Masihkah Ada Cinta

Masihkah Ada Cinta
Kuliah di London


__ADS_3

Part 19


Aku dan kak Gavin akhirnya pulang bersama. Di tengah perjalanan, kak Gavin tidak langsung mengantarku, tapi dia mengajakku pergi ke taman yang dulu pernah diajaknya. Kami duduk bersebelahan di kursi taman.


“Tidak kerasa ya, sebentar lagi semester dua.” Kak Gavin menghela napasnya agak panjang.


“Iya,” sahutku singkat. Kak Gavin hanya tersenyum dan tidak menyahut, aku pun ikut diam. Setelah beberapa saat kami saling diam, kak Gavin angkat bicara juga.


“Kamu ... tidak ingin mengucapkan sesuatu?” tanyanya membuka obrolan baru.


“Mengucapkan sesuatu?” Aku balik bertanya.


“Iya. Apa kek, gitu. Sebentar lagi kan semester dua.” Kak Gavin seolah memberi kode, namun aku tidak mengerti dengan apa yang dimaksudnya.


“Ya, memang sebentar lagi semester dua. Terus kenapa?” tanyaku setengah mikir-mikir.


“Memangnya ada apa dengan semester dua?” lanjutku.


“Biasanya ada apa aja coba di semester dua?” Kak Gavin balik tanya. Di bibirnya ada guratan senyum manis yang menghias wajah tampannya.


“Apa ya?” Aku setengah mikir-mikir. Semakin kesini, nyatanya aku semakin tidak mengerti sama apa yang dimaksudkan kak Gavin.


“Sepertinya tidak ada yang spesial di semester dua,” ujarku.


“Ada, sebentar lagi kamu kan banyak libur,’ sahutnya.


“Lah, libur mah tiap hari minggu juga libur,” ujarku.


“Bukan itu maksudku.” Ku lihat wajah kak Gavin kini melihatku serius. Bahkan, senyum kecil pun tidak terlihat lagi.


“Terus apa?” tanyaku.


“Maksudku, sebentar lagi aku ini akan ujian. Kamu tidak ingin mengatakan sesuatu padaku?” Nada bicara kak Gavin terdengar sedikit meninggi.


“Ooh itu, bilang dari tadi dong, aku kan bisa langsung mengerti.” Aku tersenyum kecil ke arah kak Gavin.


“Kamu tidak ingin mengatakan sesuatu?” tanyanya mengulangi.


“Memangnya, Kakak ingin aku mengatakan apa?” tanyaku.


“Sebenarnya, aku akan pergi jauh dan lama.” Ada rona murung di wajahnya.


“Berapa lama Kakak akan pergi?” tanyaku ingin tahu.


“Aku tidak bisa memastikannya,” jawabnya.


“Aku akan kuliah di London setelah lulus SMA,” lanjutnya. Mendengar ucapan kak Gavin, aku menjadi terdiam.


“Em ... begitu ya.” Aku mengangguk-angguk pelan.


“Kuliah jurusan apa?” tanyaku.


“Aku ingin mengambil jurusan hukum. Sejak kecil, aku ingin bisa membantu orang lain. Aku ingin bisa memberi keadilan untuk orang lain, membantu yang lemah, juga yang ditindas oleh keserakahan kejahatan. Aku, ingin membuat hidupku bermanfaat bukan untuk diriku sendiri, tapi untuk orang lain juga. Dan ... sepertinya ... menjadi seorang jaksa adalah keputusan yang tepat,” jawabnya menjelaskan.

__ADS_1


“Biarpun aku jauh, aku mohon, jangan lupakan aku. Aku mungkin akan jarang pulang ke Indonesia, tapi ... tetaplah berkomunikasi dengan baik.” Kak Gavin menatapku sembari tersenyum.


“Iya, aku ... tidak akan melupakannya. Aku harap, pertemanan kita akan tetap berlanjut meski kita akan saling berjauhan. Aku setuju ... tetap berkomunikasi dengan baik,” sahutku.


“Karena itu keputusan Kakak, maka aku akan mendukungnya.” Aku tersenyum lebar ke arah kak Gavin.


