Masihkah Ada Cinta

Masihkah Ada Cinta
Selamat Jalan


__ADS_3

Part 27


Hari sudah mulai gelap, kak Gavin mengajakku pergi dari Warung Daweung, dan aku hanya menurut saja. Awalnya aku kira kak Gavin mengajakku pulang, namun nyatanya tidak. Dia entah membawaku ke mana lagi. Di sepanjang perjalanan, aku hanya diam tidak berkomentar. Aku sibuk memandang keluar jendela, melihat langit yang mulai menampakkan bintang-bintang kecil bersinaran. Sementara kak Gavin tetap fokus menyetir.


Lama-lama, aku merasakan kantuk melihat bintang-bintang yang bertebaran. Selain itu, hawa dingin juga mulai menembus masuk pori-pori kulitku. Aku mendekap erat jaket kak Gavin yang ku pakai untuk menghangatkan tubuhku, alih-alih aku malah terlelap.


*****


“Ryn, Ryn.” Samar-samar ku dengar suara seseorang memanggilku. Perlahan ku buka mataku yang terpejam, dan masih terasa setengah sadar. Aku tersentak ketika melihat kak Gavin menatapku begitu dekat. Aku langsung memundurkan kepalaku beberapa centi.


“Kita sudah sampai. Ayo turun.” Ada senyuman yang tersungging di bibirnya.


“Di rumah?” tanyaku bingung.


“Tidak. Kita ada di Restoran Burgundy, termasuk wilayah bukit Moko. Kita belum pulang,” jawabnya.


“Restoran?” tanyaku setengah mikir-mikir.


“Em.” Kak Gavin mengangguk mantap.


“Aku akan menepati janjiku di sini. Kita akan makan malam di sini,” jelasnya.


“Ayo, cepat turun.” Kak Gavin lekas turun dari mobilnya, dan aku mengikuti gerakannya.


“Waahh,” ujarku tanpa sadar, mengagumi apa yang sedang aku lihat. Banyak orang yang sedang menikmati kuliner berbagai macam rasa sembari bercanda gurau dengan orang-orang semejanya. Entah itu keluarga, teman, atau bahkan pasangan.


“Ayo.” Kak Gavin menarik tanganku, membawaku ke sebuah meja kayu kosong yang berada tidak jauh dari lokasiku berdiri sekarang.


Sampai di sana, kami duduk di sebuah kursi yang terbuat dari kayu menghadap meja yang mengarah pada pemandangan pegunungan dan hutan. Langit teduh yang berhias taburan bintang juga menambah indahnya suasana.


“Kamu mau makan apa?’ tanya kak Gavin ketika seorang pelayan wanita datang membawa daftar menu. Kak Gavin memberikan daftar menu itu kepada ku, aku pun membolak-balik halaman mencari-cari makanan yang kusukai, namun pada akhirnya menyerah.


“Aku, bingung. Aku tidak pernah datang kesini, jadi aku kesulitan memilih menu. Soalnya, makanannya kelihatan enak-enak semua.” Kak Gavin terkekeh mendengar jawabanku.


“Kamu lucu. Sini, aku yang pilih.” Kak Gavin mengambil daftar menu yang ada di tanganku, kemudian dia membolak-balik mencari makanan yang cocok.


“Aku ngikut Kakak saja menunya,” ujarku yang menyerah tidak ingin ambil pusing.


“Ya sudah kalau begitu.” Kak Gavin tersenyum kecil ke arahku.


“Mbak, pesan Cassava Delight dua, Beef Burritos dua, Latte Chocolate Cookies dua, Apple Strudel dua, pizza Don Juan satu, sama Burgundy Pancakenya dua.” Pelayan wanita itu mencatat semua yang kak Gavin pesan setelah itu pergi.


“Kak, terimakasih ya, untuk makan malam ini.” Aku tersenyum menatap kak Gavin.


“Anggap saja ini sebagai hadiah perpisahan sebelum aku pergi ke London, selain aku menepati Janji.” Kak Gavin membalas senyumanku.


