Menanti Hari Esok

Menanti Hari Esok
Penderitaan Datang Silih Berganti


__ADS_3

  Sesampainya di Jakarta, Pak Teddy langsung membawa Yos ke rumah sakit. Dengan dibantu oleh suster, Yos langsung ditangani di dalam ruang UGD. Sedangkan Pak Teddy menunggu di depan pintu dengan perasaan cemas dan risau.


  Setelah menunggu sekitar 15 menit, akhirnya seorang dokter perempuan keluar dari dalam ruang UGD. Pak Teddy pun beranjak dari duduknya dan langsung menghampirinya.


  "Gimana keadaan mata anak Saya, Dok?" Pak Teddy sangat khawatir.


  "Mohon maaf Pak! Kedua mata anak Bapak sudah rusak!" Jawabnya.


  "Rusak gimana Dok?" Tanya Pak Teddy dengan keras.


  "Kedua mata anak Bapak, sklera dan korneanya sudah rusak terkena sebuah benda dengan sangat keras! Apa bisa Bapak ceritakan, apa yang terjadi sebelumnya?" Tanya balik dokter itu.


  "Anak Saya diculik Dok! Begitu Saya melihat kedua matanya, sudah begitu keadaannya, Dok!" Jawabnya.


  "Menurut perkiraan Saya, kedua mata anak Bapak dilukai oleh penculik itu menggunakan peluru karet! Karena bagian skleranya pecah!" Katanya.


  "Peluru karet? Jadi kedua mata anak Saya ditembak Dok?" Tanya Pak Teddy seolah tidak percaya.


  "Kemungkinan besar begitu Pak!" Jawabnya.


  "Apa masih bisa disembuhkan Dok?"


  "Sudah tidak bisa Pak. Kecuali kalau ada orang yang mau mendonorkan kedua matanya untuk anak Bapak!"


  "Terus gimana sekarang Dok?" Pak Teddy sangat bingung.


  "Lebih baik anak Bapak dibawa pulang. Sebelum pulang, mohon Bapak selesaikan dahulu semua administrasinya. Ya sudah Saya tinggal dahulu Pak." Jawabnya. Dokter itu pun pergi meninggalkan Pak Teddy yang masih diam mematung dengan pikiran yang sangat kacau. Kalau tubuhnya tidak kuat, mungkin ia sudah tidak sadarkan diri.


  Dengan langkahnya yang goyah, Pak Teddy berjalan menuju bagian administrasi. Selesai melunasi semua biaya perawatan Yos, Pak Teddy kembali menuju ruang UGD.


  Dengan perasaan sangat merasa bersalah, Pak Teddy perlahan membuka pintu ruang UGD. Ia pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan itu.


  Ketika telah berada di dalam ruang UGD, tubuh Pak Teddy bergetar hebat. Air mata yang sejak tadi ditahannya, akhirnya jatuh membanjiri wajahnya. Sementara itu, tahu ada seseorang yang membuka pintu dan masuk ke dalam ruang UGD, Yos pun bergegas bangkit duduk di atas ranjang.


  "Siapa? Dokter ya? Bagaimana Dok, mataku bisa sembuh kan? Aku bisa melihat lagi kan Dok?" Tanya Yos. Mendengar ucapannya, Pak Teddy hanya bisa menangis sesenggukan. Setelah menunggu beberapa detik tidak ada jawaban, akhirnya Yos kembali bersuara.


  "Dok! Kenapa nggak mau jawab pertanyaan Saya?" Mendengar pertanyaannya, Pak Teddy langsung berlari menghampiri tubuh Yos dan memeluknya dengan erat sekali.


  "Kamu siapa? Kenapa menangis?" Tanya Yos bingung.

__ADS_1


  "Yos, maafkan Bapak Yos! Semua ini salahku! Semua ini gara-gara Aku!" Teriak Pak Teddy dengan histeris.


  "Pak Teddy! Seperti yang tadi Aku katakan. Semua bukan salah Bapak! Semua sudah takdir dari Allah! Aku masih bisa melihat lagi! Mataku pasti bisa disembuhkan kan! Iya kan Pak?" Tanya Yos penuh dengan harapan.


  "Ke...kedua matamu sudah rusak Yos! Kata dokter sudah tidak bisa disembuhkan! Katanya akibat terkena benda yang keras! Kata dokter bisa jadi matamu terkena peluru karet yang ditembakkan oleh penculik itu!" Jawabnya dengan sedikit gugup.


  "Ya Allah Ya Tuhanku! Apa dosaku? Mengapa cobaanku datang silih berganti? Disaat Aku kecelakaan dan masih hilang ingatan, sekarang ditambah lagi dengan kedua mataku sudah tidak bisa melihat lagi!" Teriak Yos dengan keras. Seketika air matanya jatuh menetes di pipinya.


  "Sekali lagi Aku minta maaf padamu, Yos! Semua ini kesalahanku! Andai waktu itu, Aku nggak menabrak dirimu. Kamu pasti nggak akan mengenalku. Kamu nggak akan hilang ingatan dan terlibat dalam penculikan ini! Pasti Kamu nggak akan menanggung beban berat begini, Yos!" Pak Teddy meratapi nasib Yos.


  "Semua sudah digariskan oleh Allah! Mungkin ini cobaan hidup yang harus Aku jalani." Yos menundukkan kepalanya. Air matanya terus menerus mengalir di pipinya.


