
Part 13
Sepanjang pulang, kami tidak terlalu banyak berkomunikasi. Aku memilih diam, sementara kak Gavin tetap fokus menyetir.
“Sudah sampai rumah kamu Ryn,” ujar kak Gavin setelah memberhentikan mobilnya.
“Oh iya. Terimakasih Kak,” ujarku lalu keluar dari mobil.
“Em, Maaf. Hari ini aku sudah banyak merepotkan Kakak. Terimakasih, Kakak banyak membantuku hari ini.” Aku menatap kearah kak Gavin, dan disambut hangat senyuman kak Gavin.
“Masuk dulu yuk,” ajakku. Kak Gavin tidak menjawabku, dia malah menatapku dengan tatapan mengamati.
“Kak, Kak Gavin,” ujarku sembari melambaikan tangan didepan wajah kak Gavin.
“ Oh, iya. Kenapa? Ada apa?” Kak Gavin sekarang malah seperti orang bingung.
“Mampir dulu Kak,” tawarku.
“Tidak, aku langsung pulang saja.
Maksudku ... lain waktu mungkin bisa.” Kak Gavin kini terlihat gugup, tapi dia berusaha seperti biasanya.
“Em, ya baiklah. Sekali lagi terimakasih,” ujarku sembari tersenyum kecil.
“Iya. Cepatlah masuk, hari semakin malam. Aku akan pulang sekarang, sampai bertemu besok,” ujarnya.
“Iya, aku akan masuk. Sampai bertemu besok.” Aku berjalan memasuki teras rumah, sementara kak Gavin memutar balik mobilnya keluar halaman. Aku berhenti sejenak didepan pintu, mataku menatap mobil kak Gavin yang semakin jauh, dan lama-lama menghilang dari pandangan. Aku pun memutar balik, lalu membuka pintu.
“Hah. Kak Alby,” ujarku setengah berteriak saat mendapati kak Alby berdiri di balik pintu.
“Kenapa? Kaget?” tanyanya polos.
“Kenapa Kakak disini? Sejak kapan?” Aku balik bertanya.
“Kenapa memang? Melihatku seperti melihat hantu saja,” jawabnya.
“Kakak itu mengejutkanku. Tiba-tiba saja muncul dibalik pintu, wajar aku terkejut.”
Aku menatap kak Alby jengkel.
“Kamu saja yang kagetan,” ejek kak Alby.
“Sudahlah, aku capek. Ini baksonya,” ujarku sembari menyodorkan kantung plastik berisi sebungkus bakso.
“Katanya tadi tidak mau aku titipi?” tanya kak Alby dengan nada mengejek.
“Eum, tapi ... bolehlah, udah terlanjur dibeliin juga.” Kak Alby meraih kantung plastik yang ku pegang. Aku tidak menjawabnya, hanya tersenyum kecut lalu pergi keatas.
“Kok dingin?” protes kak Alby. Aku hanya diam saja, malas rasanya mau menjawab.
Sampai diatas, aku langsung masuk kamar dan menghempaskan tubuhku ke ranjang. Huh, enak sekali, akhirnya aku bisa melepas lelah. Aku memeluk boneka keyanganku, lalu memejamkan mata. Aku mengingat banyak kejadian hari ini. Mulai dari pagi, hingga sekarang.
#####
Malam ini udara terasa begitu dingin, aku yang memakai gaun putih panjang dengan rambut yang terurai sebahu, masih bertahan duduk di ayunan. Sesekali juga, kakiku mengayun pelan. Tempat ini begitu indah seperti taman, tapi lebih tepatnya taman mini. Ya, bentuknya kecil, juga unik, tapi begitu indah. Banyak hiasan lilin disusun berdiri melingkar, sementara didalamnya banyak bunga mawar merah dan putih yang disusun rapi mengitari lilin. Tidak hanya itu, tanaman bunga hias lainya yang berada dalam vas juga banyak. Tanaman hias itu rapi tersusun berjajar di atas rak\-rak bunga.
