
Part 21
Lampu di ruangan perlahan meredup, dan lama\-lama menjadi padam. Sementara itu, cahaya dari layar film yang di mulai, menggantikan lampu penerang. Mayoritas besar pandangan orang\-orang di ruangan fokus tertuju ke arah layar. Sisanya, ada yang masih sibuk dengan ponselnya, makn camilan, bahkan tidur.
“Jhia, bagi dong minumannya, kita haus di belakang.” Ku dengar suara Cyra dari belakang meminta minuman.
“Oh iya, ini.” Ku lihat Jhia menyodorkan beberapa minuman ke belakang.
“Aku juga,” sambung Ruhan. Jhia mengambilkansatu minuman untuk Ruhan.
“Terimakasih.” Ruhan mengembangkan senyuman manis sembari menerima sebuah minuman yang diambilkan Jhia.
“Kamu tidak ingin minum By?” tanya Ruhan.
“Tidak,” sahut kak Alby singkat.
“Kalian saja, aku tidak haus,” lanjut kak Alby.
“Kamu Ryn? Mau minum tidak? Jangan malu-malu, kalau mau minum masih ada kok.” Ruhan berganti menawariku.
“Nanti saja, aku belum haus,” tolakku sembari tersenyum kecil.
“Benar tidak haus? Jangan karena Alby tidak minum, kamu juga ikut-ikutan tidak minum. Mau aku ambilkan?” tawar Ruhan.
“Eh, tidak usah. Aku benar-benar belum haus, bukan karena kak Alby tidak minum,” tolakku.
“Kalian ini saling pengertian yah. Aku jadi mulai iri denganmu By.” Ruhan menepuk pundak kak Alby.
“Dalam hubungan memang harus saling mengerti, dan kompak. Bukan begitu Jhia? Kamu juga akan mengerti Ruhan kan?” Kak Alby kini menoleh ke arah Jhia. Setelah mendengar pertannyaan kak Alby, Jhia terlihat gugup untuk menjawabnya.
“Iya, benar. Aku juga akan mengerti Ruhan, dia pria yang baik.” Ada senyum yang dipaksakan di bibir Jhia.
*****
Seusai menonton film di bioskop, kami pergi makan malam di cafe yang berada tidak jauh dari lokasi bioskop. Tempatnya sederhana, namun cukup ramai dengan pemuda-pemudi yang mengisi tempat tersebut. Ada hiburan musik band nya juga yang ikut meramaikan suasana. Karena di dalam sudah hampir penuh, kami memilih tempat duduk di halaman luar. Suasananya lebih terasa nikmat, ditambah lagi bisa melihat langit yang cerah berhias ribuan bintang yang berkelip. Sang rembulan pun tidak ingin ketinggalan, dia juga ikut bersinar menghias langit malam.
*Datanglah bila engkau menangis
Ceritakan semua yang engkau mau
Percaya padaku aku lelakimu
Mungkin pelukku tak sehangat senja
Ucapku tak menghapus air mata
Tapi ku di sini sebagai lelakimu*
Aku lah yang tetap memelukmu erat
Saat kau berpikir mungkinkah berpaling
Aku lah yang nanti menenangkan badai
Agar tetap tegar kau berjalan nanti
Vokalis band melantunkan lirik-lirik lagu dengan penuh penghayan. Ketika melihat mereka manggung, aku seperti melihat Kenzhi ikut berada di atas sana. Dulu, ketika libur sekolah, Kenzhi sering manggung di cafe-cafe dengan teman-teman club band nya. Dia juga sering menyanyikan lagu seperti yang sekarang ini ku dengar ketika bersamaku. Aku menjadi terlarut dalam lantunan lagu, seperti aku mengalami cerita yang ada di dalam lirik lagu tersebut. Suara vokalis band juga terdengar seperti suara Kenzhi ketika bernyanyi dulu. Benar-benar persis, seperti tidak ada perbedaan.
*Sudah benarkah yang engkau putuskan
Garis hidup sudah engkau temukan
__ADS_1
Engkau memilih aku sebagai lelakimu
Aku lah yang tetap memelukmu erat
Saat kau berpikir mungkinkah berpaling
Aku lah yang nanti menenangkan badai
Agar tetap tegar kau berjalan nanti*
Aku menjadi semakin terlalut. Aku teringat ketika Kenzhi menghiburku dengan lagu ini saat aku marah dengannya karena aku cemburu melihat Kenzhi bersama Yelena. Dia bernyanyi sangat penuh penghayatan. Dia seolah\-olah meyakinkan aku bahwa dia akan terus bersamaku, dan tidak akan berpaling. Semakin lama aku mendengar lagu ini, dadaku terasa nyeri, dan sakit. Aku juga menjadi kesulitan bernapas. Ada genangan air mata di kelopak mataku.
