Masihkah Ada Cinta

Masihkah Ada Cinta
Cemburu


__ADS_3

Part 14


Singkat cerita, aku dan Sasa ikut merapat di barisan penonton pertandingan. Sejak awal pertandingan, hingga sekarang pertengahan pertandingan berlangasung, aku menjadi pusat perhatian. Banyak orang membicarakanku, dan mereka juga sering melirik ke arahku. Keadaan ini membuatku menjadi kurang nyaman, suara-suara yang ku dengar memekakkan telingaku. Sementara Sasa yang duduk di sebelahku terlihat nyaman-nyaman saja dan biasa.


“Aku pergi sebentar,” ujarku pada Sasa yang tengah asyik mengotak atik ponsel di tanganya.


“Kemana?” tanyanya singkat.


“Ke kantin. Aku ingin beli air mineral, kamu mau?” tawarku.


Sasa menggeleng, ”Em, tidak.” lalu kembali memainkan ponselnya.


“Ya sudah.” Aku langsung beralih pergi meninggalkan Sasa.


*****


“Bu, saya beli ini satu,” ujarku di depan kasir sembari menunjukkan satu botol air mineral.


“Oh ya, lima ribu,” sahut ibu penjaga kantin. Aku pun mengeluarkan uang pas dari dompetku, lalu membayarkanya dan pergi. Aku berjalan meninggalkan kantin sembari meneguk sebotol air mineral yang ku beli. Ternyata sama saja, dimana-mana aku menjadi pusat perhatian siswa siswi. Mereka tidak ada hentinya membicarakanku. Entah itu secara langsung, ataupun melalui media sosial.


Langkahku terhenti, “Kak Gavin.”


Aku melihat beberapa orang menandu kak Gavin ke UKS. Aku langsung pergi menyusul ke UKS, ada rasa khawatir dalam diriku. Sampai di UKS, aku harus menunggu di luar karena kak Gavin sedang diobati. Salah seorang temanya juga ada di sini.


“Apa yang terjadi? Kenapa dia di tandu tadi?” tanyaku pada temanya yang bernama Ghany.


“Gavin tadi bertabrakan dengan pemain lawan, lalu jatuh dan kakinya cidera. Sepertinya dia tidak bisa bermain lagi, karena cideranya agak berat.” Entah kenapa hatiku merasa miris, rasa khawatirku semakin besar saja.


Tidak lama setelah itu, tiba-tiba Sasa datang dengan seorang pemain sepak bola dari tim lawan, namanya Kevlar. Wajahnya terlihat babak belur, dan di sudut bibir kanannya berdarah.


“Sudah aku bilang kan, jangan berkelahi. Tapi kamu masih saja ngeyel. Tau sendiri kan jadi babak belur seperti ini.” Kulihat ada rona kemarahan di wajah Sasa.


“Dia yang mulai duluan, bukan aku,” sahut Kevlar membela diri.


“Aku tidak peduli siapa yang mulai duluan, yang aku tahu kamu menjadi terluka. Ah, sudahlah. Tunggu di sini, aku akan mengambil P3K sebentar.” Wajah Sasa menyiratkan rasa khawatir pada Kevlar.


“Ryn. Sejak kapan kamu disini?” tanya Sasa yang ternyata baru menyadari ada aku di sini. Dia nampak terkejut ketika melihatku.


“Kenapa ini? Apa... yang terjadi Sa? Kenapa kamu bersama dia?” tanyaku pada Sasa.


“Dia... berkelahi dengan Daffa waktu di lapangan tadi. Jadinya... babak belur begini.” Nada jawaban Sasa terlihat berat ketika menjawab pertanyaanku.


“Lalu, dimana Daffa sekarang? Kenapa dia tidak datang dengan kamu?” tanyaku lagi. Ketika Sasa hendak menjawab, perhatian kami teralihkan oleh Daffa yang tiba-tiba datang bersama seorang siswi yang membuat Sasa cemburu. Wajah Daffa juga babak belur, dan di pelipis kanannya berdarah.