Aku sangat menikmati suasana ini, sangat nyaman. Langit diatas sana yang berawan tipis dan dihiasi bintang-bintang yang berkerlip, seolah juga merasakan apa yang aku rasakan. Sang dewi malan pun juga turut hadir, dengan cahayanya yang terang. Dia seakan tidak ingin tertinggal suasana indah ini. Sayup-sayup, kudengar suara orang bernyanyi diiringi alunan melodi piano. Aku beranjak dari dudukku, telingaku mencari arah darimana suara itu terdengar.
Kucoba untuk melawan hati
Tapi hampa terasa disini tanpamu
Bagiku semua sangat berarti lagi
Kuingin kau di sini tepiskan sepiku
Bersamamu...
Aku seperti mengenal suara itu, entah kenapa hatiku semakin kuat mendorongku untuk mencari. Aku berjalan tidak tahu arah, yang aku tahu, aku mengikuti asal pendengaranku yang semakin jelas. Aku terus mengikutinya, semakin jelas, juga semakin dekat.
Takkan pernah ada yang lain di sini
__ADS_1
Segenap jiwa hanya untukmu
Dan takkan mungkin ada yang lain din sisi
Kuingin kau disini tepiskan sepiku
Bersamamu...
Aku memberhentikan langkahku, kudapati sosok pria yang tidak asing bagiku duduk memainkan piano dengan pakaian jas putih, yang dipadu dengan celana panjang warna putih. Karena dia membelakangiku, jadi wajahnya tidak terlihat.
Bagiku semua sangat berarti
Kuingin kau di sini
Bagiku semua sangat berarti lagi
Kuingin kau di sini...
Aku lekas menghampirinya, aku penasaran, dia siapa? Kenapa rasanya tidak asing lagi? Dan suuara itu ... suara itu ... aku seperti sangat mengenaalnya?
*Takkan pernah ada yang lain di sisi
Segenap jiwa hanya untukmu
Dan takkan mungkin ada yang lain di sisi
Kuingin kau di sini terpiskan sepiku
Bersamamu...
Hingga akhir waktu
Hingga akhir waktu*
Aku memberhentikan langkahku, dan berdiri agak jauh dibekalang pria itu. Ingin rasanya aku menyapa, namun hatiku melarang. Pria itu mengakhiri melodinya, sepertinya dia menyadari ada aku dibelakangnya. Dia pun menoleh kearahku, dan betapa terkejutnya aku saat melihat wajah pria itu.
“Kenzhi,” gumanku. Aku merasa sangat gugup sekarang, degup jantungku berasa tak beraturan, dan darahku terasa berdesir cepat. Kini, Kenzhi beranjak dari duduknya dan lekas menghampiriku dengan senyum manis yang tersungging di bibirnya. Sekarang dia berdiri menghadapku, lalu meraih kedua tanganku dan menggenggamnya erat.
“Berjanjilah, kamu tidak akan pernah melepaskan genggaman ini. Kamu akan terus menggenggamnya erat, seperti aku menggenggam sekarang ini.” Kenzhi menatapku dalam-dalam. Aku ingin bicara, tapi entah kenapa lidahku kelu, aku seperti kehabisan suara. Tanganku juga terasa bergetar ketika Kenzhi mengengamnya.
“Jangan pernah mencintai pria lain selain diriku. Kamu hanya milikku, dan selamanya akan tetap milikku. Berjanjilah, kamu hanya mencintaku. Jangan bagi cintamu untukku dengan pria lain, itu akan menyakitiku. Dengar, aku hanya mencintaimu, dan cintaku padamu utuh tak terbagi. Maka, jagalah cinta ini, aku sangat memercayaimu.” Kenzhi menatapku sangat serius. Aku mengangguk kecil, lidahku masih terasa kelu untuk berkata-kata.
“Aku akan pergi sekarang, jaga dirimu baik-baik.” Kenzhi melepaskan genggamanya lau berbalik. Sebelum Kenzhi melangkah, cepat-cepat aku memegang lenganya. Ya, aku menahanya. Tidak, lebih tepatnya aku tidak ingin berpisah lagi dengannya. Aku tidak ingin lagi dia pergi dariku.
