
Part 8
Aku membuka mataku perlahan, masih kurasakan pusing dikepalaku. Kurasakan tangan kiriku ada sesuatu yang mengganjal, aku pun meliriknya.
“Ah, kenapa seperti ini?” batinku saat melihat selang infus tertempel ditanganku.
“Apa aku sakit?” pikirku.
Kulihat pintu ruangan sedikit-sedikit terbuka, dan muncullah sosok kak Gavin dari balik pintu. Dia nampak buru-buru menghampiriku sembari tersenyum lebar.
“Kamu sudah sadar ternyata,” ujarnya yang kini tepat berdiri disampingku.
“Kenapa aku disini? Aku harus pulang,” lirihku. Aku tidak bisa bersuara keras, rasanya tubuhku lemas sekali.
“Hey, kamu baru sadar. Kemarin kamu pingsan ketika kita beranjak pulang dari danau. Apa kamu tidak ingat?” Kini dia menatapku cemas.
“Aku pingsan?” Aku mencoba mengingat-ingat, tapi kepalaku malah terasa sakit. Tanganku memegang dahiku mencoba menahan rasa sakit, sementara bibirku meringis merasakan nyeri dikepala. Aku mencoba duduk, masih kurasakan sakit diperutku tapi aku memaksa. Kak Gavin yang melihatku meringis menahan sakit, cepat-cepat membantu ku duduk.
“Sudah, jangan dipaksakan. Kamu pingsan semalaman, dan sekarang sudah dini hari,” ujar kak Gavin menjelaskan.
“Selama itu aku tidak sadar?” Rasanya aku tidak percaya.
“Itu benar. Kamu tenang saja, aku sudah menjelaskan kepada ibu kamu, beliau tidak marah. Ibu kamu langsung datang menungguimu tidak berapa lama setelah kita tiba di Rumah sakit. Tadi ada kok disini, mungkin sekarang sedang keluar sebentar,” jelas kak Gavin.
Aku jadi merasa bersalah, ternyata ibu begitu peduli padaku. Aku begitu egois, aku tidak memikirkan bagaimana perasaan ibu.
“Ryn, kamu sudah sadar.” Kulihat sosok ibu yang datang buru-buru menghampiriku. Aku langsung memeluk ibu ketika ibu sampai disampingku.
“Ryn minta maaf Ibu, selama ini sudah egois.” Aku meminta maaf dalam pelukan ibu.
“Sudah, Ibu tidak marah. Kamu ini bicara apa? Ibu mengerti perasaan kamu. Jangan bersedih lagi, jelek.” Ibu melepas pelukanku, menatapku sembari menyunggingkan senyum, lalu mengusap airmata dipipiku yang mengalir entah sejak kapan.
“Tetap saja aku merasa bersalah, maafkan aku Ibu. Jika ibu ingin memarahiku, aku akan terima,” ujarku sembari menatap ibu memelas.
“Iya, Ibu memaafkan kamu. Ibu sangat menyayangi putri Ibu satu-satunya, mana mungkin Ibu akan memarahinya. “ Ibu menatapku dengan wajah berbinar.
“Aaaa, aku jadi terharu. Aku sayang ibu,” ujarku lalu memeluk ibu lagi, dan ibu membalasnya dengan penuh cinta. Tak berapa lama ibu melepas pelukanku, menatapku sebentar, lalu beralih melirik kearah kak Gavin.
“Apa? Kenapa Ibu menatapku seperti ini?” tanyaku tidak mengerti.
“Kamu tidak ingin berterimakasih?” Ibu melirik kearah kak Gavin.
“ Dia sudah menolong kamu, dia yang membawa kamu kesini, lalu mengabari Ibu. Dia juga yang menungguimu semalaman sampai pagi ini. Berterimakasihlah, dia berjasa dalam hidup kamu.” Ibu menatapku serius. Kulihat wajah kak Gavin memerah karena malu.