“Maaf, aku permisi ke belakang sebentar.” Aku mengucap pamit, sembari beranjak dari tempat dudukku.
“Oh iya, silakan. Kami akan menunggumu,” sahut Kenan. Sementara yang lainnya mengangguk pertanda mengiyakan. Aku cepat-cepat pergi menjauh, mencari tempat untukku bisa menghela napas lega. Aku berjalan sembari menyeka air mataku. Setelah berjalan agak jauh, aku duduk di kursi kosong di sudut cafe.
Aku menghela napasku berkali\-kali, mencoba menenangkan diri, juga berharap agar rasa sakit di dadaku mereda. Namun nyatanya aku tidak bisa menghentikan air mataku yang terus menggenang, dan kemudian menetes pada akhirnya. Aku menundukkan kepalaku sembari terus menyeka air mataku. Tiba\-tiba, kurasakan sebuah tangan kecil mengusap air mata yang mengalir di pipiku. Aku mendongakkan kepala, dan ku lihat seorang anak laki\-laki berumur kurang lebih sekitar lima tahunan berdiri di depanku sembari tersenyum.
“Kakak kenapa menangis? Apa ada yang membuat Kakak menangis?” tanya anak itu dengan polos.
“Tidak ada. Tidak ada yang membuat Kakak menangis,” jawabku.
“Tapi kenapa Kakak sedih, dan pipinya basah air mata?” tanyanya lagi.
“Kata siapa? Tidak kok, Kakak tidak sedih.” Aku berusaha tersenyum sembari menyeka air mataku.
“Lalu kenapa Kakak menangis? Pasti ada yang membuat Kakak sedih?” Anak itu kemudian duduk di sebelahku.
“Ceritakan padaku Kak, siapa yang membuat Kakak menangis dan sedih seperti ini? Beri tahu aku yang mana orangnya Kak, biar aku hajar dia.” Dia mengucapkannya dengan mantap.
“Kakak tidak sedih, tidak ada juga yang membuat Kakak menangis, tapi tadi mata Kakak kecipratan sambal ketika Kakak menuangkannya ke piring. Kakak malu kalau ketahuan sama teman-teman Kakak, makanya Kakak pindah ke sini.” Aku mencoba memberi alasan.
“Orang dewasa memang selalu begitu, kalau makan tidak hati-hati. Mereka suka makan pedas, dan cepat-cepat kalau menuangkan sambal, makanya bisa sampai mengenai mata. Dulu, aku juga pernah seperti Kakak, kecipratan sambal ketika ibuku menuangkan sambal ke piring. Aku menangis, tapi ibuku cepat-cepat membasuh mataku dengan air. Setelah itu mataku tidak perih, dan aku tidak menangis lagi.” Anak itu tersenyum manis ke arahku.
“Orang dewasa terkadang lebih cengeng dari anak kecil, tapi mereka malu untuk mengaku.” Ada senyum kecut di bibir anak itu.
“Katakan, siapa nama kamu?” tanyaku.
“Kenzhi, namaku Kenzhi.” Ketika mendengar anak itu mengatakan namanya aku menjadi terdiam. Ada getaran yang tiba-tiba menjalar di tubuhku. Sejenak, jantungku juga berdegup lebih cepat.
“Kenapa Kakak diam? Kakak sedih lagi ya?” tanya Kenzhi.
“Makan ini.” Kenzhi menyodorkan sebuah permen lolipop ke arahku.
“Lolipop?” Aku memutar-mutar lolipop yang ku pegang sekarang.
“Iya. Kata ibu, kalau sedih makan lolipop, nanti sedihnya hilang.” Kenzhi mencoba meyakinkanku.
“Benarkah?” Aku setengah melirik ke arahnya.
“Benar, sini biar aku yang buka.” Kenzhi merebut permen yang aku pegang, kemudian membukakan bungkusnya dan setelah itu memberikannya padaku.
“Kita makan bersama.” Kenzhi tersenyum ke arahku, kenudian memasukkan permen lolipop miliknya ke dalam mulut.
“Jangan sedih lagi Kak, aku tidak ingin melihat Kakak sedih lagi.” Kenzhi memberi peringatan.
“Memangnya kenapa kalau Kakak sedih ?” tanyaku.
“Permenku habis, aku tida bisa memberinya lagi. Jadi, Kakak tidak boleh bersedih lagi.” Kenzhi tersenyum ke arahku.
“Ada-ada saja kamu. Kamu lucu,” ujarku sembari mencubit gemas pipinya. Aku juga tertawa kecil, dan dia mengikutinya.
__ADS_1
“Berjanjilah, Kakak tidak akan sedih lagi.” Kenzhi mengacungkan jari kelingkingnya ke arahku.
“Janji.” Aku menyahut jari kelingkingnya.