“Iya,” sahutku pelan.


“Tapi apa tidak kebanyakan? Kakak pesan makanan banyak banget.” Kak Gavin tersenyum menanggapi.


“Tidak,” sahutnya.


Sembari menunggu makanan kami berbincang-bincang ke sana sini, dan sesekali tertawa lepas karena candaan.


“Waah, makanannya datang,” ujar kak Gavin tersenyum ketika melihat dua orang pelayan pria datang membawa makanan. Pelayan pria itu meletakkan makanannya di atas meja. Singkatnya, meja kami penuh dengan makanan.


“Terimakasih,” ujarku tersenyum ke arah pelayan itu.


“Sama-sama,” sahut salah satu diantara mereka.


“Lagi Anniversary ya? Kok pesan makanannya banyak banget. Apa baru jadian nih?” goda salah satu dari mereka sembari tersenyum lebar, sementara pelayan yang satunya senyam-senyum menahan tawa.


“Biar tambah romantis, tambah bunga dong?” ujar salah satu dari mereka lalu mengambil sebuah vas berisikan sekuntum bunga mawar merah yang berada di meja kosong sebelah, kemudian meletakkannya di tengah-tengah meja kami.


Aku dan kak Gavin tercengang kaget mendengar kata-kata dua pelayan itu. Kami saling beradu pandang tanpa kata, hingga beberapa saat kemudian kami saling melempar senyum.

__ADS_1


“Selamat menikmati. Kami permisi dulu,” ujar salah satu dari mereka kemudian mereka berdua pergi.


“Ayo makan,” ajak kak Gavin sembari mengangkat sebuah garpu dan sendok.


“Em.” Aku mengangguk.


“Makanan di sini terkenal enaknya loh,” ujar kak Gavin sembari mengunyah makanan yang disuapkan ke mulutnya.


“Dan sekarang aku akan mencicipinya,” sahutku sembari menyuapkan makanan ke mulutku.


“Oh iya, aku sudah minta izin sama bibi jika nanti pulang agak lambat. Jadi, kamu tidak perlu khawatir, ataupun takut dimarahi.” Kak Gavin menatapku serius.


“Aku sudah tahu. Ibuku tidak akan marah karena hal kecil, santai saja.” Aku tersenyum ke arah kak Gavin.


“Kamu mengirim pesan ke bibi?” tanyanya. Aku menggeleng.


“Tidak. Tapi ibu pasti mengizinkan aku pergi dengan Kakak, karena tahu Kakak orang baik,” jawabku. Aku tersenyum tipis, dan kak Gavin membalasnya.


*****


Masa-masa perpisahanku dengan kak Gavin akhirnya tiba. Besok lusa kak Gavin akan berangkat ke London karena urusan di sekolah sudah selesai. Aku juga sudah menyiapkan sebuah kotak kado berisikan hadiah untuk perpisahanku dengan kak Gavin.


Malam ini, sebelum tidur aku menata rapi kotak kado yang ingin ku berikan kepada kak Gavin, kemudian ku letakkan di meja samping ranjangku. Aku terduduk di tepian ranjang sembari menatap kotak kado itu dengan tetap diam.


“Kenzhi,” gumamku pelan. Ingatanku ketika hari perpisahanku dengan Kenzhi tiba berkelebat menari-nari dalam pikiranku.


“Kenapa kamu harus pergi dengan cepat? Bahkan, sekadar memberi hadiah saja aku tidak sempat.” Aku menatap kotak kado itu dengan pandangan yang agak buram karena terhalang air mata yang menggenang di kelopak mataku.


“Zhi, aku merindukanmu.” Aku bergumam sangat lirih. Ku biarkan air mata yang menggenang itu menetes tanpa ku seka. Ku anggap air mata itu sebagai wujud rasa perih karena mengharap bertemu Kenzhi.


*****


Hari ini aku ikut mengantarkan keberangkatan kak Gavin ke London sampai bandara. Aku berangkat naik taksi sembari membawa hadiah yang sudah aku persiapkan khusus untuk kak Gavin. Sesampai di bandara aku bergegas turun lalu mencari kak Gavin sembari mencoba menghubunginya melalui panggilan.


