Masihkah Ada Cinta

Masihkah Ada Cinta
Permen Coklat


__ADS_3

Part 4


 


Di balkon kamar ku berada. Menikmati sejuknya udara malam berhembus sepoi-sepoi di bawah sinar sang dewi malam. Ditemani setoples coklat yang kini ku genggam, aku mengingat kenangan yang pernah ada.


 


#####


Aku masih sibuk mengerjakan PR yang menumpuk banyak beberapa hari terakhir ini. Ah, rasanya malam ini begitu melelahkan. Rasa kantuk mulai membuatku malas mengerjakannya. Namun apalah dayaku, aku harus mengumpulkanya besok. Ponselku tiba-tiba bergetar singkat diikuti terang cahaya layar yang menyala.


“Kenzhi.” Ku lihat ada pesan singkat yang dikirimnya.


“Keluar ke balkon sebentar.” Isi singkat pesan dari Kenzhi.


“Untuk apa?” tanyaku singkat.


“Sudah, keluar saja. Cuma sebentar,” balasnya. Aku pun pergi ke balkon, dan ku lihat dibawah sosok Kenzhi duduk di bangku halaman sembari tersenyum kecil. Dia memberi isyarat agar aku turun ke bawah.


“Ada apa?” tanyaku cuek ketika aku sudah berada di depen Kenzhi.


“Duduk dulu, aku cuma kesini sebentar,” pintanya. Aku menghela napas sejenak, lalu duduk disebelahnya.


“Ada apa? Untuk apa kesini malam-malam begini?” Aku menatapnya malas.


“Jangan marah, aku hanya ingin memberi ini.” Kenzhi mengeluarkan setoples coklat dari kantong plastik disampingnya.


“Terimalah. Aku tahu kamu menyukai coklat ini.” Dia menyodorkan toples itu kedepan ku.


“Tidak. Aku tidak akan menerimanya,” tolakku cuek.


“Apa! Kenapa memang?” tanyanya.


“Berapa kali aku bilang. Jangan beli coklat ini lagi! Kamu harus bijak menggunakan uang. Biarpun kamu di kasih kartu kredit, tapi jangan buat hambur-hamburan. Kamu pasti menggunakan kartu itu lagi kan? Kamu selalu saja memanfaatkan kebaikan orangtuamu untuk membeli barang sesuka hatimu.” Aku menatapnya sisnis.


“Tidak. Aku tidak menggunakanya,” ujarnya membela diri.

__ADS_1


“ Aku tidak akan tertipu lagi. Kamu pasti membohongiku seperti waktu itu. Waktu itu, kamu bilang itu uang mu sendiri, tapi kamu menggunakan kartu kredit pemberian orangtua kamu. Ayo! Katakan! Kamu pasti menggunakanya lagi! Jika tidak, kamu dapat uang dari mana ? Ini harganya mahal!” Aku memarahinya panjang lebar.


“Jangan marah dulu, biar aku jelaskan.” Dia menatapku serius.


“Kamu itu sudah dewasa, harus belajar hemat! Kamu seharusnya bisa memilah, mana yang penting dan tidak,” lanjutku.


“Apa salah, aku beli ini? Aku tidak menggunakan kartu ku. Ini uangku sendiri, bukan uang orangtuaku.” Dia mencoba membela diri.


“Terus, dapat dari mana?” tanyaku masih marah.


“Kamu lupa? Lusa kemarin kan Band aku dapat undangan mengisi acara di sebuah cafe. Jadi, aku menggunakan sebagian uang komisi bagianku itu untuk membeli coklat ini,” jelasnya.


“Sepertinya, karena kamu suka marah-marah jadi pelupa seperti ini,” sindirnya.


“Enak saja kamu bilang. Aku begini karena ... karena ... karena aku ....” Aku memberhentikan kalimat ku. Sejujurnya aku ingin bilang karena aku peduli, tapi aku mengurungkan niatanku. Aku tidak ingin dia menjadi besar kepala setelah aku mengatakanya.


“Karena apa?” Dia menatapku lebih dekat.


“Karena aku tidak ingin kamu ceroboh menggunakan uang. Tapi ... ah, sudahlah. Kamu tidak akan pernah mengerti!” Aku menghela napas agak panjang.


“Pulang lah. Sebentar lagi larut malam. Aku juga akan masuk, masih banyak PR yang harus aku selesaikan.” Kutunjukkan wajah letih ku sembari menguap sesekali.


