Menanti Hari Esok

Menanti Hari Esok
Kembali Pulang


__ADS_3

  Sesampainya di tepi jalan raya, Fera dan emak kembali menunggu bajaj yang lewat. Hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit, akhirnya sebuah bajaj muncul di sebelah kanan mereka. Fera pun melambaikan tangannya. Begitu bajaj itu berhenti, Fera dan emak bergegas naik ke atas bajaj. Setelah mendapatkan alamat yang ditujunya, supir bajaj itu pun kembali menjalankan bajajnya.


  Setelah di dalam perjalanan sekitar 25 menit, akhirnya mereka sampai di depan sebuah perusahaan otomotif yang besar dan luas. Mereka berdua pun bergegas turun dari atas bajaj. Tidak lupa, Fera membayar jasa bajajnya. Lalu mereka berjalan menuju pos satpam yang berada di belakang gerbang pabrik.


  "Permisi Pak. Saya mau tanya, apakah Kami bisa bertemu dengan kakak kandung Saya? Nama lengkapnya Ahmad Hariyanto. Dia bekerja disini Pak." Tanya Fera pada salah satu satpam yang sedang berjaga.


  "Maaf, Mba dan Ibu ini ada kepentingan apa ya, dengan dirinya? Kalau sekarang semua karyawan sedang bekerja. Jadi tidak bisa menemui Mba dan Ibu sekarang! Lebih baik tunggu sampai jam pulang kerja!" Jawabnya.


  "Pulang kerjanya jam berapa, Pak?" Tanya Fera.


  "Jam setengah lima. Tapi kalau lembur pulang jam tujuh bahkan ada yang pulang jam sembilan!" Jawabnya.


  "Tapi Kami jauh-jauh datang dari kampung, Pak! Kami sedang mencari Hari anak Saya! Sudah lama tidak ada kabar darinya! Kami ingin sekali secepatnya bisa bertemu dengannya, Pak!" Emak memelas dengan berlinangan air mata.


  "Memangnya nggak ditemui di tempat tinggalnya, Bu?" Tanyanya.


  "Sudah Pak! Tadi baru saja Kami ke rumah Ibu kos-kosannya Hari. Tapi katanya Hari sudah lama tidak kelihatan! Makanya Kami datang kesini! Kami ingin sekali bertemu dengan Hari, Pak! Sebentar saja!" Emak memohon-mohon.


  "Ya sudah, mari ikut Saya ke ruang HRD. Biar anak Ibu bisa dipanggil untuk bertemu dengan Ibu dan Mbanya." Ucapnya.


  "Terima kasih banyak Pak." Emak dan Fera tersenyum bahagia. Harapan yang tadinya sudah musnah, kini harapan itu kembali tumbuh di dalam hati mereka. Mereka berdua pun berjalan mengikuti satpam itu, menuju ruang HRD.


  Tokkk...Tokkk...Tokkk...


  "Masuk!" Seru seorang laki-laki dari dalam ruangan itu. Mendengar ucapannya, satpam itu pun perlahan membuka pintu ruang HRD.


  "Permisi Pak, ada dua orang perempuan dari kampung yang sedang mencari anak mereka yang bekerja disini. Katanya mereka sudah lama lost contact dengan anaknya." Ucapnya.


  "Suruh mereka masuk!" Perintahnya.


  "Baik Pak!" Balasnya. Satpam itu pun kembali keluar dari ruangan itu.


  "Mba dan Ibunya disuruh untuk masuk!" Katanya.


  "Terima kasih banyak Pak!" Ucap emak. Perlahan emak dan Fera masuk ke dalam ruangan itu.


  "Assalamu'alaikum!" Salam emak.


  "Wa'alaikumsalam. Silahkan duduk." Jawab lelaki berusia sekitar 40 tahunan itu.


  "Terima kasih Pak." Emak dan Fera pun duduk di atas kursi yang berada di depan meja.

__ADS_1


  "Maaf sebelumnya, Ibu dan Mba ini siapa dan dari mana?" Tanyanya.


  "Nama Saya Bu Khulsum dan ini anak Saya namanya Fera. Kami datang dari Sukoharjo. Kami datang kesini bermaksud ingin bertemu dengan anak Saya yang bernama lengkap Ahmad Hariyanto. Hari bekerja disini sudah lebih dari lima tahun, Pak! Tapi semenjak Hari pulang kampung sekitar sebulan yang lalu, sampai sekarang sama sekali tidak ada kabar darinya! Makanya Kami datang ke Jakarta. Karena Kami ingin sekali bertemu dengannya!" Cerita emak.