“Kak, Kakak! Hallo, kak Gavin.” Ponselku tiba-tiba diam, tidak ada suara. Nyatanya setelah aku cek, ponselku habis baterai. Aku tersenyum kecewa melihat layar ponselku yang mati. Aku memasukkan ponselku ke dalam saku, kemudian aku menyusuri lingkungan sekitar berharap menemukan sosok kak Gavin.


“Aku di sini.” Aku terkesiap ketika merasakan seseorang menepuk pundakku dari belakang, dengan suara yang tidak asing bagiku.


“Kakak.” Aku menghela napas lega karena yang menepuk dari belakang, kak Gavin.


“Kamu terkejut?” tanyanya dengan senyum lebar.


“Aku sudah mencari ke sana-sini, tapi kak Gavin yang menemukanku. Jujur saja aku agak terkejut tadi, tapi sekarang ini aku lega.” Aku tersenyum lebar menatap kak Gavin.


“Minum ini, sepertinya kamu dehidrasi.” Kak Gavin memberikan sebotol air mineral ke arahku.


“Aku?” tanyaku bingung.


“Iya. Ambil, lalu minum,” jawabnya sembari menyodorkan botol air mineral itu lebih dekat ke arahku.


“Aku tidak dehidrasi,” elakku.


“Begitu ya, menemukan ku saja kesulitan.” Kak Gavin meledekku sembari tersenyum kecut.


“Tempat ini luas, tentu saja aku kesulitan,” jawabku.


“Ya, baiklah. Alasan kamu logis juga. Terimakasih sudah datang ya,” ujarnya.


“Tentu saja aku akan datang. Tapi ... Kakak sendiri? Ayah Kakak tidak datang?’ tanyaku ketika tidak melihat ayahnya kak Gavin.


“Aku berdua, dengan kamu. Ayah kesini tadi, tapi sudah pulang. Ada pekerjaan mendadak di kantornya yang tidak bisa ditinggalkan,” jawab kak Gavin. Aku diam sembari mengangguk-angguk pertanda mengerti.


“Untuk Kakak.” Aku menyodorkan kotak kado yang ku genggam ke arah kak Gavin.


“Apa ini kado ... perpisahan?” tanyanya dengan senyum kecil.

__ADS_1


“Tidak. Hanya kenang-kenangan saja. Tapi, bukanya pas di pesawat yah, atau kalau sudah tiba di London. Jangan di sini, aku malu.” Aku setengah berbisik di kalimat terakhir.


“Ya, baik. Aku tidak akan membukanya di sini. Nanti ku buka di pesawat saja. Aku penasaran, kira-kira apa isinya.” Kak Gavin sedikit mengguncangkan kotak kado itu.


“Ya, pokoknya nanti apapun isinya jangan di buang. Di simpan yah,” pintaku.


“Tapi ....” Kak Gavin menatapku dengan serius kali ini, “Bukan bom kan?”


“Ha?” Aku agak terkejut mendengarnya. Kak Gavin malah terkekeh melihat responku.


“Aku hanya bercanda,” ujarnya dengan sisa-sisa tawa.


“Coba saja nanti buka, kalau meledak berarti itu bom,” sahutku.


“Eh, tidak boleh membawa sesuatu yang membahayakan di pesawat. Aku akan membuangnya saja. Takutnya pas aku buka meledak,” candanya,.


“Hey, jangan bercanda. Aku tidak sekejam itu.” Aku menampakkan rona sedikit kesal.


“Aku tidak tahu, kamu melarangku membuka di sini. Tapi, aku akan menyimpanya karena kamu yang meminta.” Aku tersenyum mendengar kalimat terakhir kak Gavin.


“Meski aku harus mati karena menyimpanya,” lanjutnya. Nadanya terdengar serius, juga tatapannya padaku sekarang ini, namun beberapa saat kemudian guratan senyum mulai terlukis di bibir kak Gavin dan mengembang menjadi sebuah tawa.


