dan ada yang berupa tanah.


“Kita mau ke mana Kak?” Akhirnya aku mengajukan pertanyaan setelah lama diam.


“Nanti kamu juga tahu, sebentar lagi juga sampai.” Kak Gavin tersenyum ke arahku. Senyuman kak Gavin meninggalkan rasa curiga dan penasaran.


“Ya, baiklah.” Aku mengangguk pertanda mengerti.

__ADS_1


Setelah melewati jalur berbatu, kami sampai di sebuah tempat seperti destinasi wisata. Banyak kendaraan terparkir berjejeran, pengunjungnya banyak, ditambah sebuah warung yang berada di lokasi itu yang menjual aneka makanan dan minuman.


Kak Gavin memarkirkan mobilnya, lalu mengajakku turun dari mobil. Aku masih agak kebingungan setelah turun dari mobil. Namun rasa bingung itu teralihkan ketika mendapat sambutan pemandangan indah perbukitan.


“Kita akan makan di sini,” ujar kak Gavin sembari tersenyum ke arahku.


“Di sini?” tanyaku tidak percaya.


“Em.” Kak Gavin mengangguk.


“Ini namanya Warung Daweung. Kamu pasti bingung ya, sampai sini?” Aku mengangguk.


Kak Gavin menghela napasnya, “Ini adalah satu-satunya warung yang berada di puncak tertinggi di Bandung. Kita bisa makan sambil menikmati pemandangan kota Bandung dari atas sini.”


“Oh iya, tunggu sebentar.” Kak Gavin kembali ke mobilnya dan mengambil sesuatu. Sorot mataku terus memperhatikannya.


“Pakai ini, nanti kamu kedinginan.” Kak Gavin menyodorkan sebuah jaket pria ke arahku.


“Tidak apa-apakan, bukan jaket wanita? Kamu juga tidak bawa jaket.” Aku diam sejenak, kupandangi sepasang bola mata kak Gavin yang kini menatapku serius.


“Em. Terimakasih.” Aku tersenyum ke arah kak Gavin sembari menerima jaket yang disodorkannya.


“Ayo,” ajaknya.


“Iya,” sahutku singkat.


“Kamu duduk dulu di sana, aku akan kembali sebentar lagi.” Kak Gavin menunjuk ke arah kursi dan meja yang terbuat dari batu yang berada di dekat tebing.


“Em.” Aku mengangguk kemudian bergegas pergi menuju tempat yang kak Gavin tunjukkan.


“Wah,” gumamku ketika melihat pemandangan kota Bandung yang begitu indah. Di sebelah kanan dan kirinya berhias perbukitan yang hijau. Aku duduk di kursi yang menghadap ke arah tebing, rasanya begitu dekat dengan langit sore yang menampakkan rona cerah sinarnya. Aku langsung memanfaatkan moment ini untuk berfoto-foto. Berbagi gaya pun ku coba dengan background yang berbeda-beda. Ada yang menghadap tebing, ada yang mnghadap warung, dan lain-lainya lagi.


“Apa kamu suka tempat ini?” tanya kak Gavin yang tiba-tiba sudah duduk di sebelahku. Di meja yang menghadapnya ada dua cup Pop Mie yang sudah di seduh, dan dua bungkus teh kotak.


“Lumayan. Kalau untuk refreshing, aku rasa cocok. Suasananya asri,” jawabku.


“Ini, makan dulu.” Kak Gavin menyodorkan satu cup Pop Mie ke arahku.


“Terimakasih.” Aku mengambilnya sembari tersenyum ke arah kak Gavin.


“Makanan di sini memang sederhana, tapi akan lebih terasa nikmat karena kita makan dengan suasana yang berbeda. Kita makan di lokasi tertinggi di kota Bandung, bahkan kita juga bisa melihat wilayah Bandung dari atas sini.” Aku yang sedang meniup mie yang masih agak panas, tersenyum kecil mendengar ucapan kak Gavin.


“Ya, walaupun sekadar Pop Mie dan teh kotak, lumayanlah. Ini ... tidak terlalu buruk.” Aku menekankan ucapanku di tiga kata terakhir sembari tersenyum mengejek. Kak Gavin diam sebentar mendengar ucapanku, setelah itu malah tertawa.


“Wah, apa ini balasan dari ucapanku tadi ketika berada di Saung Angklung Udjo?” Kak Gavin menatap serius ke arahku.


“Menurut Kakak?” Aku balas menatap serius. Kak Gavin terdiam, kami sekarang beradu pandang dengan tatapan penuh keseriusan, dan beberapa detik kemudian kami saling melepas tawa.

__ADS_1


__ADS_2