“Kenzhi.” Aku mengatupkan kedua tanganku dimulut saat melihat wajah Kenzhi. Aku terkejut, kenapa wajahnya berubah. Aku sangat takut melihatnya, wajah yang kulihat bukanlah wajah Kenzhi lagi, tapi wajah dengan luka bakar serius, seperti foto korban kecelakaan yang aku lihat di kantor polisi. Aku mundur beberapa langkah kebelakang, tubuhku terasa gemetar. Dalam sekejap, wajah itu berubah lagi menjadi wajah Kenzhi.
‘Ah, aku tidak bisa mempercayai ini.’ Aku membatinya dalam hati. Aku memberanikan diri mencoba melangkah kedepan. Ketika aku aku mulai melangkah, wajah itu berubah menyeramkan lagi. Begitulah, terjadi berulang-ulang. Jika aku memundurkan langkah, wajah yang kulihat itu wajahnya Kenzhi. Namun jika aku maju, wajah itu selalu menjadi menyeramkan.
“Tidak mungkin!!” teriakku keras.
######
Aku membuka mata yang terpejam, dan kulihat langit-langit kamarku. Aku ternyata masih rebahan diranjangku. Huh, dadaku terasa sesak, juga nyeri. Aku masih tidak percaya apa yang terjadi.
“Aku memimpikan Kenzhi lagi,” ujarku ketika sadar itu hanya mimpi. Aku mengusap keringat di keningku.
‘Kenapa aku bermimpi sangat buruk malam ini? Apa maksudnya tadi?’ tanyaku dalam hati. Aku beranjak dari tidurku. Aku duduk dan bersandar pada headboard sembari memeluk bonekaku.
“Kenzhi, aku merindukanmu,” gumamku tanpa sadar.
“Kenzhi, kembalilah. Aku tidak bisa jauh dari kamu.” Aku tidak bisa menutupi perasaan lagi bahwa aku merindukannya.
*****
Pagi ini, aku bersiap seperti biasa. Aku yang kini duduk menghadap meja rias, menghela napas panjang. Kutatap wajahku dicermin, sedikit berbeda dari biasanya memang. Masih ada sisa-sisa kekalutan tadi malam kurasakan. Aku menghela napas panjang, kemudian beralih mengambil tas ranselku. Tidak lupa aku melirik arlojiku, dan ternyata aku hampir terlambat. Setelah melirik arlojiku, aku cepat-cepat turun menuju ruang makan.
Sampai di ruang makan, aku segera meneguk segelas susu yang sudah ibu siapkan di meja, lalu mencomot satu lembar roti tawar dan melahapnya dengan cepat.
“Duduk dulu, makan jangan sambil berdiri,” tegur ibu yang melihatku makan terburu-buru sambil berdiri.
“Maaf Ibu, aku harus cepat berangkat, hampir telat. Aku berangkat dulu.” Aku mencium punggun tangan ibu dan berlari keluar.
Sampai di ruang tamu, aku tidak sengaja bertabrakan dengan kak Alby.
“Kakak, kalau jalan hati-hati dong,” tegurku. Kulihat penampilan kak Alby yang masih kacau balau.
‘Dia baru saja bangun,’ pikirku. Aku menghela napas panjang.
“Apa? Kamu yang cepat-cepat, jadinya nabrak. Lagian sepagi ini kamu mau berangkat? Belum ada orang di sekolah.” Kak Alby menatapku dengan tatapan setengah sadar.
__ADS_1
“Dasar malas, siang seperti ini dibilang pagi,” umpatku kesal, lalu pergi. Sementara kak Alby tidak memperdulikanku, dia berjalan menuju ruang makan dengan santai sembari sesekali menguap.
*****
Aku berjalan lebih cepat dari biasanya. Huh, untung saja aku sudah sampai sekolah. Aku memberhentikan langkahku dan menghela napas panjang sejenak.