“Aku... aku akan mengambil obat sekarang,” ujar Sasa lalu pergi. Aku masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi antara Sasa dan Daffa. Mereka tidak pernah seperti ini sebelumnya. Dulu-dulu, ketika mereka marahan, mereka hanya saling diam sebentar saja, dan tidak lama kemudian sudah baikan lagi.


“Ayo kita duduk di sana,” ajak siswi itu duduk di kursi koridor yang ada di sebelahku berdiri. Ku lihat tangannya melingkar erat di lengan Daffa.


“Aku bisa jalan sendiri. Jangan menggandengku seperti ini.” Daffa menarik paksa lengannya. Dia terlihat marah dengan siswi itu. Dan ketika melewati Kevlar yang duduk di kursi koridor sebelah kiri di depan ruang UKS, Daffa meliriknya tajam. Begitu pula sebaliknya, sepertinya Kevlar juga merasa marah pada Daffa.


“Daffa, tunggu aku. Kamu ini sedang terluka,” ujar siswi itu mengejar Daffa.


“Daff,” panggilku ketika Daffa lewat di depanku.


“Ryn.” Daffa menoleh ke arahku, dia seperti terkejut ketika melihatku.


“Kamu... kenapa kamu...” belum selesai aku aku berucap, perhatianku dan Daffa teralihkan oleh Sasa yang keluar dari ruang UKS sembari membawa kotak P3K. Padahal aku ingin bertanya pada Daffa, tentang apa yang sudah terjadi di antara Daffa dan Sasa. Kenapa, sekarang terlihat saling membenci, tapi tidak jadi. Sasa sempat berhenti sebentar ketika dia berpapasan dengan Daffa. Ku lihat ada rasa iba di wajah Sasa, namun tidak lama kemudian berubah menjadi marah. Sementara Daffa, seperti ingin mengatakan sesuatu pada Sasa. Ketika Daffa hendak memanggil Sasa, Sasa memalingkan wajahnya lalu pergi meninggalkan Daffa yang masih berdiri di depanku.


“Ayo, tunggu apa lagi. Kamu terluka, dan sekarang aku akan mengobatimu.” Siswi itu menarik lengan Daffa, dan dengan berat hati Daffa menurut.


“Tunggu sebentar, aku akan membeli air dingin. Jangan membuat masalah,” ujar Sasa mewanti-wanti.

__ADS_1


“Aku tidak pernah membuat masalah, hanya....” Ucapan Kevlar terhenti ketika Sasa meliriknya tajam.


Kevlar mengehela napasnya sejenak, “Baiklah. Tidak akan."


Kevlar lalu tersenyum ke arah Sasa. Sasa tidak menjawabnya, dia pergi begitu saja. Beberapa menit kemudian, Sasa sudah kembali dengan membawa dua botol air mineral. Sasa membuka sebotol air mineral dingin yang tadi di belinya, kemudian dibasahkannya pada sapu tangan yang dia ambil dari saku bajunya.


“Ini mungkin akan sakit, tapi coba tahan, biar lukamu cepat sembuh.” Sasa menyeka perlahan luka di wajah Kevlar.


Kevlar meringis, tangannya memegangi tangan Sasa yang sedang menyekanya, “Pelan-pelan dong, sakit,” rintihnya.


“Tahan sebentar, jika kamu ingin sembuh.” Sasa kemudian menyekanya dengan anti septic.


“Kalau serius seperti ini, ternyata kamu cantik juga,” ujar Kevlar sembari tersenyum ke arah Sasa.


“Diam, atau aku akan membuat wajahmu lebih hancur dari ini,” ancam Sasa. Sasa kemudian menekankan sekaannya lebih kuat.


“Ah, sakit. Jangan kuat-kuat. Kamu sengaja membuatku lebih menderita,” ujar Kevlar sembari meringis menahan sakit.


“Mengertikan sekarang bagaimana rasanya babak belur. Kamu hampir saja membuatku jantungan tadi. Apa kamu tidak tahu, betapa cemasnya aku melihatmu berkelahi seperti tadi. Jangan ulangi lagi, aku tidak ingin melihatmu terluka,” ujar Sasa setengah mengomel.


“Apa sebegitunya kamu mencemaskanku?” Kevlar menatap Sasa serius.


