Masihkah Ada Cinta

Masihkah Ada Cinta
Mencari Kabar


__ADS_3

PART 2


“Iya, Bu.” Aku beranjak dari tempat duduk dan membuka pintu. Dengan malas, aku berjalan menuju ruang makan. Selera makanku rasanya hampa, tapi aku juga harus menghargai ibu yang sudah lelah masak.


*****


Aku berangkat sekolah dengan malas, rasanya sekolah hanya mengingatkanku pada Kenzhi. Terlalu banyak kenangan yang pernah terlalui. Saat hampir sampai di depan gerbang, ternyata Sasa dan Daffa sudah lebih dulu menungguku. Mereka menatapku aneh. Sepertinya mereka menyembunyikan sesuatu dariku.


“Hey, Ryn,” sapa Daffa.


“Tumben kalian disini?” tanyaku heran.


“Yang sabar yah Ryn,” ujar Sasa lalu memelukku.


“Sabar. Sabar gimana maksudnya?” tanyaku balik, tidak mengerti maksud Sasa.


Sementara itu, tanpa menjawab, Sasa langsung melepas pelukanya.


“Ini soal Kenzhi, Ryn," sela Daffa.


 


Kenzhi, huh. Rasanya aku tidak ingin bahas itu, tapi mereka malah bahas Kenzhi. Aku menghela nafas panjang.


 


“Sudahlah, aku tidak ingin bahas itu. Aku juga sudah tahu kok, kalau Kenzhi pindah sekolah ke Singapore,” ujarku.


“Jadi, kamu sudah tahu semua? Lalu, bagaimana?” tanya Daffa.


“Aku berusaha menghubunginya. Kemarin, aku telfon awalnya tidak di angkat, setelah itu tidak bisa dihubungi sampai sekarang." Aku menatap malas Sasa dan Daffa.


“Terus sekarang?” tanya Sasa sembari menaikkan kedua alisnya.

__ADS_1


“Apalagi? Sudah. Itu saja," jawabku singkat.


“Jadi, kamu tidak tahu berita tentang Kenzhi?” Sasa kini menatapku serius.


“Maksudnya?” tanyaku bingung. Sasa dan Daffa tiba-tiba terdiam, raut wajahnya berubah murung.


“Kenapa? Ada apa?” Aku tiba-tiba mendapat firasat tidak mengenakkan. Entah kenapa aku merasa cemas.


Sasa dan Daffa saling bertukar pandang seperti mengisyaratkan sesuatu.


“Kamu jangan kaget ya Ryn,” ujar Daffa mewanti-wanti.


“Iya, kenapa? Ada apa sama Kenzhi?” tanyaku penasaran. Perasaanku semakin terasa tidak enak.


“Pesawat yang di tumpangi Kenzhi, mengalami kecelakaan setelah tiba di Singapore. Ketika penumpang mulai turun dari pesawat, tiba-tiba pesawat meledak. Banyak korban meninggal, dan luka berat. Sampai sekarang pun belum ada kabar tentang Kenzhi." Daffa menjelaskanya dengan detil.


“Apa!” ujarku kaget, dan secara spontan kedua tanganku mengatup mulutku. Tubuhku langsung terasa lemas, hampir saja aku terjatuh karena tubuhku terlalu lemas.


“Eh, Ryn. Kamu tidak apa-apa?” tanya Sasa yang kini memegangi tubuhku agar tidak jatuh.


“Aku harus mencari Kenzhi! Iya. Aku harus mencarinya.” Aku langsung panik.


“Kamu tenang dulu Ryn,


kita akan bantu kok cari tahu kabar tentang Kenzhi.” Sasa merangkul bahuku dan mencoba menenangkan.


“Daff, temani aku ke Bandara. Siapa tahu ada kabar tentang Kenzhi. Aku mau cari tahu disana,” ujarku sembari menatap Daffa penuh harap. Sejenak Daffa dan Sasa saling bertukar pandang.


“Ayo Daff, antar aku," mohonku.


“Iya, aku akan mengantarmu. Tapi, nanti sepulang sekolah. Kita belum meminta surat izin. Dan bagaimana nanti jika ditanya alasanya? Harus jawab apa? Jika alasanya ke bandara, tidak mungkin diterima," ujar Daffa.


“Tidak! Aku tidak bisa. Aku tidak bisa menunggu sampai nanti, aku harus mencarinya sekarang!” Aku semakin panik, rasanya hatiku berkecamuk. Aku mencemaskan Kenzhi, aku sangat mencemaskanya.

__ADS_1


“Ryn,” ujar Sasa lembut, lalu beralih memandang Daffa.


“Ya sudah. Aku akan pergi sendiri. Akan aku mencari tahu tentang Kenzhi sendiri," putusku.


“Tunggu! Baik, baiklah. Aku antar kamu, jangan pergi sendiri.” Daffa tiba-tiba mencegahku ketika aku hendak pergi.


“ Aku, juga akan ikut, " ujar Sasa menyambung.


*****


 


Aku, Daffa, dan Sasa pergi ke bandara. Sesampainya disana, cepat\-cepat aku turun dari mobil diikuti Daffa, dan Sasa. Ternyata banyak juga yang mencari keterangan tentang anggota keluarganya, teman, atau orang dekatnya. Banyak yang berlalu lalang kebingungan, ada juga yang menangis dan di tenangkan keluarganya. Namun, tak sedikit juga yang sibuk dengan ponselnya. Memberi kabar kepada keluarga, atau sekadar mengotak\-atik Handphone.


 


“Maaf Pak. Saya mau bertanya, apa ada kabar dari pihak Bandara tentang kecelakaan kemarin?” tanya Daffa kepada pria paruh baya yang melintas didepan kami.


“Kami disini sudah dari semalam, tapi belum juga ada kabar jelas tentang kecelakaan itu. Hanya ada kabar bahwa banyak korban luka-luka, dan meninggal dunia. Sementara itu, data penumpang belum diketahui pasti siapa saja yang meninggal dan luka-luka,” jawab pria itu.


“Terimakasih Pak, informasinya,” ujar Daffa lalu menyunggingkan senyum kecil. Sementara pria itu tanpa menjawab langsung pergi begitu saja.


“Bagaimana ini?” gumamku. Pikiranku rasanya tak karuan, antara khawatir dan rasa takut. Tiba-tiba kepalaku terasa pusing lagi, tubuhku terasa lemas.


“Eh, Ryn. Kamu kenapa?” tanya Sasa yang kini memegangi tubuh lemasku.


“Sebaiknya kita duduk dulu, biar Ryn lebih tenang.” Daffa menggajakku dan Sasa duduk di kursi yang berada di koridor.


“Kamu dan Ryn, duduk saja dulu. Aku akan membeli minum sebentar,” ujar Sasa lalu tersenyum kecil.


“Ayo kita duduk,” ajak Daffa. Aku hanya diam dan menuruti Daffa. Sasa bergegas membeli minum, sedangkan aku dan Daffa duduk di kursi.


 

__ADS_1


Airmataku menetes perlahan, pikiranku hanya tertuju pada Kenzhi. Masih ingat rasanya, kala dulu aku menangis karena gagal lolos seleksi lomba Desain. Kenzhi datang dengan senyumnya menenangkanku, mendekapku dengan begitu hangatnya. Menghiburku dengan candaan konyolnya, dan sekarang aku sudah merasa kehilangan harapan akan hal-hal itu. Entah, akan terulang lagi atau tidak, aku tidak tahu.


 


__ADS_2