Masihkah Ada Cinta

Masihkah Ada Cinta
Kembali Sekolah


__ADS_3

Part 9


 


Aku lega hari ini sudah boleh pulang dari rumah sakit. Aku menghela napas panjang, menghirup kuat\-kuat aroma dari kamarku setelah membuka pintu. Ah, aku merindukan kamarku. Aku masuk ke kamar, lalu duduk ditepi ranjang. Meski sudah pulang, hari ini aku disarankan istirahat cukup oleh dokter setelah tiga hari berada di rumah sakit.


Memang, masih kurasakan sedikit pusing dan lemas. Iya, ku akui ini ulahku sendiri, menyiksa diri seminggu dalam kamar. Aku mengingat kejadian itu, masih sakit rasanya.


 


“Aku akan menemukanmu Zhi, aku tidak akan percaya kamu sudah dikatakan tiada. Aku tidak melihatnya, jadi untuk apa aku percaya? Benarkan? Aku tidak salah bukan, seperti ini? Aku yakin kamu masih hidup.” Kupandangi foto Kenzhi yang tersenyum dilayar ponselku.


“Kenzhi, aku merindukanmu.” Ku dekap ponselku, rasanya aku seperti mendapat kelegaan dan jawaban.


“Drrrtttt, ddrrrrtttt, drrtttt.” Kurasakan ponselku bergetar diiringi sebuah dering.


“Kak Gavin,” gumamku melihat layar ponsel yang menyala menandakan adanya panggilan masuk.


“Halo,” sapaku membuka pembicaraan.


“Hallo, Ryn. Kamu sudah pulang?” kudengar suara kak Gavin disebrang bertanya.


“Eh iya, sore ini pulang. Aku baru saja sampai kok, kenapa kak?” tanyaku.


“Tidak apa-apa. Bagaimana keadaan kamu? Sudah lebih baik?” tanya kak Gavin.


“Iya, aku sudah lebih baik, bahkan aku sudah sembuh. Besok juga sudah sekolah lagi,” jawabku.


“Ya sudah, istirahat saja, Aku akan menutup telfonya. Selamat istirahat,” ujarnya disebrang.


“Iya, terimakasih. Aku akan istirahat,” jawabku.


Beberapa detik kemudian telfonya di tutup kak Gavin. Dalam hati aku merasa seperti ada yang ditutupin kak Gavin, tapi sudahlah. Aku tidak ingin berpikir macam-macam tentang dia.


*****


 


Pagi ini aku bersiap seperti biasa, mengenakan seragam putih abu\-abu berbalut jaket kaus warna biru muda, lalu kaus kaki putih selutut, dan sepatu pantofel warna hitam. Tidak lupa, aku memoles wajahku dengan make up tipis dan bando warna hitam yang melingkar dikepala menghiasi rambut sebahuku yang terurai. Aku mengambil tas ranselku diatas meja belajar, dan memasukkan beberapa buku kedalam tas.


Aku jadi ingat Sasa, bagaimana kabarnya ya? Selama ini aku tidak berkomunikasi denganya. Aku jadi tidak sabar ingin bertemu, bagaimana nanti ekspresinya saat bertatapan denganku.


Setelah kejadian waktu itu, apa dia marah padaku? Atau merasa bersalah? Ah, tidak. Aku yang salah, aku memarahinya dan mendiamkannya selama ini. Aku tahu, niat sebenarnya baik. Hanya saja aku yang tidak tenang dan masih emosi. Aku rasa, aku juga tidak sepenuhnya bersalah. Aku hanya tidak ingin Kenzhi disebut tiada, sebab aku yakin Kenzhi masih hidup.


 


Aku menghela napas panjang, lalu beralih menatap cermin memeriksa ada yang kurang atau tidak. Setelah memastikan tidak ada yang kurang, aku pergi keluar kamar dan turun kebawah.


“Waahhh, cantik sekali Adikku ini. Seandainya kamu bukan Adikku, aku pasti sudah memacarinya,” goda kak Alby yang melihatku menuruni tangga menuju ruang makan.


Kulihat kak Alby yang duduk dikursi menghadap meja makan mengambil selembar roti tawar dan mengolesinya dengan selai coklat. Aku menyeret kursi disamping kak Alby, kebelakang beberapa centi lalu duduk.