  "Oh begitu ceritanya! Sebentar ya Bu, Saya carikan dulu bagian anak Ibu bekerja!" Ucapnya.


  "Iya Pak." Balasnya dengan perasaan bersyukur. Lelaki itu pun mencari data Hari di komputer. Setelah berhasil menemukan bagian Hari bekerja, lelaki itu pun menelpon orang kantor di bagian Hari bekerja.


  "Halo Pak Warman! Tolong panggilkan karyawan di bagian welding YL8 atas nama Ahmad Hariyanto! Tolong suruh ke ruang HRD!" Perintahnya.


  "Baik Pak Surya!" Jawab lelaki di telepon.


  "Terima kasih Pak!" Lelaki yang bernama Pak Surya pun menutup panggilan teleponnya.


  "Anak Ibu sedang dipanggil untuk datang kesini, Bu!" Ucapnya sambil tersenyum. Mendengar ucapannya, sontak emak dan Fera langsung saling pandang. Senyum lebar terpancar dari wajah mereka.


  "Terima kasih banyak Pak! Terima kasih sudah mengizinkan Kami untuk bertemu dengan Hari, anak Saya!" Kata emak sambil melihat pakaian yang dikenakan Pak Surya pada bagian dada sebelah kanan, dimana disitu tertulis nama lengkap Pak Surya, yaitu Suryanata.


  "Sama-sama Bu! Saya nggak tega melihat Ibu yang sudah sangat rindu ingin bertemu dengan anaknya! Saya jadi sedih ingat Ibu Saya yang sudah tiada!" Balas Pak Surya sambil mengusap air matanya yang jatuh di pipinya.


  "Doakan almarhumah Ibu Pak Suryanata setiap sehabis shalat! Karena yang dibutuhkan oleh almarhumah Ibu Pak Suryanata sekarang ialah doa dari anak shaleh!" Nasihatnya.


  "Insha Allah, Bu!" Balasnya. Tidak berapa lama, seseorang mengetuk pintu ruangan itu. Mendengar suara ketukan pintu yang berada di belakangnya, Emak pun langsung bangkit berdiri.


  Tokkk...Tokkk...Tokkk...


  "Hari...!!!" Seru emak dengan perasaan sangat bahagia. Namun perasaan itu seketika berubah menjadi perasaan kecewa, ketika ia melihat wajah laki-laki yang masuk ke dalam ruangan itu.


  "Sore Pak Surya!" Sapa lelaki berkumis itu.


  "Sore Pak Sarwono! Maaf Pak, tadi Saya menyuruh Pak Warman untuk memanggil karyawan yang bernama Ahmad Hariyanto! Karena Ibunya ingin bertemu dengannya!" Balasnya.


  "Saya tahu maksud Pak Surya. Tadi Pak Warman menyuruh Saya untuk memanggil Hari, tapi Hari sudah lama tidak masuk kerja, Pak! Makanya Saya datang kesini!" Ucapnya. Mendengar ucapan lelaki separuh baya yang bernama Pak Sarwono, emak dan Fera sangat kaget dibuatnya. Tubuh mereka diam membisu seribu bahasa. Mereka sama sekali tidak pernah mengira akan mendapatkan kabar buruk itu.


  "Ya Allah!!! Jadi Hari anak Saya sudah lama tidak berangkat bekerja?" Tanya emak seolah masih tidak percaya dengan ucapannya.


  "Iya Bu. Hari nggak masuk kerja, kalau nggak salah sudah sebulan lebih! Terakhir masuk kerja seingat Saya sebelum Hari libur cuti buat pulang kampung!" Jawabnya.


  "Hari anakku!!!" Teriak emak sekuat tenaga. Air matanya membanjiri wajahnya. Tubuhnya yang kurus tiba-tiba seperti kehilangan tenaganya. Emak pun jatuh pingsan di atas lantai keramik.


  "Emaaakkkkk......!!!" Teriak Fera dengan histeris. Air matanya yang jatuh di wajahnya tidak kalah banyak dengan emaknya.

__ADS_1


  Begitu mengetahui emaknya pingsan, Fera bergegas menghampiri tubuh emaknya. Pak Surya dan Pak Sarwono juga langsung menghampiri tubuh emak yang terkulai tidak berdaya.


