
...Dua Minggu Kemudian...
"Fer, Masmu kenapa ya, belum ngirim surat! Sudah lama Ibu ingin mendengar kabarnya! Sudah dua minggu lebih, Masmu nggak ada kabar! Setiap hari Emak sangat berharap ingin mendapatkan surat dari Hari!" Emak tampak merenung di atas sofa yang berada di ruang tamu.
"Mungkin Mas Hari memang belum sempat mengirim surat, Mak! Jadi, Emak jangan setiap hari memikirkan Mas Hari! Nanti Emak malah sakit karena kebanyakan pikiran!" Pinta Fera sambil menaruh teh hangat di atas meja di hadapan emak.
"Tapi perasaan Emak tidak tenang kalau belum menerima surat dari Hari, Fer! Emak takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dengan diri Hari!" Ucap emak dengan tatapan kosong.
"Lebih baik Kita serahkan semuanya kepada Allah! Semoga Allah melindungi Mas Hari di manapun berada! Lebih baik sekarang Emak sarapan dan minum tehnya mumpung masih hangat!" Nasihat Fera.
"Emak belum pengin sarapan!" Ucapnya.
"Mau sampai kapan Emak kepikiran Mas Hari? Kalau begini terus kan Emak jadi malas makan! Fera nggak mau Emak sakit!"
"Sampai Masmu memberi kabar pada Emak! Itu aja sudah membuat Emak bahagia!"
"Ya sudah terserah Emak aja! Fera berangkat dulu ya Mak!" Fera pun mengulurkan tangan kanannya ke hadapan emak.
"Hati-hati di jalan, Fer!"
"Iya Mak. Assalamu'alaikum." Fera berjalan ke arah sepedanya yang berada di teras depan rumah.
"Wa'alaikumsalam." Balasnya.
"Kasihan Emak! Tiap hari selalu memikirkan Mas Hari! Ya Allah, sebenarnya apa yang terjadi dengan Mas Hari? Lindungilah Dia dimana pun Dia berada! Aamiin." Ucap Fera dalam hati. Kakinya terus mengayuh sepeda mininya.
"Memang Emak nggak salah! Kalau Mas Hari sibuk kerja, nggak mungkin selama ini Dia ngga mengirim surat! Sedangkan Emak jadi malas makan, gara-gara tiap hari menunggu surat dari Mas Hari yang tak kunjung datang! Aku nggak bisa membiarkan Emak sakit! Aku harus melakukan sesuatu!" Tambahnya.
Sesampainya di TK tempat Fera mengajar, ia pun bergegas mengeluarkan selembar kertas dan sebuah pulpen, ketika ia sudah duduk di kursi yang berada di belakang meja kerjanya.
"Emak, maafkan Aku. Fera nggak bermaksud untuk membohongi Emak! Tapi semua ini Fera lakukan untuk kebaikan Emak! Fera ingin Emak semangat lagi menjalani hari-harinya! Fera nggak mau gara-gara kebanyakan pikiran, asam lambung Emak kambuh lagi!" Ucapnya sambil menulis sebuah surat di atas selembar kertas yang disobeknya dari dalam buku miliknya.
Siang itu, terlihat sebuah motor berhenti tepat di depan rumah emaknya Hari. Seorang perempuan melepaskan helm yang berada di atas kepalanya. Begitu helm telah terlepas, terlihat wajahnya yang cantik alami. Dia bukan lain adalah Fatimah. Calon istri Hari, yang belum lama telah dilamarnya.
Tokkk...tokkk...tokkk...
"Assalamu'alaikum." Salamnya ketika ia berdiri di depan pintu.
"Wa'alaikumsalam." Jawab emak dari dalam rumah.
"Oh, Fatimah! Kirain siapa! Mari masuk dulu!" Pinta emak begitu melihat sosok Fatimah yang berdiri di depan pintu.
"Nggak usah, Emak! Soalnya Saya mau berangkat kerja!" Balas Fatimah yang memakai seragam kerja berwarna putih.
"Oh, mau berangkat kerja! Kirain Emak baru pulang kerja!" Balasnya.
__ADS_1
"Emak, ini ada salam dari Ibu!" Fatimah memberikan plastik hitam berisi makanan, kepada emak.
"Wa'alaikumsalam. Bilangin Ibumu, Emak terima kasih banyak! Kamu sering banget repot-repot bawa makanan kesini, Fatimah! Emak jadi tidak enak sama Ibumu!" Balasnya.
"Nggak apa-apa kok Emak! Justru Ibu yang menyuruh Fatimah buat ngasih makanan pada Emak! Oh ya Mak, apakah sudah ada surat dari Mas Hari?" Tanya Fatimah penuh berharap.
"Belum Fatimah! Justru itulah yang setiap hari Emak pikirkan! Sampai Emak merasa tidak enak makan, tidak nyenyak tidur! Emak punya firasat, telah terjadi sesuatu dengan Hari!" Ucapnya.
"Semoga aja Mas Hari selalu dalam keadaan sehat wal afiat, Emak!" Fatimah tampak lesu.
"Aamiin."
"Ya sudah Emak, Fatimah mau berangkat kerja dulu! Soalnya takut telat!" Fatimah pun bersalaman dengan Emak. Tidak lupa ia menempelkan belakang telapak tangan kanan emak, ke keningnya.
"Hati-hati di jalan ya!" Pintanya.
"Ya Mak! Kalau sudah ada surat dari Mas Hari, tolong kabari Saya ya Mak! Ucapnya.