“Jangan menggodaku. Aku tidak akan terbawa perasaan hanya karena gombalan receh seperti itu. Itu sudah kadaluarsa masa pemakaianya,” ujarku sembari mengambil selembar roti tawar, lalu mengolesinya dengan selai strobery kesukaanku.


“Jangan meremehkan aku seperti itu, diluar sana banyak wanita menyukaiku.” Kak Alby lekas menyuapkan roti yang berisikan selai coklat itu kedalam mulutnya dengan tetap bersikap tenang.


“Sudah, pagi-pagi sudah ribut. Jangan makan sambil bicara, nanti tersedak.” Ibu yang datang sambil membawa nampan berisi tiga gelas susu menasehati. Setelah meletakkanya dimeja, ibu duduk bergabung dengan aku dan kak Alby.


“Mana buktinya? Coba mana? Gombalan kadaluarsa masih saja dipakai. Ini sudah tahun 2019, teknologi sudah canggih, dan Kakak masih saja menggunakanya?” ejekku.


 


Aku melahap roti ditanganku, lalu meneguk segelas susu yang tadi dibawakan ibu. Kak Alby yang juga meneguk segelas susu itu tersedak.


 


“Sudah dibilang, makan jangan sambil bicara. Tersedak juga kan?” Ibu melirik kak Alby dengan sinis, namun tidak digubrisnya.


“Kamu saja yang tidak tahu. Nanti, jika waktunya tiba, akan aku bawa pulang. Kamu dan Ibu, pasti akan terkejut. Bahkan, Raisa saja kalah cantik.” Kak Alby mengucapkanya dengan mantap.


“Hahaa, itu tidak mungkin. Ibu? Apa Ibu percaya? Sepertinya Kakak demam, Ibu harus mengeceknya,” ujarku terkekeh.

__ADS_1


“Jangan mengejekku. Apa yang aku katakan memang benar,” ujar kak Albymembela diri.


“Sayangnya, aku sama sekali tidak percaya.” Aku meneguk lagi susu yang tersisa setengah gelas.


“ Lihat saja nanti. Aku pasti membuktikanya.” Kak Alby melirikku dengan setengah sinis.


“Coba saja,” tantangku.


“Alby, katanya kamu harus pergi pagi ini? Ada janji dengan teman bukan? Dan kamu Ryn, kamu harus berangkat sekolah bukan? Matahari hampir diubun-ubun, ayam sudah siaga mencari makan, dan kalian masih saja mau ribut? Ini sudah jam berapa? Jangan salahkan Ibu jika kalian terlambat!” Aku dan kak Albu menunduk, ada rona marah diwajah ibu.


 


Aku melirik jarum jam ditanganku, hampir pukul tujuh. Aku harus segera berangkat.


 


“Aaaa, Ibu benar. Aku harus segera berangkat, aku pamit Ibu.” Aku bangkit dari dudukku, lalu mencium punggung tangan ibu dan berlari keluar.


*****


 


Sampai disekolah, aku berhenti sebentar di koridor. Aku duduk dikursi panjang sembari mengatur napasku yang ngos-ngosan. Rasanya lelah juga berlari, untung saja aku cepat sampai. Jika terlambat sedikit saja, pasti pintu gerbang sudah ditutup pak satpam. Aku tidak bisa membayangkan jika aku terlambat. Aku harus memohon\-mohon dulu agar dibukakan pintu, lalu setelah masuk, dimarahinya juga.


Ternyata, sekolah sudah sangat ramai. Banyak siswa-siswi berlalu lalang melintasi koridor. Banyak juga yang sudah berkumpul dilapangan. Beberapa anggota tim\-tim sepakbola dari sekolah lain maupun sekolahku, terlihat sibuk berlatih dilapangan.


 


Ada juga yang sedang berdiskusi dengan timnya, namun tak jarang juga yang terlihat asyik bercengkerama dengan teman-temanya sambil mengemil. Guru-guru, dan panitia event juga terlihat sedang disibukkan dengan bagian kerjanya masing-masing.


“Ini, minumlah. Kamu pasti haus.” Kudengar dari sisi kananku suara orang tidak asing. Aku menolehnya, dan kudapati kak Gavin yang memakai seragam olahraga berdiri sembari menyodorkan sebotol air mineral kearahku.


“Ambil, dan cepat minum.” Kak Gavin menyodorkanya semakin dekat.


“Terimakasih.” Aku menatapnya sembari menyunggingkan senyum, lalu meraih botol itu dan segera meminumnya.


