Masihkah Ada Cinta

Masihkah Ada Cinta
Wisuda


__ADS_3

Part 24


“Aku selalu membenarkan apa yang aku yakini, meski itu selalu bertentangan dengan pemikiran orang banyak. Aku selalu memilih jalurku sendiri, dan tanpa menoleh ke jalur orang lain. Aku sangat percaya Kenzhi masih hidup, meski yang lainnya menganggapnya tiada. Tapi kenapa aku sama sekali tidak menemukan titik terang sebagai jalan penunjuk untuk aku bisa bertemu dengannya?” Aku menatap kak Gavin dengan serius.


“Iya, dulu. Kurang lebih empat tahun lalu aku seperti dirirmu. Tapi tidak sekarang, aku mengubah pola pikirku. Aku tidak ingin mengingat lagi masa-masa menyedihkan itu, sudah cukup waktu itu saja. Yang aku akan ingat hanya ... selama jantungku berdetak dan paru-paruku masih berfungsi dengan baik, aku akan terus meyakini jika suatu hari nanti aku bisa bertemu lagi dengannya.” Ku lihat ada air mata yang menetes dari kelopak mata kak Gavin.


“Jangan bersedih lagi, masih ada harapan untuk kita.” Kak Gavin menyeka air matanya sembari tersenyum lebar ke arahku.


“Em.” Aku mengangguk, lalu membalas senyuman kak Gavin.


*****


Keesokan harinya ketika aku sampai di sekolah dan berjalan melewati koridor, dari kejauhan aku melihat Sasa dan Daffa berdiri di depan kelasku. Aku memberhentikan langkahku, lalu menghela napas sejenak.


“Mereka pasti ingin menanyaiku tentang kemarin,” pikirku. Aku melanjutkan langkahku dan bersikap seperti biasanya, seolah tidak ada kejadian kemarin.


“Hai Ryn,” sapa Sasa sembari tersenyum ke arahku.


“Hai. Kalian sudah lama di sini?” tanyaku.


“Tidak.” Daffa menggelengkan kepalanya,


“Maksudnya, kami belum lama di sini.”


“Lalu?” tanyaku. Daffa dan Sasa saling bertukar pandang sejenak, seolah mereka saling memberi kode.


“Apa ... kamu baik-baik saja?” Sasa menatapku dengan serius sekarang.


“Kamu tidak memiliki masalah kan Ryn?” lanjutnya. Mendengar pertanyaan Sasa aku menjadi terdiam.


“Aku baik-baik saja,” jawabku.


“Kamu yakin?” tanya Daffa memastikan.


“Yakin. Memangnya, tampangku ini seperti tampang-tampang orang bermasalah ya?” candaku sembari tersenyum lebar.


“Tidak. Aku merasa lega kalau kamu baik-baik saja,” jawab Sasa.


“Jangan sungkan bercerita jika memiliki masalah, kami ini sahabat kamu Ryn.” Daffa memegang pundakku sembari tersenyum lebar.


“Iya, aku akan bercerita jika memiliki masalah. Hanya saja ... untuk sekarang ini aku tidak bisa bercerita apa-apa ke ....” Ucapanku terhenti.


“Kenapa?” Daffa memotong kalimatku.


“Ya, karena aku tidak memiliki masalah.” Aku tersenyum lebar ke arah Sasa dan Daffa.


“Oooh,” sahut Daffa mengerti.


“Kirain kenapa,” lanjutnya.


“Kamu itu terlalu cepat memotong kalimat Ryn, jadinya mengertinya setengah-setengah. Kebiasaan kamu itu harus dirubah, jangan suka memotong kalimat orang lain jika belum selesai bicara.” Sasa menasihati.


“Aish, rasanya aku selalu salah.” Daffa menggumam setengah menggerutu.


“Memang benar. Kamu itu selalu salah, dan sering ceroboh dalam melakukan apapun.” Sasa malah membenarkan.

__ADS_1


“Hey, sudah. Bel masuk berbunyi, apa kalian tidak ingin masuk kelas?” Aku menyela. Sasa dan Daffa menjadi diam setelah mendengar ucapanku.


“Cepat kembali sana, dan jangan bertengkar.” Aku mendorong Sasa dan Daffa bersamaan.


“Hey, kenapa mendorongku seperti ini? Tega sekali mengusirku.” Sasa tidak terima.


“Aku tidak peduli,” sahutku dengan nada candaan. Setelah melihat Sasa dan Daffa semakin jauh, aku menghela napas sejenak.


“Maafkan aku, tapi aku tidak bisa bercerita


apa-apa.” Aku menggumam sangat pelan.