  "Sekarang ayo Kita pulang Yos!" Pintanya.


  "Iya Pak." Jawab Yos datar. Pak Teddy pun membantu Yos turun dari atas ranjang. Lalu Pak Teddy menuntun Yos menuju ke mobil yang terparkir di parkiran depan lobby rumah sakit. Setelah mereka berdua telah menaiki mobil, Pak Teddy pun bergegas menyalakan mesin dan menginjak pedal gas dengan perlahan. Mobil itu pun melaju perlahan meninggalkan rumah sakit. Di dalam perjalanan menuju rumah Pak Teddy, Yos hanya terdiam membisu.


  "Kamu mau makan apa Yos? Dari pagi kan Kamu belum makan!" Tanya Pak Teddy sambil menyetir mobilnya.


  "Aku nggak lapar Pak." Jawabnya datar.


  "Kita makan di restoran biasanya ya Yos! Kamu kan suka ayam bakarnya!" Ucapnya.


  "Kamu pasti masih sangat marah sama Bapak ya Yos! Aku maklumi semua itu Yos! Siapa yang nggak marah, saat tahu kedua matanya tidak dapat melihat lagi!" Ucapnya.


  "Maafkan Aku Pak! Bukan maksudku begitu! Tapi Aku perlu waktu untuk menerima kenyataan pahit ini." Balasnya.


  "Iya Yos. Bapak mengerti perasaanmu." Katanya.


  Sesampainya di depan rumah, Pak Teddy membantu Yos turun dari atas mobil dan menuntunnya ke arah pintu depan rumah.


  Tokkk...Tokkk...Tokkk...


  "Siapa?" Tanya Bi Ginah begitu mendengar suara ketukan pintu.


  "Ini Aku Bi!" Balasnya.


  "Sebentar Pak!" Bi Ginah pun berjalan menuju pintu depan. Sedangkan Vanya mengikuti di belakangnya. Perlahan Bi Ginah membuka pintu yang terkunci. Ketika pintu itu terbuka, ia sangat terkejut ketika melihat seorang lelaki yang berada di samping kiri Pak Teddy.


  "Ya Allah Ya Rabbi!!! Mas, Mas Yos, apa yang terjadi denganmu? Mengapa jadi begini?" Tanya Bi Ginah dengan histeris. Mendengar ucapannya, Vanya langsung maju ke samping kanan Bi Ginah.

__ADS_1


  "Mas...! Apa itu Kamu, Mas Yos?" Tanya Vanya tercekat ketika melihat kedua mata Yos.


  "Iya ini Aku Vanya, Bibi! Semua ini perbuatan para penculik itu! Disaat Aku nggak sadarkan diri, mereka menghajarku. Mereka juga sudah menghancurkan kedua mataku. Sekarang Aku nggak bisa melihat lagi wajah Bibi dan Vanya." Balas Yos sangat sedih.


  "Ya Allah! Jahat sekali mereka! Pak, mereka tidak bisa dibiarkan, Pak! Mereka harus dilaporkan ke polisi!" Seru Bi Ginah.


  "Betul Om! Tindakan ini sudah termasuk kriminal! Selain penculikan, mereka juga sudah melukai Mas Yos sampai nggak bisa melihat lagi!" Vanya menimpalinya.


  "Besok pagi akan Aku laporkan ke pihak kepolisian! Tadi belum sempat. Soalnya tadi langsung buru-buru bawa Yos ke rumah sakit!" Jawabnya.


  "Lebih baik Bapak dan Mas Yos sekarang masuk ke dalam rumah! Takut para penculik itu kembali berkeliaran disini!" Pinta Bi Ginah.


  "Ayo Kita masuk Yos!" Ucap Pak Teddy sambil memegang lengan kanan dan pinggang Yos. Setelah mereka masuk ke dalam rumah, Bi Ginah hendak menutup pintunya. Namun Vanya tiba-tiba saja bersuara.


  "Tunggu dulu Bi! Aku mau pamit pulang dulu ya Bi, Om Teddy, Mas Yos! Soalnya besok pagi harus ke kampus!" Ucapnya.


  "Kamu nggak tidur disini aja Va? Lagian kan sudah malam!" Tanya Pak Teddy.


  "Iya mut! Sudah sepi lho!" Bi Ginah menimpalinya.


  "Nggak Om. Vanya pulang aja nggak apa-apa. Kan rumahnya dekat!" Balasnya.


  "Hati-hati di jalan ya!" Pintanya.


  "Iya Om. Assalamu'alaikum." Vanya pun berjalan dengan cepat menuju sepeda yang terparkir di depan rumah.


  "Wa'alaikumsalam." Jawab Bi Ginah dan Pak Teddy berbarengan. Sedangkan Yos hanya terdiam membisu.


  "Buru-buru sekali Vanya pulang!" Serunya dalam hati.


  "Kita makan dulu ya Yos!" Pinta Pak Teddy.


  "Aku makan di kamar aja Pak." Jawabnya.


  "Ya sudah nggak apa-apa. Bi, tolong ambilkan makan sama buatkan teh hangat buat Yos!" Perintahnya.


  "Baik Pak." Jawab Bi Ginah. Pak Teddy pun kembali menuntun Yos menuju kamarnya.


  

__ADS_1


  


__ADS_2