“Tentu saja. Kamu orang penting dalam hidupku,” jawab Sasa sembari terus mengobati Kevlar.


“Kalau begitu, aku rasa, aku menjadi lebih cepat sembuh sekarang. Terimakasih, sudah mengobatiku.” Kevlar mencubit gemas hidung Sasa.


“Baguslah kalau begitu.” Sasa kemudian mengemasi obat P3Knya setelah setelah selesai mengobati Kevlar.


Aku beralih memandang ke arah Daffa, dia seperti cemburu berat melihat Sasa bersama Kevlar. Ada rona kemarahan di wajah Daffa. Bahkan, kaleng minuman soda yang dipegangnya remuk teremas, dan tanpa disengaja airnya keluar menyiram siswi yang sedang mengobatinya. Siswi itu terkejut, dan spontan berdiri mengibas-ngibaskan air yang mengenai bajunya.


“Daffa. Apa yang kamu lakukan!” serunya.


“Daffa, tunggu aku,” rengek siswi itu dengan nada manja, namun Daffa bersikap tidak peduli. Dia kemudian mengejar Daffa yang meninggalkanya.


Disatu sisi, Kevlar melempar senyum puas ke arah Sasa, sedangkan Sasa hanya diam. Wajahnya mendadak murung.


“Aish. Dia benar-benar cemburu melihat kita. Aku tidak percaya, ternyata aku bisa membuat orang cemburu,” ujar Kevlar lalu meneguk air mineral yang tadi dibelikan Sasa.


“Jangan membicarakanya lagi, atau aku akan menghancurkan wajahmu,” ancam Sasa. Sasa kemudian beranjak dari duduknya, lalu pergi begitu saja.


“Hey. Kenapa jadi marah begini? Aku tidak bermaksud membuatmu marah. Jangan tinggalkan aku.” Kevlar cepat-cepat mengejar Sasa.


“Ryn, bisa kita bicara sebentar?” tanya Ghany yang tiba-tiba membuka percakapan.


“Ya, bisa,” jawabku singkat. Aku dan Ghany beralih duduk di kursi.


“Maaf, aku tidak bermaksud lancang sama kamu. Tapi... aku perhatikan belakangan ini kamu dekat dengan Gavin, padahal sebelumnya kalian jarang sekali saling sapa, dan Gavin, orangnya juga cuek dengan wanita. Setelah mengenal kamu, dia berbeda. Gavin seperti kembali pada masa SMP dulu, ketika dia masih bersama dengan Chessy, sahabat wanita yang sejak kecil dia sukai.” Aku terkejut mendengar apa yang dikatakan Ghany, entah kenapa aku jadi mendadak gugup. Tapi, aku penasaran, kenapa dia bisa tahu tentang hubungan kak Gavin dengan sahabat wanitanya.


“Kamu... kamu tahu tentang sahabat kak Gavin?” tanyaku ragu-ragu.


Ghany tersenyum, “Apa kamu bercanda? Aku tentu saja mengenalnya. Aku, Gavin, dan Chessy teman sejak kecil,” jelasnya.


“Aku tidak bermaksud untuk mengetahui hubungan kalian, hanya saja aku ingin minta satu hal sama kamu. Tolong, jangan sampai kamu menyakiti Gavin, dia orang yang baik.” Wajah Ghany menatapku serius. Aku tidak menyangka dia akan bicara seperti itu. Aku tidak mengerti maksud sebenarnya apa, tapi dia seperti menaruh harapan kepadaku.


“Kak Gavin memang orang yang baik, dia sering menolongku ketika aku ada dalam masalah. Jadi, tidak mungkin aku menyakitinya. Dia teman yang baik bagiku,” jawabku.


“Dia memang seperti itu, dibalik sifat pendiamnya, dia akan menjadi orang yang sangat peduli pada siapa saja yang dia anggap penting,” jelas Ghany.


“Wah, sekarang aku merasa seperti masuk ketegori,” candaku.


“Mungkin saja begitu,” sahut Ghany sembari mengumbar senyum lebar ke arahku.

__ADS_1


Tiba-tiba seseorang keluar dari balik pintu, mengalihkan perhatianku dan Ghany. Yang keluar ternyata salah satu anggota tim medis yang mengobati kak Gavin.