“Bibi, jangan seperti itu. Saya hanya membantu sebisanya saja,” ujar kak Gavin sembari tersenyum kecil, mencoba menyembunyikan wajah merahnya.
“Kak, terimakasih yah. Aku minta maaf, kemarin sudah kasar sama Kakak. Kak, maaf aku terlalu merepotkan, tapi terimakasih sudah peduli dengan ku.” Kutatap wajah kak Gavin yang terlihat semakin memerah dan gugup.
“Iya sama-sama,” jawabnya singkat lalu menunduk.
“Permisi sebentar.” Kulihat sosok wanita mengenakan kemeja hijau bebek berbalut jas panjang warna putih dan memakai celana hitam panjang, berdiri disamping pintu masuk. Ibu dan kak Gavin juga menoleh kearah pintu.
“Oh Dokter, silahkan masuk Dok.” Ibu menyingkir mundur beberapa langkah.
Kak Gavin juga mengikuti langkah ibu, mereka memberi jalan untuk dokter menghampiri dan memeriksa kondisiku. Dokter wanita itu masuk ruangan diiringi seorang perawat wanita.
“Wah, sudah sadar yah? Saya akan memeriksanya sebentar,” ujar dokter lalu memeriksa kondisiku dengan stetoskopnya.
“Sudah lebih baik, tapi sebaiknya jangan terlalu banyak pikiran dulu. Kondisinya masih lemah, harus banyak-banyak istirahat, makan teratur dan minum obat. Kabar baiknya, satu atau dua hari lagi sudah boleh pulang,” ujar dokter menjelaskan setelah selesai memeriksa kondisiku. Kulihat wajah ibu berbinar menatapku, akupun membalasnya dengan senyum.
“Terimakasih Dok,” ujar ibu sembari menyunggingkan senyum.
“Sama-sama. Kalau begitu saya permisi dulu.” Dokter itu meminta pamit sembari menyungginkan senyum.
“Iya, silahkan Dokter,” ujar ibu mempersilakan. Tak berapa lama setelah ibu mempersilakan, dokter dan perawat itu berlalu.
*****
Pagi ini aku, ibu, dan kak Gavin sarapan bersama. Kulihat, kak Gavin merasa agak canggung. Mungkin karena tidak biasa, pikirku.
“Bibi, pagi ini saya izin pamit. Maaf tidak bisa menemani, hari ini ada event sepak bola di sekolah, jadi saya tidak bisa absen.” Kak Gavin mengatakanya malu-malu.
__ADS_1
“Iya, tidak apa-apa. Kamu harus segera pulang, bersiap-siap sekolah. Maaf, Ryn terlalu banyak merepotkan kamu. Bibi, sangat berterimakasih, kamu sudah banyak menolong Ryn,” ujar ibu mengerti.
“Tidak, Bibi. Tidak sekalipun saya merasa direpotkan, saya hanya melakukan apa yang saya bisa. Mungkin, nanti sore atau nanti malam saya bisa kesini.” Kak Gavin terlihat gugup, namun tetap saja berusaha tersenyum.
“ Biar Bibi yang jagain Ryn. Hari ini Alby juga pulang dari Malang, perkiraanya nanti sore sudah sampai. Kamu istirahat saja dirumah, kamu pasti capek. Kamu juga perlu menjaga kesehatan, jangan terlalu memikirkan Ryn. Jangan cemas, dia tidak akan kabur lagi.” Ibu menatap kak Gavin sebentar, lalu melirik kearahku.
“Baiklah Bibi, saya mengerti.” Kak Gavin menatapku lalu tersenyum.
“Ibu benar, aku tidak akan pergi dari sini. Resikonya terlalu besar, banyak cctv disekitar sini. Aku susah menemukan tempat bebas dari cctv, jadi aku tidak akan pergi dari sini. Tapi, sebenarnya kemarin aku tidak kabur, aku hanya pergi sebentar. Aku hanya bosan dirumah, aku juga butuh udara segar, makanya aku pergi.” Aku membela diri, merasa tidak terima dibilang kabur.