*****


Singkat cerita, ujian Nasional kelas XII sudah dimulai. Sejak beberapa hari terakhir ini aku memutuskan untuk tidak menghubungi kak Gavin sampai ujian selesai. Takutnya, jika aku menghubunginya nanti malah menganggu konsentrasinya. Namun ternyata, kak Gavin lebih dulu menghubungiku. Pagi ini ketika aku bangun dari tidur, ku lihat ponselku menyala diiringi dengan getaran. Saat aku memeriksa, ternyata ada satu pesan WA dari kak Gavin.


“Hari ini aku ujian, kamu tidak akan memberiku doa, atau sekadar menyemangatiku? Bahkan beberapa hari ini kamu sama sekali tidak menghubungiku.” Aku tersenyum membacanya, namun aku merasa sedikit bersalah karena tidak menghubunginya.


“Maafkan aku, beberapa hari ini tidak menghubungi Kakak. Aku hanya tidak ingin mengganggu konsentrasi Kakak, ” balasku.


“Aku selalu memberikan doa dari sini,” lanjutku.


“Ya, bukan berarti kamu harus mendiamkan aku. Tapi, terimakasih sudah mendoakanku. Aku akan mentraktirmu makan setelah pengumuman kelulusan.” Kak Gavin membalas pesanku.


“Iya, aku tidak akan mendiamkan Kakak lagi. Semoga dapat nilai yang terbaik ya, dan dangan lupa janji makan-makannya. Semangat!” Aku menambahkan emot wajah tersenyum di pesan ku.


“Siap,” balas kak Gavin yang juga ditambahkan emot yang sama. Pesan kak Gavin ini megakhiri obrolan pagi ini.


*****



Setelah dua hari sibuk melakukan geladi bersih, dan mempersiapkan segala keperluan untuk acara perpisahan, akhirnya hari yang di tunggu\-tunggu pun tiba.



Pagi ini, aku berangkat lebih awal karena aku membantu persiapan teman\-temanku yang nanti akan mementaskan seni tari. Sampai di sekolah, ternyata kondisi sudah ramai oleh siswa\-siswi yang datang lebih awal dariku. Tidak lupa dengan guru\-guru yang juga datang lebih awal. Para panitia perpisahan terlihat sibuk ke sana\-sini entah mengurusi apa. Siswi\-sisiwi kelas XII yang sudah datang terlihat sangat cantik, karena berdandan dan memakai setelan kebaya. Siswa\-siswanya pun tak kalah tampannya, mereka memakai setelan jas hitam berdasi dan merapikan potongan rambutnya. Rona wajah siswa dan siswi kelas XII terlihat sangat gembira. Mereka memanfaatkan moment ini dengan berfoto\-foto sembari bercanda gurau.


“Wah,” gumamku tanpa sadar. Sejak tadi aku berjalan melewati koridor, rasanya aku ikut senang melihat mereka yang sedang sibuk, atau melihat mereka yang nanti akan diwisuda.


“Ekhm.” Sebuah suara dari belakang mengagetkanku. Aku berbalik arah untuk melihat siapa yang mengagetkan aku.


“Kak Gavin,” ujarku ketika melihat kak Gavin berdiri di depanku mengenakan setelan jas warna hitam di padukan dengan dasi berwarna biru tua. Beberapa saat aku mengamatinya dari atas sampai bawah, dan terlihat benar-benar perfect. Setelan jas dan dasi yang dia kenakan sangat cocok menempel di tubuhnya.


“Hai,” sapanya sembari melambaikan tangan kanannya.


“Wah, perfect. Kakak terlihat sangat tampan hari ini,” pujiku.


“Benarkah? Apa iya? Rasanya aku tidak percaya. Eh, tapi terimakasih sudah memujiku. Dan karena kamu yang mengatakannya, aku percaya.” Ada senyum lebar di bibir kak Gavin.


“Apa ... aku sekarang sudah mirip artis korea?” tanyanya diiringi dengan tawa kecil.


Mendengar pertanyaannya aku malah merasa geli, dan akhirnya tidak bisa menahan tawaku.


“Aku serius, kenapa tertawa?” Kak Gavin mengucapkannya sembari tertawa kecil.

__ADS_1


“Sepertinya jauh lebih baik dari itu,” jawabku.


“Atau ... malah lebih buruk.” Aku setengah berpikir.


“Terus, yang benar yang mana?” tanya kak Gavin protes.


“Aku tidak tahu,” jawabku sembari menaikkan kedua pundakku.


“Bagaimana? Apa kamu lega setelah tertawa?” tanyanya tiba-tiba.


“Sudah lama sekali aku tidak melihat kamu tertawa lepas, dan baru hari ini aku bisa melihatnya lagi.” Kak Gavin kini mengucapkannya dengan nada serius.


Mendengar ucapan kak Gavin, aku langsung memberhentikan tawaku.