“Semangat!” Aku mengepalkan jari-jariku, dan mengangkatnya sampai siku.


“Aku ... akan merindukanmu,” ujarnya setengah menggumam. Mendengar itu, aku merasa agak terkejut.


“Apa?” tanyaku memastikan.


“Apa?” Kak Gavin malah bertanya balik. Wajahnya menampakkan raut kebingungan.


“Kakak barusan mengatakan apa?” tanyaku memperjelas.


“Mengatakan apa? Memangnya aku mengatakan sesuatu barusan?” Kak Gavin balik bertanya.


“Aku mendengarnya, Kakak mengatakan sesuatu. Hanya saja, aku tidak mendengar dengan jelas.” Aku terus mendesaknya.


“Kamu salah dengar kali, mungkin hanya perasaan kamu saja. Kalau aku mengatakan sesuatu, pasti jelas. Kan kamu duduk di sebelahku.” Kak Gavin menatapku dengan senyum lebar.


“Apa iya, aku salah dengar?” gumamku sembari merapikan rambutku.


“Oh iya, aku ingin minta maaf sama kamu Ryn.” Kak Gavin terlihat serius.


“Minta maaf? Untuk apa?” tanyaku.


Aku diam sebentar, “Aku sudah melupakan itu. Kalau dipikir-pikir, Yelena tidak sepenuhnya salah. Dia tidak tahu yang sebenarnya seperti apa, wajar kalau bicara seperti itu. Aku kira, tidak hanya Yelena yang akan mengatakan itu. Siapapun juga akan mengatakan hal yang sama, jika di posisi Yelena. Aku yang harusnya minta maaf sama Kakak, selama ini aku seperti bergantung dengan Kakak. Kakak selalu membantuku, sedangkan aku ... tidak bisa melakukan apa-apa untuk Kakak.”


“Jangan berkata seperti itu. Aku sama sekali tidak mengharapkan apapun, karena aku melakukanya tulus dengan niatku sendiri. Kamu mau berteman denganku saja, itu sudah cukup. Jangan sekali-kali menyalahkan diri kamu lagi, perkataan kamu itu seperti ujaran menyalahkan diri sendiri. Aku sudah bilang bukan, ‘Kita tidak merencanakan semua ini, tapi skenario Tuhan lah yang merencanakan semua ini.’ jadi jangan menyiksa diri kamu dengan menyalahkan diri sendiri.” Kak Gavin memberi penegasan.


“Jangan menghindariku lagi, aku tidak ingin hanya karena hal itu hubungan kita menjadi retak,” lanjutnya.


“Tidak akan,” sahutku.


“Aku tidak akan meretakkan hubungan kita. Aku juga sudah tidak ingin membahas masalah itu, aku ingin melupakanya. Iya, aku ingin melupakannya.” Aku menghela napas pendek, lalu tersenyum kecil.


“Aku setuju,” sahut kak Gavin sembari tersenyum.


*****


Setelah semester satu berlalu, akhirnya semester dua dimulai. Kesibukan siswa-siswi kelas XII juga dimulai. Sekarang, mereka lebih giat belajar untuk mempersiapkan ujian penentu kelulusan. Perpustakaan juga memiliki lebih banyak penghuni yang terus bergantian datang belakangan ini. Guru-guru juga lebih perhatian pada siswa-siswi kelas XII dan ikut sibuk mengurusi persiapan ujian. Di satu sisi, kondisi seperti ini menguntungkan bagi kami sebagai adik kelas. Semester dua ini, kami lebih banyak memiliki kesempatan untuk libur sekolah, sehingga bisa memanfaatkan kondisi ini untuk kegiatan rumah. Entah sekadar menghabiskan waktu seharian duduk-duduk di rumah, atau jalan-jalan keluar bersama teman.


*****


Beberapa hari ini aku sangat santai merangkai kegiatan karena libur sekolah. Biasanya, aku membantu ibu di restoran, namun hari ini aku memilih menghabiskan waktu di rumah. Sederhana, hanya sekadar nonton televisi saja. Tidak tahu kenapa, rasanya pingin nyantai di rumah. Mencari ketenangan dengan caraku sendiri.


