Masihkah Ada Cinta

Masihkah Ada Cinta
Bisikan Hati


__ADS_3

Part 23


Beberapa hari sudah berlalu tentang kejadian di cafe itu antara aku dan pria bertopi hitam, juga ketika aku bermimpi bertemu Kenzhi. Namun, sampai sekarang aku sudah masuk sekolah, aku masih terbayang\-bayang. Ingatan itu sulit kepas dari pikiranku, dan itu sangat mengusik kegiatanku setiap harinya. Kegiatan di sekolah juga menjadi terganggu karena aku menjadi sering melamun memikirkan kejadian itu.



Sejak empat puluh lima menit lalu, sampai sekarang bel istirahat berbunyi, aku masih sibuk menggambar. Sebenarnya tadi ada pelajaran Bahasa Inggris, tapi gurunya tidak datang, juga sekadar memberi tugas. Jadi, waktu itu menjadi jam kosong, dan aku mempergunakan waktu ini untuk menggambar. Tidak tahu kenapa aku sangat ingin menggambar pria yang waktu itu di cafe. Aku mengingat dekapannya, rasanya sama persis ketika berada dalam dekapan Kenzhi. Ingatanku kemudian beralih ketika aku bermimpi bertemu Kenzhi setelah malam itu aku pergi bersama kak Alby.


“Rasanya benar-benar nyata. Aku merasakan dekapanmu dalam dirinya.” Ku pandangi gambar pria itu yang sekarang ku pegang. Ada getaran di dadaku ketika aku mengingat dekapan pria itu.


“Kapan kamu akan kembali Zhi? Haruskah aku menunggumu di kehidupan berikutnya?” Aku menggumam sangat pelan, nyaris tak terdengar.


“Hai Ryn.” Ku lihat Sasa dan Daffa datang menghampiriku.


“Hai,” sahutku.


“Ayo kita ke kantin?” ajak Sasa. Ada guratan senyum lebar di bibirnya.


“Kalian datang berdua? Apa ... kalian sudah baikan?” tanyaku memastikan.


“Kami sudah baikan.” Sasa mengangguk.


“Dan ... itu berkat kamu. Jika waktu itu kamu tidak memberiku saran, mungkin aku masih belum baikan dengannya.” Daffa kini melirik ke arah Sasa.


“Wah, syukurlah. Aku ikut senang untuk kalian berdua.” Aku tersenyum ke arah Sasa dan Daffa.


“Eh, tunggu. Bagaimana ceritanya kalian bisa baikan?” tanyaku penasaran. Sasa dan Daffa saling bertukar pandang, seolah saling memberi kode.


“Dia meninggalkan tunangannya demi aku,” jawab Sasa diiringi dengan senyum puas.


“Daf ....” Aku melirik ke arah Daffa.


“Ya, begitulah. Posisinya tidak bisa digantikan oleh siapapun. Dia tidak membiarkan aku berhenti sedetik pun untuk tidak memikirkannya. Aku tidak bisa jika harus jauh darinya, dia itu seperti permata yang memikat hati.” Ada nada serius di setiap kata yang Daffa ucapkan. Sementara itu, Sasa terlihat senyum-senyum bahagia mendengarnya.


“Wah, apa ini ungkapan perasaan?” goda ku. Daffa menatap Sasa dengan senyum lebar, seolah meminta Sasa yang menafsirkan kata-kata yang dia ucapkan. Namun Sasa tidak menjawabnya, dia hanya tersenyum malu. Pipinya juga memerah secara perlahan.


“Tidak perlu diawab, aku sudah mengerti sekarang,” ujarku yang mengerti dengan keadaan.


“Sekarang kamu menjadi berani ya?” Aku tersenyum kecil ke arah Daffa.


“Aku hanya mengikuti saran kamu. Bagaimanapun juga, aku tidak bisa selamanya diam. Akan tiba saatnya untuk aku berani melawan rasa takut.” Daffa membalas senyumku.


“Benar. Aku setuju dengan kamu Daf,” sahutku.


“Eh, gambar siapa ini?” Sasa merebut gambar pria di cafe waktu itu yang sekarang di tanganku. Dia memerhatikan gambar itu, diikuti Daffa.


“Bukan siapa-siapa.” Dengan cepat aku merebut gambar di tangan Sasa.


“Ini hanya gambar biasa.” Aku menggulung gambar yang ku pegang. Bukan karena tidak boleh melihatnya, tapi aku tidak ingin mereka bertanya banyak hal tentang gambar ini.


“Uwuuu, sepertinya seseorang yang istimewa.” Sasa melirikku dengan lirikan menggoda.

__ADS_1


“Ah, tidak. Ini hanya coret-coretan saja.” Aku mencoba memberi alasan.


