
Part 5
Sudah dua bulan aku menunggu kabar dari bandara tentang Kenzhi, namun masih juga tidak ada jawaban. Ah, rasanya aku sudah kehabisan kesabaran.
“Besok aku akan kesana,” pikirku. Dan besok adalah ke-empat kalinya aku kesana setelah dua minggu lalu.
*****
Aku menghela napas sejenak, mencoba menenangkan diri. Aku mulai melangkah kedepan loket pemesanan tiket.
“Kamu lagi. Ada apalagi kamu kesini?” Belum juga sampai kedepan loket, langkahku sudah dihentikan oleh Bapak satpam.
“Saya, saya ingin mencari kabar pak.” Rasanya aku jadi agak gugup. Apalagi melihat Pak satpam yang kini didepanku dengan penampilan tegas dan rona wajah kurang senang melihatku. Masih kuingat, dua minggu lalu aku dimarahinya karena datang kesini mencari kabar.
“Pulang saja. Percuma kamu datang tiap minggu, belum ada kabar!” ujarnya sembari menatapku tajam.
“Tapi pak ... saya ....” Belum selesai bicara lenganku sudah ditarik dibawa keluar loket.
“Sudah dibilangin masih ngeyel juga. Nggak ada kapok-kapoknya!” Dia memarahiku lagi dengan tatapan menyeringai.
“Saya mohon pak, biar saya memastikan lagi. Ini penting bagi saya,” ujarku memohon.
“Tidak bisa. Sudah. pulang sana!” Usir pak satpam itu padaku.
“Sekali ini saja,” mohonku.
“Tidak!” tolakknya setengah menyeru.
“Ada apa ini? Kenapa bapak marah-marah! Apa salah teman saya?” Ku lihat sosok tidak asing berbicara dengan nada marah.
“Kak Gavin,” batinku melihat sosok kak Gavin kini membelaku. Kak Gavin adalah kakak kelasku disekolah. Dia sering disebut altetnya sekolah, sebab ia sangat berprestasi dalam bidang olahraga. Disekolah, dia menjadi ketua tim basket dan sepak bola. Namun, dibidang olahraga lain ia juga sering mengikuti perlombaan. Dia juga aktif dalam kegiatan OSIS dan Pramuka.
“Siapa lagi ini! “ Pak satpam itu menghela napas panjang.
“Jangan kasar dong pak sama wanita. Kan bisa bicara baik-baik,”ujarnya marah.
“Kalian ini, sama saja. Sudah, pergi sana! Jangan buat masalah disini. Mengganggu suasana saja.” Pak satpam itu semakin naik darah, dan malah mengusir kami.
“Pak, saya mohon, sekali ini saja.” Aku masih terus memohon, namun rupanya pak satpam sudah tidak peduli.
“Saya bilang pergi, ya pergi! Kalian ini buat naik darah saja.” Ku lihat gigi-giginya mulai gemeretak, wajahnya memerah, dan tangan-tanganya mengepal.
“Sebaiknya kita pergi. Tidak akan ada gunanya bicara dengan orang seperti ini,” ujar kak Gavin melangkah pergi sembari menarik lenganku.
“Tapi kak, tunggu dulu. Aku ... aku ....” ujarku berusaha tetap disini, namun kak Gavin tidak mendengarkan perkata’anku.
Sesampainya ditempat parkir kak Gavin melepaskan peganganya.
“Kenapa kakak membawaku kesini? Aku masih ada keperluan disana,” ujarku merasa kesal.
“Untuk apa? Kamu terima diperlakukan seperti itu? Jangan terlalu merendah seperti tadi, dia bisa bersikap lebih semena-mena jika aku tidak membawamu pergi.” Kulihat wajah kak Gavin masih diselimuti rasa kesal.
“Ya, aku memang salah. Tapi apa aku juga salah, berharap menemukan kabar baik tentang Kenzhi disini? Aku hanya ingin mencari tahu keadaan Kenzhi. Sudah dua bulan lamanya aku menunggu, tapi tidak pernah ada kabar sesekali saja.” Kepalaku tertunduk, menutupi wajahku yang tidak bisa menahan airmata yang kini leleh begitu saja membasahi pipi. Aku tak bisa berkata-kata lagi. Napasku sesegukan dan aku terisak dalam tangisku.
“Hey, jangan sedih. Aku minta maaf, kata-kataku tadi kasar. Maafkan aku Ryn,” ujar kak Gavin menyesali. Aku masih terisak, lidahku masih cukup kelu untuk berkata-kata. Kak Gavin mendongakkan kepalaku dan mengusap airmataku.