Sudah sejak pagi aku asyik menonton televisi, mengganti-ganti channel mencari acara yang aku inginkan. Tiba-tiba ku dengar suara pintu ruang tamu berbunyi. Sepertinya sih ada seseorang yang masuk, aku pun beranjak dari dudukku dan beralih pergi ke ruang tamu mengecek siapa yang masuk. Dan benar, seperti dugaanku, ada seseorang yang masuk. Dari kejauhan, ku lihat seseorang membelakangiku memakai jaket tebal sedang melepas helm. Perawakannya sih tidak asing, tapi karena membelakangiku jadinya tidak jelas.


“Kakak,” ujarku ketika melihat wajah seseorang yang membelakangiku berbalik arah.


“Kenapa? Kenapa melihatku seperti itu?” tanya kak Alby ketika melihatku yang sedang memandanginya.

__ADS_1


“Aku kira tadi siapa, ternyata Kakak yang masuk,” ujarku lalu kembali pergi menonton televisi.


“Memangnya kenapa kalau aku? Salah? Ini juga rumahku kan?” Kak Alby menyusulku lalu duduk di sebelahku.


“Tidak ada yang salah, hanya saja aku tadi ....” Aku memberhentikan ucapanku ketika mencium aroma pakaian baru.


“Jaket Kakak baru ya?” tanyaku setengah menyeru.


“Kalau iya kenapa?” Kak Alby balik tanya.


“Pantas saja, aku tadi sedikit pangling,” jawabku.


“Kenapa? Tambah menawan ya? Sudah ku duga, diriku ini memang semakin hari semakin menawan.” Aku mengangguk-angguk pelan sembari menatapnya agak sinis.


“Iya, menawan. Hanya saja kapasitasnya tidak cukup untuk bisa memikat hati wanaita,” ejekku.


“Jangan mengejekku, kamu saja yang tidak tahu. Di luaran sana banyak yang tertarik denganku,” sahutnya meyakinkan. Aku tidak menjawabnya, hanya memanyunkan bibir sebentar kemudian fokus menatap ke atah televisi.


“Oh ya, kamu tidak sekolah? Ini bukan hari libur.” Kak Alby meraih remote yang berada di meja.


“Tidak,” sahutku singkat.


“Bagus.” Kak Alby menepukkan tangannya. Ada guratan senyum di bibirnya.


“Apa?” tanyaku memastikan.


“Apanya yang bagus?” lanjutku.


“Tidak ada. Maksudku ... acaranya yang bagus.” Kak Alby menunjuk ke arah televisi.


“Eh, nanti malam kamu ada acara tidak?” tanyanya.


“Kenapa?” Aku balik tanya.


“Ayo kita pergi nonton ke bioskop,” ajaknya.


“Pergi ke bioskop?” tanyaku memastikan.


“Tidak salah? Ada apa ini, tumben-tumbennya mengajakku pergi. Pasti ada sesuatu kan?” tanyaku heran.


“Tidak salah kan, seorang Kakak mengajak Adiknya pergi nonton? Kamu ini terlalu curiga, katakan saja kalau tidak mau.” Kak Alby terlihat agak kecewa.


Aku menghela napas pendek, “Ya, ya. Aku akan pikirkan itu nanti.”


“Jangan nanti, aku membutuhkan kepastian sekarang, ini penting untukku,” desaknya.


“Kepastian? Omong kosong macam apa ini? Penting apanya, ini hanya perkara nonton film saja.” Aku tersenyum kecut ke arah kak Alby.


“Ya sudah kalau tidak mau, aku tidak rugi.” Kak Alby beranjak dari duduknya kemudian pergi ke kamarnya.


“Iya, baiklah, aku mau. Aku akan pergi nonton film nanti malam,” sahutku setengah menyeru. Mendengar seruanku kak Alby memberhentikan langkahnya yang sudah sampai di depan pintu kamar.


Kak Alby menoleh ke arahku dan tersenyum, “Okay, pukul tujuh malam kita berangkat.” Lalu dia segera memasuki kamarnya dan menutup pintunya dengan keras.

__ADS_1


__ADS_2