“Mmm, ya. Aku menolaknya.” Sebenarnya, aku mau menerima coklat itu. Tapi, rasa gengsi dalam diriku mencegah aku mengatakanya.


“Benar, kamu tidak mau?” tanyanya sekali lagi.


“Tidak.” Jawabanku masih kukuh seperti sebelumnya.


“Ya sudah. Aku akan memberikanya pada Yelena besok.” Dia tersenyum kecewa.


“Iya, itu lebih baik.” Rasanya hatiku tidak rela jika coklat itu berada di tangan Yelena besok. Aku bisa membayangkan ekspresi wajahnya yang begitu gembira, dan dengan sikap centilnya pasti akan dia manfaatkan moment itu dengan cara pansos di media sosial. Tak cukup dengan itu, dia pasti akan memamerkanya didepan ku juga.


“Baiklah, aku akan pulang,” ujarnya pamit.


“Sebaiknya cepat pulang. Yelena pasti sudah menantikan coklat itu besok,” ujarku menahan kesal.


“Aku akan segera masuk,” lanjutku seraya beranjak dari dudukku.

__ADS_1


“Tunggu dulu.” Tangan kanannya memegang lengan lengan kiriku, seolah memberi isyarat agar aku tetap duduk.


“Aku semakin mengantuk. Cepatlah pulang,” keluhku.


“Aku hanya bercanda, coklat ini hanya untuk kamu.” Dia tersenyum kearahku lalu berdiri disampingku.


“Terimalah.” Dia menyodorkan coklat itu ke hadapanku.


“Aku suka melihat wajahmu yang dingin seperti ini. Cantik.” Mendengar kata-katanya aku jadi salah tingkah. Sepertinya dia tahu apa yang aku rasakan.


“Masih tidak mau menerima? Ya sudah. Aku buang saja.” Kenzhi menghela napas panjangnya. Tak lama kemudian dia mulai melangkah kearah tong sampah di halaman.


“Eh jangan. Jangan dibuang,” ujarku seketika merespon.


“Aku akan menerimanya. Dan, kamu segeralah pulang,” lanjutku.


“Kalau begitu, habiskan. Jangan ada yang tersisa.” Kenzhi tersenyum, lalu menyerahkan coklat itu kepadaku.


“Aku akan pulang dengan tenang sekarang. Masuklah, aku juga akan pulang.” Kenzhi tersenyum lalu pergi pulang.


#####


Ku nikmati setiap butir coklat itu meleleh dalam mulutku. Lucu memang, membayangkan kejadian itu. Aku nyaris cemburu, ketika Kenzhi menipuku akan memberikan coklat itu pada Yelena. Aku menghela napas panjang. Masih kurasakan aroma angin malam disetiap tarikan napasku.


“Ryn.” Ku dengar suara lembut yang tak asing lagi bagiku memanggilku.


“Ibu.” Aku menoleh kebelakang, dan ku lihat ibu menghampiriku.


“Waktunya makan malam. Ayo kita makan bersama,” ajak ibu.


“Kapan ibu pulang?” tanyaku yang penasaran.


“ Belum lama. Kamu terlalu sibuk menikmati malam. Jadi, ibu pulang saja tidak tahu.” Ibu tersenyum kecil kearahku.


“Mungkin begitu.” Aku menghela napas pendek.


“Ibu sudah tahu semuanya. Sudah, jangan bersedih. Ibu mengerti perasaan kamu sekarang ini,” ujarnya seraya menepuk pundakku.

__ADS_1


“Ibu,,” gumamku lirih. Hatiku langsung tersentuh mendengar kata-kata ibu. Aku kembali mengingatnya. Mengingat tentang kecelakaan pesawat itu, dan Kenzhi menjadi salah satu korban yang belum ditemukan. Aku tak kuasa menahan bendungam airmata yang kemudian jebol membasahi pipi. Ibu dengan lembutnya langsung mendekapku, dan aku terisak dalam dekapan itu.


“Jangan menyedihi seperti ini, berdoalah. Agar Kenzhi di beri perlindungan Sang Maha Kuasa,” saran ibu. Aku masih saja terisak, dan tak bisa berhenti. Aku juga tidak bisa berkata-kata, namun aku mengangguk pelan sebagai tanda aku meng-iyakan saran ibu.


__ADS_2