“Sama-sama, aku pergi dulu.” Kak Gavin membalas senyumku kemudian berlari menuju lapangan.


 


Aku berjalan melewati koridor sekolah menuju kelas Sasa. Sampai disana aku memeriksa kedalam kelas, tapi tidak kudapati batang hidungnya. Tiba\-tiba kurasakan ada tangan yang memegang kedua bahuku, aku pun memutuskan untuk berbalik arah.


 


“Doorr.” Aku terkejut, jangtungku terasa berdetak cepat, dan kudapati Sasa melihatku dengan tawa yang terkekeh.


“Ternyata kamu tidak berubah. Masih saja kagetan,” ejek Sasa.


“Dasar kamu. Bikin aku jantungan saja.” Aku mengepalkan tanganku dan mengacungkannya kearah Sasa.


“Maaf.” Ku lihat Sasa mengatkat dua jari tengahnya.


“Ayo, ikut aku.” Aku melingkarkan lengan kananku di lengkan kiri Sasa, lalu menyeretnya keluar.


“Eh, eh. Mau dibawa kemana aku?” tanya Sasa.


“Hari ini tidak pelajaran bukan? Ayo kita pergi ke kantin, dan makan bersama,” ajakku sembari mengangkat kedua alis dan menyunggingkan senyum.


“Waah, kalau itu sih aku mau. Ayo cepat! Aku sudah lapar,” ujar Sasa yang kini selangkah didepanku.


Sesampainya dikantin, aku dan Sasa memesan bakso lalu menyapu pandangan mencari tempat duduk.


“Aha, itu dia,” ujarku dan Sasa hampir bersaman saat melihat disudut kantin ada kursi yang kosong. Aku dan Sasa bergegas duduk disudut kantin menunggu pesanan datang.


“Aku akan mentraktirmu, jadi kamu bisa sepuasnya makan.” Tanpa menatap wajah Sasa, aku mengambil sebungkus kecil kerupuk dan membukanya.


“Beneran? Dalam rangka apa ini? Aku jadi curiga?” Wajah Sasa menatapku curiga.


“Tidak. Tidak ada rangka apa-apa, hanya saja aku ingin minta maaf. Maaf, gara-gara kejadian waktu itu aku jadi memarahimu, lalu mengusir keluar.” Aku merasa malu mengatakanya.


“Ah, sudahlah. Itu sudah berlalu, aku tidak marah. Lupakan saja,” ujarnya sembari membuka sebungkus kacang goreng, lalu memasukkanya kedalam mulut.

__ADS_1


“Tetap saja aku merasa bersalah, maafkan aku.” Aku menatapnya dengan tatapan setengah memelas.


“Iya, iya. Baiklah, aku maafkan. Aku juga sudah tidak ingin mengingat-ingat kejadian itu. Aku tahu, perasaan kamu pasti hancur waktu itu. Tapi ini hidup Ryn, setiap jiwa pasti akan merasakan kematian.


Jangan bersedih, walau Kenzhi tidak bisa menemanimu lagi, tapi dia tetap didalam hatimu yang paling dalam. Dia akan tetap hidup disana, bersamamu dalam setiap pijakan langkah.” Sasa melahap lagi kacang goreng ditanganya.


 


Aku merasa sedikit tersindir, aku mengerti maksud kata-katanya. Tapi, biarlah. Aku tidak ingin mendebatnya, sebab maksudnya baik. Hanya saja aku tidak terima, jika Kenzhi dimaksudkan sudah tiada.


 


“Iya, itu benar. Aku akan belajar bangkit dari keterpurukan. Aku tidak boleh bersedih bukan ? Terimakasih, kata-katamu barusan sangat menyentuh. Aku jadi terharuh mendengarnya,” ujarku diiringi senyuman meledek.


“Hey, aku bicara benar. Jangan meledekku seperti itu,” ujar Sasa tidak terima.


“Tidak. Aku bercanda, maafkan aku. Aku sudah tidak memikirkanya lagi. Aku ... aku ... akan belajar menerimanya. Kamu benar Sa, Kenzhi tetap akan dihatiku paling dalam, dan tidak akan pernah terlupakan.” Aku mencoba mengatakan apa yang tidak ingin aku katakan.


Hanya saja memang benar dikalimat bagian akhir. Dia tetap dihatiku, dan tidak akan pernah terlupa. Aku menatap Sasa sembari berusaha menyungginkan senyum seperti biasa.