“Karena kamu tidak izin sama Ibu, makanya Ibu bilang kamu kabur.” Ibu tidak ingin kalah bicara denganku.
“Bibi, saya pamit sekarang. Sudah hampir pukul enam, saya harus siap-siap kesekolah,” sela kak Gavin seraya beranjak dari duduknya.
“Oh iya, baiklah. Terimakasih sekali lagi Bibi ucapkan,” ujar ibu menanggapi.
“Cepat sehat yah Ryn, aku pulang dulu,” ujar kak Gavin sembari mengambil jaket tebal warna hitam yang berada di kursi samping ranjangku.
“Iya kak, hati-hati dijalan,” sahutku singkat.
“Bibi, saya pulang dulu,” ujar kak Gavin, lalu mencium tangan ibu dan berlalu.
“Iya, hati-hati dijalan.” Ibu melambaikan tangan kearah kak Gavin sesaat sebelum menghilang dari pandangan.
*****
Dari siang, hujan mengguyur deras didaerah sekitar Rumah sakit, hingga senja ini masih ada sisa-sisa hujan yang menetes. Cuacanya terlihat semakin terang, dan kudapati pelangi warna-warni menghiasi langit.
Aku beranjak dari ranjangku menuju jendela, aku sangat menikmati pemandangan ini. Kupejamkan mata, dan menghela napas perlahan. Suara gemericik sisa-sisa hujan yang terdengar, membuat aku merasa seperti benar-benar merasakan tetesan-tetesan air membasahi diriku.
“Tok, tok, tok.” Kudengar suara ketukan pintu dari arah luar. Aku membuka mataku lalu menolehnya.
“Kak Gavin,” gumamku melihat kak Gavin berdiri didepan pintu yang terbuka.
“Hey,” sapa kak Gavin yang menghampiriku.
“Kamu kenapa mengamatiku seperti ini? Aneh ya? Apa ada yang salah?” Kak Gavin ternyata tahu jika aku mengamatinya.
“Eemm, tidak. Tidak ada yang salah kok.” Aku menjadi malu setelah ketahuan.
“Kenapa Kakak kesini? Apa sudah selesai? Kan biasanya pukul enam sore baru kelar,” ujarku mengalihkan pembicaraan.
“Sebenarnya belum, tapi aku pulang lebih dulu. Eh, tapi jatah tim kita sudah selesai, jadi disana hanya tinggal pertandingan untuk sekolah lain saja,” jelas kak Gavin.
“Oohh begitu.” Aku tersenyum kecil, hampir saja salah paham.
Jika pertandingan tim sekolah belum selesai, aku pasti akan menginterogasi kak Gavin. Kenapa pulang lebih dulu? Kenapa dia malah meninggalkan timnya? Bagaimana jika Kepala sekolah marah? Dia kan ketua tim olahraga, kenapa bisa malah melakukan seperti ini? Kenapa dia lebih mementingkan aku daripada timnya ? Padahal, kita tidak begitu dekat.
Eh, tunggu! Apa dia begitu peduli padaku, hingga hujan-hujan begini dalam keadaan capek, dia masih menyempatkan mampir kemari? Apa aku begitu penting? Bukankah, sejak kemarin dia juga menungguku hingga semalaman? Eh tidak, bukan semalaman, dia menungguiku sampai pagi. Dan sekarang, dia ada didepanku lagi? Ah, aku terlalu berpikir jauh. Tidak, aku harus membuang pikiran yang membuatku ke-PDan ini.
“Aku kesini hanya sebentar. Aku hanya ingin memberikan ini,” ujar kak Gavin lalu menyodorkan sebuah kantong plastik yang didalamnya seperti ada makanan.
“Apa ini?” Aku penasaran.
“Itu roti bakar, aku membelinya untuk kamu. Cobalah, hujan-hujan seperti ini makan makanan hangat akan terasa enak.” Kak Gavin menyodorkanya lagi, dan kali ini aku menerimanya.