  "Tolong bawa ke ruang kesehatan, Pak!" Pinta Pak Surya. Mendengar ucapannya, Pak Sarwono langsung mengangkat tubuh emak dan membawanya ke dalam ruang kesehatan. Sedangkan Pak Surya dan Fera berjalan dengan cepat di belakangnya.


  Setelah menunggu sekitar 30 menit, akhirnya dengan perlahan kedua mata emak terbuka. Fera yang sejak tadi menunggunya, langsung beranjak dari duduknya dan menghampiri tubuh emaknya.


  "Alhamdulillah Emak sudah siuman!" Serunya.


  "Emak dimana Fer?" Tanyanya perlahan.


  "Emak sedang berada di ruang kesehatan di pabrik Mas Hari bekerja!" Jawabnya. Mendengar nama anaknya yang sangat dirindukannya, air mata kembali mengalir di kedua pipi emak.


  "Hari...! Dimana sebenarnya Kamu Nak? Ibu sangat ingin bertemu denganmu! Ibu kangen Kamu Har!" Ucap emak sambil menangis sesenggukan.


  "Emak yang tabah dan sabar! Masih ada Fera yang akan menemani Emak! Semoga Allah selalu melindungi Mas Hari dimana pun Dia berada!" Balasnya.


  "Aamiin. Tapi jika Hari sudah meninggal, bagaimana Fer? Emak belum sanggup kehilangan Hari!" Ucapnya.


  "Jangan berkata begitu, Mak! Kalau Mas Hari memang korban kecelakaan seperti yang dikatakan Ibu kosnya tadi pagi, pasti ada pihak kepolisian yang datang ke rumah Emak di kampung! Fera yakin, Mas Hari masih hidup, Mak!" Balasnya.


  "Kemana lagi sekarang Kita mencari Hari? Apa Kita harus mencari ke seluruh rumah sakit yang berada di Jakarta yang sangat luas ini?" Tanya emak.


  "Terserah Emak! Tapi sekarang sudah sore! Besok pagi Fera juga masuk kerja, Mak!" Jawabnya.


  "Kita pulang ke kampung saja, Fer!" Pinta emak sambil turun dari atas ranjang.


  Fera dan emak pun keluar dari ruang kesehatan. Sebelum meninggalkan pabrik tempat Hari bekerja, tidak lupa mereka berdua berpamitan dengan Pak Surya dan satpam yang berjaga.


  Sesampainya di tepi jalan, mereka berdua pun kembali naik bajaj menuju stasiun Pasar Senen. Setelah membeli tiket kereta api jurusan Solo, Fera dan emak pun duduk di kursi yang berada di ruang tunggu. Emak tiada hentinya meneteskan air matanya. Dalam benaknya terus menerus terbayang-bayang wajah Hari yang sangat dirindukannya.


  "Emak, Fera beli oleh-oleh dulu ya!" Ucapnya.


  "Iya." Jawabnya datar. Kedua matanya menatap kosong ke arah depan. Fera pun berjalan menuju salah satu kios yang menjual aneka oleh-oleh. Setelah membayar oleh-oleh yang dibelinya, Fera kembali menghampiri emaknya. Fera melihat emaknya masih terdiam mematung.


  Setelah menunggu sekitar 20 menit, akhirnya sebuah kereta api muncul di sebelah barat. Mengetahui kereta itu adalah kereta api yang dipesannya, Fera pun mengajak emaknya naik ke atas kereta, setelah kereta itu berhenti tepat di hadapan mereka.


  Sepanjang perjalanan pulang, emak terus menerus berdiam diri. Mulutnya seolah telah terkunci. Fera beberapa kali mengajak emaknya mengobrol namun tidak terdengar suara jawaban dari mulut emaknya. Bahkan saat Fera menawarkan makanan dan minuman, emaknya sama sekali tidak bersuara.


  Disaat mereka telah sampai di rumah, tingkah laku emak sangat terlihat berubah dari sebelumnya. Emak lebih memilih untuk tiduran di atas tempat tidur yang berada di dalam kamarnya. Melihat itu semua, Fera ikut merasakan kesedihan mendalam yang dirasakan oleh emaknya. Fera begitu tahu dan paham, akan kerinduan emak terhadap kakak kandungnya itu. Fera juga sudah mengetahui besarnya cinta emak terhadap kakak kandungnya yang begitu besar, makanya rindu emak terhadap Hari tidak akan pernah selesai seperti rindu emak terhadap almarhum bapaknya.


  

__ADS_1


  


__ADS_2