“Apa itu ... kak Gavin?” Sasa kini menatapku lebih dekat, bibirnya tersenyum lebar.


“A ... Apa?” tanyaku terkejut ketika mendengar pertanyaan Sasa.


“Benar?” Sasa menaikkan sebelah alisnya.


“Tidak. Maksudku, salah. Ini bukan gambar kak Gavin,” jawabku.


“Yang benar? Belakangan ini kalian kan sangat dekat.” Sasa terlihat curiga.


“Benar, aku tidak bohong. Ini bukan gambar dia, tapi orang lain. Aku dan kak Gavin hanya berteman.” Aku mencoba menjelaskan.


“Kalau begitu ... siapa orang lain itu?” tanya Sasa.


“Bukan siapa-siapa. Aku kan sudah bilang tadi, ini hanya coret-coretan biasa. Aku tidak tahu, jika hasil gambarku seperti ini.” Aku memberi penjelasan pada Sasa.


“Kamu ini seperti seorang reporter, senangnya mewawancarai.” Aku mengajukan protes, dan Sasa malah mengikik.


“Aish. Kalau bicara terus, kapan kita ke kantin? Jam istirahat sudah hampir habis.” Daffa melirik ke arah arloji di tangannya.


“Daffa benar. Ayo kita bergegas ke kantin,” sambungku, lalu memasukkan kertas gambarku ke laci.


“Iya, ayo.” Sasa menggandeng lengan Daffa dan berjalan selangkah di depanku. Ketika melihat Sasa dan Daffa rasanya aku iri. Mereka sudah menemukan titik bahagia, sementara aku, sekarang ini kehilangan jejak titik yang menuntunku menuju jalan bahagia.


“Tidak, tidak. Aku tidak boleh berfikir buruk. Aku yakin Kenzhi masih hidup, dia belum tiada. Aku akan menjadi orang pertama yang menemukannya, aku janji,” batinku. Aku menghela napasku sejenak, mencoba mengusir pikiran burukku tentang Kenzhi yang tiba-tiba muncul.


Setelah berjalan melewati koridor panjang, akhirnya sampai juga di kantin. Suasananya masih ramai terisi oleh siswa siswi yang makan di kantin, atau sekadar nongkrong.


“Itu ....” Aku berhenti menggumam ketika melihat meja yang di tunjuk Sasa. Tempat itu adalah tempat faforit aku, Sasa, Daffa, dan Kenzhi. Sejak kepergian Kenzhi, aku tidak pernah lagi duduk di sana. Apalagi, keadaannya menjadi berubah. Sasa dan Daffa bertengkar, lalu malah putus hubungan. Sementara aku, aku lebih sering menghabiskan waktu istirahat di perpustakaan, atau di kelas. Jika aku ke kantin dengan Sasa, aku memilih tempat duduk yang lain.


“Ayo.” Sasa menarik lenganku.


“Iya,” sahutku. Aku, Sasa, dan Daffa duduk melingkar menghadap meja.


“Kamu ingin makan apa Ryn?” tanya Sasa.


“Aku ... sama saja dengan kalian,” jawabku.


“Em, ya, baiklah.” Sasa tersenyum ke arahku.


“Bu, pesan baksonya tiga ya.” Sasa setengah menyeru sembari mengangkat tangan kanannya.


“Iya, tunggu sebentar.” Ibu penjaga kantin mengiyakan pesanan Sasa.


“Kamu bisa memesan apa saja, sepuas kamu. Nanti, Daffa yang bayar.” Sasa menunjuk Daffa dengan ibu jarinnya diiringi senyuman.


“Aku?” Daffa tampak terkejut mendengarnya.


“Apa harus aku? Aku tidak percaya, ternyata kamu begitu pelit.” Sasa memasang wajah cemberut.

__ADS_1


“Aku hanya bertanya, apa salahnya?” Daffa menunjukkan ekspresi datar.


“Tetap salah!” Sasa tidak terima.


“Kamu terlalu cepat menyimpulkan. Sekarang ... juga tambah labil.” Daffa mengajukan protes.


“Biar saja,” jawab Sasa cuek.


“Kenzhi,” gumamku nyaris tidak terdengar ketika melihat Kenzhi duduk di sebelahku mengenakan seragam putih abu-abu. Dia memandangku dengan senyum lebar yang menampakkan rona bahagia.


“Ryn, ayo kita makan. Baksonya sudah datang,” ajak Sasa yang terdengar mengejutkan bagiku. Perhatianku kini teralih ke arah bakso yang berada di depanku.


“Ah, iya. Ayo kita makan,” sahutku.


“Aku merindukanmu.” Aku berhenti menuangkan kecap ke mangkuk bakso ku ketika mendengar suara yang berbisik. Suaranya terdengar seperti suaranya Kenzhi.