‘Akhirnya aku bisa bernapas lega,’ pikirku. Aku berjalan lebih santai kali ini, melewati halaman sekolah menuju koridor. Ternyata, hari ini sekolah lebih ramai dari kemarin. Siswa-siswinya juga terlihat lebih banyak dari hari kemarin. Ya, bagaimana tidak. Hari ini kan pertandingan final event sepak bola. Wajar sih, kalau lebih ramai dari kemarin-kemarin.
“Ryn, awas.” Kudengar dari arah belakang seseorang meneriakiku dengan keras. Aku tidak mengerti kenapa dia meneriaku begitu keras. Aku pun menoleh ke arah belakang, dan tiba-tiba seseorang menyambar tubuhku dengan cepat lalu menarikku beberapa langkah agak jauh dari posisiku sekarang. Selang beberapa detik setelahnya, aku mendengar suara vas bunga pecah.
“Kak Gavin,” ujarku setengah menggumam saat kudapati wajah orang yang menyambarku. Sejenak, kami diam dan saling beradu pandang. Sementara itu, posisiku sekarang dalam dekapanya.
“Oh, maaf.” Kak Gavin melepas dekapanya, sementara aku menundukkan kepala. Kenapa rasanya jantungku berdegup lebih kencang.
“Kamu tidak apa-apa? Ada yang sakit?” tanyanya. Kulihat ada rona-rona kecemasan di raut wajahnya. Aku tidak menjawabnya, hanya menggeleng. Aku masih tidak mengerti, kenapa dia menyambarku.
“Syukurlah kamu tidak apa-apa. Kamu hampir saja tertimpa vas bunga dari lantai atas,” jelasnya. Aku sekarang menjadi mengerti, kenapa kak Gavin menyambarku. Hari ini aku berhutang lagi padanya, dia menolongku lagi.
“Terimakasih. Kakak sudah menolongku,” ujarku berterimakasih.
“Iya, sama-sama. Lain kali, hati-hati kalau jalan.” Kak Gavin tersenyum ke arahku dan aku membalasnya.
“Kamu mau ke kelas?” tanya kak Gavin.
“Iya,” jawabku singkat.
“Bagaimana jika kita berjalan bersama?” tanya kak Gavin.
“Loh, bukanya kelas Kakak beda jalur denganku?” Aku kini balik tanya.
“Aku tidak ingin ke kelas, tapi aku akan pergi ke kantor kepala sekolah. Aku ada kepentingan disana, dan kantor itu melewati kelas kamu kan? Jadi, kita searah bukan?” tanya kak Gavin.
“Ooh. Ya baiklah, aku mengerti sekarang,” jawabku. Akhirnya, aku dan kak Gavin berjalan bersama melewati koridor sekolah.
“Ooh, itu,” batinku ketika sekilas melihat sebuah vas bunga yang terpecsh menjadi beberapa bagian berserakan di tanah.
Aku dan kak Gavin berjalan seperti biasa melewati koridor sekolah, bahkan nyaris tidak ada komunikasi. Namun ada yang aneh hari ini, aku merasa banyak siswa siswi memerhatikan kami. Ada sebagian yang menatap heran, dan ada juga yang tertawa cekikak\-cekikik melihat ke arahku. Aku berusaha cuek, dan bergegas menuju kelas. Kulihat dari kejauhan ternyata Sasa lebih dulu menungguku. Dia melambaikan tanganya ke arahku.
“Kita berpisah di sini, aku akan ke ruang kepala sekolah. Sampai jumpa lagi,” ujar kak Gavin setelah aku dan kak Gavin sampai di depan kelas.
“Iya, sampai jumpa,” balasku. Kak Gavin hanya tersenyum lalu pergi.
“Pagi Sa, ternyata kamu sudah menungguku disini. Padahal, aku berniat mau ke kelas kamu setelah meletakkan tas.” Aku mengawali percakapan dengan Sasa.
“Kamu, berangkat bersama dia?” tanya Sasa sembari jari telunjuknya mengarah kebelakang.