Perhatianku dan kak Gavin tiba-tiba teralihkan ketika mendengar suara pemberitahuan untuk penumpang pesawat tujuan London agar segera menaiki pesawat karena segera berangkat. Aku dan kak Gavin menjadi saling diam, dan bertukar pandang.


“Aku harus pergi sekarang,” ujarnya sembari tersenyum kecil.


“Em.” Aku mengangguk pelan. Entah kenapa dadaku mendadak nyeri, seolah tidak ingin kak Gavin pergi. Air mataku juga menggenang, membuat pandanganku buram.


“Hati-hati, semoga selamat sampai tujuan.” Aku mengenggam erat tangan kak Gavin, sembari memaksa bibirku untuk tersenyum menatapnya. Ku lihat wajah kak Gavin agak muram, matanya berkaca-kaca.


“Terimakasih.” Kak Gavin dengan cepat memelukku erat setelah mengucap terimaksih, dan ini membuatku terkejut.


“Tetap komunikasi denganku ya,” pintaku dengan sedikit gemetar. Air mataku menetes membasahi baju kak Gavin.


“Aku janji, akan selalu berkomunikasi dengan kamu. Jangan lupakan aku,” sahutnya.


“Aku tidak akan melupakan Kakak. Bagiku, Kakak teman yang baik, dan selalu ada untukku ketika aku sedang rapuh.” Aku memeluk erat kak Gavin.


“Aku juga tidak akan melupakanmu. Kamu seperti adik bagiku, yang harus aku lindungi.” Aku merasakan baju belakangku basah karena tetesan air mata kak Gavin.


“Berjanjilah, selama aku pergi jangan terlalu sering bersedih, juga jaga diri kamu baik-baik,” pintanya.


“Aku janji,” sahutku.


“Kakak juga, berjanji seperti diriku,” pintaku.


“Aku janji.” Kak Gavin menyahutnya mantap.


“Aku akan merindukanmu.” Ku dengar samar-samar suara kak Gavin sebelum sesaat melepas pelukannya.


“Aku harus pergi sekarang.” Kak Gavin menyeka air matanya. Aku tersenyum sembari menyeka air mataku.


“Pergilah. Kejar cita-cita Kakak. Semoga sukses!” Aku memberi semangat sembari tersenyum lebar.


“Em.” Kak Gavin mengangguk mantap mengiyakan.


Kak Gavin tersenyum menatapku, dan beberapa detik kemudian berlalu dari hadapanku setelah mendengar pengulangan pengumuman keberangkatan.


Aku masih diam, kupandangi punggung kak Gavin yang semakin jauh. Air mataku menetes, rasanya aku seperti kehilangan teman lama yang sangat dekat denganku. Walaupun nyatanya aku dan kak Gavin belum lama saling kenal.


Aku menghela napasku sejenak, terasa berat dan agak sesak. Aku memutar balik badanku dan mulai melangkah pergi, namun tiba-tiba aku teringat suatu ide. Aku berbalik, kemudian berlari mencari jalan secara sembunyi-sembunyi untuk bisa sampai ke lapangan. Hingga akhirnya aku menemukan sebuah pohon agak besar di sudut lapangan yang cukup untukku bersembunyi.


Aku melihat pesawat kak Gavin sudah siap meluncur terbang ke atas. Sorot mataku tidak menemukan sosok kak Gavin duduk di dekat salah satu jendela pesawat. Aku agak kecewa, namun aku tetap berharap kak Gavin bisa melihatku meski aku tidak melihatnya.


“Selamat jalan kak Gavin, sampai bertemu lagi.” Aku tersenyum sembari melambaikan tangan kananku ketika pesawat sudah mulai terbang. Sorot mataku tidak berhenti menatap pesawat yang tengah terbang itu hingga akhirnya tidak terlihat lagi di pelupuk mata, dan hanya tersisa awan putih yang menghias langit biru.

__ADS_1


__ADS_2