“Jagan bersedih, aku yakin akan ada kabar baik tentang Kenzhi.” Dia menatapku penuh keyakinan.
__ADS_1
“Terimakasih kak Gavin sudah membelaku tadi. Maaf, kakak jadi keseret masalahku,” ujarku meminta maaf.
“Tidak, tidak. Aku yang salah, kata-kataku tadi ....” Kak Gavin merasa bersalah.
“Tidak. Aku saja yang terlalu bodoh tadi. Mau-mau saja di perlakukan seperti tadi,” ujarku memotong kalimat kak Gavin.
“Ya sudah. lebih baik kamu pulang sekarang,” saran kak Gavin.
“Iya, kakak benar. Aku akan pulang sekarang. “ Aku mengambil ponsel disaku bajuku.
“ Aku akan menelfon taksi sekarang,” pikirku.
“Biar aku antar.” Belum sampai aku menekan tombol angka di ponselku, kak Gavin menawarkan dirinya.
“Maksudku, aku akan mengantar kamu pulang.” Aku menoleh kearahnya dan kulihat wajah kak Gavin terlihat gugup.
“Terimakasih, tapi aku akan pulang sendiri saja,” tolakku.
“Ah, tidak. Emm ... maksudku, sebagai ungkapan maafku atas kejadian tadi.” Kak Gavin terlihat lebih gugup. Rasanya aku tidak enak juga ingin menolak. Sepertinya juga dia memang merasa bersalah.
“Baiklah, aku mau.” Aku tersenyum kecil kearah kak Gavin.
Singkat cerita, aku diantar kak Gavin pulang. Disepanjang perjalanan hanya ada kebisuan diantara kita. Kak Gavin masih sibuk menyetir, sementara aku hanya menatap kearah luar mobil. Melihat orang yang berlalu lalang melintasi jalanan, sembari tanganku sibuk memutar-mutar ponsel yang kupegang. Tiba-tiba kudengar bunyi suara perut keroncongan, dan itu tidak berasal dari perutku. Aku menoleh kearah kak Gavin, wajahnya terlihat memerah karena malu namun masih berusaha ditahannya.
“Maaf,” ujarnya singkat sembari menahan malu.
“Kakak pasti belum makan?” tanyaku sembari menoleh kearah kak Gavin. Rasanya aku jadi tidak enak melihat kak Gavin kelaparan.
“Bagaimana jika kita makan bersama?” tawarku.
“Tapi kakak lapar. Jangan anggap remeh, nanti kakak tidak fokus menyetir,” ujarku.
“Tidak, aku ... aku masih kuat kok. Ini hanya hal biasa yang sering aku alami,” elak kak Gavin.
“Benarkah?” Aku menatapnya curiga.
“Iya, aku benar-benar tidak apa-apa.” Kak Gavin masih terus saja menyembunyikan rasa laparnya. Tetap saja aku merasa tidak enak, tapi kak Gavin masih saja gengsi mengakuinya. Padahal sudah terlihat jelas di wajahnya.
“Jika kakak menolak tawaranku, aku akan merasa sama bersalahnya seperti kakak.” Ini cara terakhir yang bisa aku lakukan untuk mengajaknya makan.
“Kamu tidak keberatan?” tanya kak Gavin ragu-ragu.
“Kenapa keberatan? Aku juga lapar,” ujarku sembari menyunggingkan senyum kecil.
“Ya sudah. Aku akan mencari tempat makan disekitar sini,” ujar kak Gavin. Setelah agak lama menyusuri jalanan, kak Gavin memberhentikan mobilnya disebuah cafe kecil dipingir jalan. Tempat ini, aku pernah kesini beberapa kali dulu. Aku ingat, Kenzhi yang mengajakku kesini. Dan sudah lama aku tidak kesini sebelum sekarang aku kembali makan disini.
“Kita makan disini?” tanyaku.
“Iya. Memangnya kenapa? Kamu tidak suka? Atau, kita pindah ketempat lain saja,” tawar kak Gavin.
“Tidak, aku suka. Mari kita masuk,” ajakku. Aku memasuki ruangan bersama kak Gavin, lalu mencari tempat duduk. Tempat ini terlihat ramai oleh remaja-remaja yang mengisi ruangan ini. Entah sekadar ngopi-ngopi, atau hanya nongkrong. Namun tak jarang juga yang makan bersama keluarga, teman, atau pasangan.
“Ayo, kita duduk disana,” ajak kak Gavin sembari menunjuk ke tempat duduk yang berada di sudut ruangan dekat jendela. Aku mengangguk, memberi kode bahwa aku menyetujuinya. Aku mengikuti langkah kak Gavin menuju tempat duduk. Aku duduk berhadapan dengan kak Gavin. Tidak lama setelah kami duduk, seorang pelayan wanita menhampiri dan memberikan daftar menu.