“Aku akan kembali ke ibu.” Kenzhi turun dari tempat duduknya.
“Dimana ibu kamu?” tanyaku penasaran.
“Itu.” Kenzhi menunjuk ke arah meja nomor tiga yang berada di depanku.
“Sampai bertemu lagi Kak,” ujarnya. Dia mengecup pipi kiriku lalu berlari pergi. Aku sempat terkejut ketika dia mengecup pipiku, namun aku tidak sempat mengatakan apa-apa karena dia sudah jauh.
Aku melirik arlojiku, dan ternyata aku sudah terlalu lama di sini. Aku lekas beranjak dari dudukku, dan bergegas pergi. Namun, perjalananku tidak selancar yang aku kira. Ketika aku berbalik arah dan melangkah, tidak sengaja kaki kananku menginjak tali sepatu kaki kiriku yang lepas. Alhasil, aku kehilangan keseimbangan dan nyaris jatuh ke lantai jika tidak menabrak seorang pria yang sedang lewat di depanku. Dia spontan menangkap tubuhku agar tidak jatuh, dan tanpa sengaja memelukku. Ketika berada di pelukannya, aku merasakan sesuatu yang aneh. Aku merasa tidak asing dengan pelukan ini, seolah-olah aku pernah merasakannya. Dan, pelukan ini terasa seperti pelukan Kenzhi. Setelah beberapa saat, dia melepaskan pelukannya. Dia segera menurunkan topi hitam yang di pakainya untuk menutupi separuh wajah bagian atasnya.
“Kamu baik-baik saja?” tanyanya setelah melepas pelukannya.
“Ha?” Aku masih setengah sadar. Rasanya perasaanku masih terhanyut dalam pelukan baru saja.
“Kamu baik-baik saja?” tanyanya mengulangi.
“Ah, iya. Aku baik-baik saja,” jawabku.
“Syukurlah, kalau begitu. Lain waktu hati-hati kalau berjalan.” Dia mengingatkan.
“Iya, terimakasih sudah mengingatkanku. Aku akan mengingat pesanmu.” Aku tersenyum ke arahnya.
“Bagus.” Ku lihat ada guratan senyum kecil di bibirnya, meski tidak dapat aku lihat wajahnya dengan jelas.
“Tali sepatumu lepas, biar aku ikat.” Dia beralih jongkok di depanku lalu mengikat tali sepatuku yang lepas.
“Ryn!” Dari jauh, ku dengar seruan suara kak Alby memanggilku. Aku menyapukan pandanganku ke sana sini mencari arah sumber suara.
“Kak Alby.” Aku mengangkat tangan kananku setinggi telinga ketika melihat kak Alby dari jauh. Setelah kak Alby melihatku, dia cepat-cepat menghampiriku.
“Kamu dari mana saja? Ayo kita kembali,” ajaknya.
“Maaf Kak, aku juga akan kembali sekarang.” Aku meminta maaf sembari tersenyum kecil.
“Kamu sudah terlalu lama pergi, aku mencari kamu sejak tadi. Sebaiknya kita cepat, kasihan yang lain terlalu lama menunggu.” Kak Alby menarik pergelangan tangan kananku.
“Eh, tunggu sebentar.” Aku memegang tangan kak Alby dengan tangan kiriku, mencegah kak Alby menarik tanganku.
“Kenapa?” tanya kak Alby.
“Aku ingin mengucapkan terimakasih,” jawabku. Aku berbalik arah sembari mengembangkan senyum lebar.
“Aku ingin mengucapkan terimaka ....” Ucapank terhenti ketika melihat pria yang tadi membenarkan tali sepatuku sudah tidak ada. Pandanganku kini menyapu ke sekeliling tempat, mencari-cari sosok pria yang tadi membenarkan tali sepatuku.
“Terimakasih? Pada siapa?” tanya ka Alby. Sekarang, kak Alby ikut menyapukan pandangannya ke sekeliling tempat.
“Tadi dia ada di sini.” Aku menunjuk ke arah tempat pria yang jongkok di depanku.
“Dia siapa? Yang mana?” tanya kak Alby bingung.
“Dia. Seseorang yang tadi jongkok, dan mengikat tali sepatuku.” Aku mencoba menjelaskan.
“Ha?” Kak Alby malah terlihat semakin bingung.
“Aku bicara benar Kak, tadi ada seseorang yang jongkok di depanku lalu mengingkatkan tali sepatuku yang lepas. Aku tidak bohong.” Aku mencoba meyakinkan.
Kak Alby menghela napasnya. “Mungkin dia sudah pergi. Sebaiknya kita kembali. Kita akan segera pulang, hari sudah semakin malam.”
__ADS_1
“Iya, Kakak benar. Mungkin dia sudah pergi.” Ada rasa kecewa dalam hatiku karena aku belum sempat mengucapkan terimakasih.