“Em, terimakasih. Aku pasti memakanya,” jawabku lalu tersenyum kecil.
“Kalau begitu, aku pulang dulu,” ujar kak Gavin pamit. Aku hanya mengangguk pelan, dan kak Gavin mulai melangkah pergi.
“Eh, tunggu,” ujarku mencegahnya. Cepat-cepat kupegang lengan kanannya memberi isyarat untuk berhenti. Kak Gavin menoleh kebelakang, dia tidak menatapku, tapi malah menatap kearah lengan yang ku pegang.
“Oh, maaf. Tidak sengaja,” ujarku meminta maaf. Aku langsung melepas tanganku. Aduh, kenapa aku jadi gugup seperti ini? Sekarang, kak Gavin malah beralih menatapku.
“Kenapa? Apa kamu merasa ada yang sakit? Biar aku panggil dokter, istirahatlah dan tunggu sebentar.” Kulihat wajah kak Gavin menjadi cemas.
“Tidak. Aku baik-baik saja. Kakak sebaiknya istirahat sebentar, keringkan rambut Kakak yang basah itu, dan duduklah. Mari kita makan bersama, aku tidak akan habis memakan roti ini sendiri,” ajakku.
__ADS_1
“Tapi ... aku ....” Kulihat wajah kak Gavin menjadi gugup.
“Jangan menolak. Lihat, hidung Kakak terlihat memerah seperti ingin sakit. Kakak harus jaga kesehatan, jangan menyusul sakit seperti diriku. Bagaimana jika benar-benar sakit? Kakak masih memiliki tanggung jawab sebagai ketua tim sepak bola dipertandingan.
Ayo, duduklah. Keringkan rambut Kakak dengan handuk ini,” ujarku sembari mengambil handuk kecil dilaci lalu memberikanya ke kak Gavin. Awalnya kak Gavin seperti ingin menolak, tapi tidak jadi.
“Baiklah, terimakasih. Kamu sudah peduli denganku.” Aku terkejut mendengar kata-kata kak Gavin yang mengatakan bahwa aku peduli dengannya.
“Ayo lekas makan, aku lapar.” Aku dan kak Gavin segera duduk di sofa yang tak jauh berada dari ranjangku.
Kak Gavin masih mengeringkan rambutnya dengan handuk, sementara aku membuka bungkusan plastik yang berisi kotak roti bakar itu. Emm, baunya langsung menyusup harum kedalam hidung. Rasanya aku kenal bau roti ini, aku membatinya.
Aku membuka kotak makanan berisi roti bakar yng kini didepanku. Aku terdiam, roti ini sama persis seperti yang aku dan Kenzhi sering makan. Waktu kita jalan bersama, atau ketika dia kerumah, Kenzhi selalu membeli roti ini dan memakanya bersamaku. Tak jarang juga aku membeli roti ini dan memakannya di danau bersama Kenzhi, atau sendiri.
“Ryn, kenapa diam saja? Kamu tidak suka roti ini ya? Kalau begitu biar aku ganti dengan yang lain?” tanya kak Gavin. Sepertinya kak Gavin mengamati wajahku.
“Em, suka. Aku suka kok.” Aku menjadi agak gugup, aku diam bukan karena tidak suka tapi roti ini mengingatkanku pada Kenzhi.
“Mari makan,” ajakku. Aku mengambil sepotong roti, kak Gavin juga begitu. Rasanya masih sama enaknya, apalagi masih hangat begini.
“Rotinya enak?” tanya kak Gavin, aku hanya mengangguk.
Aku berusaha untuk tetap seperti biasa, aku tidak ingin ingatanku tentang roti ini pada Kenzhi mengganggu suasana sore ini. Bukan karena aku tidak ingin mengingatnya, tapi aku takut jika nanti kak Gavin kecewa karena tahu apa yang aku sembunyikan.