“Aku senang bisa melihat kamu tertawa seperti ini.” Kak Gavin tersenyum ke arahku sembari memegang kedua pundakku. Aku melirik ke arah tangan kanan kak Gavin yang memegang pundakku.


“Selagi bisa tertawa, tertawalah. Jangan kamu selalu bersedih hati, karena kamu juga butuh tertawa.” Kak Gavin menasihati. Mataku tiba-tiba berkaca-kaca ketika mendalami tiap makna kata yang kak Gavin ucapkan.


“Em,” sahutku singkat menatap kak Gavin. Aku menghela napas sebentar sembari memejamkan mata.


“Aku mengerti,” sahutku sembari tersenyum. Kak Gavin tidak menyahut, tapi menatapku sembari tersenyum.


“Pengumuman-pengumuman. Untuk semua siswa siswi kelas XII diharapkan segera berkumpul ke sumber suara untuk melakukan pemotretan foto wisuda.” Mendengar suara pak Bimo, situasiku dan kak Gavin menjadi menjadi teralihkan. Kami menjadi fokus mendengarkan suara pak Bimo melalui pengeras suara.


“Sekali lagi, untuk siswa-siswi kelas XII, diharapkan untuk segera berkumpul ke sumber suara untuk melakukan pemotretan foto wisuda, terimakasih.” Pak Bimo mengulangi.


“Sepertinya aku harus pergi sekarang,” ujar kak Gavin.


“Iya. Aku juga harus ke kelas, karena aku harus membantu yang lain melakukan persiapan untuk pentas nanti,” sahutku.


“Sampai bertemu lagi.” Kak Gavin melambaikan tangannya sembari berlalu.


Pembicaraan kita pun berakhir setelah perginya kak Gavin. Aku tersenyum sesasat ketika kak Gavin melambaikan tangannya ke arahku, dan setelah jauh aku bergegas pergi ke kelas.


*****


Acara sudah dimulai, mayoritas guru, panitia acara, siswa-siswi sekolah dan walinya berkumpul di aula tempat acara wisuda berlangsung. Acara berlangsung dengan meriah, dan banyak terdengar sorak sorai ketika ada penampilan pentas seni drama dari kelas X IPS.


Di satu sisi aku yang masih sibuk di ruang ganti bersama teman\-teman kelasku yang sebentar lagi akan tampil di panggung, dengan cepat menyelesaikan persiapan. Setelah menyelesaikan persiapan, kami bergegas menuju aula. Sesampai di sini ternyata pentas drama sudah selesai, dan sudah berganti acara pembacaan nilai tertinggi dan peringkat satu sampai tiga. Karena banyaknya orang yang memenuhi aula, jadi aku hanya bisa melihat jauh dari belakang.


“Baik, karena pembacaan peringkat dan nilai tertinggi kelas IPS sudah selesai, maka sekarang bergantian untuk pembacaan peringkat dan nilai tertinggi kelas MIPA.” Telihat dari jauh bu Indri berdiri tegak di atas panggung dengan memegang kertas berisi data siswa yang mendapat peringkat, semenatara satu tangannya memegang microphone.


“Peringkat ke tiga kelas MIPA, diraih oleh ... Alvaro Argi Naruna dengan nilai rata-rata 7,8.” Terdengar sorak sorai dan tepuk tangan meriah ketika nama Alvaro disebutkan.


“Kemudian, untuk peringkat ke dua diraih oleh ... Adara Fredella Ulani dengan nilai rata-rata 8,6.” Suara sorak sorai dan tepuk tangan kembali terdengar meriah.


“Dan ... untuk yang terakhir, peringkat pertama kelas MIPA, diraih oleh ....” Bu Indri memberhentikan bicaranya, dia tersenyum simpul sembari menyapukan pandanganganya ke arah siswa-siswi kelas XII MIPA yang terlihat tegang dan penuh penasaran.


“Peringkat pertama, diraih oleh ... Gavin Pradipa Mahaprana dengan nilai rata-rata 9,4." Suara bu Indri terdengar menyeru ketika membacakannya.


Sorak sorai dan tepuk tangan terdengar lebih meriah dari sebelum-sebelumnya. Aku yang mendengarnya juga ikut merasa puas dan senang. Entah kenapa hatiku sangat gembira, seolah-olah aku yang mendapat peringkat.


“Untuk semua yang mendapat peringkat, dimohon naik ke atas panggung beserta walinya untuk menerima hadiah yang akan diberikan oleh kepala sekolah,” ujar bu Indri.


“Mari kita berikan sambutan tepuk tangan meriah untuk mereka yang berprestasi,” lanjut bu Indri. Tepuk tangan meriah mengiringi mereka yang mendapat peringkat naik ke atas panggung beserta walinya.

__ADS_1


__ADS_2