“Kamu mau pesan apa?” tanya kak Gavin.
“Aku, pesan Spicy Thai Chicken lunch dan ... minumanya ... Green tea,” ujarku sembari melihat daftar menu.
__ADS_1
“Em, mbak. Saya pesan Spicy Thai Chicken lunch dua, minumanya satu Green tea, dan satu lagi Orange juice,” ujar kak Gavin memesan.
“Sudah, itu saja?” tanya pelayan wanita itu.
“Iya, itu saja,” ujar kak Gavin mantap.
“ Baiklah, silahkan tunggu sebentar, saya permisi dulu.” Setelah selesai mencatat pesanan, pelayan itu lalu pergi.
“Ternyata sudah sedikit berubah,” batinku melihat isi ruangan ini. Aku masih ingat betul pertama kali datang kesini. Waktu itu, hari ulang tahun Kenzhi. Aku dipaksanya untuk mau ditraktir makan. Awalnya, aku menolak sebab aku gengsi, tapi sebenarnya aku sangat mau. Dengan wajah pura-pura jengkel, aku meng-iyakan ajakan Kenzhi. Dan responya, ia menyambutku dengan penuh senyum.
“Hey. Ryn,” ujar kak Gavin membuyarkan lamunanku. Ah, aku masih saja melamun. Masih terlalu terbawa perasaan masa lalu. Tanpa aku sadari, ternyata makananya sudah datang.
“Eh, iya kak, kenapa?” tanyaku spontan.
“Ayo makan, makananya sudah datang. Nanti keburu dingin tidak enak loh,” ujar kak Gavin.
“Iya kak,” sahutku. Aku menikmati makan siangku dengan nikmat. Kak Gavin sepertinya juga sangat menikmati, terlihat dari caranya yang makan dengan lahap. Selesai makan, aku pun diantar pulang.
*****
“Terimakasih, kak Gavin sudah mengantarku pulang,” ujarku setelah turun dari mobil kak Gavin.
“Iya, sama-sama,“ ujar kak Gavin sembari menyunggingkan senyum kecil di bibirnya.
“Mampir dulu kak?” tawarku.
“Tidak, terimakasih. Aku langsung pulang saja,” sahutnya.
“Sebentar lagi sore, dan aku harus latihan Sepak bola bersama teman-teman.” Dia melirik jam tanganya, lalu berganti menoleh kearahku.
“Ooh begitu, ya sudah tidak apa-apa. Mungkin, lain waktu bisa,” ujarku memaklumi.
“Iya, mungkin lain kesempatan. Sekali lagi, aku minta maaf atas kejadian tidak mengenakkan tadi.” Wajah kak Gavin masih diselimuti rasa sesal.
“Tidak, jangan meminta maaf terus seperti ini. Aku yang malah berterimakasih, kakak sudah membawa aku pergi dari sana.” Aku tersenyum kecil kearah kak Gavin.
“Baiklah. Kita seri, satu sama. Aku pulang dulu, sampai bertemu besok,” ujarnya berpamitan.
“Oke,” sahutku singkat. Tak lama kemudian mobil kak Gavin lekas berlalu pergi.
*****
Hari ini aku berangkat lebih awal. Sebab, ada upacara rutin hari senin di sekolah. Ku nikmati setiap gerakan langkahku sembari menghirup segarnya udara pagi.
“Ryn.” Ku dengar seseorang memanggilku dari belakang. Akupun memberhentikan langkahku dan menoleh kebelakang.
“Kenzhi,” batinku. Kulihat wajahnya menyunggingkan senyum.
“Hey Ryn,” sapanya yang kini berdiri tepat disampingku. Aku tak menjawabnya. Ku amati wajahnya dalam-dalam.
“Hey, kenapa diam saja?” tanyanya heran.
“Kak Gavin,” gumamku setelah sadar yang disampingku bukanlah Kenzhi. Ah, ternyata aku masih terbawa perasaan.
“Kenapa kakak jalan kaki?” tanyaku yang heran. Sebab, tidak biasanya kulihat Kak Gavin jalan kaki.
“Tidak apa-apa, hanya ingin saja.” Dia menyunggingkan senyum kecil yang kemudian melebar.
__ADS_1
“Ooohh. Mobil kakak dimana?” tanyaku.
“Dirumah. Aku sedang malas naik mobil. Ternyata, jalan kaki lebih enak,” jawabnya. Aku tidak menjawabnya, hanya tersenyum kecil.