“Tidak. Kami hanya bersama sejak halaman sekolah. Kebetulan saja,” jawabku lalu masuk kedalam kelas dan meletakkan tas. Sasa pun mengikuti langkahku, dan kini menatapku serius.
“Aku perhatikan belakangan ini kamu berhubungan dekat yah dengan kak Gavin. Dia sangat peduli padamu,” ujar Sasa.
“Kami tidak dekat, hanya berteman biasa. Aku rasa tidak, dia hanya sering menolongku belakangan ini,” sahutku.
“Sama saja. Apa dia menyukaimu?” Aku terkejut mendengar pertanyaan Sasa. Kenapa sekarang dia bertanya seperti itu?
“Apa! Pertanyaan konyol. Mana mungkin, tidak lah. Jangan ngawur kamu Sa kalau bicara,” jawabku.
“Lalu, kenapa dia begitu peduli sama kamu? Dia juga perhatian bukan? Apa iya cuma teman?” tanya Sasa.
“Aku dan dia hanya berteman saja, tidak lebih. Kenapa kamu bertanya seperti itu?” Aku balik bertanya.
“Kalian ini sekarang sangat dekat, padahal sebelum-sebelumnya bertegur sapa saja hampir tidak pernah. Ya, aku kan tahu banget kamu seperti apa. Aku kenal kamu sejak SMP, dan aku tahu kamu tidak sembarangan berteman dengan pria. Dia juga begitu, sosok yang terlalu cuek dengan wanita. Dan sekarang tiba-tiba dengan kamu menjadi dekat seperti ini? Wajar saja aku curiga,” jelas Sasa. Memang benar sih apa yang dikatakan Sasa. Aku juga tidak mengerti, kenapa aku menjadi dekat dengan kak Gavin. Tapi semua terjadi begitu saja, tanpa ada rekayasa.
“Masalahnya, satu sekolah membicarakan kalian. Dan asal kamu tahu, ini menjadi trending topik nomor satu sekarang. Bahkan, ini mengalahkan berita yang kemarin-kemarin membeberkan kedekatan hubungan Yelena dan Steven. Kapten pemain sepak bola dari SMA Pambudi yang wajahnya seperti orang korea itu,” jelas Sasa.
“Yang benar kamu Sa? Aku jadi berita?” tanyaku tidak percaya.
“Kalau tidak, aku tidak akan memberitahu kamu. Tidak mungkin aku mau mengada-ada cerita, Ryn. Aku punya buktinya kalau kamu tidak percaya,” ujar Sasa lalu menunjukkan sebuah video yang di post di Instagram. Dalam video itu, berisi kejadian waktu aku menabrak kak Gavin di kantin. Termasuk ada adegan ketika aku terpeleset dan ditangkap kak Gavin.
“Kamu percaya kan sekarang?” tanya Sasa.
‘Dasar iseng. Siapa sih yang melakukan ini!’ batinku. Sejenak, aku menghela napas panjang.
“Kenapa diam saja?” tanya Sasa.
“Siapa sih yang ngelakuin ini? Iseng banget.” Aku benar-benar merasa kesal.
__ADS_1
“Kamu ini seperti tidak tahu saja. Sekolah kita kan selalu heboh, sedikit-sedikit dibuat berita. Kamu juga perlu tahu, video yang di post tidak hanya satu saja. Kalau kamu tidak percaya cek saja ponsel kamu,” ujar Sasa. Aku yang penasaran akhirnya mengecek juga di beranda Instagramku.
“Ah, ya ampun kenapa jadi seperti ini?” Aku terkejut bukan main. Ternyata tidak hanya satu akun saja yang memposting videonya. Bahkan aku lihat, ada video ketika kemarin aku pulang bersama kak Gavin. Lalu ada video ketika aku tadi ditolong kak Gavin. Kulihat banyak juga like dan komentar-komentar dari siswa siswi. Yang membuat aku semakin kesal, disana tidak hanya ada komentar positif. Tapi, komentar mencibir juga nyeleh.