“Sebentar lagi aku pulang, sudah pukul setengah enam. Maaf, aku tidak bisa menungguimu,” ujar kak Gavin setelah melirik jam tangannya.
“Iya, pulang saja, aku tidak apa-apa. Kakak istirahat yang cukup, tenaga Kakak harus banyak. Jangan sampai sakit, sampai rumah langsung minum vitamin biar tidak sakit.” Aku menyunggingkan senyum kearah kak Gavin, dia membalasnya dengan manis.
“Ryn,” kudengar suara kak Alby, seperti dari arah pintu. Aku menoleh kearah pintu dan ternyata memang benar, ada kak Alby disana yang berjalan menghampiriku.
“Kak Alby,” gumamku.
“Syukurlah kamu tidak apa-apa, Kakak khawatir sama kamu. Apa ada yang masih sakit? Sebelah mana? Bilang sama Kakak.” Kak Alby menempelkan punggung tangannya ke jidatku, lalu beralih ke pipi.
“Tidak, aku baik-baik saja. Jangan cemas seperti ini.” Aku menepis tangan kak Alby.
“Kakak sangat cemas ketika ibu bilang kamu masuk rumah sakit. Kamu itu sudah mengusik pikiran Kakak selama di malang tahu! Gara-gara kamu, Kakak jadi ingin cepat pulang,” ujar kak Alby tidak terima.
“Kakak.” Aku menatap kak Alby sebentar, lalu melirik kearah kak Gavin. Ku lihat kak Gavin menunduk, berusaha menahan tawa.
“Jangan bicara seperti itu,” ujarku.
“Oh, ada tamu. Maaf, aku terlalu cemas, jadi tidak tahu ada tamu.” Kak Alby terlihat kaget saat melihat kearah kak Gavin.
“Tidak apa-apa, wajar jika seorang kakak mengkhawatirkan adiknya,” ujar kak Gavin sembari menyunggingkan senyum kecil.
“Maaf Kak Gavin, Kakakku memang seperti ini orangnya,” ujarku meminta maaf.
“Aku mengerti, tidak apa-apa. Oh iya, aku harus pulang, sudah hampir pukul enam sore,” sela Kak Gavin pamit setelah melirik jam tangannya.
“Iya, baiklah. Hati-hati dijalan,” ujarku lalu tersenyum.
“Kak, saya pamit dulu. Maaf tidak bisa lama disini,” ujar kak Gavin pamit pada kak Alby.
“Loh, kenapa? Apa aku mengganggu kalian? Kenapa buru-buru pulang?” Aku melirik tajam kearah kak Alby.
“Kakak ....” Aku mengeryitkan dahi.
“Oh iya, sudah sore. Baiklah, aku mengerti.” Kak Alby melirik arloji ditangannya, lalu beralih menatapku.
“Aku pulang dulu, sampai jumpa.” Kak Gavin beranjak dari duduknya kemudian berlalu.
“Sampai jumpa,” balasku sembari tersenyum kecil.
“Apa? Kenapa menatap Kakak seperti ini?” tanya kak Alby yang kini kutatap malas.
“Tidak apa, Kakak terlihat seperti lapar. itu ada roti, makanlah. Jika perlu, habiskan sekalian saja, aku sudah makan.” Aku menatap kak Alby sebentar, lalu beralih menatap kearah roti dimeja.
“Waah, terimakasih. Kamu tahu saja Kakak sedang lapar,” ujar kak Alby lalu mencomot satu roti dan memasukkannya kedalam mulut.
“Aku tahu, aku sudah mengenal Kakak lama. Tapi, terimakasih Kakak sudah pulang untukku. Aku sayang Kakak,” ujarku lalu memeluk kak Alby.
“Iya, Kakak juga sayang kamu,” balas kak Alby lalu menyunggingkan senyum manis.
Nantikan Part Berikutnya. Jika ada salah, mohon krisarnya. Itu akan sangat berarti bagi saya, Terimakasih.
__ADS_1