"Ya. Insha Allah kalau sudah ada surat dari Hari, Emak akan kabari Fatimah!" Balasnya.
"Assalamu'alaikum." Fatimah pun kembali berjalan menuju motornya.
"Wa'alaikumsalam." Jawabnya.
"Kasihan Fatimah! Pasti Dia sangat rindu pada Hari." Ucapnya dalam hati sambil memandangi kepergian Fatimah. Setelah sosoknya hilang dari pandangannya, emak pun kembali masuk ke dalam rumah. Saat Emak, sedang menaruh makanan pemberian ibunya Fatimah di atas meja makan, tiba-tiba terdengar kembali suara orang mengucapkan salam.
"Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalam. Sebentar!" Balasnya. Belum sempat emak kembali menuju pintu depan rumahnya, tiba-tiba saja Fera muncul dari arah ruang tamu.
"Emak lagi ngapain?" Tanyanya.
"Ini lagi naruh sayur sama lauk di piring!" Kamu sudah pulang, Fer?" Tanya balik emak.
"Sudah Emak." Jawabnya.
"Kirain Kamu tadi itu Fatimah, balik kesini lagi!" Katanya.
"Emangnya tadi Mba Fatimah datang kemari, Mak?" Fera sedikit kaget.
"Iya! Tadi Dia mampir kesini sebelum berangkat kerja! Ya ini makanan dari Ibunya!" Balasnya.
"Oh ya Mak, ada kabar sangat gembira!!!" Seru Fera yang berusaha untuk menutupi groginya.
"Kabar gembira apa, Fer?" Tanya emak dengan datar.
__ADS_1
"Mas Hari sudah mengirimkan surat, Emak! Suratnya tadi pagi diantar ke TK, sewaktu Fera sedang mengajar!" Serunya.
"Masha Allah! Yang benar Kamu, Fer? Biasanya kan suratnya langsung dikirim ke rumah, sama Hari! Tumben sekarang dikirim ke TK-mu!" Emak merasa bingung.
"Nggak tahu Mak! Mungkin maksud Mas Hari, biar petugas kantor posnya cepat mengantarkan suratnya! Yang penting kan alhamdulilah sudah ada kabar dari Mas Hari, Mak!" Fera pun mengeluarkan amplop berwarna putih dari dalam tasnya dan memberikannya kepada emak.
"Fera! Emak senang sekali menerima surat ini! Ya Allah, terima kasih Engkau telah mengabulkan doa-doa Hamba!" Emak menyambut surat palsu itu dengan berlinangan air mata. Terlihat ia sangat bahagia ketika membuka amplop prmbungkus surat. Begitu Emak berhasil membuka amplopnya, dengan kedua tangannya yang gemetaran, Emak mulai membaca isi surat dari anak sulungnya.
Assalamu'alaikum
Emak...
Bagaimana kabarnya? Semoga selalu dalam keadaan sehat wal afiat. Aamiin.
Maafkan Hari Mak. Hari baru bisa mengirimkan surat ini. Soalnya Hari sibuk kerja terus, Mak! Baru sekarang Hari masuk malam, jadi baru sekarang Hari bisa mengirimkan surat kepada Emak. Sekali lagi, Hari mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada Emak. Hari sudah membuat Emak khawatir dan kepikiran Hari terus.
Alhamdulillah Hari di Jakarta dalam keadaan sehat wal afiat, Emak! Jadi Emak nggak usah kepikiran Hari terus ya! Emak kalau makan yang teratur ya! Biar asam lambungnya nggak kambuh lagi.
Kapan-kapan kalau Hari sudah sempat, Hari akan mengirimkan surat lagi kepada Emak! Sudah dulu ya Emak!
Wassalamu'alaikum
Anakmu
Hari
Emak membaca surat dengan air matanya yang terus menerus mengalir di pipinya, sampai ia selesai membaca suratnya. Air matanya pun menetes di atas surat yang sedang dipegangnya. Sedangkan Fera melihat wajah emaknya dengan perasaan merasa bersalah.
"Maafkan Fera, Emak! Fera melakukan semua ini semata-mata hanya untuk kebaikan Emak!" Ucapnya dalam hati.
"Ya Allah, terima kasih Engkau telah melindungi Hari anakku!" Emak menangis sesenggukan.
"Alhamdulillah Mas Hari baik-baik aja, Mak! Betul kan Emak, dengan yang kemarin Fera ucapkan! Mas Hari masih sibuk kerja! Makanya belum sempat mengirim surat!" Katanya.
"Iya Fera. Emak terlalu khawatir dengan keadaan Hari! Emak terlalu berpikir buruk! Maafkan Emak yang tidak mendengarkan ucapan Fera!" Ucapnya.
"Emak nggak perlu minta maaf! Fera tahu cinta dan kasih sayang seorang Ibu kepada anaknya! Makanya Emak terlalu khawatir sama Mas Hari!" Seketika Fera langsung memeluk tubuh emaknya dengan erat. Air matanya seketika langsung membasahi pipinya.
"Harusnya Fera yang meminta maaf pada Emak! Karena Fera telah membohongi Emak!" Serunya dalam hati.
"Besok secepatnya Kamu balas suratnya ya Fer!" Pintanya.
"Iya Mak. Mulai sekarang Emak makan yang teratur ya! Pikirannya yang tenang! Jangan memikirkan Mas Hari, terus! Fera nggak ingin melihat Emak sedih lagi!" Pintanya.
"Iya Fera." Balasnya.
__ADS_1