“Begitu dong, harus kuat!” ujar Sasa menyemangati. Aku hanya membalasnya dengan senyum.


“Waah, lihat bakso ini aku jadi ngiler. Rasanya ingin cepat aku lahap,” ujar Sasa sembari menelan ludah saat melihat dua mangkuk bakso dibawakan kemeja kami.


“Makan saja, tapi jangan sama mangkuk-mangkuknya. Aku hanya mengingatkan, takutnya lupa. Baksonya udah abis, eh mangkunya juga ketelen,” ledekku sembari menuang kecap ke mangkuk bakso didepanku.


“Yee, memangnya aku apa? Kalau aku ini punya kekuatan seperti difilm-film, mungkin tidak hanya mangkuk, gerobaknya sekalian aku telan,” ujar Sasa sembari menuangkan saus kedalam mangkuknya.


“Sekalian aja yang jual,” celetukku.


“Gila! Memang aku makhluk apa? Aku masih waras kali Ryn, masa iya sebangsa aku lahap juga. Aku bukan kanibal,” ujarnya setengah menyeru.


“Bercanda kali,” sahutku. Aku dan Sasa memakanya dengan lahap. Kami menghabiskan satu mangkuk bakso dan segelas es teh.


“Nambah tidak? Mumpung masih aku bayarin?” godaku.


“Em ... untuk sementara ini tidak. Mungkin nanti pulang sekolah boleh, biar dibungkus saja dua mangkuk.” Sasa menatapku dengan tatapan meledek.


“Eh, tidak bisa. Aku hanya akan membayarinya jika dimakan disini, kalau bawa pulang, bayar sendiri.” Aku menatapnya setengah sinis.


“Yee, jangan marah. Ubah tatapan sinis itu, aku bercanda saja. Cepat bayar! Aku akan menunggu diluar,” ujar Sasa setengah memerintah.


“Kenapa kamu jadi memerintahku seperti ini?” Aku menatapnya malas.


“Kan kamu yang ngajak makan. Jangan bilang, dompetnya ketinggalan.” Sasa menatapku dengan tatapan curiga, sembari jari telunjuk kananya menunjuk ke arahku.


“Tidak, aku yang bayar. Tenang saja, “ ujarku lalu menunjukkan dompetku di pandangan Sasa.


“Begitu dong. Baiklah, aku keluar, dan kamu membayar.” Sembari tersenyum lebar, Sasa ngeloyor keluar meninggalkan aku. Aku hanya tersenyum kecil lalu menggelengkan kepala melihat tingkah Sasa.


 


Aku maju ke kasir untuk membayar makananku dan Sasa. Sambil berbalik, aku memasukkan kembalian uang kedompet. Aku terkejut, saat menabrak seseorang didepanku. Aku merasa malu dibuatnya. Aku mundur kebelakang, ingin mengetahui siapa yang aku tabrak. Baru dua langkah aku mundur, aku malah hilang keseimbangan. Hampir saja aku jatuh kelantai, namun tubuhku ditahan cepat oleh orang didepanku.


Kulihat wajah orang yang menahanku, dia adalah kak Gavin. Jantungku jadi terasa berdegup lebih cepat, ada kegugupan dalam hatiku saat menatapnya. Kami saling diam, dan beradu pandang sejenak, sebelum akhirnya kak Gavin membantuku berdiri.


 


“Maaf, lain kali hati-hati kalau berjalan.” Kulihat sebentar wajah kak Gavin yang menampakkan rona kegugupan.


“Terimakasih, lain kali aku akan lebih berhati-hati.” Aku langsung menundukkan kepala, tidak berani menatapnya. Pipiku terasa panas, rasanya malu sekali. Banyak siswa-siswi disekitar memerhatikan kami.


“Aku ... aku ... akan pergi.” Aku menatapnya sebentar sembari tersenyum kecil.


“Aku ... juga akan kedepan,” balasnya sembari menyungginkan senyum.


 


Aku kembali terkejut, entah kenapa aku jadi salah tingkah. Untuk kedua kalinya, aku bertabrakan dengan kak Gavin sebelum pergi. Tanpa mengatakan apapun, aku mundur selangkah, lalu melangkah kesamping kanan arah depan dan berlalu begitu saja.


 

__ADS_1


__ADS_2