“Kenapa Ryn?” tanya Sasa heran.


“Eh, tidak. Tidak ada apa-apa.” Aku tersenyum ke arah Sasa sembari meletakkan botol kecap ke meja.


“Ayo kita makan,” ajakku.


“Ayo!” sahut Sasa setengah menyeru.


“Aku merindukanmu, benar-benar merindukanmu.” Aku tidak jadi menyuapkan bakso ke dalam mulutku ketika mendengar suara bisikan lagi. Sekarang, bisikan itu terdengar lebih keras dan terasa ke dalam hati.


“Kenzhi,” batinku ketika melihat sosok Kenzhi tengah duduk di sebelahku dengan sorot mata berkaca-kaca seolah mengisyaratkan sesuatu.


“Aku merindukanmu.” Ada getaran dalam tubuhku ketika aku melihat Kenzhi mengucapkannya dengan mantap. Air matanya terlihat menetes membasahi pipi. Rasanya aku menjadi ikut terenyuh, ada rasa yang sama sekarang ini dalam diriku.


“Aku tidak bisa. Aku ... aku tidak bisa.” Aku beranjak dari dudukku dan pergi begitu saja meninggalkan Daffa dan Sasa yang tengah asyik makan.


“Ryn,” panggil Sasa dan Daffa setengah menyeru, namun aku mengabaikan mereka. Aku mempercepat langkahku, bahkan bisa dibilang berlari. Air mataku tidak terasa berlinangan membasahi pipi, dan sesekali aku menyekanya. Ketika berbelok melewati persimpangan, aku merasakan tangan seseorang menahan tubuhku untuk terus bergerak maju.


“Kak Gavin,” gumamku ketika melihat sosok orang yang menahanku. Dia tidak menjawabnya, tetapi malah menarikku dan membawaku pergi ke atap sekolah. Tangannya memegang erat pergelangan tanganku.


“Katakan, kenapa kamu menangis?” tanyanya ketika kita sampai di atap. Sorot matanya serius menatap ke arahku.


“Apa yang membuat kamu sedih?” lanjutnya. Dia menatapku lebih dekat, tangannya menyeka air mataku yang terus berlinangan.


“Kakak.” Aku memeluk kak Gavin dengan erat, suara tangisku tidak bisa aku tahan lagi. Kak Gavin menepuk punggunggu dengan pelan mencoba memberi ketenangan.


“Jangan menangis, aku di sini. Aku ada untuk kamu,” ujarnya. Setelah beberapa saat, kak Gavin melepas pelukanku, dia menyeka air mataku dan mengajakku duduk di tepian.


“Katakan, apa yang membuat kamu sedih? Kenapa sampai menangis begini?” Kak Gavin terlihat khawatir.


“Apa ini ulah Yelena?” lanjutnya.


“Tidak, ini bukan karena Yelena. Ini masalahku sendiri, tidak ada kaitannya dengan orang lain.” Air mataku menggenang, dan aku menyekanya dengan perlahan.


“Lalu apa? Ada seseorang yang menyakiti kamu?” tanyanya lagi.

__ADS_1


“Kenapa ... cinta itu terasa menyakitkan? Aku terus saja merasakan sakit ketika mengingatnya, rasanya sangat sakit. Aku tidak bisa berhenti untuk memikirkannya sedetik pun. Dia sudah masuk terlalu jauh dalam hatiku, tapi aku tidak bisa melihatnya. Dan ini ... ini semua salahku. Aku bersalah sejak awal, jika saja dulu aku bersikap terus terang, semua tidak akan seperti ini. Aku bisa melihatnya lagi, dan bersamanya menghabiskan waktu. Tapi nyatanya aku egois, aku hanya memikirkan tentag diriku sendiri, dan tidak dengan perasaannya.” Aku menangis lagi, dan aku menggunakan kedua tanganku untuk menutupi wajahku. Tangan kak Gavin merengkuhku, hingga sekarang aku bersandar padanya.


“Tidak, kamu tidak salah. Aku mengerti perasaan kamu, karena aku juga pernah menyukai tanpa berani berterus terang. Aku pernah merasakanya, dan semua ini karena sudah garis takdir, bukan kemauan kita. Selama jantungku berdetak, dan paru-paruku masih berfungsi dengan baik, aku akan terus meyakini jika suatu hari aku bisa bertemu lagi dengannya. Begitu juga dengan kamu, kehidupan kita terus berlanjut, dan seiring dengan kehidupan itu cinta kita akan terus tumbuh dan semakin besar. Hingga ... suatu hari kita menemukan pemilik cinta kita.” Kak Gavin mengucapkannya dengan nada serius.


__ADS_2