“Bagaimana keadaan Gavin?” tanya Ghany.


“Dia baik-baik saja. Hanya cidera di kakinya membuat dia tidak bisa bermain sementara ini. Dia harus istirahat dulu, supaya cideranya cepat pulih. Oh iya, lebih baik dia diantar pulang sekarang, agar bisa lebih cepat istirahat,” jelasnya lalu pergi.


Setelah mendengar penjelasanya, aku dan Ghany bergegas masuk menjenguk kak Gavin.


“Kak Gavin,” gumamku ketika melihat kak Gavin sedang duduk di tepi ranjang UKS. Ku ihat, kaki kanannya yang cidera diperban. Kak Gavin juga sesekali meringis menahan sakit.


“Vin, kamu baik-baik saja?” Ghany terlihat mengkhawatirkan kak Gavin.


“Tenang saja, aku baik-baik saja. Ini hanya cidera kecil. Terimakasih sudah menjengukku.” Kak Gavin menyungkingkan senyum ke arah Ghany, dia tampak berusaha menyembunyikan rasa sakitnya.


“Kenzhi,” guamamku pelan tanpa sadar. Dadaku tiba-tiba terasa nyeri, aku jadi mengingat Kenzhi. Dia dulu juga pernah mengalami cidera di kakinya ketika mengikuti kompetisi pencak silat, bahkan tulang pergelangan kakinya patah, dan itu membuatku sangat khawatir.


“Ryn,” panggil kak Gavin.


“Ah, iya kak Gavin.” Aku tersadar dari lamunanku tentang Kenzhi.


“Terimakasih sudah menjengukku, tapi... bagaimana kamu bisa datang bersama Ghany?" tanyanya.


"Kami bertemu di luar," jawab Ghany cepat.


Aku tersenyum kecil, “Iya, bagaimana keadaan Kakak? Apa ada yang sakit lagi?”


“Tidak, ini hanya cidera kecil. Paling, beberapa hari lagi sembuh,” jawabnya.


“Kalau begitu, Kakak harus banyak istirahat,” saranku.


“Benar yang Ryn katakan, kamu harus banyak istirahat. Kamu pulang saja, biar aku yang izinkan,” sambung Ghany.


“Maafkan aku, aku tadi tidak hati-hati tadi.” Raut wajah kak Gavin menampakkan rona penyesalan.


“Tidak apa-apa, ini kecelakaan. Sudah, jangan terlalu difikirkan. Yang penting, kamu sembuh dulu.” Ghany menepuk beberapa kali lengan atas kak Gavin.


“Maaf, aku tidak bisa berlama-lama disini, aku harus segera kembali ke lapangan. Oh iya Ryn, bisa aku minta tolong antarkan Gavin pulang?” Ghany yang tadinya menatap kak Gavin kini beralih menatapku.


“Tidak usah, aku bisa pulang sendiri,” tolaknya halus.


“Tidak, aku akan mengantar Kakak pulang. Jangan pulang sendiri,” cegahku.


“Jangan menolak Vin, keadaan kamu sekarang tidak stabil,” timbrung Ghany.


Kak Gavin tersenyum,”Ya, baiklah kalau begitu,” sahutnya mengiyakan.


“Aku akan pergi sekarang, cepat sembuh.” Ghany menepuk pundak kak Gavin lalu pergi.


Setelah Ghany pergi, suasana menjadi hening. Kak Gavin diam saja, begitu


juga denganku. Rasanya menjadi canggung sekarang.


“Kita... pulang sekarang?” tanyaku ragu-ragu.


“Iya,” jawabnya singkat. Aku membantu kak Gavin turun dari ranjangnya, kemudian memapahnya.


“Terimakasih, kamu mau mengantarku pulang, maaf aku merepotkanmu.” Kak Gavin terlihat seperti tidak enak hati.


“Aku tidak merasa direpotkan kok, kita kan teman,” sahutku sembari tersenyum ke arah kak Gavin.


“Iya, teman.” Kak Gavin membalas senyuman kecilku.

__ADS_1


__ADS_2